Setelah dari Pelabuhan Bau Bau, suasana di kapal semakin kacau dan pengap. Penumpang yang naik dari pelabuhan ini sangat banyak, sampai-sampai mereka tidak kebagian ranjang tidur lagi. Yang membuat miris adalah bayaran tiket mereka sama tetapi mereka tidak mendapatkan tempat di kapal. Beberapa penumpang terpaksa mengisi lantai-lantai dek kapal dengan menggunakan kardus atau karung yang dijual oleh para ABK ataupun pedagang.
Jelas sekali jika kapal ini bermuatan lebih (over capacity). Hati ini merasa tidak tega melihat para orang tua dan bayi tidur bergeletakan di lantai-lantai dek kapal yang tidak bersih. Ingin sekali rasanya memberikan tempat tidur saya kepada mereka tetapi saya juga belum sanggup untuk tidur di lantai kapal. Apalagi ada satu bapak, seorang diri tanpa keluarga, yang mendapatkan tempat di lantai dekat kamar mandi. Sedih sekali, saudara-saudara. Saya jadi teringat orang tua saya yang di rumah. Hal-hal seperti inilah yang kadang membuat hati dan pikiran ini tidak bisa jauh-jauh dari rumah ketika bepergian jauh.
Saking panasnya kondisi kapal ini, sampai ada seorang ibu yang pingsan. Anak-anak kecil apalagi bayi juga sering manangis. Bisa kalian bayangkan betapa panasnya suasana di sini? Ratusan orang saling berebut oksigen, sirkulasi udara tidak lancar, pendingin ruangan yang tidak menyala, ditambah lagi kumpulan asap-asap rokok para penumpang. Jujur, menurut saya KM Doboncoro ini jauh dari layak untuk digunakan mengangkut penumpang. Meskipun diharuskan untuk mengangkut penumpang, jangan sampai kelebihan muatan seperti ini. Sampai ada yang tidur di lantai dek kapal. Itupun bukan hanya lantai bagian dalam dek kapal saja, penumpang juga banyak yang berada di lantai luar dek kapal. Yang di dalam kepanasan, yang di luar kedinginan, apalagi kalau hujan. Serba salah jadinya.
Di atas penderitaan puluhan penumpang tadi, sempat-sempatnya pihak kapal menawarkan hiburan berupa orgen tunggal tersebut. Geleng kepala saya tuh!! Tetapi ada juga beberapa bapak ABK yang baik hati. Ketika mengambil jatah makan siang, saya sempat dilebihkan nasi kotak dan minuman juga. Mereka juga selalu mengingatkan kami untuk segera mengambil makanan agar tidak kehabisan. Kadang, mereka sengaja datang ke dek kami hanya untuk menanyakan apakah kami sudah mengambil makanan atau belum. Bahkan ketika kami sedang tidur semua, ada juga yang sengaja membangunkan kami untuk mengambil makan agar tidak kehabisan.
Ada juga bapak-bapak ABK yang jahat, sebenarnya sih bukan jahat tetapi kasar. Jadi ceritanya, kami sedang duduk-duduk di kantin atas. Saking asyiknya nongkrong, kami sampai tidak kedengaran jika akan ada pengecekan tiket. Tiba-tiba datanglah segerombolan bapak-bapak ABK berseragam putih menagih tiket kami. Kami semua kaget dan dengan santainya saja menjawab bahwa tiket kami dijadikan satu di dek kami. Salah satu bapak ABK langsung marah sambil sedikit teriak ke kami, "Kalian tidak menghargai kami, kan tadi sudah dikasih pengumuman kalau akan ada pengecekan tiket." Ini bapak ngomongnya tidak santai sama sekali, saudara-saudara. Dengan polosnya lagi kami menjawab, "Kami tidak kedengaran, pak." Lanjut lagi si bapak ngomong dengan nada yang tidak santai, "Kerjaannya cerita saja sih jadi mana kedengaran. Cepat turun ambil tiketnya."
Buru-burulah kami bubar menuju dek kami, di sini ada kak Fitri juga. Jelas sekali kami tidak senang dengan cara bapak ABK tadi, kasar. Padahal bapak-bapak ABK yang lain sudah tahu kalau kami satu rombongan. Ya sudahlah, setiap hal itu pasti ada positif dan negatifnya. Tergantung dari kita saja menanggapinya bagaimana. Tetapi percayalah, dibalik kesedihan pasti ada kebahagiaan yang telah menunggu.
Pada hari ketiga di kapal, ada pengumuman bahagia kembali. Tengah malam menuju tanggal 8 September nanti, kami akan tiba di Pelabuhan Ambon. Iya, transit kembali. Transit kali ini lebih lama dari transit di pelabuhan-pelabuhan sebelumnya. Kami berlabuh di Pelabuhan Ambon sekitar pukul 00.21 WITA dan kembali berangkat pada pukul 04.00 WITA. Tetapi tidak banyak delegasi yang turun, malah bisa dibilang sedikit sekali. Seingat saya yang turun di pelabuhan ini hanya Fathur dan beberapa orang lainnya. Kalau Della, Shaffa dan saya tidak turun dikarenakan masih takut dengan kejadian di Pelabuhan Bau Bau kemarin. Tetapi kenyataannya, dari penglihatan saya dan Shaffa yang melihat kondisi pelabuhan dari atas kapal, pelabuhan ini termasuk sepi. Ada beberapa polisi juga yang terlihat berjaga-jaga di pelabuhan. Di Pelabuhan Ambon ini, saya melihat banyaklah porter daripada penumpangnya.
 |
| Suasana Pelabuhan Ambon, yang menarik adalah kelip lampu rumah penduduk di atas. |
 |
| Pasukan orange (porter) |
Selama tiga jam setengah transit di Pelabuhan Ambon, ada satu hal yang cukup menghibur saya, Shaffa dan Della, yaitu para pedagang. keliling. Dari logat mereka bicara, kecepatan mereka bicara sampai kata-kata yang mereka gunakan untuk menarik pembeli, semuanya terlihat lucu di mata kami. Hal-hal kecil seperti ini malah menjadi hiburan untuk kami bertiga.
Hari keempat di kapal, saya menjadi penunggu tetap dek kapal tempat saya tidur. Dari pagi ke sore saya hanya berada di dek, silih berganti melihat beberapa delegasi bahkan fasilitator tidur di dek saya. Sebelum akhirnya pada sore hari saya menuju kamar dek 5 untuk kumpul divisi lingkungan demi membungkus hadiah yang akan kami bagikan nanti di Desa Warsambin.
 |
| Fahmi kaleng kaleng |
 |
| Posisi tidur Ojan selalu seperti atlet renang yang mau nyebur |
 |
| Si Cholis yang gaya tidurnya sok imut |
Sebelum divisi lingkungan kumpul di kamar dek 5, saya sempat berbincang sebentar dengan dua orang fasilitator, yaitu kak Fitri dan Cholis. Di sini saya dan Cholis baru mengetahui umur kami masing-masing. Cholis mengira saya masih kuliah sedangkan saya mengira Cholis sudah tamat kuliah. Kenyataannya malah kebalikannya, saya sudah tamat kuliah sedangkan Cholis masih kuliah. Cholis kelahiran tahun 1995, lebih muda satu tahun dari saya. Dia cerita kalau dua tahun setelah tamat SMA, dia telah bekerja. Setahun kerja di Surabaya, satu tahunnya lagi saya lupa dia kerja di mana. First impression ke Cholis sih ya mikirnya ini anak pasti pendiam dan tidak mau ambil pusing, gayanya santai sekali rek. Tidak banyak sih yang kami bicarakan, saya juga orangnya pendiam.
Sama halnya dengan Fahmi, ternyata Cholis ini pun tidak mengkonsumsi doxycycline (antibiotik malaria). Malah dia tidak tahu perihal obat tersebut, padahal kan dia salah satu fasilitator lho. Dia malah menunjukan beberapa obat lain dari dalam tasnya. Eh, ternyata dia sedang sakit toh. Makanya obatnya banyak. Sama seperti si Fahmi, bedanya Fahmi sakit tetapi tidak mengkonsumsi obat apapun.
Saya juga sempat berbincang dengan kak Fitri. First impression, galak dan jutek. Setelah berbincang sedikit, tetap saja pandangan saya ke kak Fitri belum berubah. Meskipun saya tahu kak Fitri orangnya pasti baik, kritis, dan sepertinya asik juga. Eh, saya bisa berkata demikian karena kejadian pengecekan tiket di kantin atas kapal tadi. Kak Fitri juga banyak complain tentang sikap bapak ABK yang kasar itu.
Hari terakhir berada di kapal, untuk pertama kalinya saya mencoba KFC Pelni. Ini bukan KFC asli lho, hanya ayam tepung seperti KFC saja. Saya makannya bersama anak-anak Divisi Lingkungan di dek 5 yang kamar setelah kami selesai membungkus hadiah untuk dibagikan di Desa Warsambin nantinya. Sebenarnya setelah selesai membungkus hadiah, kami sempat bermain undercover. Undercover adalah salah satu permainan andalan para delegasi selain werewolf, ludo dan tepak nyamuk pada saat berada di kapal. Kami hanya bermain dua ronde saja, saya ikut bermain juga tetapi karena tidak terlalu mahir untuk berbohong jadinya ya kalah.
Setelah permainan undercover selesai, saya, Fadli, Nday, kak Ratna dan SC melanjutkan bermain ludo. Permainan ini seru sekali, saking kerasnya kami tertawa, Rina yang sedang tidur sampai terbangun oleh kami. SC kalah dalam permainan ludo ini, berhubung perut kami sudah lapar. Jadilah SC yang membelikan KFC untuk kami.
Pelabuhan Ambon adalah pelabuhan terakhir tempat kami transit. Akhirnya ada pengumuman juga bahwa kami akan sampai di Pelabuhan Sorong. Itu tepatnya masih pada tanggal 8 September 2018 sekitar pukul 23.00 WIT. Alhamdulillah. Setengah jam sebelum kapal berlabuh kami sudah menyiapkan semua barang-barang kami. Saya, Shaffa, Della, Aul dan Ega diminta oleh rombongan untuk turun duluan dan mencari tempat di pelabuhan untuk meletakkan barang-barang donasi, selagi para cowok estafet membawa barang.
Setelah berada di dek kapal paling bawah. Keadaannya pilu, beberapa penumpang masih terbaring di lantai dek kapal beralaskan kardus maupun kasur-kasur Pelni yang tanpa ranjang. Kami turun kecepatan, nyatanya pintu kapal masih lama akan dibuka. Keadaan pun makin panas di bawah karena memang beberapa penumpang yang hendak turun sudah berada di sini. Entah kenapa, Ega kembali ke atas sedangkan kak Dora terlihat turun dan bergabung bersama kami, menunggu pintu kapal terbuka.
 |
| Aul, Shaffa dan saya |
 |
| Waktu kami turun ke dek bawah, si adik dalam gendongan si ibu sedang tidur di lantai. Ada satu ibu lagi yang teriak-teriak biar si ibu dari adik ini membangunkan si adik yang sedang tidur karena memang sudah ramai. Kami minta maaf sekali bu. |
Kami tiba di Pelabuhan Sorong disambut dengan hujan. Dramatis sekali, saudara-saudara! Ketika pintu kapal dibuka, kami langsung turun ke arah pelabuhan dikarenakan hujan. Tidak memungkinkan untuk kami menunggu para rombongan di dekat kapal, maka dari itu kami berinisiatif untuk langsung masuk ke pelabuhan. Sebelum turun dari kapal, saya sudah menelpon Ega jika di luar hujan dan kemungkinan kami akan masuk ke dalam pelabuhan.
Ketika sampai di pelabuhan, kami tidak diperbolehkan masuk oleh petugas. Setelah bernegosiasi dengan para petugas, kami dan barang-barang kami diperbolehkan untuk masuk ke dalam pelabuhan. Tidak terhitung lagi sampai berapa kali kami bolak-balik membawa barang-barang kami, terutama para cowok yang bolak balik dari kapal membawa barang dalam keadaan hujan.
Saya bingung kenapa barang-barang ini harus dimasukkan ke dalam pelabuhan? Sementara beberapa menit kemudian, kami harus keluar lagi dari dalam pelabuhan tersebut membawa barang-barang kami menuju angkot. Kan dua kali kerja, iya tidak sih? Ya sudahlah, jangan terlalu banyak komentar. Kami dan barang-barang menaiki angkot (sebutan orang sana sih taksi) menuju Pelabuhan Rakyat, pelabuhan lebih kecil lagi.
 |
| Tampak Pelabuhan Rakyat dari sisi kapal |
Sekitar pukul 02.00 WIT dini hari, kami sibuk memasukan kembali barang-barang kami ke dalam kapal yang nanti pagi akan membawa kami ke Waisai. Shubuh ini kami tidur di dalam kapal sambil menunggu jam keberangkatan kapalnya. Setelah pagi menjelang, kami mendapatkan sarapan. Beberapa delegasi ada yang keluar pelabuhan untuk mencari warung, beberapa lagi ada yang masih tidur dan Fahmi pergi bersama temannya yang kebetulan sedang berada di Sorong. Fahmi membelikan titipan beberapa delegasi, yaitu KFC. Parah sih, memang rindu sekali makan makanan selain ikan.
 |
| Bastian, salah satu delegasi yang memilih untuk tetap tidur walaupun matahari sudah naik |
Saya? Setelah bangun tidur dan sarapan sekitar pukul 09.00 WIT, saya berbincang dengan si Inyong. Anak kecil yang sedang bermain dengan kedua temannya di kapal ini. Rumah Inyong berada tidak jauh dari pelabuhan, dari dalam kapal ini pun Inyong bisa menunjukan rumahnya yang mana. Inyong cerita jika ayahnya bekerja menangkap ikan tetapi kerjanya sama bule. Inyong pun menunjuk kapal besar yang berada di tengah-tengah lautan, dia bilang itu kapal tempat ayahnya bekerja.
 |
| Rumah Inyong dari kejauhan. Yang mana? Pokoknya yang ada kapal, saya pun tidak terlalu jelas melihatnya |
Saya tahu, anak-anak pasti suka permen. Saya hanya bisa memberikan satu lolipop saja ke Inyong. Dibukanya bungkus lolipop tersebut dan bungkusnya hampir saja dibuangnya di laut. Saya cepat-cepat mencegahnya. Dia malah bertanya kepada saya kenapa tidak boleh dibuang ke laut. Simpel saja, saya jawab, "Kan ada kotak sampah." Setelah membuang plastik permen ke kotak sampah, Inyong kembali menjawab larangan saya, "Biasanya juga tidak apa-apa membuang sampah ke laut." Saya jawab lagi, "Jangan dong, kan ada kotak sampah. Lagian nanti lautnya kotor, nanti laut penuh dengan sampah. Ikan-ikannya mati semua karena makan sampah, nanti ayah kamu tidak bisa kerja menangkap ikan lagi." Inyong hanya diam saja melihat saya.
Setelah Inyong meninggalkan saya, saya menuju ke atas kapal bersama Fadhil, sekalian Fadhil sarapan. Ketika hendak naik tangga, ada Rahmat dan yang lainnya mau turun dari atas. Ternyata di atas kapal ada meja dan kursi, asyik sekali. Di atas sini saya melihat tas Rahmat yang tertinggal di atas kursi. Ceroboh sekali! Saya sengaja tidak mengembalikannya, biar saja, biar dia panik. Benar saja, tidak lama kemudian Rahmat kembali naik dan menanyakan tasnya kepada saya dan Fadhil. Rahmat hanya berada di atas tangga saja, tidak sampai mendekati kami. Kami menjawab tidak melihat, kemudian dia turun kembali. Eh, beberapa menit kemudian si Rahmat naik kembali, masih menanyakan tasnya. Wajah si Rahmat sudah panik. Tadinya tas Rahmat saya letakkan di belakang badan saya tetapi ini tidak keburu lagi dan saya ketahuan. Dia sampai berprasangka buruk kepada Inyong dan teman-temannya. Dasar si Rahmat, padahal kelalaian dia malah menuduh orang lain.
Terik matahari semakin terasa di atas kapal ini. Kami memutuskan untuk kembali ke dalam kapal. Kapal ini akan berangkat pada pukul 12.00 WIT dan akan menempuh perjalanan selama dua jam menuju Pelabuhan Waisai. Setibanya KFC dan Fahmi di dalam kapal, tidak lama kemudian kapal pun berangkat menuju Pelabuhan Waisai. Selama perjalanan saya tidur kembali. Walaupun saya tidur tetapi ombaknya sangat terasa di kapal ini. Entah, memang ombaknya lagi tinggi atau saya yang terlalu berlebihan.
 |
| Daftar kapal dan jadwal keberangkatan kapal di Pelabuhan Rakyat |
Akhirnya, sampai juga di Pelabuhan Waisai. Kesannya? Panas sekali, saudara-saudara! Mungkin ini adalah satu-satunya tempat paling panas yang pernah saya kunjungi selama hidup saya. Bangunan Pelabuhan Waisai ini ternyata belum selesai, sepertinya masih dalam tahap pengerjaan. Kembali lagi kami mengeluarkan barang-barang kami dari kapal menuju mobil pick up yang telah disewa oleh Kak Acha. Iya, Kak Acha menyambut kami di Pelabuhan Waisai ini dengan tiga mobil pick up. Satu mobil terisi penuh oleh barang-barang, satu mobil terisi penuh oleh para delegasi, satu mobil lagi terisi oleh setengah barang dan setengah delegasi.
Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Desa Warsambin, kami berhenti sejenak di Kota Waisai untuk menunggu Nurul dan Kak Acha berbelanja perlengkapan program kerja kami nanti yang belum dibeli. Perjalanan menuju Desa Warsambin memakan waktu dua jam dengan pemandangan hutan yang luar biasa. Hutan-hutan ini seperti hutan purba, hutan yang sering muncul di film-film dinosaurus. Itu sih menurut saya saja ya.
Kami tiba di Desa Warsambin sekitar pukul 16.00 WIT. Kami diturunkan di Kantor Distrik dan disambut oleh Bapak Kampung dan Bapak Sekretaris Desa. Tidak ada penyambutan formal di sini karena kami datang sudah terlalu sore dan pada hari Minggu. Cerita selengkapnya di Desa Warsambin akan saya ceritakan di postingan saya yang lainnya. Terima kasih.
Demi apo, lanjutke nulis ini. Dak mau tauuuuuuu pokoknyo lanjutinnnnnnnn
ReplyDeleteDemi apo aku males nian, tebuntang jadi draft be belum aku lanjutin. Hago lebih menggoda daripada nulis blog wkwk..
Delete