Bagaimana hari pertama berada di KM Dobonsolo? Luar biasa!! Kapal adalah transportasi yang paling tidak saya senangi. Karena apa? Karena berada di air. Primbon saya mengatakan bahwa saya tidak cocok di air maka dari itu saya tidak bisa berenang (?) Maklumlah, saya kan Avatar, the last air bender.
Bisakah kalian membayangkan berhari-hari makan dan tidur di kapal? Saya pun sebelumnya tidak pernah membayangkan hal ini. Kami direncanakan akan sampai ke Sorong pada hari Sabtu nanti, tanggal 8 September. Sedangkan kami berangkat dari Surabaya pada tanggal 5 September dini hari. Lama kan? Tidak terbayang nenek moyang Indonesia dulu, betapa gagahnya mereka mengarungi lautan menggunakan kapal yang belum secanggih kapal ini.
Saya tidak pernah naik kapal selama ini sebelumnya dan ini juga merupakan pengalaman pertama para delegasi lain. Jam-jam pertama berada di kapal kami habiskan untuk langsung tidur, kan kapalnya berangkat pukul 01.00 WIB dini hari, kami juga sudah kelelahan. Ketika waktu shubuh tiba, sebenarnya saya sempat terbangun tetapi saya melanjutkan tidur kembali. Saya juga lagi tidak bisa melaksanakan shalat. Beberapa delegasi memang ada yang terbangun dan melaksanakan shalat. Yang bikin ngakak sih mereka shalat shubuh tetapi ternyata matahari sudah terbit.
Hari pertama berada di kapal, kami belum mengetahui setiap sudut kapal ini, sampai letak musholla di kapal ini pun kami belum mengetahuinya. Jadi, beberapa delegasi tadi melaksanakan shalat di lantai dek kapal. Menurut saya sih, lantainya kotor tetapi kembali ke niat kita masing-masing sih.
Setiap waktu shalat, waktu makan, perubahan waktu, pemutaran bioskop mini ataupun pengumuman-pengumuman lainnya selalu diinformasikan oleh ABK melalui speaker-speaker kecil yang terpasang di kapal ini. Hari ini kami belum ada kegiatan karena kami masih kelelahan dan masih mencoba beradaptasi dengan keadaan kapal. Apalagi ternyata anggota setiap divisi tidurnya terpisah-pisah jadi susah untuk rapat membahas program kerja masing-masing divisi. Di kapal pun tidak ada signal, selepas beberapa jam dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya signal perlahan-lahan menghilang. Sama seperti daratan yang perlahan-lahan menghilang dari pandangan.
Hari pertama pun kami sudah makan makanan kapal. Tiket kami dijadikan menjadi satu, pengambilan makan kami lakukan secara kolektif dengan cara bergantian mengambilnya di dek kapal paling bawah. Pembagian makanan ini menggunakan tiket kapal. Ketika mengambil makan kita harus menunjukkan tiket kita dan tiket tersebut akan dicoret oleh salah satu ABK yang menjaga dapur. Jadi, ketika kalian naik kapal, tiketnya jangan sampai hilang. Selain untuk mengambil makan, sehari sekali pasti ada pengecekan tiket kembali dari para ABK.
Bagi saya yang tidak suka ikan, makanan kapal ini seperti siksaan bagi saya. Untungnya saja saya membawa abon, penyelamat perut. Setiap jam makan, saya pasti selalu bersama Shaffa dan Della, jadi beruntunglah mereka bisa kebagian abon saya yang limited edition ini.
Perihal mandi, awalnya saya tidak berniat untuk mandi di dalam kapal dan juga tidak berniat untuk mengganti baju. Saya berpikiran untuk mandi menggunakan tissue basah saja. Tetapi kenyataannya, saya tidak tahan dengan kondisi kapal yang panas nan pengap ini. Baju saya juga sering basah karena keringat. Jadilah saya mencoba untuk mandi di kapal tetapi hanya sekali dalam sehari. Para delegasi lain pun demikian, hanya mandi sehari sekali kecuali Bastian yang tidak pernah mandi selama berada di kapal. Mandi sehari sekali pun sudah cukup bagi kami. Kami tidak tahan untuk berlama-lama berada di dalam kamar mandi, selain bau dan kotor, kondisi kamar mandi pun terasa panas dan pengap seperti sauna plus goyang-goyang. Ya iyalah, kan berada di atas kapal. Mandi dengan posisi goyang-goyang itu tidak nikmat, kawan. Kadang, setelah mandi kami malah berkeringat kembali. Kan percuma mandi, sepertinya pilihan Bastian untuk tidak mandi lumayan tepat.
Saya lupa, pada hari pertama di kapal, divisi lingkungan sudah melakukan rapat sekitar pukul 15.00 WIB. Di dalam rapat tersebut kami membahas masalah teknis proker kami nanti dan kami akan memulai penyemaian selama di kapal ini. Jadi, ketika sampai di Desa Warsambin, biji bunga matahari ini sudah bisa langsung ditanam. Selama di kapal, kegiatan divisi lingkungan hanya melakukan penyemaian dan rapat pembahasan program kerja saja. Hari pertama ini, setelah rapat pertama divisi, saya dan Nday sudah mencicil mengupas biji bunga matahari yang nantinya akan kami semai di dalam kapal.
Malam pertama di kapal, kami menemukan tempat yang pas untuk rapat semua divisi, yaitu di Pelni Point dek 5. Pada rapat ini, kami membahas kematangan dari program-program kerja setiap divisi dan membahas kira-kira kendala apa yang akan terjadi di lapangan nanti. Rapat ini dilakukan sampai malam hari, sekitar jam 10 atau 11 malam kami baru selesai rapat. Beberapa delegasi pun terlihat ada yang tertidur, termasuk saya sih, beberapa lagi terlihat lesu. Iya, beberapa delegasi ini sepertinya mabok laut, termasuk Rina. Di rapat ini juga diberitahukan bahwa kami harus bergilir untuk menjaga dek tempat kami tidur. Jangan sampai tidak ada orang yang menjaga, takutnya nanti ada barang-barang yang hilang. Sebenarnya sih antisipasi saja dikarenakan di dalam kapal ini banyak sekali orang.
Alhamdulillah, ketika memasuki hari kedua tanggal 6 September, ada kabar bahagia di kapal. Bahwa kapal akan berhenti sejenak di Pelabuhan Makassar pada pagi hari untuk menurunkan dan menaikan penumpang. Beberapa delegasi ada yang turun dari kapal menuju pelabuhan, ada yang memang berbelanja makanan tetapi ada juga yang hanya jalan-jalan saja. Sedangkan saya? Saya melihat daratan dari atas kapal saja sudah bahagia sekali, saudara-saudara.
Di hari kedua ini, kami mulai menemukan kebahagiaan kami masing-masing di kapal. Misalnya saja, Fahmi yang betah tidur seharian, delegasi lain yang menemukan kebahagiaan berada di kantin kapal, Putri dan Osni yang bahagia ketika sudah mandi pada pukul 02.00 WIB dini hari, Ari yang bahagia bisa makan KFC Pelni, saya yang bahagia ketika minum jus Pelni ataupun hal-hal lainnya. Ada kebahagiaan lain yang saya, Shaffa, Della dan Fahmi dapatkan di kapal ini. Kebahagiaan kami adalah melihat keadaan sekitar ranjang kami. Apalagi ditambah ada penumpang baru yang naik dari Makassar, seorang ibu yang mempunyai dua anak cowok yang lucu-lucu. Adik-adik itu pun menjadi salah satu sumber kebahagiaan kami di kapal. Oh iya, ada satu tambahan lagi sumber kebahagiaan kami di kapal. Sebenarnya sih sumber kebahagiaan Fahmi, Shaffa dan Della, saya tidak ikut-ikutan dalam hal ini. Saya innocent.
Jadi, di dekat ranjang kami ini ada sepasang suami istri. Sepertinya sih pasangan baru menikah, soalnya wajah sang istri masih muda dan wajah si bapak terlihat jauh lebih tua dari sang istri. Saya malah berpikir lebih jauh lagi, mungkin si ibu adalah istri kedua si bapak. Iya, karena menurut saya perbedaan usia mereka pasti jauh sekali. Kami tidak tahu mereka naik dari pelabuhan mana, yang pasti ketika kami naik kapal mereka sudah ada. Kebahagiaannya di mana? Iya, jadi sepasang suami istri ini tidak pernah malu untuk memamerkan kemesraan mereka di depan para penumpang lain. Kami yang memang masih muda ini agak risih melihat tingkah laku mereka. Tetapi lama kelamaan malah menjadi sumber kebahagiaan kami selama di kapal. Kata si Fahmi, "hitung-hitung nonton live streaming gratis kak."
Kami juga sering menamakan kami sebagai geng live streaming. Anggotanya ada Fahmi, Shaffa, Della dan saya. Thanks to Shaffa yang sudah memvideokan beberapa adegan kemesraan si bapak dan ibu. Maaf kalau tidak sopan.
Oh iya, yang menjaga dek ini tidak dibuat jadwal, fleksibel saja. Siapa yang lagi free bisa stay di ranjang untuk menjaga barang. Kegiatan saya di hari kedua ini pun masih sama, yaitu mengupas biji bunga matahari. Si Nday menemui saya di ranjang tidur saya setelah makan siang. Dia mengajak mengupas biji bunga matahari lagi tetapi mengupasnya di kantin atas, biar bisa dapat angin juga. Di kantin atas ini adalah tempat favorit anak-anak ekonomi kreatif untuk rapat ataupun menjahit totebag yang nantinya akan dipamerkan pada workshop di Desa Warsambin.
Sesampai di kantin atas ternyata sudah ada anak-anak ekonomi kreatif, Bastian dan Nurul. Jadilah yang mengupas biji bunga matahari ini ada Nday, Nurul, Bastian dan saya. Tetapi beberapa puluh menit kemudian si Nday dan Nurul izin untuk shalat, lalu tinggallah saya dan Bastian yang mengupas biji bunga matahari ini. Tidak lama kemudian, anak-anak ekonomi kreatif pun bubar dan tersisa saya plus Bastian. Saya dan Bastian pun memutuskan untuk turun juga dikarenakan volume speaker kantin yang mulai tidak santai dan menyetel lagu dangdut yang tidak jelas lagi. Saya mengajak Bastian untuk ngadem saja di musholla sekalian menemui Nday dan Nurul. Tetapi Bastian menolak, saya tahu, mungkin dia tidak enak masuk musholla karena memang Bastian bukan seorang muslim.
Ya sudah, saya masuk ke musholla dengan membawa barang Nday dan Nurul plus biji bunga matahari. Sesampai di musholla pun, pengupasan biji ini tetap berlanjut sampai tiba-tiba ada kak Fitri datang ke musholla untuk shalat juga. Sebelum shalat, kak Fitri bilang ke kami "Kalo gak ada kerjaan, gantian jaga dek dong. Tadi cuma ada ... (saya lupa kak Fitri menyebutkan nama siapa) dan Fahmi tapi Fahminya tidur. Dia (nama yang disebutkan kak Fitri) juga tadi ada rapat katanya jadi dek sekarang kosong. Tapi ini kalo gak ada kerjaan aja sih." Kak Fitri dan saya itu satu dek jadi pasti kak Fitri bilang ke saya dong. Langsung cepat saja saya menjawab, "Oke kak, siap. Aku turun sekarang." Buru-buru saya berikan bibit biji bunga matahari ini kepada Nday dan sekalian pamit turun. Jujur saja ya, saya takut melihat kak Fitri, mukanya itu jutek sekali. Menyeramkan!!
Sesampai di dek ternyata cuma ada si Fahmi dan sudah dalam keadaan bangun. Mungkin tadi dia dibanguni sebelum orang terakhir pergi. Jadi, tinggalah kami berdua di dek ini. Awalnya saya merasa canggung untuk menegur Fahmi. Pertama kali kami bersapa pada saat di kamar mandi Surabaya North Quay. Waktu itu saya sedang duduk di depan musholla sambil menunggu Nday di kamar mandi, Fahmi, Fathur dan Ega datang. Ega pun masuk ke dalam kamar mandi dan si Fahmi duduk di samping saya. Disitulah kami berkenalan ala kadarnya. Fahmi ini juga ternyata baru pulang dari Ekspedisi Nusantara Jaya di Kepulauan Riau. Pantas saja kerjaannya di kapal hanya tidur, pasti dia masih kelelahan.
Sama-sama penjaga dek, kami banyak bercerita. Fahmi banyak cerita tentang kehidupan kampus, ekspedisinya kemarin dan garis keturunannya. Fahmi ini adalah orang Syarif. Saya tidak mengerti istilah Syarif, yang saya tahu Fahmi ada keturunan Arab. Fahmi pun bingung menjelaskan istilah Syarif ini ke saya. Kira-kira begitulah obrolan kami sampai pada akhirnya Shaffa dan Della kembali ke dek.
Ada pengumuman bahagia lagi di hari kedua ini, yaitu nanti malam kami akan transit di Pelabuhan Bau Bau Sulawesi. Melihat kebahagiaan teman-teman yang turun di Pelabuhan Makassar tadi pagi. Saya, Della dan Shaffa pun tertarik untuk mencoba turun ke pelabuhan. Ternyata juga, beberapa divisi memutuskan untuk belanja hadiah di pelabuhan ini, termasuk divisi saya yaitu divisi lingkungan. Saya mendapatkan kabar tersebut ketika kami hendak turun, saya ketinggalan rapat tadi sore karena menjaga dek. Saya juga ketinggalan momen untuk menyaksikan secara langsung senam trekjing yang diperagakan oleh SC.
Sekitar jam 10 malam beberapa delegasi turun ke Pelabuhan Bau Bau Sulawesi ini. Sesungguhnya saya merindukan daratan, saudara-saudara. Baru dua hari berada di kapal tetapi ketika menginjakkan kaki di daratan saya masih merasa seperti goyang-goyang. Hebat sekali efek KM Doboncoro ini (panggilan sayang kami kepada KM Dobonsolo). Waktu transit yang hanya 1-2 jam ini harus kami manfaatkan dengan semaksimal dan secepat mungkin.
Sumpah, kami para delegasi ini seperti mendapatkan uang kaget. Kami harus cepat-cepat belanja agar tidak ketinggalan kapal. Seperti biasa, delegasi yang tidak turun kapal harus mengabari di grup pengumuman-pengumuman dari kapal, seperti berapa jam atau berapa menit lagi kapal akan berangkat. Setelah kami berbelanja hadiah untuk para anak-anak Desa Warsambin nanti, beberapa dari kami berburu ikan bakar. Iya, ikan bakar ini katanya terkenal di sekitar Pelabuhan Bau Bau. Katanya rasa ikan bakarnya itu manis karena memang ikan yang dibakar adalah ikan segar.
Karena saya tidak menyukai ikan jadi di sini saya hanya melihat teman-teman saya saja dan sambil foto-foto juga. Ketika asyik foto, tiba-tiba Della menghampiri saya dan sedikit berbisik. Della bilang, "Kak, jangan main hape. Masukin aja hapenya, banyak copet di sini. Di belakang kakak ini juga copet." What? Copet, guys. Buru-buru saya memasukkan hape saya ke dalam tas dan meletakkan tas saya di bagian depan. Copet ini benar-benar berada di samping saya, dia lagi duduk di atas motor dan matanya itu seperti mengintai mangsa. Lalu datang lagi kak Ratna yang sedang memegang hape juga, saya dan Della pun spontan bilang, "Kak, jangan main hape. Ada copet di belakang kakak." Saya sih yakin jika copet tersebut pasti mendengar suara kami. Terserahlah, jika dia berani macam-macam dengan kami, kami pasti akan teriak. Rombongan kami juga tidak kalah banyak dengan rombongan copet ini.
Kami kembali ke kapal dengan formasi super ketat. Di depan ada Fadhli yang memimpin jalan, ya karena badan Fadhli ini besar sekali saudara-saudara. Lalu yang cewek berjalan di tengah kemudian di barisan belakang ada rombongan cowok lagi. Kami berjalan dengan sangat rapat agar tidak ada yang berani mendekat ke kami ataupun menerobos rombongan kami. Setelah di atas kapal, kami pun saling bercerita tentang kejadian di Pelabuhan Bau Bau. Ternyata Bayu sudah dipepet dengan para copet sampai terjatuh, untungnya para delegasi lain dengan cepat mendekati Bayu. Alhamdulillah barang Bayu tidak ada yang hilang. Sedangkan Rina, kotak kacamatanya yang hilang. Kata Rina, kotak kacamatanya ini mirip dengan dompetnya. Untung saja yang hilang bukan dompetnya.
Hari ketiga di kapal tidak ada kejadian istimewa. Hanya ada pengumuman bahagia bahwa tengah malam nanti kami akan tiba di Pelabuhan Ambon. Itu tandanya kami semakin dekat dengan Sorong. Saya, Shaffa dan Fadhil seringkali melihat maps untuk melihat posisi kami di mana. Semacam menenangkan diri, dekat lagi kok, tinggal beberapa pelabuhan lagi, terus saja seperti itu setiap harinya.
Oh iya, pada hari ini ada satu kejadian lucu. Kami seringkali penasaran dengan keadaan bioskop mini yang ada di KM Doboncoro ini. Saya, Della dan Shaffa pun awalnya berniat untuk mencoba menonton. Harga tiketnya hanya 15 ribu, sekalian untuk ngadem juga di sana karena memang kondisi di dalam dek kapal ini sangat panas, sudah seperti sauna. Belum sempat niat kami terlaksanakan, si Fadhil datang ke dek dengan wajah senyum-senyum. Kami semua curiga dan bertanya ada apa.
Fadhil akhirnya cerita. Ternyata dia dan Ojan menonton bioskop tetapi Fadhil bilang bahwa film yang diputar adalah film tidak senonoh. What the hell? Padahal di setiap pengumuman pemutaran bioskop tersebut selalu dibacakan sinopsis film yang akan ditayangkan. Sinopsis dan filmnya berbeda, guys. Fadhil hanya bertahan sekitar 10 menit saja, setelah itu dia langsung keluar dari bioskop meninggalkan Ojan di dalamnya. Fadhil bilang film pornonya adalah film porno orang Asia (antara Cina atau Korea). Kata Fadhil juga yang nonton cowok semua, sekitar orang 10-an. Sumpah, kami ketawa ngakak mendengarkan cerita Fadhil ini. Ini kocak sekali! Apalagi melihat ekspresi Fadhil yang keringat dingin seperti ketakutan tetapi sambil senyum-senyum juga.
Tidak lama kemudian, munculah Ojan ke dek kami. Otomatis kami semua tertawa melihat Ojan. Kami pun langsung bertanya kepada Ojan bagaimana rasanya menonton film begituan. Ojan pun ternyata menontonnya tidak sampai habis. Kata Ojan, setelah Fadhil keluar, tidak lama kemudian dia juga ikutan keluar. Untung saja saya, Della dan Shaffa belum sempat untuk mencoba menonton ke bioskop itu.
Ada-ada saja hiburan yang ada di kapal ini, dari bioskop yang seperti itu sampai ke orgen tunggal. Jadi, ada pengumuman juga untuk semua penumpang bahwa mereka bisa berjoget bersama para biduan secara gratis. Wagelasehhhhhh.....
Bersambung...
Hari pertama pun kami sudah makan makanan kapal. Tiket kami dijadikan menjadi satu, pengambilan makan kami lakukan secara kolektif dengan cara bergantian mengambilnya di dek kapal paling bawah. Pembagian makanan ini menggunakan tiket kapal. Ketika mengambil makan kita harus menunjukkan tiket kita dan tiket tersebut akan dicoret oleh salah satu ABK yang menjaga dapur. Jadi, ketika kalian naik kapal, tiketnya jangan sampai hilang. Selain untuk mengambil makan, sehari sekali pasti ada pengecekan tiket kembali dari para ABK.
Bagi saya yang tidak suka ikan, makanan kapal ini seperti siksaan bagi saya. Untungnya saja saya membawa abon, penyelamat perut. Setiap jam makan, saya pasti selalu bersama Shaffa dan Della, jadi beruntunglah mereka bisa kebagian abon saya yang limited edition ini.
![]() |
| Sarapan pagi, ada telur dadar yang sepertinya ditambah tepung/sagu yang membuat rasa telurnya tidak ada lagi, tumis bihun, kerupuk dan ada susu. |
![]() |
| Makan siang, orek telur dadar tadi pagi (sepertinya), ikan, sayur kubis dan snack. |
![]() |
| Makan malam, lauknya sama seperti tadi siang cuma tanpa snack tetapi air mineral dapat yang botol bukan gelas. |
Saya lupa, pada hari pertama di kapal, divisi lingkungan sudah melakukan rapat sekitar pukul 15.00 WIB. Di dalam rapat tersebut kami membahas masalah teknis proker kami nanti dan kami akan memulai penyemaian selama di kapal ini. Jadi, ketika sampai di Desa Warsambin, biji bunga matahari ini sudah bisa langsung ditanam. Selama di kapal, kegiatan divisi lingkungan hanya melakukan penyemaian dan rapat pembahasan program kerja saja. Hari pertama ini, setelah rapat pertama divisi, saya dan Nday sudah mencicil mengupas biji bunga matahari yang nantinya akan kami semai di dalam kapal.
![]() |
| Wagelaseh, biji bunga matahari sebanyak ini mau dikupas semua? |
![]() |
| Si Nday foto tidak bilang-bilang lagi. Btw, foto ini di dalam kamar yang ada di dek 5, tempat si Nday dkk tidur. |
Alhamdulillah, ketika memasuki hari kedua tanggal 6 September, ada kabar bahagia di kapal. Bahwa kapal akan berhenti sejenak di Pelabuhan Makassar pada pagi hari untuk menurunkan dan menaikan penumpang. Beberapa delegasi ada yang turun dari kapal menuju pelabuhan, ada yang memang berbelanja makanan tetapi ada juga yang hanya jalan-jalan saja. Sedangkan saya? Saya melihat daratan dari atas kapal saja sudah bahagia sekali, saudara-saudara.
![]() |
| Lihat senyum saya! Bahagia kan? (In frame: saya, Tiwi, Amel dan Nday) |
![]() |
| Welcome to Port of Makassar, ladies and gentleman! |
Jadi, di dekat ranjang kami ini ada sepasang suami istri. Sepertinya sih pasangan baru menikah, soalnya wajah sang istri masih muda dan wajah si bapak terlihat jauh lebih tua dari sang istri. Saya malah berpikir lebih jauh lagi, mungkin si ibu adalah istri kedua si bapak. Iya, karena menurut saya perbedaan usia mereka pasti jauh sekali. Kami tidak tahu mereka naik dari pelabuhan mana, yang pasti ketika kami naik kapal mereka sudah ada. Kebahagiaannya di mana? Iya, jadi sepasang suami istri ini tidak pernah malu untuk memamerkan kemesraan mereka di depan para penumpang lain. Kami yang memang masih muda ini agak risih melihat tingkah laku mereka. Tetapi lama kelamaan malah menjadi sumber kebahagiaan kami selama di kapal. Kata si Fahmi, "hitung-hitung nonton live streaming gratis kak."
![]() |
| Shaffa, adek gemes dan Fahmi |
![]() |
| Yang lingkaran merah ya, guys! |
Kami juga sering menamakan kami sebagai geng live streaming. Anggotanya ada Fahmi, Shaffa, Della dan saya. Thanks to Shaffa yang sudah memvideokan beberapa adegan kemesraan si bapak dan ibu. Maaf kalau tidak sopan.
Oh iya, yang menjaga dek ini tidak dibuat jadwal, fleksibel saja. Siapa yang lagi free bisa stay di ranjang untuk menjaga barang. Kegiatan saya di hari kedua ini pun masih sama, yaitu mengupas biji bunga matahari. Si Nday menemui saya di ranjang tidur saya setelah makan siang. Dia mengajak mengupas biji bunga matahari lagi tetapi mengupasnya di kantin atas, biar bisa dapat angin juga. Di kantin atas ini adalah tempat favorit anak-anak ekonomi kreatif untuk rapat ataupun menjahit totebag yang nantinya akan dipamerkan pada workshop di Desa Warsambin.
Sesampai di kantin atas ternyata sudah ada anak-anak ekonomi kreatif, Bastian dan Nurul. Jadilah yang mengupas biji bunga matahari ini ada Nday, Nurul, Bastian dan saya. Tetapi beberapa puluh menit kemudian si Nday dan Nurul izin untuk shalat, lalu tinggallah saya dan Bastian yang mengupas biji bunga matahari ini. Tidak lama kemudian, anak-anak ekonomi kreatif pun bubar dan tersisa saya plus Bastian. Saya dan Bastian pun memutuskan untuk turun juga dikarenakan volume speaker kantin yang mulai tidak santai dan menyetel lagu dangdut yang tidak jelas lagi. Saya mengajak Bastian untuk ngadem saja di musholla sekalian menemui Nday dan Nurul. Tetapi Bastian menolak, saya tahu, mungkin dia tidak enak masuk musholla karena memang Bastian bukan seorang muslim.
Ya sudah, saya masuk ke musholla dengan membawa barang Nday dan Nurul plus biji bunga matahari. Sesampai di musholla pun, pengupasan biji ini tetap berlanjut sampai tiba-tiba ada kak Fitri datang ke musholla untuk shalat juga. Sebelum shalat, kak Fitri bilang ke kami "Kalo gak ada kerjaan, gantian jaga dek dong. Tadi cuma ada ... (saya lupa kak Fitri menyebutkan nama siapa) dan Fahmi tapi Fahminya tidur. Dia (nama yang disebutkan kak Fitri) juga tadi ada rapat katanya jadi dek sekarang kosong. Tapi ini kalo gak ada kerjaan aja sih." Kak Fitri dan saya itu satu dek jadi pasti kak Fitri bilang ke saya dong. Langsung cepat saja saya menjawab, "Oke kak, siap. Aku turun sekarang." Buru-buru saya berikan bibit biji bunga matahari ini kepada Nday dan sekalian pamit turun. Jujur saja ya, saya takut melihat kak Fitri, mukanya itu jutek sekali. Menyeramkan!!
Sesampai di dek ternyata cuma ada si Fahmi dan sudah dalam keadaan bangun. Mungkin tadi dia dibanguni sebelum orang terakhir pergi. Jadi, tinggalah kami berdua di dek ini. Awalnya saya merasa canggung untuk menegur Fahmi. Pertama kali kami bersapa pada saat di kamar mandi Surabaya North Quay. Waktu itu saya sedang duduk di depan musholla sambil menunggu Nday di kamar mandi, Fahmi, Fathur dan Ega datang. Ega pun masuk ke dalam kamar mandi dan si Fahmi duduk di samping saya. Disitulah kami berkenalan ala kadarnya. Fahmi ini juga ternyata baru pulang dari Ekspedisi Nusantara Jaya di Kepulauan Riau. Pantas saja kerjaannya di kapal hanya tidur, pasti dia masih kelelahan.
Sama-sama penjaga dek, kami banyak bercerita. Fahmi banyak cerita tentang kehidupan kampus, ekspedisinya kemarin dan garis keturunannya. Fahmi ini adalah orang Syarif. Saya tidak mengerti istilah Syarif, yang saya tahu Fahmi ada keturunan Arab. Fahmi pun bingung menjelaskan istilah Syarif ini ke saya. Kira-kira begitulah obrolan kami sampai pada akhirnya Shaffa dan Della kembali ke dek.
Ada pengumuman bahagia lagi di hari kedua ini, yaitu nanti malam kami akan transit di Pelabuhan Bau Bau Sulawesi. Melihat kebahagiaan teman-teman yang turun di Pelabuhan Makassar tadi pagi. Saya, Della dan Shaffa pun tertarik untuk mencoba turun ke pelabuhan. Ternyata juga, beberapa divisi memutuskan untuk belanja hadiah di pelabuhan ini, termasuk divisi saya yaitu divisi lingkungan. Saya mendapatkan kabar tersebut ketika kami hendak turun, saya ketinggalan rapat tadi sore karena menjaga dek. Saya juga ketinggalan momen untuk menyaksikan secara langsung senam trekjing yang diperagakan oleh SC.
Sekitar jam 10 malam beberapa delegasi turun ke Pelabuhan Bau Bau Sulawesi ini. Sesungguhnya saya merindukan daratan, saudara-saudara. Baru dua hari berada di kapal tetapi ketika menginjakkan kaki di daratan saya masih merasa seperti goyang-goyang. Hebat sekali efek KM Doboncoro ini (panggilan sayang kami kepada KM Dobonsolo). Waktu transit yang hanya 1-2 jam ini harus kami manfaatkan dengan semaksimal dan secepat mungkin.
Sumpah, kami para delegasi ini seperti mendapatkan uang kaget. Kami harus cepat-cepat belanja agar tidak ketinggalan kapal. Seperti biasa, delegasi yang tidak turun kapal harus mengabari di grup pengumuman-pengumuman dari kapal, seperti berapa jam atau berapa menit lagi kapal akan berangkat. Setelah kami berbelanja hadiah untuk para anak-anak Desa Warsambin nanti, beberapa dari kami berburu ikan bakar. Iya, ikan bakar ini katanya terkenal di sekitar Pelabuhan Bau Bau. Katanya rasa ikan bakarnya itu manis karena memang ikan yang dibakar adalah ikan segar.
![]() |
| Pelabuhan Bau Bau Sulawesi dari kejauhan |
![]() |
| Bapak penjual ikan bakar |
![]() |
| Kebanyakan delegasi yang mengantri untuk membeli ikan bakar ini |
Kami kembali ke kapal dengan formasi super ketat. Di depan ada Fadhli yang memimpin jalan, ya karena badan Fadhli ini besar sekali saudara-saudara. Lalu yang cewek berjalan di tengah kemudian di barisan belakang ada rombongan cowok lagi. Kami berjalan dengan sangat rapat agar tidak ada yang berani mendekat ke kami ataupun menerobos rombongan kami. Setelah di atas kapal, kami pun saling bercerita tentang kejadian di Pelabuhan Bau Bau. Ternyata Bayu sudah dipepet dengan para copet sampai terjatuh, untungnya para delegasi lain dengan cepat mendekati Bayu. Alhamdulillah barang Bayu tidak ada yang hilang. Sedangkan Rina, kotak kacamatanya yang hilang. Kata Rina, kotak kacamatanya ini mirip dengan dompetnya. Untung saja yang hilang bukan dompetnya.
Hari ketiga di kapal tidak ada kejadian istimewa. Hanya ada pengumuman bahagia bahwa tengah malam nanti kami akan tiba di Pelabuhan Ambon. Itu tandanya kami semakin dekat dengan Sorong. Saya, Shaffa dan Fadhil seringkali melihat maps untuk melihat posisi kami di mana. Semacam menenangkan diri, dekat lagi kok, tinggal beberapa pelabuhan lagi, terus saja seperti itu setiap harinya.
Oh iya, pada hari ini ada satu kejadian lucu. Kami seringkali penasaran dengan keadaan bioskop mini yang ada di KM Doboncoro ini. Saya, Della dan Shaffa pun awalnya berniat untuk mencoba menonton. Harga tiketnya hanya 15 ribu, sekalian untuk ngadem juga di sana karena memang kondisi di dalam dek kapal ini sangat panas, sudah seperti sauna. Belum sempat niat kami terlaksanakan, si Fadhil datang ke dek dengan wajah senyum-senyum. Kami semua curiga dan bertanya ada apa.
Fadhil akhirnya cerita. Ternyata dia dan Ojan menonton bioskop tetapi Fadhil bilang bahwa film yang diputar adalah film tidak senonoh. What the hell? Padahal di setiap pengumuman pemutaran bioskop tersebut selalu dibacakan sinopsis film yang akan ditayangkan. Sinopsis dan filmnya berbeda, guys. Fadhil hanya bertahan sekitar 10 menit saja, setelah itu dia langsung keluar dari bioskop meninggalkan Ojan di dalamnya. Fadhil bilang film pornonya adalah film porno orang Asia (antara Cina atau Korea). Kata Fadhil juga yang nonton cowok semua, sekitar orang 10-an. Sumpah, kami ketawa ngakak mendengarkan cerita Fadhil ini. Ini kocak sekali! Apalagi melihat ekspresi Fadhil yang keringat dingin seperti ketakutan tetapi sambil senyum-senyum juga.
Tidak lama kemudian, munculah Ojan ke dek kami. Otomatis kami semua tertawa melihat Ojan. Kami pun langsung bertanya kepada Ojan bagaimana rasanya menonton film begituan. Ojan pun ternyata menontonnya tidak sampai habis. Kata Ojan, setelah Fadhil keluar, tidak lama kemudian dia juga ikutan keluar. Untung saja saya, Della dan Shaffa belum sempat untuk mencoba menonton ke bioskop itu.
Ada-ada saja hiburan yang ada di kapal ini, dari bioskop yang seperti itu sampai ke orgen tunggal. Jadi, ada pengumuman juga untuk semua penumpang bahwa mereka bisa berjoget bersama para biduan secara gratis. Wagelasehhhhhh.....
Bersambung...













No comments:
Post a Comment