Mau Cari Apa?

Saturday, 6 October 2018

Have a Bad Coffee? Come Back Home

Pada sore hari tadi saya berjanji untuk bertemu salah satu teman komunitas saya, sebut saja namanya Yudi Setiawan. Kami berjanji untuk berjumpa di salah satu kedai kopi di Palembang, yaitu Kopi Pulang. Kenapa kami memilih tempat ini untuk berjumpa? Karena lokasinya yang dekat dengan homestay saya. Padahal saya menginap di kosan kakak perempuan saya tetapi dibilang homestay oleh Yudi. Masih kebawa suasana travelling kemarin sepertinya.

Iya, Yudi baru pulang dari Gunung Semeru, Jember dan Yogyakarta akhir bulan Agustus lalu. Sedangkan saya baru pulang dari Papua dan Banyuwangi akhir September ini. Kami janjian karena Yudi ingin mengembalikan buku Arah Langkah yang dipinjamnya dari saya, sekalian juga saya ingin membeli tiket Fiersa Besari x Kerabat Kerja yang akan manggung di Palembang tanggal 21 Oktober nanti. Biasanya kami hanya bertemu di halte trans musi Monpera dan hanya mengobrol seadanya. Kali ini kami sengaja janjian di kedai kopi, mungkin untuk mendengarkan cerita dari perjalanan kami masing-masing.

Kami janjian jam 3 sore di Kopi Pulang, menunggu Yudi selesai kuliah dulu. Yudi masih mahasiswa, jurusan Teknik Sipil. Tetapi saya sudah sampai di sana sekitar jam 1 siang lewat. Sesampai di sana, saya meletakkan tas saya di tempat yang menurut saya enak dan langsung membeli tiket Fiersa Besari x Kerabat Kerja plus memesan makanan dan minuman. Ini kedai kopi lho jadi yang pastinya dominan kopi.

Pertama kali saya ke Kopi Pulang pada tanggal 13 Maret 2016 lalu. Pada saat itu yang saya pesan adalah affogato. Affogato adalah kopi espresso yang disajikan bersama es krim vanilla. Saya kan bukan penyuka kopi jadi saya hanya memakan es krimnya saja dan cuma menuangkan sesendok kecil kopi ke dalam es krimnya. Itu pun pahitnya masih terasa, apalagi waktu itu saya ke sana dalam keadaan patah hati. Pahitnya kopi tambah terasa di lidah dan hati saya. Sejak saat itulah, saya tidak pernah kembali lagi ke Kopi Pulang.
Suasana Kopi Pulang pada tahun 2016
Suasana Kopi Pulang tadi sore
(cr: @tempatpulang)
Terakhir saya kembali lagi ke sana pada saat membeli tiket Fiersa Besari x Kerabat Kerja juga pada bulan April tahun ini tetapi tanpa memesan minuman. Kali ini, sebelum memesan saya bertanya terlebih dahulu kepada baristanya kopi mana yang paling tidak pahit. Baristanya menyarankan affogato. Iya, karena alasan tadi sih, ada es krimnya. Saya kira setelah bertahun-tahun tidak ke sana akan ada menu kopi yang ramah untuk tipe-tipe orang seperti saya ini. Tetapi pilihan saya tetap jatuh ke affogato dan pisang. By the way, menu pisangnya ini berbeda dengan pisang dua tahun yang lalu. Kalau dua tahun yang lalu pisangnya digoreng, kali ini pisangnya beneran pisang mentah yang ditaburi kental manis dan keju. Yang menyenangkan adalah kejunya yang banyak dan pisangnya juga manis tetapi bukan manis karena ditaburi kental manis.

Hari ini saya mencoba kembali untuk menikmati affogato. Kali ini saya hanya menuangkan dua sendok kecil kopi espresso ke dalam es krim vanilla. Gilaaa, tetap sama pahitnya seperti dua tahun yang lalu tetapi tidak dengan hati saya. Sudah, lupakan saja.

Setelah semua pesanan saya habis, kecuali espresso, si barista tadi mengambil piring dan gelas kotornya sambil bertanya ke saya, "memang gak seneng kopi ya mbak?" Saya menjawab, "hehe.. Iya mas, pahit banget. Maaf ya mas." Tidak lama kemudian barista tadi menemui saya kembali dan duduk di dekat saya. Dia mulai bertanya-tanya ke saya. Mungkin dia heran, orang yang tidak suka kopi kenapa malah datang ke kedai kopi dan malah memesan kopi lagi.

Dia mulai bercerita tentang kopi dan menjelaskan tips untuk menyukai kopi atau lebih tepatnya terbiasa dengan kopi. Mungkin awalnya ketika kita mengkonsumsi kopi, kita tidak bisa tidur, perut sakit, atau bahkan jantung kita berdegup kencang (bukan jatuh cinta ya). Itu karena kita belum terbiasa dengan kopi, biasakanlah minum kopi 2-3 gelas dalam sehari. Barista tersebut pun pada awalnya mengkonsumsi kopi jantungnya langsung berdegup kencang tetapi dia mulai membiasakan mengkonsumsi kopi tersebut. Sampai akhirnya mungkin menjadi candu, yang awalnya hanya mengkonsumsi cappucino yang masih ada gulanya, sekarang sudah mencoba kopi murni.

Dia juga menceritakan bermacam-macam jenis kopi, ada robusta, arabika, liberica, dan lain sebagainya (saya lupa). Katanya, kalau robusta itu seperti cowok dan arabika seperti ceweknya. Kenapa? Karena robusta lebih keras. Maksudnya lebih keras adalah dari lingkungan dia hidup, yaitu di bawah 2000-an mdpl sedangkan arabika hidup di atas 2000-an mdpl. Lalu liberica belum ditemukan di Indonesia, banyak yang diimpor dari luar.

Kami bercerita tentang beberapa jenis kopi yang ada di Indonesia, dari Banyuwangi, Aceh, Semendo, dan lainnya. Berbagai varian kopi pun disebutkan olehnya, yang tambah membuat saya pusing. Belum jelas tentang perbedaan robusta, arabika, liberica dan teman-temannya tadi, sekarang sudah disuguhkan tentang perkawinan silang antar kopi. Ampun, pusing aku tuh... Saya tertarik dengan kopi tetapi tidak untuk mendalaminya apalagi harus khatam dalam sehari. Cerita-cerita barista tersebut semuanya menarik bagi saya tetapi memang butuh waktu untuk mengetahui dasar tentang kopi.

Kemudian dia pamit sebentar dan kembali lagi dengan membawa segelas kecil V60 Kopi Semendo. Saya disuruh untuk mencicipi kopi tersebut. Awalnya saya ragu tetapi tetap saja saya cicipi kopi tersebut. Rasanya? Pahit sekali!! Oke, terima kasih ya mas barista. Menurut saya, ini lebih pahit dari espresso affogato tadi. Tetapi kata baristanya pahitan espresso daripada V60 Kopi Semendo ini. Mungkin tadi saya minumnya pakai es krim dan ini hanya kopi saja. Belum habis kopinya saya minum (kenyataannya memang tidak habis), Yudi datang. Barista tadi pun pamit dan menyuruh saya untuk menikmati kopi tadi. Oh iya, jangan tanyakan nama baristanya siapa ya. Saya pun lupa berkenalan dengannya.

Barista tersebut lulusan jurusan gizi dari IPB dan merupakan asli Garut, Jawa Barat. Dia baru setahun kerja di Kopi Pulang ini. Kenapa sih harus sejauh ini untuk kerja di sebuah kedai kopi? Dia lulusan IPB lho, salah satu universitas ternama di Indonesia. Lebih baik jangan kita tanyakan karena kebahagiaan setiap orang itu berbeda. Sama seperti kopi, pahit sih tetapi nikmat, begitu kata pecinta kopi. Sedangkan untuk yang bukan pecinta kopi? Tentu hanya rasa pahit yang ia dapat.

Begitu pula saya dan Yudi, kenapa sih rela-rela berkelana jauh dengan keterbatasan yang kami miliki? Sama seperti barista tadi, yang mengatakan jika jarak Palembang-Garut itu tidak jauh. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, ada kebahagiaan yang kami dapatkan ketika berkelana. Ada pengalaman, cerita ataupun teman baru yang kami dapatkan dari sebuah perjalanan. Di setiap tempat pun memiliki semua itu, kalian pergi ke warung di sebelah rumah pun pasti akan ada cerita, pengalaman ataupun teman baru. Tetapi saya, Yudi maupun barista tadi lebih memilih tempat yang bisa memberikan kami semua itu plus tempat yang menyejukkan mata, hati dan pikiran.

Dari perjalanan Yudi kemarin, dia mendapatkan kenalan yang nantinya bisa membawa dia keliling Sabang dan Pulau Nias. Dan saya? Saya mendapat kenalan yang juga Insya Allah bisa menemui saya ketika saya berada di Bandung, Surabaya, Yogyakarta bahkan Kalimantan. Yudi bisa belajar ikhlas ketika hapenya yang hilang dicopet di Stasiun Senen dan saya yang belajar meluluhkan ego saya ketika bertemu dengan 31 orang dengan berbagai macam karakter dan daerah. Yudi bangga dengan sebutan "Trio Sumatera" dari teman-teman mendakinya dan saya pun bangga dengan sebutan "Duo Cuko" dari sebagian teman mengabdi saya.
Gantungan kunci Semeru dari Yudi

No comments:

Post a Comment