Beranjak ke umur 19 tahun merupakan hal yang paling berkesan dalam hidup saya. Saya mulai berani mengambil keputusan penting dalam hidup saya sendiri dan mampu mempertanggungjawabkannya kepada keluarga saya. Menuju hari ulang tahun saya yang ke-19, saya memutuskan untuk ikut teman-teman kuliah saya mendaki Gunung Dempo. Setelah bujuk rayu yang dilontarkan teman saya (bang Trisan) yang bertubi-tubi dan tanpa henti. Akhirnya, saya memutuskan untuk ikut mendaki dengan beberapa pertimbangan.
Pertama, memang dari jaman SMA saya sudah mulai memimpikan untuk mendaki gunung. Kedua, waktunya yang bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Ketiga, tidak ada tugas kuliah yang harus diselesaikan dan jadwal kuliah lagi kosong (karena kuliah tetap nomor satu dalam hidup saya). Tahun ini saya menginginkan hal yang berkesan di hari ulang tahun saya karena seperti tahun-tahun sebelumnya, ulang tahun saya hanya berada di dalam rumah sambil membalas satu per satu pesan selamat ulang tahun yang masuk. Kalau beruntung sih, bisa dapat kado juga dari mereka. Stagnan sih, begitu saja tiap tahun tanpa ada suatu improvement dari saya. Maka dari itu saya memutuskan untuk keluar dari comfort zone saya selama ini, yang tidak pernah bersosialisasi (padahal kan anak Sosiologi ya), yang susah bergaul dengan orang baru, kikuk kalau di tempat ramai, tidak mudah akrab dan percaya sama orang, dan lain sebagainya itu. Untuk itu saya memutuskan untuk ikut mendaki bersama mereka.
Tidak pernah ada yang menyangka kalau saya akan senekad ini untuk pergi mendaki tanpa izin orang tua. Saya pergi cuma mendapat izin dari kakak pertama saya (Okky) yang memang mudah untuk dinegosiasikan 😃 Teman-teman dekat saya juga tidak ada yang tahu kalau saya akan pergi mendaki. Jika tidak salah, hanya mbah Yuli (teman deket kuliah saya) yang saya ceritakan. Persiapan tidak ada sama sekali, saya hanya bermodalkan uang sama baju doang, semuanya sudah dicarikan sama bang Dio (teman kuliah saya juga, yang juga ikut pergi mendaki dan kebetulan juga sudah kenal dengan kakak pertama saya). Jadi, saya izin dengan Okky dengan menyerahkan nomor hape bang Dio, sebagai jaminan 😂
Kami berangkat menggunakan bis Melati Indah pada hari Kamis sore dari Indralaya (kampus Unsri) dengan total 8 orang (bang Dio, bang Trisan, kak Agung, Apri, Yuda, Novrin, dan Alan), saya cewek satu-satunya. Perdana mendaki dan dikelilingi cowok-cowok, saya berasa jadi princess di sini 😁 Semua anggota mendaki merupakan teman kuliah saya, satu jurusan dan satu angkatan, kecuali satu orang yaitu kak Agung, dia adalah temannya bang Dio. Kenapa saya memanggil bang Dio dan bang Trisan dengan panggilan abang? Kan, satu angkatan? Karena umur bang Dio dua tahun di atas saya sedangkan bang Trisan dipanggil abang karena muka tuanya 😂
Sebagai informasi, Gunung Dempo ini merupakan gunung tertinggi di Sumatera Selatan dengan ketinggian 3.159 mdpl dan berada di Pagar Alam yang jaraknya sekitar 6-7 jam perjalanan mobil dari Kota Palembang. Perjalanan kesana bisa menggunakan jasa bis, travel ataupun pesawat (jam operasionalnya tidak setiap hari dan letak bandaranya masih jauh dari Gunung Dempo).
Kami berangkat pada tanggal 27 Juni 2013 sore menggunakan bis, jadi pada pertengahan malam kami sudah sampai di basecamp rumah Ayah Anton yang berada di dekat Pabrik Teh PTPN Gunung Dempo, Pagar Alam. Ayah Anton adalah seorang pendaki juga, saya kira tidak apa-apa menyebut beliau dengan sebutan pendaki lawas. Setelah izin, kami langsung memasuki basecamp untuk segera istirahat karena besok paginya kami harus bangun lebih awal untuk mencari tumpangan truk ke Kampung IV (titik awal pendakian). Di dalam basecamp ternyata sudah ada pendaki-pendaki lain, kami berbagi space untuk tidur. Saya dipersilahkan tidur terlebih dahulu, sedangkan mereka masih bercerita, ngopi dan main kartu. Saya mengiyakan tetapi di dalam sleeping bag (SB) saya masih bermain hape. Jam menunjukkan pukul 00.00 WIB, tepat tanggal 28 Juni, hari ulang tahun saya. Benar saja, ada beberapa pesan yang masuk untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Hari ini saya resmi beranjak 19 tahun dan berada di Pagar Alam. Keren, pikir saya! Teman-teman mendaki saya ini tidak ada yang tahu kalau saya hari ini berulang tahun atau mereka ada yang tahu tetapi tidak mengucapkannya saja.
28 Juni 2013 pagi sekitar pukul 06.00 WIB setelah sarapan ala kadarnya, kami sudah siap dengan barang bawaan kami di depan pabrik teh untuk menunggu truk yang akan mengangkut kami ke Kampung IV. Jangan tanyakan masalah ongkos truknya karena saya terima bersih dan tidak berniat untuk menanyakannya pada bang Dio selaku leader kami, kecuali kalau uang kami kurang. Kami menunggu truk bersama rombongan pendaki lainnya tetapi saya tidak ingat sama sekali dengan mereka setelah berkenalan karena memang orang-orangnya tidak sedikit. Ini kali pertama saya menaiki truk terbuka, seru, tetapi saya sempat kewalahan memegang pinggiran besi truk. Karena kondisi jalan yang penuh dengan tikungan tajam dan jalan yang tidak bagus menuju Kampung IV. Setelah menempuh perjalanan yang cukup menguncang perut, terutama pada perbatasan jalan aspal dan tanah menuju Kampung IV. Akhirnya kami sampai, saya pun lupa kami sampai jam berapa di basecamp Kampung IV pada hari itu. Yang saya ingat, sesampai kami di sana, kami langsung memesan makanan dari warung emak Tina. Kalau tidak salah saya memesan nasi goreng dan itu nasi gorengnya pedas, jadi saya tidak habiskan nasi gorengnya karena saya tidak tahan dengan makanan pedas. Lagi-lagi saya lupa siapa yang menghabiskan nasi goreng saya 😁 Mungkin inilah salah satu alasan saya menulis, agar tidak banyak momen yang saya lupakan begitu saja.
Setelah semuanya selesai sarapan, kami memutuskan untuk istirahat sebentar yang biasa kami sebut dengan istilah "nuruni nasi". Kurang lebih pukul 09.00 WIB setelah nasi turun, kami memutuskan untuk memulai perjalanan. Perjalanan menuju titik awal pendakian ditemani dengan trek jalan tanah bebatuan yang berkelok-kelok dan melewati kebun teh. Tidak ada hambatan berarti melewati jalan ini tetapi untuk saya yang jarang berolahraga, jalan seperti ini saja cukup membuat saya kehabisan nafas. Sesampai di plang titik awal pendakian, kami menyempatkan untuk foto-foto dan beristirahat beberapa menit sebelum melanjutkan pendakian kembali.
 |
| Foto di depan plang titik awal pendakian |
Dari titik awal pendakian kami akan berjalan menembus perkebunan teh menuju pintu rimba. Trek perjalanan ini agak menanjak dan ada bagian jalan tikus (seperti parit) yang harus kami lewati. Belum sampai ke pintu rimba, nafas saya mulai tidak teratur, saya mengeluh detak jantung saya yang tiba-tiba berdetak dengan cepat dan kencang. Itu kali pertama saya merasakan hal seperti itu, beda seperti apa yang saya rasakan ketika selesai pelajaran olahraga di sekolah dulu. Saya panik, saya berhenti sejenak sambil mencoba mengatur nafas saya. Kebetulan yang di dekat saya ada bang Dio dan bang Trisan, mereka bertanya ada apa. Saya menjawab dengan pernyataan konyol itu kalau jantung saya berdetak cepat dan kencang sekali. Ya jelas saja akan seperti itu, ini tanjakan, dan suhu mulai berubah. Tas yang saya bawa akhirnya dibawakan oleh bang Trisan dan saya hanya membawa tas kecil (isinya gadget) karena hal konyol ini. Beruntungnya setelah packing ulang di warung emak Tina tadi jadi ada satu orang yang bebas, jaga-jaga untuk change bawa carrier.
 |
| Foto di Pintu Rimba |
Tiba di pintu rimba kami beristirahat sejenak, melepas dahaga ala kadarnya saja, tidak boleh berlebihan karena perut akan kembung dan akan menghambat perjalanan serta membuat perutmu sakit. Kami lanjut lagi perjalanan menuju shelter 1 dan berencana untuk makan siang di sana. Trek menuju shelter 1 dari pintu rimba agak landai dan lumayan banyak melewati jalan tikus (jalan parit), yang pastinya membuat celanamu kotor jika melewatinya di musim hujan. Untungnya saat itu cuaca mendukung, tidak hujan, mungkin kado ulang tahunku dari Tuhan. Setelah makan siang di shelter 1 sekitar jam 12 lewatan kami lanjut lagi menuju shelter 2.
Pernah dengar dinding lemari Gunung Dempo? Saya mendengar kata dinding lemari itu sebelum saya mendaki Gunung Dempo. Mereka mengatakan dinding lemari adalah lokasi paling ekstrim di pendakian Gunung Dempo via Kampung IV. Kenapa begitu? Karena dinding lemari adalah sebuah tebing yang tingginya mungkin 4 meter, yang bentuknya hampir vertikal, pijakan yang tidak banyak, tanah yang licin dan hanya ada seutas tali sebelah kiri dan akar pohon sebelah kanan untuk membantu kita melewatinya. Dinding lemari ini terletak antara perjalanan dari shelter 1 menuju shelter 2. Trek menuju shelter 2 dari shelter 1 sudah sangat menguras tenaga karena sudah mulai menanjak.
Setibanya di dinding lemari, saya tercengang, memikirkan bagaimana cara melewatinya. Saya mulai ragu untuk mendakinya, langkah saya lama terhenti di hadapan dinding lemari. Satu per satu teman saya sukses melewatinya kecuali bang Dio, bang Trisan dan kak Agung, yang memang mereka menunggu saya untuk terlebih dahulu melewatinya. Saya berulang kali bolak-balik di dinding lemari, yang awalnya mencoba menggunakan tali tetapi saya ragu dan saya turun kembali lalu mencoba melewati akar pohon yang berada di sebelah kanan. Saya yakin untuk melewati akar pohon ini tetapi keyakinan saya dipatahkan dengan pendeknya kaki saya yang tidak dapat menjangkau pinjakan selanjutnya. Sial! Kembalilah saya menggunakan tali tersebut dengan disusul Apri di belakang saya untuk jaga-jaga kalau ada apa-apa, padahal kan ya Apri juga perdana sama seperti saya. Teman-teman saya lainnya sudah menunggu di atas sambil memberikan arahan kemana seharusnya kaki saya melangkah di dinding lemari itu. Mereka sudah siap siaga di atas untuk menyambut tangan saya. Bukannya sombong, tetapi selama perjalanan saya tidak pernah menyambut bantuan tangan dari teman-teman saya ini. Kembali lagi ke awal, saya bukan tipe orang yang mudah percaya, termasuk dalam hal ini dan saya pikir saya juga masih mampu. Tetapi tidak dengan dinding lemari ini, saya percaya untuk mengambil bantuan tangan dari teman saya menuju ke atas. Sampailah saya, yang disusul oleh Apri dan dilanjutkan oleh kak Agung, bang Trisan dan bang Dio. Semuanya sukses melewati dinding lemari. Seru juga, dalam hati saya sambil tersenyum.
 |
| Kak Agung dan bang Trisan di bagian akar dinding lemari |
 |
| Saya dan Apri yang melewati dinding lemari |
 |
| Istirahat di atas dinding lemari, foto diambil ketika turun |
 |
| Dilihat dari posisi duduknya saja, sudah pasti orang ini kecapekan parah. Foto juga diambil ketika turun |
Setelah istirahat beberapa menit di dinding lemari, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju shelter 2. Selama perjalanan kami hanya istirahat beberapa menit, tidak boleh berlama-lama dan terlena karena kami mengejar kalau bisa sampai di pelataran jangan malam. Sesampai di shelter 2, kami kembali beristirahat, tidak boleh lama dan tidak boleh duduk, nanti keenakan dan mager. Apalagi di shelter 2 ini suhu mulai berubah drastis, mulai mendingin disertai angin dingin yang menusuk kulit dan wajah. Posisi pendakian kami dari awal tidak berubah, urutannya tetap sama. Alan berada paling depan diikuti dengan Yuda dan Novrin, lalu saya di tengah bersama Apri dan di belakang kami ada bang Trisan, kak Agung dan bang Dio. Alan yang paling cepat berjalan diletakkan pada posisi paling depan, untuk segera mendirikan tenda sesampainya di pelataran, saya di tengah karena memang saya tidak terkejar dengan langkah Alan dan saya tidak mau di belakang juga karena langkah saya akan menjadi lambat. Setelah shelter 2, ada cadas (tebing bebatuan). Di cadas tidak ada pohon-pohon besar, yang ada hanya pohon panjang umur yang tingginya hanya maksimal 2 meter. Hal tersebut membuat cadas menjadi dingin karena menjadi terbuka dan otomatis berangin dan berembun.
 |
| Foto diambil di cadas ketika turun |
Sebelum mencapai cadas, trek perjalanan didominasi dengan memanjat pohon, kaki yang harus lebih tinggi untuk mencapai pinjakan, sering-sering mencari dahan atau akar pohon untuk menjadi pegangan untuk mendaki, melelahkan. Tetapi rasa lelah itu hilang ketika melihat pendaki-pendaki lain yang tetap masih semangat melangkah. Saya bertemu dengan rombongan pendaki lain dan didominasi oleh cewek, cowoknya cuma ada dua orang. Rombongan kami sempat berkenalan dengan rombongan ini, yang saya ingat sampai sekarang adalah bang Irfan Afandi (anggota mapala Bhuwana Cakti) dan mbak Aimanal (katanya dia kenal dengan kakak kedua saya, yaitu Ades).
Di cadas, saya sempat terpisah dengan rombongan. Saya sendirian, Apri sudah mendahului saya karena saya yang memintanya. Waktu hampir menuju maghrib, langit tak lagi cerah. Saya memegang headlamp sambil berteriak memanggil nama teman-teman saya, tidak ada jawaban. Saya ragu untuk melanjutkan pendakian karena memang saya tidak tahu treknya, saya takut tersesat. Yang pasti saat itu, masih ada bang Trisan, kak Agung dan bang Dio yang berjalan di belakang saya meskipun saya tidak tahu berapa meter jarak yang memisahkan kami. Asalkan saya tetap berada di trek pendakian, mereka pasti menemukan saya nanti. Saya putuskan untuk menunggu mereka sambil menyalakan headlamp dan sesekali berteriak memanggil mereka meskipun tetap tidak ada jawaban. Menit-menit berlalu, suhu semakin dingin, saya yang pada saat itu menggunakan sweater yang cukup tebal tetap merasakan dinginnya suhu Gunung Dempo.
Meskipun cuaca tidak lagi terang tetapi saya tidak panik dan tetap duduk di bebatuan menunggu teman-teman saya ini muncul. Entah berapa menit saya menunggu, akhirnya dari bawah ada suara, saya tidak berpikiran negatif. Saya yakin sekali suara itu ditimbulkan oleh teman-teman saya. Benar saja, saya menyenteri mereka dan tidak bertanya ada apa, kenapa lama sekali, kenapa tidak menyahut saat saya panggil. Biarkanlah pertanyaan-pertanyaan itu saya simpan dulu.
Yang terpenting adalah sampaikanlah dulu langkah ini ke tenda di pelataran karena saya sudah sangat capek, begitupun juga mereka. Kami melanjutkan kembali perjalanan melewati cadas dan sampailah di top Gunung Dempo. Ternyata Alan, Yuda, Novrin dan Apri beristirahat di sini. Sesampainya kami di top, mereka melanjutkan perjalanan lagi turun menuju pelataran untuk mendirikan tenda. Iya, memang setelah top Gunung Dempo kita harus turun menuju pelataran dan mendaki kembali jika ingin ke kawahnya. Pelataran ini semacam lembah yang tersembunyi antara top Gunung Dempo dan kawahnya. Tidak lama mereka turun, kami juga memutuskan untuk menyusul mereka. Jangan terlalu lama beristirahat karena matahari sudah mulai hilang dan takutnya malah mager.
 |
| Foto di top Gunung Dempo, diambil ketika turun dengan formasi lengkap |
Kami sampai di pelataran, tenda sudah berdiri, total ada tiga tenda. Mereka sudah menyiapkan semuanya, matras sudah digelar, SB sudah dikeluarkan, dan mereka sedang menyiapkan kompor untuk membuat kopi, teh ataupun susu hangat. Saya setenda dengan kak Agung dan bang Dio. Tidak mungkin saya tidur di tenda sendirian, saya tidak seegois itu. Untuk hal ini dan malam ini, saya percaya kepada mereka. Saya memutuskan untuk tidur duluan, saya kecapekan, lebih tepatnya saya kaget dengan rasa capek ini. Tanpa basa-basi lagi, saya langsung masuk ke SB dan tidur tanpa makan atau minum sedikitpun. Begitulah saya, tidak bisa mengontrol rasa capek dan rasa kantuk. Saya tidak memperdulikan sekitar jika dua hal tersebut sudah menyerang saya. Beberapa kali saya dibangunkan untuk sekedar disuruh minum atau makan, sedikit saja pun tak apa kata mereka. Tetapi permintaan tersebut saya tolak berulang kali, bang Dio yang tidak lelah membangunkan saya berulang kali akhirnya menyerah juga dan membiarkan saya tidur.
Paginya mereka sudah bangun dan mulai memasak air kembali untuk membuat minuman hangat. Bang Dio yang setenda dengan saya, menggoyang-goyangkan badan saya agar saya terbangun. Sebenarnya saya mendengar semua kebisingan pagi itu tetapi saya tetap tak beranjak keluar dari SB. Mager! Kak Agung pun bangun dan keluar dari SB, saya mengamati geraknya dari dalam SB dan melihat ternyata kak Agung keluar dari tenda. Wah, apa-apaan ini, masa semuanya pada keluar tenda? Dari dalam SB di tenda ini saja masih dingin apalagi keluar tenda, pikir saya. Terdengar suara bang Dio berteriak dari luar tenda, "Sayang banget yang tidak keluar tenda, sunrise sudah mulai muncul." Intinya dia mengimingi sunrise di luar sana. Aah.. apalah coba, cuma sunrise doang mending saya di dalam tenda. Tetapi kebisingan di luar membuat saya tidak bisa tidur lagi, saya mencoba untuk melihat ke luar tenda. Karena sampai di pelataran pada saat malam hari membuat saya tidak tahu bagaimana bentuk tempat yang dinamakan pelataran ini. Ternyata luas dan ditumbuhi pohon yang letaknya tidak terlalu dekat satu sama lainnya. Rasa penasaran membuat saya memutuskan untuk keluar tenda, gila, berulang kali saya keluar masuk tenda. Itu dingin sekali, sangat, parah! Saya tidak pernah merasakan suhu sedingin ini dalam hidup saya. Saya berjalan ke tempat yang agak terbuka agar saya bisa melihat bagaimana bentuk pelataran ini. Saya melihat ke arah depan, terjulang puncak yang terdapat pohon panjang umur (tidak rimbun), lalu di arah sebaliknya ada puncak lagi tetapi ditumbuhi pepohonan yang rimbun sehingga menutupi trek di dalamnya. Puncak itu yang kami lewati tadi malam.
 |
| Kondisi pelataran menghadap ke kawah Gunung Dempo |
Bang Dio berkata kami sarapan sedikit saja, ala kadarnya saja, dan membawa minuman di dalam tas. Kami berencana untuk mendaki ke puncak kawah, dengan iming-iming sunrise tadi. Saya sempat ragu untuk ikut mereka ke puncak kawah karena tidak tahan dingin dan rasa capek. Tetapi saya pikir, sayang sekali, sudah sejauh ini saya berada tanpa izin orang tua lagi. Yasudah, akhirnya saya memutuskan untuk ikut mendaki puncak kawah yang katanya memakan waktu maksimal 1 jam. Seingat saya, kami summit pukul 06.00 WIB dan tibalah kami di puncak kawah sekitar jam 7 kurang dengan pemandangan kawah berwarna abu-abu. Warna kawah Gunung Dempo ini dapat berubah warna, dari warna abu-abu, tosca dan biru. Tetapi jika kalian beruntung, kalian bisa dapat kawah berwarna pink tetapi mendakinya harus pada tanggal 14 Februari. Itu lelucon yang sering dilontarkan oleh para pendaki Gunung Dempo dan saya sempat percaya ketika mendengar cerita itu.
Subhanallah, Allahu Akbar! Indah sekali pemandangan dari atas puncak kawah ini, saya merasa kecil sekali di hadapan-Nya. Saya tidak ada apa-apanya, mulai terlintas kembali dosa-dosa yang sudah saya perbuat. Terutama dosa pergi mendaki tanpa izin orang tua ini, saya terduduk di bebatuan di puncak kawah, sambil memikirkan bagaimana kalau saya ketahuan mendaki, apalagi di sini saya bertemu dengan teman kakak kedua saya (Ades). Saya takut nanti mbak Aimanal menceritakan hal ini ke Ades. Lamunan saya buyar ketika salah satu teman saya mengucapkan selamat ulang tahun ke saya, saya lupa siapa yang pertama kali mengucapkannya. Saya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Kata mereka, "enak ya ulang tahun di puncak Dempo." Saya hanya membalas dengan senyuman, saya memang tidak banyak bicara dari awal pendakian. Satu jam sudah kami berada di puncak kawah sambil menikmati pemandangan dan berfoto, kami memutuskan untuk turun ke pelataran kembali untuk sarapan dan packing kembali.
 |
| Saya dulu belum berhijab hehe.. |
 |
| Formasi lengkap di puncak kawah Gunung Dempo |
Kami turun ke Kampung IV tanpa hambatan berarti. Tetapi ada satu momen yang sangat saya ingat sampai sekarang ketika turun mendaki Gunung Dempo ini. Pada saat itu, waktu hampir menjelang maghrib tetapi saya dan bang Dio masih berada di pintu rimba. Teman-teman yang lain sudah duluan. Saya sangat kelelahan, saya meminta ke bang Dio untuk istirahat dulu di pintu rimba karena bang Dio terus-terusan mengajak saya untuk berjalan kembali agar tidak kemalaman sampai di basecamp Kampung IV. Saya menolaknya, karena saya memang tidak kuat lagi berjalan. Saya malah menyuruh bang Dio untuk duluan saja ke Kampung IV, biarkan saya istirahat dulu di pintu rimba. Saya tidak mau menjadi penghambat, lagian saya juga sudah hapal jalan turun ke Kampung IV dari pintu rimba, tinggal turun melewati kebun teh dan ikuti saja jalan besar sesampainya di plang titik awal pendakian. Lalu bang Dio mulai berkata "kita naik bareng, turunnya juga harus bareng. Percuma daki sama-sama kalau turunnya sendiri-sendiri." Sebenarnya banyak lagi yang diucapkan oleh bang Dio ke saya, semuanya mengena. Dia dengan sabar menunggui saya istirahat. Sampai pada akhirnya dia menawarkan untuk menggendong saya turun. Saya tahu, ini pasti bang Dio sudah tidak sabar lagi menunggu saya istirahat. Mungkin juga, bang Dio merasa bertanggung jawab sebagai leader dan beban janji ke kakak saya 😁 Tetapi saya menolak tawarannya, karena kita sama-sama capek, bukan saya saja yang capek, pasti semuanya juga capek apalagi bang Dio harus menggendong saya.
"Pelan-pelan saja, yang penting kita nyampe gak kemalaman. Nanti biar kamu cepat ganti baju, istirahat dan makan. Pasti sudah lapar kan sekarang?"
Begitu kata bang Dio. Saya paksakan kembali kaki saya untuk berjalan. Iya, dengan sangat pelan saya berjalan. Sesampainya di plang titik awal pendakian, saya beristirahat sebentar di sana dan melanjutkan kembali perjalanan menuju Kampung IV. Untuk memecah keheningan, bang Dio bertanya kepada saya sambil senyum, "gimana dek?" Tanpa ragu saya langsung jawab sambil ngoceh-ngoceh kalau saya tidak mau lagi daki Gunung Dempo. Bang Dio cuma senyum-senyum dan bilang "Yakin? Jangan bilang gitu, kita gak tahu kedepannya gimana." Saya menimpali lagi pertanyaan bang Dio dengan satu kata "Yakin!"
Akhirnya, kami sampai juga di warung emak Tina. Saya buru-buru disuruh mandi dan berganti baju, dalam keadaan dingin seperti itu mana mungkin saya mandi. Saya memilih untuk berganti baju saja dan sikat gigi. Setelah berganti baju, saya duduk di kursi panjang warung emak Tina sambil menunggu pesanan makanan saya selesai. Di sinilah saya berkenalan dengan bang Awe. Anak Unsri mana sih yang tidak kenal dengan bang Awe (pada saat itu kecuali saya)? 😁 Bang Awe duduk di sebelah saya, kami mulai berkenalan dan bercerita. Mungkin dia kasihan ngelihat muka saya yang bengong kecapekan. Setelah pesanan saya selesai, bang Awe mempersilahkan saya untuk makan terlebih dahulu. Malam itu kami belum pulang ke Indralaya, kami pulang ke Indralaya besok paginya dari Kampung IV menuju terminal Kota Pagar Alam dengan menyewa mobil salah satu warga di Kampung IV dan melanjutkan perjalanan menggunakan bis menuju Indralaya.
No comments:
Post a Comment