Pada postingan kali ini saya ingin bercerita bagaimana awalnya saya bisa mengenal Bung Fiersa Besari x Kerabat Kerja. Serta cerita saya saat pertama kali menonton konser mereka di Kota Palembang pada tanggal 28 April kemarin di Bingen Cafe. Itu merupakan kali pertama Bung Fiersa Besari ke Palembang bersama Kerabat Kerja, setahu saya Bung Fiersa pernah ke Palembang dalam sesi meet and greet di Gramedia.
Awal saya tahu Bung Fiersa pada bulan September tahun 2016 dan itu hanya sekedar tahu saja. Pertama kali yang mengenalkan Bung Fiersa adalah teman saya, Isnayati. Isnay sering mengupload foto cowok berambut panjang dan lurus di akun media sosialnya. Rasa penasaran pun mencuak di pikiran saya, saya pikir cowok berambut panjang lurus itu pacarnya sekarang. Lalu saya tanyakan kepada Isnay, kira-kira begini "cowok baru sekarang Nay? Brondong lagi? Kenal di mana?". Karena saya hampir tidak pernah menemui cowok sejenis itu di Unsri, tempat saya dan Isnay berkuliah. Isnay bercerita kalau cowok itu bernama Panji Wasis, temannya Fiersa Besari. Oke, Panji Wasis, dan ini siapa lagi Fiersa Besari, pikir saya. Diceritakanlah oleh Isnay kalau Fiersa Besari adalah seorang penulis dan Panji Wasis adalah teman mendakinya Fiersa. Pada saat itu juga, Isnay bercerita kalau Fiersa Besari adalah seorang penulis, dan judul bukunya adalah Garis Waktu. Saya diberitahu akun instagram Panji Wasis dan Fiersa Besari oleh Isnay. Untuk saat itu, saya lebih tertarik melihat instagramnya Panji Wasis ketimbang instagramnya bung Fiersa Besari.
Pada suatu waktu, di bulan dan tahun yang sama, seperti biasa saya menyempatkan waktu ke Gramedia untuk melihat-lihat buku, selain selalu mengecek harga buku Tan Malaka yang Madilog (sebenarnya sih berharap ada diskon), siapa tahu ada buku bagus untuk menjadi koleksi saya. Saya melihat buku Bung Fiersa Besari, Garis Waktu, terpampang di Gramedia. Saya foto buku tersebut dan saya kirim ke Isnay lalu saya shared di akun Path saya dengan caption "Kata Isnay ini buku bagus terlepas dari tampang penulisnya 😃".
Tetapi saya lebih tertarik membeli bukunya Boy Chandra yang Catatan Pendek untuk Cerita Cinta yang Panjang ketimbang Garis Waktunya Bung Fiersa. Hanya sampai bulan dan tahun tersebut saya mengenalnya dan tidak mengikuti perkembangannya lagi.
Lalu tibalah pada tahun 2018 tanggal 15 Maret, bang Age menge-shared video bung Fiersa Besari yang "Patah? Semangat!" di grup whatsapp komunitas kami. Video pendakian Bung Fiersa bersama tim Eiger Adventure dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun 2017 serentak di 28 Gunung yang tersebar di Indonesia dan Bung Fiersa mendapat bagian di Gunung Patah, Bengkulu. Mulai saat itu, saya tertarik dengan Bung Fiersa, saya mulai menonton video-videonya di youtube dan dari sanalah pula saya tahu kalau ternyata Bung Fiersa juga menyanyi. Selama bulan Maret saya menikmati video-video yang diupload di kanal youtube-nya dan saya mulai memperkenalkan Bung Fiersa Besari ke teman-teman saya, salah satunya adalah Erlina. Erlina pun tertarik dengan video-video Bung Fiersa Besari yang saya tunjukkan. Saya mulai mengikuti dia di instagram dan mengoleksi buku-bukunya.
Kemudian saya penasaran, apa kabar bukunya? Sudah berapa buku yang ia tulis? Ternyata sudah ada 3 buku yang ia tulis (Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta dan Catatan Juang). Dua bukunya (Garis Waktu dan Catatan Juang) saya beli secara online, buku Konspirasi Alam Semesta sangat susah saya cari di toko-toko buku online. Selama bulan April saya berburu buku-bukunya dan menikmati lagu-lagunya bersama Kerabat Kerja.
Di instagram, Bung Fiersa selalu mengupdate schedule manggungnya bersama Kerabat Kerja. Pada suatu ketika di story instagram-nya ia menyebutkan Kota Palembang, saya mulai mencari tahu kapan dan di mana lokasi manggungnya. Saya berulang kali berkomentar di postingan instagramnya, dan beruntung ada netizen lain yang membalas komentar saya. Mereka mengatakan kalau konsernya akan dilaksanakan pada tanggal 28 April di Bingen Cafe. Saya mengecek kalender, ternyata konsernya 10 hari lagi. Buru-buru saya mengecek instagramnya Bingen Cafe untuk mengetahui perihal tiket, ternyata tiket pre sale sudah ada dengan harga 35ribu. Lumayan murah, pikir saya.
Saya langsung membuat rencana, week end ini saya harus membeli tiketnya dan mencari buku Konspirasi Alam Semesta di Gramedia. Sabtu pagi saya berangkat dari rumah saya menuju Palembang yang memakan waktu sekitar 2 jam, saya sampai di Kopi Pulang (salah satu tempat yang juga menjual tiketnya, karena lokasi Bingen Cafe yang menurut saya jauh dan bukanya tidak dari pagi) pada jam 8 pagi lewat sedikit. Selama perjalanan saya menuju Palembang, saya mengirim pesan ke teman-teman saya perihal rencana saya ingin membeli tiket tersebut. Tanggapan mereka bermacam-macam, yang satu ada agenda untuk mendaki Gunung Dempo, yang satunya lagi ternyata tidak tahu dengan Fiersa Besari (sampai saya sempat mengirimkan lagunya kepada teman saya ini), dia hanya merespons "Lumayan lagunya, simple, easy listening. Gaya-gaya Nugie dan band indie yang santai. Mungkin lain kali, karena saya baru kali ini denger lagunya." Sudah dua orang yang tidak bisa, tinggal menunggu respons dari Erlina. Sampai saya tiba di Kopi Pulang pun belum ada respons dari dia.
Yasudah, saya tetap membeli tiket untuk 2 orang, kalaupun Erlina tidak mau ikut menonton, tiketnya bisa saya kasih ke orang lain yang membutuhkan. Sehabis dari Kopi Pulang, saya lanjut menuju Gramedia Atmo untuk mencari buku Konspirasi Alam Semesta dan ternyata saya kepagian. Gramedia buka jam 9 pagi, masih ada waktu setengah jam lagi. Saya memutuskan untuk pergi ke minimarket dengan misi mulia, yaitu menumpang buang air kecil dan ternyata juga di minimarket tersebut tidak bisa buang air besar. Setelah misi selesai, sebagai formalitas saya pun berbelanja roti dan susu di sana. Setelah memakan semua belanjaan, perut saya mulai merasa mulas. Ini hal biasa yang saya alami di pagi hari, misi mulia lainnya harus dituntaskan. Buru-buru saya melihat jam dan ternyata sudah jam 9 lewat, saya berjalan sedikit berlari. Sesampai di Gramedia, semua buku Bung Fiersa Besari berbaris rapi di lantai 3. Saya ambil buku Konspirasi Alam Semesta dan mencoba mencari buku biografi Ahmad Wahib (ternyata tidak ada). Saya pun langsung membayar buku tersebut dan buru-buru pergi ke tempat makan langganan keluarga saya untuk menuntaskan misi mulia lainnya.
Di hari itu semuanya terasa sempurna, saya dapat tiket dan buku, saya makan enak (karena saya sudah lama sekali tidak makan di tempat makan langganan keluarga saya tersebut), kumpul dengan anak-anak Lindungi Hutan dan WALHI Regional Sumatera Selatan (untuk membahas aksi Hari Bumi), mengikuti talkshow dari Solidaritas Perempuan Palembang, dan hari itu adalah Hari Kartini (21 April). Lalu Erlina pun merespons dengan senang hati akan ikut menonton konser Bung Fiersa Besari x Kerabat Kerja.
Pada hari H, saya menyempatkan diri terlebih dahulu untuk menonton Avengers: Infinity War di siang harinya. Keren, saya tidak pernah kecewa menonton film Marvel! Keluar dari bioskop, Erlina sudah menunggu di tempat makan bersama teman-teman kuliah kami dulu. Di luar dugaan saya, di sana ada Massayu (memang teman dekat saya dan Erlina), Dimas (pacarnya Massayu), Septian, Eko, dan satunya lagi saya tidak kenal. Open gate acara pukul 4 sore dengan penampilan perfomance lain terlebih dahulu, bung Fiersa Besari x Kerabat Kerja ternyata tampil pukul 20.30 WIB. Kalau saya dan Erlina pergi menonton, lalu si Massayu ini mau nunggu di mana? Sedangkan mereka semua tidak ada yang mau diajak menonton. Erlina merasa berat hati meninggalkan Massayu menunggu kami selesai nonton, yang kemungkinan akan pulang sangat malam. Saya sendiri pun tidak mungkin batal menonton bung Fiersa, karena saya sudah membawa semua bukunya (berharap bisa ditandatangani) dan gelang buatan saya sendiri. Persiapan saya sudah sejauh ini, pikir saya, tidak mungkin saya batal nonton. Saya bertanya kepada Erlina bagaimana kelanjutannya, apakah dia tetap mau menonton atau bagaimana? Dia mengikhlaskan tidak jadi menonton dan saya segera mencari pengganti Erlina karena sayang sekali tiket satunya lagi. Saya menghubungi teman saya untuk mengajaknya tetapi dia tidak tertarik dan menolak ajakan saya. Lalu saya menghubungi teman saya satunya lagi, dia merespons baik dan mengiyakan. Hitung-hitung perpisahan karena teman saya ini akan pergi ke Bangka (traveller), kami janjian langsung ketemuan di Bingen Cafe. Kami bertemu di Bingen Cafe saat maghrib dan ternyata ada satu teman saya lagi yang ikutan nonton, jadilah kami bertiga.
![]() |
| Bertiga |
Susunan acara berjalan lancar, sampai fokus saya hilang ke acara karena melihat kang Rian dan kang Sugih (crewsnya Kerabat Kerja) yang mondar mandir di dekat stage. Mata saya terus mencari-cari, kira-kira di mana bung Fiersa Besari x Kerabat Kerja bersembunyi. Ternyata sejak tadi sepertinya bung Fiersa Besari x Kerabat Kerja sudah bersembunyi di dalam cafe. Pada akhirnya pukul 20.30 WIB, waktunya mereka beraksi di panggung. Tepuk tangan dan sorakan mengantar mereka menaiki panggung malam itu. Kami terhanyut oleh lagu-lagu yang mereka bawakan, kami ikut bernyanyi bersama. Tidak ada penyesalan malam itu. Saya bahagia, cukup!
Selesai mereka manggung, mereka kembali lagi masuk ke dalam cafe. Seharusnya saya langsung menunggu mereka di dekat stage tetapi tidak saya lakukan. Di luar cafe sudah banyak orang-orang yang berdiri, ternyata ada sesi foto bersama bung Fiersa Besari x Kerabat Kerja. Saya ikutan mengantri di depan pintu masuk cafe, ternyata panitia menyuruh kami menunggu lewat pintu belakang di belakang cafe. Oke, kami beralih ke pintu belakang, ternyata di belakang lebih ramai lagi dan tidak ada pergerakan di sana untuk beberapa menit saya menunggu. Saya bolak balik ke depan dan belakang, mengecek pintu manakah yang memang dibuka untuk masuk. Selama saya menunggu di pintu depan, saya melihat kang Sugih yang bolak balik juga dari dalam cafe, dan ada orang-orang juga yang masuk dari pintu depan. Jadi, saya memutuskan untuk menunggu di pintu depan karena orang-orangnya juga lebih sedikit. Ternyata setelah beberapa orang yang masuk ke dalam melalui pintu depan, pihak panitia melarang lagi untuk lewat pintu depan jadi kami dianjurkan untuk mengantri di pintu belakang. Saya pun mengikuti kata mereka, saya ikut mengantri lagi di pintu belakang yang sudah ramai sekali dan panas. Dua orang teman saya pun ikut menunggui saya mengantri tetapi dari kejauhan, hanya terkadang teman saya yang satunya ini selalu mengecek kondisi saya. Selama saya mengantri di pintu belakang, sudah tiga kloter yang dipersilahkan masuk. Untuk kloter selanjutnya, terkesan sangat lama dibandingkan dengan kloter-kloter sebelumnya, entah kenapa. Saya sudah mulai merasa risih berhimpitan dengan manusia-manusia lainnya, keringat yang terus keluar, ditambah lagi di antrian tersebut ada yang merokok. Betapa pengapnya udara di sana, saya melihat jam, sudah menunjukkan pukul 22.25 WIB. Sudah sangat malam menurut saya, apalagi saya harus pulang ke arah Jakabaring yang jarak tempuhnya lumayan jauh dan agak "rawan" kata orang.
Akhirnya saya memutuskan untuk pulang saja, saya ikhlaskan tidak foto bersama mereka dan juga tidak mendapatkan tanda tangan bung Fiersa. Langkah kaki yang mulai lunglai tiba-tiba menjadi semangat untuk melangkah karena saya melihat akang-akang kece yang sedang duduk di samping stage. Akang-akang kece itu adalah kang Sugih, kang Dika dan kang Rian. Saya pikir, tidak apalah foto bersama dan tanda tangan bung Fiersa Besari x Kerabat Kerja digantikan oleh mereka. Toh, mereka juga berjasa dalam karier bung Fiersa Besari x Kerabat Kerja. Saya memutuskan untuk menghampiri akang-akang kece ini, kedua teman saya ini hanya mengikuti saja dari belakang. Mungkin dalam pikiran mereka, siapa orang-orang yang saya hampiri ini? Saya menyapa kang Sugih terlebih dahulu dan mengutarakan niat saya untuk foto bersama mereka. Kang Sugih mengiyakan, saya mencoba selfie dengan mereka tetapi saya sempat kaget melihat wajah saya yang tampak kucel di kamera depan, membuat saya agak ragu melakukan selfie. Tiba-tiba teman saya menghampiri kami dan menawarkan jasa menjadi tukang foto, mungkin teman saya ini menangkap wajah kaget saya tadi, teman yang baik 😁
Kang Sugih berdiri dan disusul oleh kang Dika tetapi kang Rian tidak ikut berdiri. Entah, karena sombong atau memang malas dengan hal-hal begitu. Setelah foto bersama akang-akang kece ini, saya pun meminta tanda tangan mereka di album Konspirasi Alam Semesta yang sedari tadi saya pegang. Awalnya kang Dika ingin tanda tangan di buku-buku bung Fiersa yang saya pegang tetapi saya pikir mereka kan bukan penulis, jadi saya menyarankan kang Dika dan kang Sugih untuk tanda tangan di albumnya saja. Mereka pun mengiyakan, dan kang Rian pun ikutan tanda tangan. Kemudian saya teringat gelang yang saya buat untuk bung Fiersa, saya pikir tidak etis untuk menitipkannya di akang-akang ini. Jadi, gelang buatan saya ini saya berikan kepada kang Dika karena saya melihat tangan kang Sugih sudah dipenuhi oleh gelang-gelang. Sebelum pamit untuk pulang, tiba-tiba kang Rian berdiri dan mengambil sesuatu dari kantong celananya. Dia mengeluarkan pick gitar Fiersa Besari x Kerabat Kerja dan memberikannya kepada saya. Wah, ini pick gitar yang baru mereka buat kemarin dan sempat mereka upload di story instagram mereka. Dengan sangat senang hati saya menerima pick gitar tersebut. Setelah semua niatan saya terealisasikan, saya pamit untuk pulang ke akang-akang ini. Saya salami satu per satu dari mereka tetapi mata saya terfokus pada celana yang dikenakan oleh kang Sugih. Saya agak heran, kenapa kang Sugih memaksakan memakai celana itu? Karena saya lihat, kancing celana itu tidak tertutup rapat, mungkin kekecilan atau rusak 😂
![]() |
| Kang Rian yang lagi duduk sambil garuk kepala di samping kang Dika |
![]() |
| Pick gitar Fiersa Besari x Kerabat Kerja |
![]() |
| Tanda tangan kang Sugih, kang Dika dan kang Rian |
Saya pulang tidak jadi menggunakan jasa taksi online karena teman-teman saya berbaik hati untuk mengantarkan saya ke ujung Jakabaring sana, tempat saya menumpang tidur malam itu yaitu rumahnya Erlina. Percayalah, orang baik akan bertemu dengan orang baik pula dan saya sangat mempercayai hal ini. Jadi, jangan berhenti berbuat baik sekecil apapun itu.
Keesokan harinya, saya memposting foto-foto hasil semalam ke akun instagram saya. Di luar dugaan, kang Sugih, kang Dika dan Jason Sutedja (keyboardist Kerabat Kerja) tidak menyukai postingan saya 😁 Tidak mengapa, yang penting bung Fiersa, kang Dikuy, kang Ricky, kang Budi dan kang Rian menyukai postingan saya.
![]() |
| Tetapi di live instagram, kang Dika memperlihatkan gelang dari saya |













No comments:
Post a Comment