Mau Cari Apa?

Monday, 9 July 2018

Taman Nasional Way Kambas, 21 Juni 2018

Pada perjalanan kali ini saya mencoba untuk solo travelling. Karena apa? Karena tidak ada teman 😂 Saya sudah ada planning ke Way Kambas dari jaman film Black Panther belum tayang, Way Kambas Forever! Mau ngapain ke Way Kambas? Semuanya bertanya seperti itu, ya mau ngapain lagi kalau bukan melihat gajah, bukan? Cuma melihat gajah saja? Tidak ada yang lain? Lah, memang kalian mau lihat apa di sana kalau bukan gajah? Artis? Namanya juga Pusat Konservasi Gajah (PKG) atau mungkin bisa benaran ketemu dengan T'Challa (Black Panther) di Way Kambas. Ya sudahlah ya, tidak usah panjang lebar, saya langsung cerita saja.

Sejak tekad saya sudah bulat untuk pergi ke Taman Nasional Way Kambas, hampir setiap hari saya googling tentang Way Kambas sambil menawarkan ajakan ini ke teman-teman saya yang kira-kira mau ikut bersama saya ke sana. Dari rute, budget, lokasi, penginapan sampai kontak orang-orang yang bisa saya hubungi untuk menuju Taman Nasional Way Kambas sudah saya dapatkan. Untungnya, dua minggu sebelum puasa ada kabar gembira dari pemerintah kalau cuti bersama lebaran sampai tanggal 21 Juni 2018, dan itu adalah week end. Jadi, saya memutuskan untuk berangkat tanggal 21 Juni, pulangnya tanggal 24 Juni, saya mengambil week end saja ke sana. Tiket kereta api pulang pergi Palembang-Lampung pun sudah saya pesan seminggu sebelum puasa, takut kehabisan, kan masih suasana mudik lebaran. Saya pesan dua tiket kereta api pagi, satunya untuk teman saya, bang Dio. Dari awal saya memang sudah pesimis kalau dia ini bisa pergi dengan saya, karena dia tidak mau hanya pergi berdua saja dengan saya. Saya juga pesimis kalau akan ada teman saya yang lainnya yang mau ikut. Yasudah, pada saat itulah saya memutuskan untuk solo travelling. Saya tidak lagi menawarkan ajakan ini ke teman-teman saya. Bahkan saya tidak lagi membahas masalah kepergian saya ke Way Kambas ini dengan Bang Dio maupun teman-teman saya yang lainnya. Kalau ada yang bertanya, baru saya jawab.

Dari hasil googling, saya mendapatkan kontak Pak Pal, salah satu mahout (pawang gajah) di Way Kambas sana. Sepertinya pamor Pak Pal ini sangat terkenal, setiap saya googling tentang Way Kambas, pasti hasilnya menyebutkan nama Pak Pal. Saya menghubungi Pak Pal pada tanggal 18 Mei 2018, saya menanyakan harga penginapan di sana, terus izin kalau mau buka tenda di sana dan akses menuju Way Kambas. Semua pertanyaan saya dibalas dengan Pak Pal keesokan harinya, beliau bilang harga penginapan 300ribu/malam dengan kamar ukuran 4x6 meter, kalau saya mau buka tenda juga boleh-boleh saja, nanti tinggal minta izin di sana. Lalu, akses ke Way Kambas bisa pakai ojek karena taksi tidak ada yang masuk ke sana. Mungkin taksi yang dimaksud Pak Pal di sini adalah angkutan umum karena di tempat saya tinggal pun angkutan umum disebut taksi 😁

Saya mulai merencanakan itenerary saya dengan tujuan utama Taman Nasional Way Kambas dan sekitaran Tanjung Karang, karena dekat dengan stasiun kereta a
pi. Awalnya saya berniat untuk mendirikan tenda saja di Way Kambas tetapi saya urungkan niat saya tersebut, saya memikirkan beban tas saya. Saya juga tidak berencana untuk membawa carrier jadi otomatis nanti kalau saya membawa tenda, tas akan penuh dengan tenda, lalu harus membawa matras dan sleeping bag juga. Sebenarnya harga penginapan 300ribu/malam itu terasa berat di kantong saya, apalagi saya hanya sendirian, saya sempat berpikir untuk nekad menumpang tidur di pos penjaga mahout di Way Kambas sana. Karena saya pernah membaca blog orang kalau dia tidur di pos penjaga mahout-nya. Saya juga menghubungi orang tersebut untuk tanya-tanya soal penginapan, dia sih menyarankan saya untuk buka tenda saja di sana karena saya cewek mungkin juga tidak akan nyaman jika tidur di pos penjaga yang isinya cowok semua. Jadilah pada tanggal 30 Mei saya menghubungi Pak Pal kembali untuk booking penginapan di Taman Nasional Way Kambas dengan check in tanggal 22 Juni.


Saya berniat untuk menghemat pengeluaran saya di hal-hal lainnya, seperti tidur di stasiun atau masjid saja pada saat berada di Tanjung Karang. Dari transportasi pun saya mengambil yang murah, saya naik kereta api pagi dari Palembang jadi sampai Tanjung Karang pasti malam, kan cuma semalam juga, saya pikir akan aman saja jika saya menggembel di masjid. Jadi, setiap teman yang menanyakan saya mau tidur di mana saat di Lampung nanti, dengan mudahnya saya menjawab "Mudah, selama masih ada masjid di Lampung mah gampang." Jawaban saya itu mengundang banyak reaksi dari teman-teman saya, kebanyakan sih responsnya seperti ini, "Gila, memang gak takut? Gak ada teman apa di Lampung? Inget, elu tu cewek!" Percayalah, saya ada teman di Lampung dan saya sudah menghubungi mereka semua. Beberapa memang rumahnya jauh dari Tanjung Karang dan beberapa yang dekat Tanjung Karang sedang tidak berada di rumahnya pada tanggal segitu.


Awalnya saya tetap kekeuh untuk tidur di masjid, sampai pada akhirnya saya cerita ke kakak perempuan saya (Okky).

Saya: "Mbak, aku nanti di Lampung tidur di masjid aja, itung-itung biar hemat. Gimana menurut mbak?"
Okky: "Terserah sih, kalo mau ngegembel ya sono, silahkan."
Saya: "Yaudah, berarti fix tidur di masjid, tinggal bawa SB aja nanti."
Okky: "Kamu itu mau liburan lho Mel, liburan ya maunya yang enak-enak kan. Itu bukan liburan namanya tapi ngegembel, sayang-sayang sama badan sih. Kamu itu gadis, carilah penginapan yang murah aja di sana. Jangan pelit-pelit sama diri sendiri."
Jleb banget dah, tetapi ada benarnya juga sih. Liburan kok malah menyusahkan diri sendiri, jadi untuk apa liburan kalau begitu? Kenapa saya bilang menyusahkan diri sendiri? Ya pikir saja, sudah capek di kereta api seharian dengan bawaan lumayan dan harus keliling malam-malam buat cari masjid, kan ngenes.

Saya mulai searching penginapan-penginapan murah di sekitaran Stasiun Tanjung Karang. Memang rejeki anak sholehah ya, ternyata traveloka ada diskon 15% untuk penginapannya. Saya dapat penginapan (Omah Anakku) dengan budget 120ribuan/malam. Murah sekali dan fasilitasnya juga lengkap, ada TV, pakai AC, wi-fi, dan sarapan gratis. Yang paling penting, aksesnya mudah untuk kemana-mana dan dekat dengan stasiun. Saya booking dua malam di penginapan itu dengan check in tanggal 21 Juni dan 23 Juni. Karena malam tanggal 22 Juninya saya menginap di Way Kambas.


Kira-kira beginilah itenerary saya selama di Lampung:

Tanggal 21 Juni 2018
- Pukul 19.00 sampai di Tanjung Karang naik go-jek langsung check in penginapan

Tanggal 22 Juni 2018
- Pukul 06.00 check out penginapan menuju Pool Damri Rajabasa menggunakan go-jek
- Pukul 07.00 berangkat menuju Way Kambas
- Pukul 10.00 sampai di Pasar Tridatu lanjut ojek menuju Taman Nasional Way Kambas dan keliling Way Kambas seharian

Tanggal 23 Juni 2018
- Pukul 06.00 keluar penginapan lihat gajah mandi dan keliling lagi sebentar
- Pukul 08.00 naik Damri lagi menuju Rajabasa
- Pukul 11.00 sampai Rajabasa dan menuju penginapan menggunakan go-jek
- Pukul 12.15 setelah shalat dzuhur menuju Vihara Thay Hin Bio di Jalan Ikan Kakap, Teluk Betung, dan keliling ke pusat oleh-oleh keripik
- Pukul 14.30 menuju Taman Dipangga
- Pukul 15.30 menuju Little Europe (Perumahan Citra Garden)
- Pukul 17.30 balik ke penginapan

Tanggal 24 Juni 2018
- Pukul 06.30 check out penginapan menuju stasiun

Sebenarnya ada bebera
pa pilihan tempat lagi saat berada di sekitar Tanjung Karang yang sempat masuk ke list saya, yaitu Situs Goa Jepang, Wisata Hutan Kera, Masjid Al-Anwar, Pantai Tirtayasa, Puncak Tirtayasa, dan Pantai Duta Wisata. Pertama, Situs Goa Jepang saya coret dari list karena hanya berupa lobang yang sudah ditutupi oleh penutupnya (lempengan besi), hanya begitu saja. Kedua, Wisata Hutan Kera saya coret karena di sini keranya masih liar, saya takut nanti dicakar (tidak ada yang bisa menebak nasib sial seseorang). Ketiga, Masjid Al-Anwar (masjid pertama di Lampung) saya coret karena hasil googling masjidnya sudah banyak direnovasi. Keempat, pantai saya coret dari list saya karena saya tidak terlalu senang dengan pantai (soalnya saya tidak bisa berenang). Jadilah pilihan destinasi saya di sekitar Tanjung Karang tinggal Taman Dipangga, Little Europe dan Vihara Thay Hin Bio serta pusat oleh-oleh keripik khas Lampung dan semua tempat tersebut berada di Teluk Betung. Nanti saya jelaskan mengapa saya memilih tempat-tempat tersebut.


Sebelum berangkat ke Lampung, saya sempat cerita dengan Esa (teman kerja saya) kalau saya akan pergi ke Way Kambas pada tanggal 21 Juni. Esa bilang hati-hati ke saya, kebetulan dia juga memberi informasi tentang kontes foto di Instagram. Wah, kebetulan sekali, pikir saya. Nanti sambil foto-foto syantik deh di Way Kambas untuk kontes foto, siapa tahu beruntung kan ya? Ditambah lagi rencana saya yang ingin memotret buku-buku karya Bung Fiersa Besari yang saya miliki, terniat ya? Awalnya saya packing semua buku-buku Bung Fiersa Besari, dari Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta, Catatan Juang sampai bukunya yang terbaru, yaitu Arah Langkah. Tetapi, bobot tas saya menjadi sangat berat, sampai SB pun saya keluarkan dari tas saya. Bobot tas saya tetap berat, saya putuskan untuk membawa dua buku saja, yaitu Konspirasi Alam Semesta (favorit saya) dan Arah Langkah (buku terbaru). Bobot tas saya menjadi lebih ringan dibandingkan sebelumnya.

Ada cerita lagi sebelum saya berangkat ke Way Kambas. Jadi, teman-teman saya yang tahu kalau saya akan pergi ke Way Kambas sendirian, mereka sempat khawatir dan ragu apakah saya bisa sampai ke Way Kambas dengan selamat? Apakah saya bisa menikmati suasana di Way Kambas sendirian? Saya bilang saja, ''Saya yang berangkat saja tidak ragu, kenapa kalian harus ragu?'' Belum lagi pesan-pesan mereka yang bilang kalau Lampung itu rawan begal. Saya kan tidak membawa motor, kenapa harus dibegal? Selain begal, di Lampung juga banyak copet, kata mereka. Ayolah, Palembang ini lebih terkenal copetnya daripada Lampung. Alhamdulillah selama saya di Palembang tidak pernah kena copet, Alhamdulillah sekali. Jangankan di jalanan, di masjid pun kadang ada yang mencuri sendal atau sepatu. Jadi, menurut saya orang-orang jahat itu bisa berada di mana saja, begitu pun juga dengan orang-orang baik. Selalu jaga sikap saja di tempat orang dan selalu hati-hati, ya jangan lupa juga berdoa sih dan tetap fokus. Tetapi saya juga bersyukur punya teman yang sudah mau mengingatkan saya. Satu lagi, malah menurut saya Lampung ini sudah lumayan ramah dengan para traveller.

Dimulai hari pertama, tidak ada kendala. Hanya saja setiba saya di Stasiun Tanjung Karang, yang awalnya saya selalu excited kalau naik kereta api menjadi memudar perlahan. Mungkin selama perjalanan tadi tidak ada teman mengobrol dan mayoritas penumpang kereta adalah anak-anak yang berisik (pecicilan, lebih tepatnya sih nakal). Karena rasa bosan, saya sempat keliling di kereta dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Saya kira pintu kereta api ini terbuka seperti kereta api yang ada di film 5 cm tetapi kenyataannya tidak, pintu dikunci dan dilarang untuk dibuka selama kereta api berjalan. Kalau pintunya terbuka kan lumayan, saya bisa membuat video-video pendek amatiran gitu. Niat saya untuk membuat video pun gagal, jadi saya fokus memperhatikan suasana di kereta api. Per gerbong kereta saja, satu keluarga bisa membawa minimal 2 anak dan itu rata-rata dalam usia balita. Ditambah lagi, WC yang sangat bau. Awal kereta berangkat semua WC bersih dan tidak bau tetapi selama perjalanan banyak sekali orang-orang yang masuk WC tidak bertanggung jawab. Saya menyaksikan sendiri, banyak orang tua yang menemani anak-anaknya buang air kecil tidak disiram lagi, belum lagi ditambah bocah-bocah yang sudah berani buang air kecil sendiri dan tetap tidak menyiram. Kok mereka seperti itu sih? Saya saja dari kecil sudah dibiasakan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga kebersihan sekitar saya. Apa susahnya tinggal disiram saja? Toh, airnya juga banyak dan itu juga tidak membuat tangan kamu jadi kram kan? Side job saya di kereta ini, khususnya di gerbong tempat saya duduk, adalah menjaga kewangian WC. Jadi setiap saya keluar gerbong atau menggunakan WC, saya siram WC tersebut dengan menggunakan hand soap yang ada di dalam WC. Hal itu bisa membuat WC wangi kembali meskipun hanya sekejap 😐

Selama 10 jam lebih perjalanan kereta api, saya hanya mengkonsumsi 2 buah dadar gulung basi, 2 botol air mineral ukuran sedang dan beberapa potong wafer. Saya tidak memakan nasi selama perjalanan, saya lebih memilih untuk memakan makanan lain daripada nasi. Pada saat kereta api berhenti di Stasiun Baturaja, saya menyesal telah membeli dadar gulung. Di stasiun ini saya membeli 5 buah dadar gulung dan 1 kotak tango ukuran besar, total semuanya 30ribu. Saya heran, memang harganya segitu atau ini termasuk mahal? Ketika saya duduk kembali di kereta api dan mencoba memakan 1 buah dadar gulung, saya merasakan rasa yang aneh di dadar gulung ini. Memang rasanya sudah seperti basi tetapi saya pikir mungkin hanya 1 dadar gulung ini saja yang rasanya seperti itu. Lalu, saya ambil lagi dadar gulung kedua dan rasanya tetap sama. Oke fix, dadar gulung ini memang sudah basi. Satu setengah dadar gulung basi sudah masuk ke perut saya, Alhamdulillah 😐 Demi menghemat pengeluaran malah jadinya seperti itu, mending tadi saya beli nasi goreng saja di kereta, yang harganya 23ribu. Yasudahlah, penyesalan memang datang belakangan.
Foto alay di dekat WC kereta api
Di traveloka keterangan check in penginapannya pukul 14.00 WIB, jadi sewaktu berangkat dari Palembang saya sempat menelpon penginapannya kalau saya mungkin baru bisa check in sekitar jam 7 malam. Dari situ saya diberikan nomor hape penjaga penginapannya, namanya Mas Yanto. Sesampai di Stasiun Tanjung Karang, saya langsung memesan go-jek dengan posisi di depan Indomaret stasiun. Saya bilang ke driver-nya kalau saya menunggu di depan Indomaret tersebut tetapi si akang driver bilang kalau dia sudah menunggu di depan stasiun. Saya tidak tahu arah keluar stasiun ini. Padahal saya pernah kesini sekali, waktu ke Krakatau dulu. Itu pada tahun 2014, wajar saja saya sudah lupa bentuk stasiun ini sekarang. Jadi saya jalan ke arah sebaliknya, ke arah Pool Damri, semakin jalan kok semakin sepi. Saya kirim pesan ke akang driver-nya, "Mas, saya kehilangan arah. Ini dari pintu keluar ke kanan atau ke kiri ya? Saya ke kanan, adanya Pool Damri." Driver-nya langsung membalas pesan saya, "Arah sebaliknya mbak, ke kiri, berlawanan arah dengan Pool Damri. Ke arah pintu keluar." Buru-buru saya lari ke arah sebaliknya biar tidak terlalu kelihatan kalau kesasar. Alhamdulillah, masih dipertemukan dengan akang go-jeknya. Sesampai di penginapan, saya sempat menanyakan tentang sarapan gratis. Saya tanya, kira-kira bisa tidak kalau besok sarapannya diantar jam setengah 6 pagi karena rencananya jam 6 pagi besok saya harus menuju Pool Damri Rajabasa. Tetapi kata Mas Yanto tidak bisa, sarapan selalu diantar pukul 07.00 pagi. Yasudah, tidak apalah jika tidak mendapat sarapan gratis, saya juga masih menyimpan snack untuk mengganjal perut saya kalau lapar.

Penginapan "Omah Anakku" ini sangat bagus, menurut saya. Dengan budget murah, saya bisa menikmati penginapan yang nyaman dan fasilitas yang lengkap, seperti yang awal saya katakan tadi. Di penginapan ini juga disediakan handuk dan peralatan mandi. Sesampai di penginapan ini, saya tidak beranjak lagi dari kasur, bersiap untuk tidur. Karena memang penginapannya ini sangat nyaman atau memang karena saya kelelahan. Saya sibuk membalas pesan-pesan yang masuk di hape saya sampai jam 9 malam, lalu saya pun tertidur setelah menyetel alarm pukul 04.45 WIB.


Bersambung...

5 comments:

  1. Keren nian ayuk ini.mau jg yuk travelling kl di ajak hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. Boleh-boleh dek, nanti kalo misalnya mau travelling lagi ya :)

      Delete
  2. hay, keren bgt .boleh minta ig atau wa? wa saya 085263853341. Okto ini saya juga solo riding dari bogor ke padang, pengen ke way kambas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas Okto. Aduh, sorry slow respons ya hehe.. Padahal contact ig, fb dan twitter aku ada lho mas di blog ini. Bolehlah nanti aku hubungi mas di WA, kali-kali aja butuh kontak untuk ke Way Kambas ya.

      Delete
    2. Eh salah, namanya mas Teguh deng wkwk..

      Delete