Tanggal 6 April 2019 pukul 08.00 WIB kami sudah siap menuju Kebun Raya Cibodas. Semua barang telah di-packing tinggal dibawa saja nanti. Kami menuju Kebun Raya Cibodas dengan membawa tas kecil saja dan kami berjalan kaki menuju sana. Ternyata memang sangat dekat, tinggal naik tanjakan saja sudah langsung sampai. Setelah membayar uang tiket sebesar Rp 16.500,-/orang, kami langsung masuk dan mencari petunjuk arah di mana-mana setiap lokasi yang kami searching tadi malam berada. Kami mulai dengan rumah kaca. Dari pintu masuk, kami berjalan lurus sampai mentok dan belok ke kanan, lalu lurus, belok ke kiri, lurus lagi, belok lagi ke kiri, lurus lagi sampai ketemu dengan kantor LIPI. Setelah itu, kami masih harus berjalan lagi ke arah kiri, lurus lagi sampai mentok, lalu belok ke kanan, lurus lagi sampai ke ujung bertemu dua rumah kayu besar. Di belakang rumah kayu sebelah kiri, baru kami bertemu dengan rumah kaca. Bayangkan saja, baru kemarin kami turun mendaki dan ini harus berjalan lagi sampai ke ujung Kebun Raya Cibodas. Lebih sangat disarankan jika kalian ke sini menggunakan motor saja karena lokasinya yang sangat luas. Tetapi jika kalian ingin olahraga, bisalah berjalan kaki seperti yang kami lakukan ini.
Di pendakian inilah saya sedikit kesal dengan Bang Dio, karena dia selalu nge-push saya untuk berjalan sedikit cepat. Saya sudah merasa tidak enak badan ketika melewati hot spring tadi, mungkin karena perubahan suhu yang terlalu mendadak. Setelah melewati hot spring yang hangat, suhu semakin dingin. Saya tahu, hari sudah semakin sore dan kami harus mengejar sampai di puncak sebelum maghrib tiba dan bisa membuka tenda di Alun-alun Surya Kencana. Rencana hanya sekedar rencana, ketika sampai di tanjakan setan pun waktu sudah sore dan sedikit gerimis. Melihat tanjakan setan yang cukup terjal tersebut, kami turun kembali dan mengambil jalur lain. Untuk apa membahayakan diri sendiri kalau ada jalan yang lebih mudah untuk dilewati. Manusia memang terkadang rumit dan nge-sok. Saya sih setuju dengan jokes khas Palembang, "kalo wong laen pacak ngapo nak kito nian?" (Kalau orang lain bisa kenapa harus kita?) Cukuplah pendaki lain saja yang melewati tanjakan setan itu, kami mencari aman saja.
Tahun ini adalah tahun ke-delapan saya mengenal seorang pria yang bernama M. Dio Oktarustandy R. atau yang sering saya panggil Bang Dio. Saya mengenalnya sejak tahun pertama saya kuliah dulu. Sebagian besar pendakian yang saya lakukan selalu bersamanya. Dia bukan orang yang pertama kali mengenalkan gunung kepada saya dan dia juga bukan orang yang pertama kali mengajak saya mendaki gunung tetapi perannya dalam pendakian saya sangatlah berarti. Kebetulan saja setelah pendakian pertama saya pada tahun 2013 lalu, yang kebetulan juga bersamanya, saya mulai mempercayakan beberapa pendakian saya selanjutnya bersamanya. Jangan ditanya mengapa, karena saya pun tidak tahu. Atau mungkin karena dia sudah mengenal sifat saya (ini masih kemungkinan ya) jadi saya tidak perlu repot-repot beradaptasi kembali dengan orang baru, yang memang susah saya lakukan. Tambahan, kedua kakak perempuan saya pun sudah mengenal Bang Dio jadi jika ingin mendaki tinggal menjual namanya saja. Oh iya, indikator teman dekat menurut saya adalah jika saya sudah berani buang angin di depan mereka. Jadi, beruntunglah kalian yang pernah mendengar saya buang angin, baik yang disengaja maupun tidak sengaja 😁 Berarti kalian sudah saya anggap teman dekat saya karena menurut saya buang angin itu membutuhkan tempat yang nyaman.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan merayakan hari kemerdekaan negara saya yang tercinta ini di Puncak Gunung Anak Krakatau (Rakata). Semua berawal dari tawaran Apri, teman kuliah saya. Dia mengajak saya untuk mendaki bersama teman-teman futsalnya ke Puncak Gunung Anak Krakatau untuk merayakan Hari Kemerdekaan di sana tepat pada tanggal 17 Agustus.
Ini hari kedua saya berada di Taman Nasional Way Kambas dan pagi ini saya harus kembali lagi ke Rajabasa dengan menggunakan Damri. Saya bangun jam 5 pagi dan langsung mandi, shalat, packing kembali dan bersiap untuk melihat sunrise. Waktu saya keluar kamar jam 5 shubuh untuk mandi, saya melihat Akbar sudah nangkring di depan kamar saya. Pasti ini bocah sedang mencari signal. Saya tidak menyapanya karena memang nyawa saya belum sepenuhnya terkumpul.
Kebetulan pada saat saya dan Pak Pal sedang berdiri di jembatan, ada gajah besar yang masuk kandang diiringi dengan mahout-nya. Mahout-nya hanya mengantar sampai jembatan saja, selanjutnya Pak Pal yang mengambil alih. Saya diajak Pak Pal masuk ke kandang gajah (tidak ada pintu kok dibilang masuk ya?). Sebelum gajah itu diikat di pasak, Pak Pal kembali menyuruh saya berpose dengan gajah ini untuk berfoto. Saya disuruh memegang telinganya saja tetapi saya terlanjur memegang belalainya. Alhasil, si gajah mulai risau dan saya panik. Kata Pak Pal gajah tersebut jangan dipegang belalai dan gadingnya. Jadilah foto yang diambil Pak Pal tidak ada yang bagus karena muka saya yang terlalu memaksakan tersenyum padahal sedang panik.
Dari melihat fosil gajah, saya diajak Pak Pal keliling wilayah yang hanya boleh didatangi oleh pengunjung saja. Kemudian kami berhenti di sebuah kantin, ternyata Pak Pal kelaparan 😂 Saya ditawarkan makan oleh Pak Pal tetapi saya menolak karena saya memang sudah makan bakso di pasar tadi, saya hanya memesan es jeruk saja. Di sini juga banyak mahout-mahout lain yang sedang nongkrong, makan atau hanya sekedar minum kopi saja. Pak Pal makan sampai menambah 2 kali, sepertinya beliau kelaparan sekali. Yang pertama dia makan nasi lauk ayam, lalu yang kedua makan nasi lauk ikan lele. Pak Pal ini juga sepertinya sangat kuat merokok, dari saya sampai di Way Kambas pukul 10.30-11.30 WIB saja beliau sudah menghabiskan 3 batang rokok. Jaga kesehatan sih pak, biar nanti kita bisa bertemu kembali.
Hari kedua perjalanan menuju Taman Nasional Way Kambas. Pada pukul 04.50 WIB saya sudah bangun, mandi, lalu dilanjutkan shalat dan packing kembali. Pukul 06.00 WIB saya memesan go-jek menuju Pool Damri Rajabasa. Ongkos go-jek sekitar 16ribu (jika memakai go-pay). Wah, pasti ini jaraknya lumayan jauh, semoga saja jalanannya lancar dan bisnya belum berangkat. Dari hasil googling saya, bis Damri ini hanya berangkat pada pagi dan siang saja menuju Way Kambas.
Pada perjalanan kali ini saya mencoba untuk solo travelling. Karena apa? Karena tidak ada teman 😂 Saya sudah ada planning ke Way Kambas dari jaman film Black Panther belum tayang, Way Kambas Forever! Mau ngapain ke Way Kambas? Semuanya bertanya seperti itu, ya mau ngapain lagi kalau bukan melihat gajah, bukan? Cuma melihat gajah saja? Tidak ada yang lain? Lah, memang kalian mau lihat apa di sana kalau bukan gajah? Artis? Namanya juga Pusat Konservasi Gajah (PKG) atau mungkin bisa benaran ketemu dengan T'Challa (Black Panther)di Way Kambas. Ya sudahlah ya, tidak usah panjang lebar, saya langsung cerita saja.