Mau Cari Apa?

Wednesday, 15 August 2018

Gunung Krakatau, 15 Agustus 2014

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan merayakan hari kemerdekaan negara saya yang tercinta ini di Puncak Gunung Anak Krakatau (Rakata). Semua berawal dari tawaran Apri, teman kuliah saya. Dia mengajak saya untuk mendaki bersama teman-teman futsalnya ke Puncak Gunung Anak Krakatau untuk merayakan Hari Kemerdekaan di sana tepat pada tanggal 17 Agustus.

Awalnya saya merasa ragu untuk mengiyakan tawaran mendaki dari Apri ini. Mengingat jika ingin ke Gunung Anak Krakatau, kita harus menyebrangi lautan (Selat Sunda) terlebih dahulu. Saya tidak terlalu menyukai perairan, ya hal tersebut dikarenakan saya yang tidak bisa berenang. Saya tidak tahu cara lain untuk menikmati lautan kecuali berenang ataupun menyelam dan saya tidak bisa kedua-duanya.

Trip kali ini saya mengikuti open trip dari Rafauli Trip dengan Gerardus Ezra (Ejak) sebagai leader kami yang dari Sumatera (Palembang, Aceh dan Medan). Ejak adalah teman bermain futsal Apri, masih banyak lagi teman-teman futsal Apri yang juga ikut open trip ini. Pada tahun 2014 ini, saya belum memiliki hape android. Iya, tidak usah dihina, saya sadar diri kok. Memang saya gaptek nan norak. Jadi, komunikasi saya dengan Ejak hanya melalui whatsapp kakak perempuan saya (Okky) dan saya hanya bertanya ala kadarnya saja, seperti waktu keberangkatan dan kepulangan, meeting point dan budget. 

Ejak mempersilahkan saya untuk membawa bendera kecil sendiri agar nanti dapat dikibarkan di Puncak Gunung Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau ini memiliki ketinggian 230 mdpl jadi saya memutuskan untuk memakai stepa (sendal gunung) saja. Apalagi letak Gunung Anak Krakatau ini berada di tengah-tengah lautan. Mendaki Gunung Anak Krakatau ini lebih efisien jika memakai stepa, selain untuk menghindari sepatu basah karena air laut, juga treknya yang tidak terlalu sulit dan curam.

Berbeda dengan pendakian-pendakian saya sebelumnya ke Gunung Dempo yang selalu berangkat pada hari Kamis, keberangkatan ke Gunung Anak Krakatau ini dilakukan pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 2014 dari Stasiun Kertapati, Palembang. Saya sampai salah hari keberangkatan, saking jarangnya saya berkomunikasi dengan Ejak ataupun Apri. Sampai waktu keberangkatan kereta api dari Stasiun Kertapati pun saya tidak tahu. Saya menuju Stasiun Kertapati pada hari Kamis. Mengingat kosan saya berada di Indralaya jadi saya berangkat dari Indralaya sekitar jam 6 pagi dengan menggunakan travel, untuk jaga-jaga juga jika terjadi kemacetan. Sesuai janji, kami harus sudah stay di Stasiun Kertapati pukul 07.00 WIB. Tetapi karena saya salah hari, di stasiun ini saya tidak menemukan Apri ataupun Ejak.

Saya menelpon Apri dan Ejak tetapi tidak ada yang mengangkat telpon saya. Di dalam pikiran saya, apakah mungkin saya sudah ditinggal oleh mereka? Apakah mereka setega itu dengan saya? Kenapa mereka tidak menghubungi saya sebelumnya? Apakah karena saya tidak memakai hape android? SMS yang saya kirim ke mereka pun tidak dibalas, sampai jam 8 saya menunggu respons dari Apri dan Ejak. Sampai akhirnya Ejak membalas SMS saya. Dalam SMS tersebut Ejak kelihatan bingung kenapa saya bisa berada di stasiun pada hari Kamis, dengan polosnya saya menjawab "bukannya kita berangkat hari ini ya, Jak?"

Alhasil, saya kembali lagi ke kosan saya yang berada di Indralaya dengan menebeng kakak tingkat saya yang kebetulan juga mau menuju ke Indralaya. Sesampai di kosan, kakak perempuan saya (Okky) berulang kali menggeleng-gelengkan kepala. "Ini bocah kok bisa salah hari sih? Apakah adik saya sebodoh ini, ya Allah?" Saya yakin sekali di dalam hatinya pasti berkata seperti itu. Bodoh amatlah. Sesampai di kosan saya lebih memilih untuk tidur kembali karena tadi pagi saya bangun sangat pagi sekali demi menuju stasiun.

Besok paginya, pada hari Jumat, saya kembali bangun pagi-pagi sekali demi menuju stasiun kembali. Sebelum saya berangkat, Okky kembali memastikan apakah saya berangkat sudah sesuai dengan hari yang ditentukan? Kali ini saya menjawab dengan mantap kalau memang kami berangkat hari Jumat dari Stasiun Kertapati. Dengan membawa carrier berukuran 60 liter saya menuju stasiun dengan menaiki travel dari Indralaya pada jam 6 pagi.

Sesampai di stasiun, saya belum menemukan Apri ataupun Ejak. Memang saya hanya tahu mereka berdua saja. Saya pun tidak menanyakan siapa-siapa lagi orang yang ikut trip ini. Sebelum Ejak dan Apri datang, saya melihat beberapa teman sefakultas saya. Mereka anak-anak Jurusan Administrasi Negara. Di sini saya melihat Ejak (namanya memang sama dengan leader kami), Defri, Robbi, Firman, Galuh, Sadam, dan beberapa lainnya lagi yang saya lupa namanya.

Kemudian Ejak datang dengan rombongan yang lainnya lagi. Untuk memudahkan kalian mengingat, Ejak teman satu fakultas saya lebih baik kita panggil Ejak black saja ya. Bukan rasis, tetapi memang di kampus nama panggilan dia seperti itu. Ejak dan Apri datang dengan 4 cowok dan 1 cewek. Ketika mereka datang, tiba-tiba ada 2 cewek lagi yang menghampiri kami. Ternyata mereka adalah rombongan yang dari Aceh dan Medan. Dari Aceh ada mbak Ina dan dari Medan ada mbak Ryda.

Peserta pendakian kali ini ramai sekali, ternyata rombongan Ejak black tadi juga ikut trip ini. Total semua peserta ada 20 orang dengan rincian 16 cowok dan 4 cewek. Saya sebutkan satu per satu ya nama mereka, Ejak, Ejak black, Apri, Rizky, Farid, Buyung, Joshua, Firman, Defri, Galuh, Pram, Jhon, Tufida, Sadam, Hari, Robbi, Dini, mbak Ina, mbak Ryda dan saya. Ada beberapa orang yang memang sudah saya kenal sebelumnya, seperti Ejak black, Defri, Robbi, Galuh, Sadam, Firman, Jhon dan Pram. Selain Pram, mereka semua adalah teman sefakultas saya. Sedangkan saya dan Pram pernah satu kelas pada saat mata kuliah Agama Islam, Pram sendiri adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer.

Kami semua sama-sama terkejut, tidak menyangka ternyata akan satu trip seperti ini. Setelah Ejak membagikan tiket kereta satu per satu ke kami, kami mulai masuk ke dalam stasiun menuju gerbong kereta sesuai yang tertera di tiket kereta. Saya duduk bersama mbak Ryda, mbak Ina, dan Apri. Selebihnya sudah berbagi tempat duduk semua dan semuanya berdekatan.

Selama di perjalanan, saya, Apri, mbak Ryda dan mbak Ina membuang rasa bosan dengan bermain kartu remi. Di sini kami sempat taruhan, pokoknya siapa yang kalah harus guling-guling di pasir pantai pertama yang akan kami kunjungi nantinya. Perjalanan kereta 10 jam lebih lamanya tidak terlalu berarti karena kami saling bercerita dan bercanda. Mbak Ryda dan mbak Ina sempat takjub dengan keadaan kereta api kelas ekonomi Palembang-Lampung yang kami tumpangi ini. Mereka bilang kereta ekonomi di Medan tidak ada AC-nya sedangkan di kereta yang kami tumpangi ini sudah ada 6 AC di tiap gerbongnya. Ini pun merupakan pengalaman pertama saya naik kereta api jadi saya tidak ada perbandingan. Oh iya, mbak Ryda dan mbak Ina ini sebelumnya memang sudah saling mengenal satu sama lain. Mereka bertemu pada saat mendaki salah satu gunung di Medan, saya lupa nama gunungnya apa. 

Kami sampai di Stasiun Tanjung Karang, Lampung, kurang lebih jam 7 malam. Di sini kami sempat bingung mau naik apa menuju meeting point yang bertepatan di Rumah Makan Siang Malam Kalianda. Kami mencari bis untuk menuju meeting point, selain harganya yang lebih murah dan tentu saja kapasitasnya yang bisa menampung kami berdua puluh ini. Tetapi setelah mencari bis sana sini di dalam stasiun, tidak ada bis yang melewati Rumah Makan Siang Malam Kalianda ini. Sopir-sopir travel yang dari tadi menawarkan jasanya kini sedikit bisa tersenyum melihat kami. Melihat kami tidak mendapatkan bis, tawaran mereka semakin menjadi-jadi. Pak Zulfikar adalah pensiunan PNS, sopir travel yang mendekati kami, beliau menanyakan tujuan kami. Kami menjawab Rumah Makan Siang Malam Kalianda. Karena jumlah pasukan kami yang sangat ramai, kami menyewa tiga travel sekaligus menuju meeting point. Saya sudah lupa ongkos travelnya berapa, yang saya ingat saya naik travel yang disopiri oleh Pak Zulfikar dan saya duduk di kursi paling belakang bersama Mbak Ryda dan mbak Ina, terus ada Ejak, Dini dan Rizky juga plus satu penumpang lagi yang menuju Pelabuhan Bakaheuni kalau tidak salah .

Sebenarnya Ejak sudah mengirimkan itenerary kepada saya sebelum berangkat tetapi saya tidak terlalu detail membaca itenerary tersebut. Jadi, saya kira malam ini kami langsung menuju penginapan di dekat Gunung Anak Krakatau tetapi ternyata kami berkumpul dengan rombongan Rafauli Trip besok paginya dan setelah itu langsung menuju Dermaga Canti. Malam ini, kami menumpang tidur di musholla Rumah Makan Siang Malam Kalianda. Setelah bersih-bersih dan shalat kami langsung tidur karena besoknya kami harus berangkat pagi-pagi sekali menuju Dermaga Canti yang berada di Kecamatan Rajabasa.

Pagi-pagi sekali sebelum adzan shubuh berkumandang, kami sudah dibangunkan, ternyata rombongan Rafauli Trip sudah tiba. Kami buru-buru mandi dan bersiap untuk Shalat Shubuh. Tetapi jangan salah, untuk mandi saja kami harus lumayan lama mengantri karena peserta open trip ini sangat banyak, sangat di luar dugaan. Kebanyakan sih dari daerah Jabodetabek dan sekitarnya, yang dari Sumatera hanya ada kami berdua puluh dan sepasang kekasih dari Lampung yang juga sudah ikut tidur dengan kami di musholla dari tadi malam. Setelah semua peserta siap, kami disuruh untuk memenuhi angkot-angkot yang memang sedari tadi sudah standby di halaman rumah makan. Seperti biasa, saya tidak terpisahkan dengan mbak Ryda, mbak Ina, Pram dan Ejak. Bahkan di perjalanan ini saya jarang bersama Apri, padahal saya sudah dekat dengan Apri dari awal.
Ini foto di pinggiran Dermaga Canti (Mbak Ryda, saya, Pram dan Farid)
Jam 6 pagi kami sudah meluncur ke Dermaga Canti menggunakan angkot setempat, di tengah perjalanan beberapa angkot berhenti untuk mengambil sarapan kami nanti, termasuk angkot yang kami tumpangi ini. Sesampai di Dermaga Canti, kami langsung dipersilahkan untuk sarapan. Setelah sarapan, kami briefing sebentar untuk diberikan instruksi kapal mana yang akan kami naiki menuju Pulau Sebesi. Kami diberikan gelang tali berwarna merah dan putih kalau tidak salah, dan dikasih instruksi kapal mana yang akan ditumpangi sesuai dengan warna gelang yang kami pakai. Kami serombongan mendapatkan gelang dengan warna yang sama, jadi kami satu kapal. Seriously, meskipun kami satu rombongan dari Palembang tetapi kami tidak selalu bersama. Teman-teman yang sefakultas dengan saya mengelompok sendiri, ya mungkin karena rombongan ini mayoritas sih.
Beginilah kira-kira kalau duduk di atas kapal
Ini juga merupakan pengalaman pertama kami menaiki kapal penumpang seperti ini. Untuk lebih merasakan sensasi naik kapal, kami memilih duduk di atas kapal, yang tidak ada atap atau penutupnya. Bisa dibayangkan sih, di lautan luas seperti ini, rasa panasnya bagaimana jika duduk di atas kapal. Panas tetapi ada rasa dinginnya juga dari hembusan angin laut dan kadang-kadang juga ada percikan air laut. Sumpah, naik kapal seperti ini sangat seru. Kami sampai di Pulau Sebesi setelah kurang lebih 2 jam perjalanan dari Dermaga Canti. Kapal yang kami tumpangi ini cukup ngebut, kami sempat mendahului beberapa kapal yang membawa penumpang penduduk lokal Pulau Sebesi. Setelah turun dari kapal di Pulau Sebesi, kami briefing kembali. Di sini dijelaskan kalau nanti malam kami akan tidur di rumah penduduk setempat, karena di Pulau Sebesi ini tidak ada tempat penginapan yang cukup untuk menampung rombongan kami yang sebanyak ini. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok, per rumah bisa diisi sekitar 8-10 orang. Alhamdulillah, saya sekamar dengan mbak Ryda dan mbak Ina, tidak dengan Dini, Dini mendapatkan kamar lain. Kami sekamar dengan rombongan anak Jakarta, nama mereka pun saya sudah lupa. Yang saya ingat, saya, mbak Ryda dan mbak Ina diajak oleh mereka untuk bermain Uno. Lagi-lagi Uno, sudah baca postingan saya yang ke Way Kambas kemarin kan? Kalau belum, bolehlah dibaca dulu di sini. Sepertinya anak Jakarta lebih senang bermain Uno daripada bermain domino ataupun kartu remi seperti anak Sumatera. Saya, mbak Ryda dan mbak Ina juga baru belajar bermain Uno dari mereka-mereka ini. Kami bermain Uno sambil menunggu instruksi dari panitia untuk makan siang. Instruksinya berupa panggilan dari speaker toa. Pulau Sebesi ini berasa seperti pulau kami sendiri.
Makan lesehan bersama peserta lainnya
Pulau Sebesi dari kejauhan
Rencana hari ini, setelah makan siang, kami dipersilahkan untuk berganti baju dan nantinya kami akan segera meluncur ke Pulau Sebuku dan Pulau Umang-umang untuk snorkeling ataupun hanya untuk bermain pasir di pinggir-pinggir pantai. Ternyata saya dan mbak Ina tidak bisa berenang, jadilah selagi yang lain snorkeling, saya dan mbak Ina hanya duduk-duduk saja di atas kapal. Tidak usah ditanya panas atau tidak, jawabannya sudah pasti panas dong. Jika kalian senang snorkeling, perjalanan ke Gunung Anak Krakatau ini sangat recommended sekali. Oh iya, tetapi kalian tetap harus hati-hati ya, namanya juga lautan lepas jadi masih banyak fauna yang berada di dasar laut ini. Ada satu peserta yang bilang kalau dia melihat ular laut pada saat snorkeling tetapi untung saja ular laut tersebut tidak mendekat ke arah rombongan kami yang sedang asyik snorkeling. Ada juga peserta yang melihat ubur-ubur, bukan Kerajaan Ubur-ubur ya.
Pulau Sebuku
Pulau Sebuku adalah pulau yang memiliki pesisir pantai pertama yang kami kunjungi di sini. Apri yang kalah taruhan bermain kartu di kereta kemarin tidak mau guling-guling di pantai ini. Katanya sih malu, tetapi kan siapa sih yang peduli? Orang-orang lain juga pada sibuk main sendiri. Setelah ke Pulau Sebuku kami menuju Pulau Umang-umang. Jarak Pulau Sebuku dan Pulau Umang-umang ini memang tidak jauh dari Pulau Sebesi. Sama seperti Pulau Sebuku, Pulau Umang-umang ini pun tidak berpenghuni, berbeda dengan Pulau Sebesi yang ada penduduknya.
Pulau Umang-umang dari kejauhan
Pesisir Pulau Umang-umang dari belakang
Pesisir Pulau Umang-umang dari depan (tempat kapal berhenti)
Pulau Umang-umang ini sangat indah sekali dan merupakan pulau kecil, kami bisa mengeliling pulau ini hanya dalam hitungan puluhan menit saja. Tetapi di Pulau Umang-umang ini hanya ada dua sisi pesisir yang bisa untuk memarkir kapal. Pulau ini memang sangat indah dan sejuk tetapi kapal lumayan mengalami kesulitan untuk parkir, selain banyaknya batu-batu karang juga karena ombak yang cukup besar dan memang pesisirnya cukup dalam. Waktu turun dari kapal saja, kami harus melewati air laut setinggi dengkul orang dewasa untuk sampai ke pulau ini.

Kami berada di pulau ini sampai sunset menjelang tetapi sebelum sunset tiba, kami sudah disuruh untuk menaiki kapal dikarenakan ombak yang semakin besar. Ketika hendak menaiki kapal saja, kami harus melewati air laut yang sudah setinggi ketiak orang dewasa. Di sini saya sempat panik, selain air laut yang sudah hampir menutupi badan saya, gelombang air laut dari bawah juga cukup kuat untuk menggoyangkan langkah kaki saya. Jika langkah kaki saya tidak terlalu kuat mungkin saya bisa terbawa oleh arus. Untungnya, saya, mbak Ryda dan mbak Ina saling berpegangan. Tas kecil saya yang isinya berbagai gadget teman-teman pun sampai dibawakan oleh Pram di atas kepalanya, yang memang badan Pram lebih tinggi dan lebih besar daripada saya.
Porter pribadi
Tangga untuk naik ke kapal pun goyang-goyang dikarenakan oleh gelombang laut yang deras, saya pun ketakutan untuk menaiki tangga yang kelihatannya tidak kokoh ini. Untung saja panitia-panitia Rafauli Trip ini sangat sigap, mereka selalu sigap untuk membantu peserta menaiki kapal-kapal ini. Setelah semua peserta naik ke kapal, tidak lantas kami langsung pulang menuju ke Pulau Sebesi. Kami menunggu sunset muncul di atas kapal ini, ditemani oleh gelombang laut yang menggoyangkan kapal, angin laut yang cukup membuat badan kami yang basah ini menggigil, serta bersebelahan langsung dengan Pulau Umang-umang yang cantik ini. Panitia men-challenge para peserta untuk salto ke laut, siapa yang berani, saltonya akan diabadikan oleh kamera panitia dengan background sunset yang memang sedang cantik-cantiknya. Di antara rombongan Sumatera ini, hanya Pram yang berani mencoba salto, tidak hanya sekali, Pram berulang-ulang kali melakukannya. Menurut saya sih, Pram bukan salto tetapi asal loncat saja. Kami menuju Pulau Sebesi setelah sunset benar-benar menghilang di hadapan kami.
Ini waktu mau naik kapal dari Pulau Umang-umang
Sunset dari atas kapal
Pram yang nyoba loncat dari atas kapal
Sesampainya di Pulau Sebesi, kami dianjurkan oleh panitia untuk segera mandi dan shalat. Setelah shalat Isya sekitar pukul setengah 8 malam, kami disuruh makan malam oleh panitia di dekat dermaga dan akan ada briefing sedikit tentang perjalanan menuju Puncak Gunung Anak Krakatau yang akan dilakukan pada dini hari nanti. Kami akan dibangunkan pukul 02.00 WIB dan langsung menuju Gunung Anak Krakatau menggunakan kapal yang kami tumpangi selama ini. Kenapa pagi sekali? Karena kami mengejar sunrise dan upacara bendera di Puncak pada pukul 07.00 WIB. Jika sesampai di Gunung Anak Krakatau aman dan kami diperbolehkan mendaki oleh penjaga di sana maka kami akan mendaki, jika tidak, maka kami akan kembali lagi ke Pulau Sebesi. Mengingat Gunung Anak Krakatau ini adalah gunung vulkano yang masih aktif. Masih ingat kan sejarah Gunung Krakatau yang meletus pada tanggal 27 Agustus 1883? Dahsyatnya letusan tersebut masih diingat sampai sekarang.

Saya lupa berapa jam perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau ini dari Pulau Sebesi. Yang saya ingat, kami tidak diperbolehkan untuk duduk di atas kapal lagi, kami disuruh untuk memenuhi bagian dalam kapal. Seperti biasa, saya duduk di samping mbak Ryda dan mbak Ina. Baru beberapa menit berjalan saja, ombak sudah sangat terasa di dalam kapal ini. Kondisi laut yang gelap, tidak memungkinkan bagi saya untuk melihat kondisi ombak di luar. Kapal terlalu sering diguncang oleh ombak yang tingginya melebihi 2 meter. Kata awak kapalnya sih ombak 2 meter ini sudah biasa, biasanya ketinggian ombaknya bisa lebih parah dari ini. Air ombak pun sering masuk ke dalam kapal, baju dan kacamata saya sering sekali terkena percikan ombak ini. Di sinilah saya baru menyadari bahwa percikan air laut yang mengenai kacamata saya ini seketika bisa berubah menjadi butiran halus seperti garam.

Mbak Ryda tidak tahan dengan goncangan air laut jadi beberapa kali dia muntah. Saya yang berada di sampingnya pun ikutan mual melihatnya, yang awalnya saya baik-baik saja tiba-tiba perut saya merasa tidak enak. Mbak Ina pun sampai menjauh dari mbak Ryda karena tidak ingin ikut-ikutan muntah ketika melihat mbak Ryda. Meskipun perut saya juga agak mual tetapi saya tahan sampai tidak muntah. Bagaimana tidak? Pukul 02.00 dini hari kami harus sudah bangun dan harus berhadapan dengan ombak yang seperti ini. Perut yang kosong ini memberikan sumbangsihnya untuk membuat kami mual-mual di kapal.

Seperti kata saya di awal tadi, jangan memakai sepatu jika ingin mendaki Gunung Anak Krakatau ini. Di sini tidak ada dermaga jadi turun kapal langsung air laut. Jika memang kalian ingin memakai sepatu, sepatunya harus dilepas sebelum turun. Kan enakan pakai stepa, langsung turun, sudah. Basah juga tidak apa-apa, nanti juga kering dengan sendirinya. Sepatu juga pasti nanti kering tetapi lama dan bebannya itu yang tidak bisa ditahan jika harus dipakai untuk mendaki.

Kami sampai di kaki Gunung Anak Krakatau masih gelap, matahari belum menampakkan wujudnya. Beberapa panitia ada yang mengurusi perizinan dengan penjaga, beberapa lagi mengurusi peserta. Sebelum pendakian di mulai, kami melakukan briefing kembali. Kami dijelaskan trek Gunung Anak Krakatau ini, kami harus melewati hutan sekitar 10-15 menit terlebih dahulu sebelum akhirnya memulai pendakian yang sesungguhnya. Trek pendakian Gunung Anak Krakatau ini berupa pasir hitam yang terurai, tidak menggumpal seperti pasir pantai. Setelah izin didapat, kami langsung summit ke Puncak Gunung Anak Krakatau. Oh iya, ketinggian Gunung Anak Krakatau ini bisa bertambah setiap tahunnya lho. Kata panitia, gunung ini masih aktif dan terus tumbuh. Saya tidak tahu berapa ketinggian Gunung Anak Krakatau pada tahun 2018 ini.
Kira-kira beginilah tekstur Gunung Anak Krakatau
Yang membuat takjub adalah pemandangan yang kita dapat di sini. Bagi saya sendiri, hutan di Gunung Anak Krakatau ini sangat indah, masih hijau dan segar. Sejuk sekali. Jenis pepohonannya pun bagus bukan semak belukar seperti gunung-gunung pada umumnya. Sesampai di puncak, kita bisa melihat lautan yang sangat luas dengan beberapa pulau kecil di sekitarnya. Kami pun bisa melihat Gunung Krakatau yang bersejarah tersebut, gunung yang mampu mengubah kehidupan berjuta-juta manusia pada dahulu kala. Gunung yang terkenal akan kekuatan letusannya itu hampir sama dengan gunung-gunung lain. Malah, gunung tersebut sudah tidak mirip lagi dengan gunung, lebih terlihat seperti tebing yang ditutupi oleh hutan dan semak belukar.
Hutan Gunung Anak Krakatau, saya merasa seperti tour guide di sini
Kenapa Gunung Krakatau tidak bisa didaki? Selain Gunung Krakatau masih aktif, gunung tersebut sudah berupa tebing yang sangat curam. Jika ingin mendakinya, kita harus menyiapkan peralatan panjat tebing. Berbeda dengan Gunung Anak Krakatau yang masih mempunyai kaki gunung, Gunung Krakatau ini tidak ada kaki gunung. Kita langsung bisa memulai mendaki Gunung Krakatau dari atas kapal.

Di atas puncak ini kami melakukan upacara bendera kecil-kecilan. Seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya seraya hormat ke bendera yang sudah kami tegakkan di puncak ini. Upacara berjalan dengan sangat khidmat. Betapa banyak cara untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap negeri ini, salah satunya bisa dengan menikmati keindahan alam yang ada di negeri kita yang tercinta ini. Rasa haru pun muncul di hati kami, beberapa peserta terlihat meneteskan air mata, beberapa lagi matanya berair, termasuk saya. Mengingat sumbangsih yang saya berikan kepada negeri ini tidak ada apa-apanya dengan apa yang diberikan oleh negara ini untuk saya. Meskipun beberapa kali sering mengeluh dengan sistem yang ada di Indonesia tetapi tidak serta merta hal tersebut menghilangkan rasa bangga saya terhadap negeri ini. Ingatlah, setiap hal pasti ada positif dan negatifnya, ya termasuk Indonesia ini.
Upacara bendera kecil-kecilan
Foto bersama dengan peserta open trip dari Rafauli Trip. Ramai kan ya?

Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia!
Setelah melakukan upacara bendera, kami dipersilahkan untuk menikmati suasana di puncak ini sebelum akhirnya kami turun. Memang tidak terlalu lama tetapi berkesan. Makan pagi pun sudah disiapkan oleh para panitia di bawah kaki Gunung Anak Krakatau. Sarapan di bawah kaki gunung, melihat air laut bergelombang, hutan yang masih asri, pulau-pulau kecil yang terlihat di ujung pandangan, sungguh pengalaman yang tidak terlupakan.
Yang di belakang kami ini baru Gunung Krakataunya
Gayanya sih mau buat 17 Agustus 2014 tetapi kebalik hehe..
Selesai sarapan, kami masih diberi waktu untuk menikmati suasana di bawah kaki Gunung Anak Krakatau ini, sebelum akhirnya kami akan menuju Laguna Cabe untuk snorkeling. Bukan karena di sana banyak cabe-cabean ya makanya diberi nama Laguna Cabe. Saya juga kurang tahu kenapa diberi nama Laguna Cabe. Katanya sih air di Laguna Cabe ini hangat, tidak seperti air-air laut pada umumnya yang dingin. Mungkin karena itu kali ya diberi nama Laguna Cabe.

Asal kalian tahu saja, Laguna Cabe itu berada tepat di samping Gunung Krakatau. Bayangkan sajalah, snorkeling yang di bawahnya adalah bagian dari gunung aktif. Pantas saja airnya hangat. Selain itu, Laguna Cabe ini juga menawarkan pemandangan bawah air yang sangat cantik. Kok saya bisa bicara seperti itu? Kan, saya tidak ikut snorkeling? Iya, saking jernihnya air Laguna Cabe, saya yang berada di atas kapal pun bisa menikmati indahnya pemandangan bawah air Laguna Cabe ini. Oh ya, ada satu kejadian lucu di sini. Teman saya yang namanya Firman ini kelihatan sangat excited untuk menikmati air Laguna Cabe. Sampai dia lupa jika dia memakai kacamata, jadi tanpa membuka kacamata dia langsung menyebur dan seketika itu juga kacamatanya lepas dan terjatuh ke dasar Laguna Cabe yang mungkin dalamnya sekitar 4-5 meter kali ya. 

Saran sih, jika kalian ke Laguna Cabe ini jangan coba-coba untuk berenang sampai ke dasarnya ya. Cukup snorkeling sajalah, jika kalian berenang ke dasar, arus lautnya sangat deras. Saya juga dapat cerita dari teman-teman yang mencoba untuk berenang di sana. Dia sampai kewalahan untuk melawan arus laut tersebut dan juga untuk jaga-jaga jika ada ular laut. Kan, itu masih termasuk lautan lepas jadi kita tidak tahu ada fauna apa saja di dalamnya.

Puas-puas di Laguna Cabe, kami pulang menuju Pulau Sebesi untuk mandi dan bersiap pulang ke Kalianda. Meskipun saya tidak mencoba snorkeling di sana tetapi mata saya cukup puas menikmati pemandangan dari Laguna Cabe ini. Bersebelahan langsung dengan Gunung Krakatau yang sangat fenomenal ini. Jika saya amati, Gunung Krakatau ini sudah seperti batu karang yang keras nan besar, bukan seperti gunung lagi.

FYI, Pulau Sebesi ini sangat sulit signal. Daerah cukup signal hanya berada di dekat dermaga kapal. Di pulau ini juga sepertinya banyak penduduknya yang menanam ubi. Buktinya saja, kami selalu dihidangkan cemilan ubi goreng oleh keluarga yang rumahnya kami tumpangi ini. Enak sih, tetapi yang tidak bisa ditahan adalah rasa ingin buang angin jika kebanyakan makan ubi. Kami juga memberikan uang tips untuk keluarga si ibu, sebagai tanda terima kasih saja. Karena kami dijamu seperti anak sendiri, apa-apanya diurusin sama si ibu. Padahal kami sudah mendapatkan makan dari panitia tetapi si ibu tetap menawarkan makan juga ke kami. Kalau dengar cerita teman-teman yang lain, nasib mereka tidak sebaik kami yang selalu mendapatkan makanan. Pernah juga, peserta dari lain rumah datang ke tempat kami hanya untuk menumpang makan. Daripada jajan di warung, kan lebih hemat makan ubi di tempat kami.
Pokoknya ngunyah terus haha
Sebelum pulang dari Pulau Sebesi, selfie dulu dengan room mates
Kami memberikan salam perpisahan dengan penduduk lokal, kemudian dilanjutkan makan siang dan kembali lagi ke Dermaga Canti menggunakan kapal. Dari Dermaga Canti naik angkot lagi menuju Rumah Makan Siang Malam Kalianda dan perpisahan sesungguhnya terjadi di sini. Rombongan Sumatera turun semua di sini. Kami berpisah dengan para panitia Rafauli Trip dan peserta lainnya di sini dan kemudian mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju Pelabuhan Bakaheuni.

Kami pun bingung mau pulang ke Palembang menggunakan apa. Kalau naik kereta harus ke Stasiun Tanjung Karang dulu dan waktu keberangkatannya pun hanya ada pada malam dan pagi hari. Lagian, tidak semua rombongan Sumatera balik ke Palembang. Mbak Ryda dan mbak Ina masih mau melanjutkan perjalanan keliling Lampung, sedangkan rombongan teman-teman kuliah saya ingin ke Teluk Kiluan. Jadi, tinggallah saya, Ejak, Apri, Pram, Dini, Rizky, Buyung, Farid dan Joshua yang kembali ke Palembang.

Kami semua buta dengan Lampung, jadi sedikit kebingungan rute mana yang harus ditempuh. Memang lebih enak jika menyewa travel menuju Palembang, lebih santai, tidak repot-repot harus ke stasiun terlebih dahulu dan antar tempat juga. Untungnya, saya menyimpan nomor pak Zulfikar, sopir travel yang mengantar kami dari stasiun ke Kalianda kemarin. Kami menelpon Pak Zulfikar dan nego untuk masalah harga, kalau tidak salah kami dimintai 100ribu/orang. Kami bilang ke Pak Zulfikar jika kami bersembilan jadi beliau menjemput kami menggunakan mobil APV yang memang cukup luas.

Tetapi yang mengantarkan kami ke Palembang bukan Pak Zulfikar, melainkan temannya. Mungkin karena faktor usia jadi Pak Zulfikar tidak sanggup mengantarkan kami dari Lampung ke Palembang. Mobil APV memang cukup luas tetapi apalah daya jika harus menampung orang sepuluh sekaligus (termasuk sopir). Tetap saja bersempit-sempitan ria. Ejak yang badannya cukup besar harus duduk di kursi depan sekaligus menemani sopir bercerita biar tidak mengantuk. Pram yang badannya cukup besar juga harus duduk dengan Apri, Buyung, dan Joshua yang badannya cukup langsing-langsing di bangku tengah. Lalu saya, Farid, Dini dan Rizky duduk di bangku belakang. Sempit sekali, saya dan Farid pun harus bergantian bersender di kursi belakang karena jika memaksakan untuk bersender semua maka tidak akan muat.

Dini duduk di dekat jendela, di sebelahnya ada Rizky, di sebelah Rizky ada saya dan di ujung dekat jendela ada Farid. Kami berangkat dari Lampung pada sore hari, saya lupa jam berapa. Jadi kami menempuh perjalanan Lampung-Palembang pada malam hari. Tenaga kami sudah habis terkuras pada pendakian Gunung Anak Krakatau tadi pagi. Di dalam mobil ini yang sedikit merepotkan adalah ketika saya dan Farid yang harus bergantian bersenderan. Pada saat giliran Farid yang tidur bersenderan di kursi, saya tidak bisa menahan rasa kantuk saya. Saat mobil mengerem, bibir saya terbentur jok kursi depan. Alhasil, bibir saya berdarah. Farid pun terbangun, saya tidak tahu Farid melihat atau tidak bibir saya yang berdarah ini. Farid menyuruh saya untuk bersenderan di kursi dan sampai seterusnya, sampai saya tiba di kosan saya yang berada di Indralaya. Terima kasih banyak Farid.

Pukul 04.00 dini hari saya sampai di kosan, bibir saya masih terasa pedih. Mungkin karena dehidrasi juga makanya pedihnya sangat terasa. Teman-teman saya yang lainnya masih harus melanjutkan perjalanan 1 jam lagi untuk sampai ke Palembang. Oh iya, ada cerita dari sopir travel yang kami tumpangi ini. Untuk menghilangkan rasa mengantuknya, dia mengonsumsi obat sakit kepala 2 pil sekaligus. Katanya, itu sangat ampuh untuk menghilangkan rasa mengantuk. Entah aman atau tidak, yang pasti selama perjalanan Lampung ke Palembang, beliau baik-baik saja. Alhamdulillah. Sebenarnya kami semua sedikit takut jika terjadi apa-apa tetapi nyatanya rasa mengantuk kami tidak bisa dikalahkan dengan apapun.

No comments:

Post a Comment