Mau Cari Apa?

Thursday, 12 July 2018

Taman Nasional Way Kambas, 22 Juni 2018 #3

Kebetulan pada saat saya dan Pak Pal sedang berdiri di jembatan, ada gajah besar yang masuk kandang diiringi dengan mahout-nya. Mahout-nya hanya mengantar sampai jembatan saja, selanjutnya Pak Pal yang mengambil alih. Saya diajak Pak Pal masuk ke kandang gajah (tidak ada pintu kok dibilang masuk ya?). Sebelum gajah itu diikat di pasak, Pak Pal kembali menyuruh saya berpose dengan gajah ini untuk berfoto. Saya disuruh memegang telinganya saja tetapi saya terlanjur memegang belalainya. Alhasil, si gajah mulai risau dan saya panik. Kata Pak Pal gajah tersebut jangan dipegang belalai dan gadingnya. Jadilah foto yang diambil Pak Pal tidak ada yang bagus karena muka saya yang terlalu memaksakan tersenyum padahal sedang panik.
That smiles 😔
Setelah berfoto dengan saya, si gajah meminum air di bak. Saya dan Pak Pal duduk di pinggiran bak sambil cerita dan melihat sekeliling. Pak Pal menunjukkan spot foto bagus jika saya ingin foto sunset di kandang gajah ini. Setelah minum, si gajah tadi mulai memakan rumput yang berada tidak jauh dari kami. Saya masih khusyuk melihat gerak gerik gajah ini, saya takut tiba-tiba dia menyerang saya karena teringat belalainya dipegang tadi. Kan siapa tahu dia tipe gajah pendendam. Saya masih fokus dengan pandangan saya. Lalu, 3 anak muda plus temannya satu lagi yang saya temui tadi datang mendekati Pak Pal. Ternyata mereka juga tamu Pak Pal tetapi kok baru kelihatan sekarang ya? Mungkin mereka baru datang, pikir saya.

Salah satu mbak-mbak di rombongan itu menanyakan anak gajah juga dengan Pak Pal. Wah, sama seperti saya nih. Saya jadi teringat janji Pak Pal yang mau mengajak saya melihat anak-anak gajah. Saya beralih tempat duduk ke pinggiran bak lainnya, yang tadi menghadap ke arah penginapan, sekarang menghadap kandang gajah. Pak Pal menggiring gajah yang sedang makan tadi untuk diikat ke tiang pasaknya. Setelah itu Pak Pal berjalan ke arah kami sambil bilang, "Ayo mbak Mella kalo mau liat baby-nya. Mbak sama masnya juga ayo kalo mau liat baby." Wah, Pak Pal tidak ingkar janji. Saya langsung loncat dari tempat duduk saya dan berlari kecil mengejar Pak Pal dan mbak-mbak serta mas-mas tadi.

Di depan penginapan, langkah Pak Pal terhenti sambil melihat ke arah kami.
Pak Pal: "Mbak Mella bawa sendal gak? Ganti aja dulu sepatunya pake sendal soalnya kita bakal nyebrang bendungan itu."
Saya: "Bawa pak, tunggu sebentar ya pak, saya ganti sendal dulu ke kamar." Saya berlari kecil menuju kamar saya, memang dari Palembang kemarin saya selalu memakai sepatu.
Pak Pal: "Mas sama mbaknya juga ganti sendal dulu."
Suara Pak Pal bicara dengan rombongan anak muda tadi masih terdengar di telinga saya. Kalau tidak salah, memang salah satu dari mereka ada yang memakai sepatu trekking sama seperti saya. Setelah ganti sendal saya menghampiri Pak Pal kembali, disusul dengan rombongan anak muda ini. Mungkin tidak etis saja ya dari tadi kami bersama tetapi belum tahu nama masing-masing. Jadi, kalau tidak salah, pertama yang mengajak berkenalan adalah Akbar, lalu mbak Prita dan disusul oleh Zidni (si pemakai sepatu trekking). Mereka semua dari Jakarta. Kami berjalan kecil sambil menunggu teman-temannya yang lain.

Sesampai di bendungan, Pak Pal menyuruh kami untuk membuka sendal agar tidak licin dan menggulung celana kami agar tidak basah. Benar saja, bendungan ini licin sekali. Saya berjalan dengan sangat hati-hati, selain malu jika jatuh, saya juga tidak menginginkan celana saya basah. Pak Pal menyebrang duluan, disusul Akbar, Zidni dan mbak Prita, saya terakhir. Saking lambatnya saya berjalan, saya sampai disusul dengan teman-teman mereka ini. Namanya mbak Ruy dan mas Ucup, kami berkenalan setelah melewati bendungan.

Pertama, kami bertemu dengan Nunik, anaknya si Pleno (induknya) yang lahir pada tanggal 31 Mei 2017. Umur Nunik baru 1 tahun 1 bulan. Yang saya senang saat memegang gajah adalah bulu-bulunya ini, keras seperti ijuk. Badan si Nunik ini masih dipenuhi oleh bulu-bulu yang kira-kira panjangnya antara 2-3 cm. Saat kami sedang asyik bermain dengan Nunik, tiba-tiba ada anak gajah lain yang mendekati kami, namanya Desi. Kalian tahu tidak? Anak-anak gajah ini kalau mengajak main dengan cara menyeruduk, seperti ingin dielus kepalanya. Pada saat bertemu Nunik, saya duluan yang mendekatinya dan langsung disuruh Pak Pal berpose. Setelah foto, saya mengelus manja kepalanya si Nunik dan tiba-tiba saya diseruduk. Untung kuda-kuda saya kuat, jadi saya tidak terjatuh. Meskipun anak gajah tetapi tenaganya juga sudah lumayan untuk merobohkan satu manusia dewasa yang sedang oleng 😏
Adegan sebelum diseruduk oleh Nunik
Foto bersama Nunik (Saya, mbak Ruy, Mas Ucup, mbak Prita, Zidni dan Akbar)
Sama seperti Nunik, Desi pun begitu. Apalagi si Nunik dan Desi ini sangat agresif dengan mbak Ruy, kami pun heran dengan hal ini. Saya jadi takut untuk mendekati mereka, saya hanya memegang ala kadarnya saja. Setelah beberapa menit kami bermain bersama mereka, Pak Pal mengajak bertemu Erin kembali. Awalnya saya tidak tahu kalau belalai Erin ini terpotong, berkat mas Ucup saya menjadi tahu kalau belalai Erin ini ternyata terpotong.  Sepertinya sebelum mereka ke Way Kambas ini mereka sempat searching tentang gajah-gajah yang berada di Way Kambas. Saat kami berjalan menjauhi Nunik yang tidak bisa jauh dari induknya, kami melihat satu anak gajah lain yang mencoba mendekati kami. Hilang Nunik, datang lagi anak gajah yang lain, Desi tetap mengikuti kami. Anak gajah ini badannya sudah lumayan besar dibandingkan dengan Nunik dan Desi. Pak Pal lupa dengan nama anak gajah yang menghampiri kami ini. Jadilah kami memanggilnya no name.
Setelah asyik bermain dengan Desi dan no name, kami berjalan menuju ke arah Erin berada, ke tempat awal saya bertemu dengan Erin. Waktu kami datang, Erin lagi asyik makan rumput. Ada yang saya suka saat melihat gajah sedang makan rumput, yaitu saat mereka membersihkan tanah dari akar rumputnya menggunakan belalai dengan cara dikibas-kibaskan. Saat kami berenam sedang asyik bermain dengan Erin, Pak Pal menunjukkan Savana ke kami. Akbar, mbak Ruy dan mas Ucup ke Savana untuk foto-foto. Saya, mbak Prita dan Zidni tetap asyik bermain dengan Erin. Pak Pal juga bilang kalau gajah juga suka makanan-makanan yang manis seperti wafer. Wah, kebetulan sekali di dalam tas saya masih ada Tango yang saya beli saat berada di kereta api kemarin.

Saya meminta izin dengan Pak Pal untuk memberikan Tango ini ke Erin, Pak Pal menyetujuinya. Benar saja, Erin kelihatan lahap sekali memakannya. Karena Tango, saya menjadi akrab dengan Erin. Terima kasih Tango 😁 Saya menyuapi Erin makan, saya melihat lidahnya, berkali-kali lidahnya tersentuh oleh tangan saya yang menyuapinya. Kapan lagi kan bisa kena ilernya gajah? 😂 Di sini Pak Pal menceritakan kronologis terpotongnya belalai Erin. Belalai Erin terkena jerat warga, jerat tersebut memang bukan untuk menjerat gajah tetapi untuk menjerat hewan-hewan lain yang mengganggu kebun warga, seperti babi hutan. Sialnya, Erin bermain sampai ke sana dan belalainya terkena jerat. Erin pulang kembali dengan belalai yang sudah terpotong, pasti itu sakit sekali. Saya tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Erin pada saat itu. Kata Pak Pal, pada saat Erin dibawa ke Rumah Sakit Gajah belalai Erin tidak dipotong di Rumah Sakit dan Erin tidak disuntikkan obat bius. Karena memang belalai Erin sudah terpotong ketika dia kembali. Di sini juga saya sempat menanyakan Pak Pal bagaimana cara menjadi mahout di sini. Pak Pal bilang sebelum beliau resmi menjadi mahout, beliau mengikuti pelatihan mahout terlebih dahulu selama 3 bulan di Way Kambas.

Jam sudah menunjukkan kurang lebih pukul 16.30 WIB, Pak Pal mengajak kami kembali ke kawasan yang boleh dikunjungi oleh pengunjung saja. Pak Pal, saya, mbak Prita dan Zidni berjalan terlebih dahulu, kemudian disusul Akbar, mbak Prita dan mas Ucup. Mereka terlalu asyik berfoto di Savana. Setelah kami keluar, pintu gerbang dekat bendungan ini ditutup oleh Pak Pal. Setelah itu tidak ada lagi acara untuk keliling-keliling karena sudah sore. Jadi, saya memutuskan pergi ke kantin untuk membeli makanan nanti malam karena kantin-kantin di sini hanya buka sampai jam 5 sore saja. Saya permisi dengan Pak Pal, mbak Prita dan Zidni untuk ke kantin. Saya kembali lagi ke kantin yang saya kunjungi tadi siang, saya memutuskan untuk membeli satu cup pop mie saja, nafsu saya untuk memakan nasi belum juga muncul sih.

Setelah dari kantin, saya memutuskan untuk kembali ke penginapan karena saya belum shalat Ashar. Belum sampai penginapan, saya bertemu kembali dengan rombongan mas Ucup. Mereka sedang minum es dan mengobrol sama bapak penjual es dan ada satu bapak lagi yang sedang duduk. Saya tersenyum ke mereka dan bermaksud untuk duluan ke penginapan. Tetapi mbak Prita memanggil saya untuk bergabung dengan mereka, begitu pun sebagian dari mereka. Yasudahlah, mampir saja dulu sebentar untuk sekedar basa-basi. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan, saya hanya diam saja. Lalu, saya membuka omongan ke mbak Prita. Saya menanyakan apakah mereka sudah shalat Ashar atau belum. Mereka pun menjawab belum, saya mengajak mereka untuk shalat. Mbak Prita menyarankan untuk shalat di masjid saja tetapi yang lainnya bilang tanggung, langsung balik saja ke penginapan.

Sebelum kami kembali ke penginapan, Pak Pal muncul dengan membawa motor dan berhenti sekitar 3 meter dari tempat kami berdiri. Pak Pal menanyakan kegiatan rombongan ini untuk nanti malam, mereka mendekati Pak Pal semua. Saya masih berdiri di dekat penjual es, celingak-celinguk 😅Karena memang saya tidak ada rencana untuk malam ini, hanya tidur. Lalu, rombongan ini memanggil saya kembali untuk bergabung mengobrol dengan Pak Pal. Iyain aja lagilah 😆Ternyata mas Ucup mau minta izin ke Pak Pal untuk masuk kandang gajah nanti malam, untuk mengambil foto milky way. Keren! Jadi, si mas Ucup diminta Pak Pal untuk naik motor dengannya, agar ditunjukkan lokasi-lokasi yang bisa dikunjungi pada saat malam nanti dan jangan lupa kata Pak Pal untuk izin juga dengan petugas yang jaga nanti malam.

Saya, mbak Prita, mbak Ruy, Zidni dan Akbar berjalan menuju penginapan. Akbar dan mbak Ruy berjalan di depan kami, saya berjalan beriringan dengan Zidni dan mbak Prita. Kami berkenalan lebih jauh lagi, umur Zidni empat tahun di bawah saya dan masih kuliah, lalu umur mbak Prita dua tahun di atas saya dan sudah bekerja. Saya menanyakan apa hubungan mereka berlima ini, teman kuliah, keluarga atau bagaimana. Kata mbak Prita mereka teman satu komunitas kalau tidak salah. Komunitas apa? Saya pun tidak tahu 😅

Sesampainya di penginapan, di situ sudah ada mas Ucup dan Pak Pal. Kami kembali ke kamar kami masing-masing, kamar saya berada di ujung kiri penginapan (dekat kandang gajah) sedangkan kamar rombongan mas Ucup di ujung sebelah kanan. Setelah shalat ashar, saya memutuskan untuk keluar kamar ke arah kandang gajah. Sayang, kalau saya hanya berdiam diri di kamar saja. Hitung-hitung juga mencari signal dan menunggu sunset. Pada saat keluar kamar, saya melihat sudah ada mas Ucup sedang duduk di jembatan yang menuju kandang gajah. Awalnya saya agak ragu untuk pergi ke sana, pasti akan awkward sekali. Apalagi saya kan orangnya pendiam. Tetapi saya pikir, kapan lagi? Besok pagi saya sudah harus keluar dari Taman Nasional Way Kambas ini.

Saya memberanikan diri melangkahkan kaki ke arah mas Ucup. Setelah sampai, saya tersenyum dan memulai obrolan basa-basi. Maksud hati, saya juga ingin duduk seperti mas Ucup ini tetapi kaki saya tidak sampai untuk menaiki jembatan ini. Mas Ucup bilang lebih mudah naiknya dari tempat dia duduk, dia turun dan menyuruh saya mencoba naik dari sana. Benar saja, lebih mudah naiknya. Mas Ucup naik kembali ke jembatan dari sisi sebelahnya, kami duduk bersilah saling berhadapan. Obrolan kami bermulai dari perkenalan diri terlebih dahulu, mas Ucup alumni D3 Komunikasi dari IPB angkatan 2010 dan dia melanjutkan studinya ke jenjang S1 di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dia juga cerita kalau Akbar adalah adik tingkatnya saat di IPB dulu, Akbar angkatan 2011, sama seperti saya. Berbeda dengan mas Ucup, Akbar melanjutkan studinya di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Mas Ucup juga cerita tentang mbak Prita, mbak Ruy, Zidni dan Akbar, tentang passion mereka masing-masing. Mbak Prita basic-nya kimia, mbak Ruy design, concern Zidni di bidang kesehatan dan Akbar adalah seorang blogger dan vlogger. Kalau ingin melihat website-nya Akbar, boleh klik di sini. Dari cerita mas Ucup dan Akbar tadi sore, terlihat sekali jika mas Ucup ini menggeluti dunia fotografi. Ternyata dia mulai tertarik dengan dunia fotografi dari UKM Fotografi sewaktu menjadi mahasiswa di IPB dulu. Mas Ucup cerita-cerita juga tentang milky way, galaksi bima sakti, dan hal-hal lain tentang fotografi. Mas Ucup sih bilang dia tertarik dengan astronomi fotografi begitu, ya seperti foto milky way. Makanya nanti malam dia berencana untuk memotret milky way di Taman Nasional Way Kambas ini. Dia juga cerita tentang pengalaman teman-temannya yang mengambil foto dan cerita dibalik foto yang diambil tersebut. Mas Ucup menunjukkan beberapa foto keren ke saya, ada yang merupakan hasil jepretannya sendiri, ada juga yang merupakan hasil jepretan temannya.

Mas Ucup menceritakan pengalaman temannya yang memotret perburuan babi hutan yang dilakukan oleh orang Padang dengan membawa anjing-anjing peliharaan mereka. Pernah dengar kan jika orang Padang sering memburu babi hutan? Saya kira mereka memburu babi hutan untuk mereka jual karena memang mereka memburu babi hutan yang berada jauh dari ladang atau perkebunan mereka. Setelah mendengar cerita dari mas Ucup, saya baru tahu salah satu alasan orang Padang memburu babi hutan dengan menggunakan anjing peliharaan mereka. Jadi, babi hutan yang mereka dapat hanya dijadikan makanan untuk anjing-anjing mereka, hanya itu saja, tidak ada maksud lain. Setiap mereka ingin memberi makanan ke anjing mereka maka mereka akan berburu babi hutan. Entah, anjing-anjing ini bertahan berapa lama untuk tidak makan sampai perburuan selanjutnya. Atau itu hanya makan besar saja untuk si anjing?

Dari dunia fotografi, cerita kami berlanjut pada kehidupan hewan-hewan. Kami bercerita tentang ketertarikan kami dengan hewan-hewan yang terancam punah maupun yang tidak, seperti gajah, orang utan, panda, lumba-lumba, badak, rusa, dan lain-lainnya. Mas Ucup juga menceritakan tempat-tempat keren untuk dikunjungi jika ingin bertemu hewan-hewan ini. Obrolan dengan mas Ucup ini sangat menarik, saya seolah tersihir dengan cerita-cerita mas Ucup (alay bin lebay). Selagi kami cerita, ada mbak Ruy dan Zidni yang menanyakan saya ukuran takaran air untuk memasak nasi. Sebenarnya saya juga tidak terlalu paham tentang masak memasak tetapi selama pendakian saya sebelum-sebelumnya dan ajaran dari ibu saya saat memasak nasi di magic jar. Takaran airnya hanya seujung jari telunjuk, sampai lipatan pertama jari telunjuk kita.

Tidak beberapa lama dari itu, Akbar juga datang mendekati saya dan mas Ucup. Hari itu Akbar sedang berpuasa, sepertinya puasa Syawal. Jadi mbak Ruy, mbak Prita, dan Zidni dari tadi sedang memasak untuk mereka makan dan buka puasanya si Akbar. Akbar menanyakan adzan maghrib di Sumatera, saya jawab biasanya jam 6 sudah adzan. Karena sebentar lagi jam 6 sore, Akbar kembali lagi ke penginapan. Sedangkan saya dan mas Ucup masih bercerita. Lalu tidak lama kemudian mbak Ruy memanggil kami untuk makan, sepertinya sudah adzan. Mas Ucup turun dari jembatan dan mengajak saya juga untuk makan bersama mereka. Saya menolak, saya bilang masih mau duduk-duduk dulu sambil melihat gajah. Sebelum pergi, Mas Ucup berpesan kepada saya untuk segera menyusul mereka makan.
Sebenarnya ini bukan spot yang disarankan oleh Pak Pal untuk memotret sunset

Foto ini saya ambil menggunakan aplikasi Adobe Lightroom
Sayang sekali sore itu matahari tidak muncul karena mataharinya tertutup awan mendung. Menikmati sunset di Way Kambas pun gagal. Ternyata sudah jam 6 lewat 10 menit, saya pun turun dari jembatan dan menuju kamar saya. Saya bongkar packing-an tas saya dan bersiap untuk mandi. Tumben sekali saya mau mandi saat travelling,  biasanya juga mandi sehari sekali sudah cukup. Saat menuju kamar mandi, saya berpapasan dengan mas Ucup, sepertinya dia baru mengambil wudhu. Dia menawarkan saya untuk ke kamar mereka kembali dengan gerakan tangannya. Saya menjawab, "Nanti mas, saya mandi dulu."

Saat hampir selesai mandi, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mandi.
Saya: "Ada orang."
Mbak Prita: "Mella ya? Lagi mandi ya Mel?"
Saya: "Oh iya mbak, lagi mandi mbak." Ternyata mbak Prita toh.
Mbak Prita: "Nanti kalo sudah mandi ke kamar kami ya Mel, makan bareng kami."
Saya: "Oh iya mbak, nanti kalo sudah mandi dan shalat saya ke sana. Terima kasih banyak ya mbak."
Mbak Prita: "Iya, sama-sama."
Wah, baik sekali sih, menawarkan makan saja sampai menyusul saya ke kamar mandi seperti ini. Kan, saya jadi terharu.

Setelah mandi dan shalat, saya berencana untuk masak pop mie saja. Saya yakin sekali mereka pasti makan nasi dan nafsu saya untuk makan nasi belum juga muncul. Keluarlah saya dari kamar sambil membawa satu cup pop mie dan 1 liter air mineral ke kamar mereka. Sampai di kamar mereka, saya bilang kalau saya mau masak mie saja. Mbak Prita buru-buru bilang, "Gak usah makan mie, gak baik untuk usus. Makan nasi aja, itu ada kok buat kamu." Ternyata mereka sudah makan semua, tinggal tersisa satu piring nasi untuk saya. Saya lihat porsi nasinya tidak terlalu banyak, Alhamdulillah, masih bisa saya cerna ini. Masakan mereka juga ternyata enak meskipun hanya omelet mie dan sarden. Lah, ini juga kan mie ya? Tetapi mungkin masaknya tidak memakai bumbu mie-nya.

Mereka menawarkan saya untuk bermain Uno. Saya jawab saja kalau saya tidak mengerti bermain Uno, saya bilang mereka saja yang main dulu sambil saya melihat mereka bermain dan menghabiskan nasi saya. Sepertinya anak-anak Jakarta memang senang bermain Uno dibandingkan bermain kartu remi atau domino (gaple). Sama seperti saya ke Krakatau dulu, saya sekamar dengan anak-anak dari Jakarta, mereka pun mengajak bermain Uno. Berbeda dengan kebanyakan orang di Sumatera, mereka lebih memilih bermain remi atau domino (gaple). Apalagi saya yang dari kecil memang sudah bisa bermain domino (gaple). Saya belajar bermain domino dari ayah saya, karena memang dulu hampir setiap malam ayah dan ibu saya sering bermain domino dengan teman-temannya. Sedangkan bermain remi saya diajarkan oleh teman-teman kuliah saya dulu.

Saya sudah selesai makan dan ronde pertama Uno juga sudah selesai. Saya memutuskan untuk bergabung, kali ini yang kalah mendapatkan hukuman, yaitu disuruh untuk menyuci piring dan nesting. Pada ronde ini mbak Prita yang kalah, jadi dia harus menyuci piring. Saya ikut membantu mencuci piring, sebagai rasa terima kasih juga sudah dikasih makan. Karena tidak ada lagi piring yang dicuci, jadi pada ronde kedua hukuman diganti, yaitu wajah yang kalah harus dicoret pakai lipstik. Target utama kami adalah mengalahkan Akbar karena mbak Prita dan mbak Ruy mengincar jenggot Akbar untuk dipakaikan lipstik. Tetapi sialnya, ronde kedua ini saya yang kalah, padahal saya hampir saja membuat Akbar (master of Uno) kalah dengan kartu switch, kartu saya yang masih banyak sekali ditukar dengan kartu Akbar yang tinggal tiga kalau tidak salah, sayang sekali. Mau tidak mau, wajah saya harus dicoret pakai lipstik, dan ini lipstiknya matte lho 😐

Pada ronde ketiga, tinggal tersisa saya melawan mbak Ruy. Mas Ucup mondar-mandir ke dapur untuk memasak air dan ternyata gas kompornya habis, Akbar terlena akan kemenangannya, mbak Prita dan Zidni tetap melihat kami bermain. Permainan mulai hilang fokus, kalau tidak salah saya kembali kalah pada ronde ini. Mungkin karena wajah saya sudah dicoret jadi beralihlah coretan lipstik ini ke wajah Zidni. Kata mereka, pada saat bermain Uno di kapal, Zidni yang kalah. Setelah mereka puas mencoret wajah Zidni, si Akbar mulai mengabadikan momen ini. Karena memang menurut saya, mata Zidni cantik sekali setelah dicoret oleh lipstik, jadi seperti memakai eyeshadow.

Permainan Uno sudah berakhir, saya izin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Saya kembali ke kamar mereka, saya melihat Mas Ucup sedang duduk di luar kamar. Saya ikut bergabung duduk di luar bersama mas Ucup, cerita-cerita lagi. Ternyata di luar kamar ini, signalnya lumayan juga. Beberapa pesan mulai masuk ke hape saya, saya jadi teringat untuk menghubungi mas Damri tadi pagi, untuk menanyakan keberangkatan Damri besok pagi. Karena signal internetnya masih labil, saya menghubungi mas tersebut melalui SMS. Kemudian mas tersebut memberikan saya nomor hape sopir Damri yang akan berangkat besok. Untuk SMS saja susah apalagi saya harus menelpon? Jadi, saya pun mengirimkan SMS ke sopir Damri tersebut. Eh, tidak lama dari itu, si bapak Damri menelpon saya dan untungnya signal lancar jaya. Beliau bilang ke saya kalau besok pagi mungkin sekitar jam 8 bisnya melewati Pasar Tridatu. Saya bilang ke bapaknya kalau besok saya menunggu di Indomaret Pasar Tridatu.

Tadi sore juga, saya sempat bicara ke Pak Pal, saya minta tolong diantarkan keluar Way Kambas besok pagi sekitar jam setengah 7 pagi. Pak Pal mau mengantarkan saya, katanya besok pagi jam setengah 7 telpon saja beliau, takutnya beliau masih tidur jam segitu. Pak Pal ini baik sekali, sumpah. Sebenarnya saya merasa tidak enak merepotkan begitu tetapi ya bagaimana lagi, daripada saya menghubungi Pak Emen lebih baik saya minta tolong dengan Pak Pal saja. Pak Pal juga bilang tidak apa-apa karena beliau sudah terbiasa ditelpon oleh tamunya di waktu yang tak terduga.

Lalu, mbak Ruy dan Akbar pun keluar dari kamar dan ikut bergabung untuk duduk. Akbar kesusahan mencari signal, saya bilang ke Akbar untuk mencoba di depan kamar saya, soalnya tadi siang ada mahout yang bilang kalau kamar saya lancar signal. Akbar menuruti saya dan menuju ke arah kamar saya. Benar saja, Akbar berhasil meng-upload satu foto ke Instagram 😁 Akbar bolak-balik ke depan kamar saya untuk mencari signal. Saya lupa jam berapa, mas Ucup pamit untuk pergi ke pos penjaga. Ada beberapa hal yang ingin ditanyakan mas Ucup mengenai Taman Nasional Way Kambas ini dan sambil menunggu langit cerah juga untuk foto milky way. 

Beberapa menit setelah mas Ucup pergi, saya pun pamit untuk kembali ke kamar. Pada saat saya pamit kembali ke kamar, mbak Prita dan Zidni ternyata sudah tidur, Zidni tidur masih dengan wajah berlipstik. Saya bilang ke mbak Ruy, kalau misalnya mau tidur boleh ke kamar saya saja. Soalnya kan masih ada satu ranjang lagi yang menganggur. Pada saat mengambil wudhu, saya sempat bercermin di kamar mandi. Sialan, ternyata lipstik di wajah saya belum hilang. Padahal tadi sudah saya hapus menggunakan tangan saya, jadi dari tadi saya bolak-balik melewati pengunjung-pengunjung yang menginap ini dengan wajah seperti itu 😑

Saya sengaja tidur dengan membuka horden di jendela kamar saya. Entah kenapa, di sini saya nyaman dengan kondisi horden yang terbuka. Pada saat sedang membongkar packing-an, saya melihat mbak Ruy dan Akbar di depan kamar saya. Saya membukakan kamar saya, saya menyuruh mereka untuk masuk ke kamar saya saja. Karena signal juga ternyata lancar di dalam kamar saya, daripada mereka di luar kan ya, enakan guling-guling di kasur. Alhamdulillah, berkat Akbar juga kipas angin di kamar saya ini hidup 😁 Awalnya saya kebingungan cara menghidupkan kipasnya ini, ternyata tali untuk menghidupkannya ada di balik horden. 

Kebetulan pada saat itu saya sedang mendengarkan lagu dari hape saya dan lagu BEAST (boyband Korea) yang Fiction sedang terputar. Ekspresi Akbar mulai berubah.
Saya: "Gak seneng Korea ya? Aku ganti aja ya lagunya."
Mbak Ruy: "Ya biarin aja Mel, gak usah diganti. Asik juga kok."
Akbar: "Gak juga sih. Gue juga seneng lagu Korea tapi yang sudah di-remix atau di-cover sama orang lain."
Saya: "Haha.. Kok gitu sih? Perasaan enakan yang aslinya."
Akbar: "Coba dengeri lagu ini deh." Sambil nge-play lagu Korea, saya tidak tahu itu lagunya siapa.
Saya: "Bagus juga sih, yang nyanyi aslinya siapa?"
Akbar: "Blackpink. Gue juga ada lagunya Twice tapi yang sudah di-remix ya." Oke, berkat Akbar anggapan saya tentang remix mulai berubah. Yang awalnya saya selalu membayangkan remix itu identik dengan lagu-lagu dangdut yang beat-nya cepat, ya seperti lagu-lagu yang biasa diputar di bis-bislah.
Saya: "Haha.. Aku gak terlalu tahu sama lagu-lagu mereka jadi gak bisa ngebandingin sama yang aslinya. Aku taunya boyband-boyband lama, kayak Super Junior dan Big Bang."
Akbar: "Wah, Big Bang." Ekspresinya mulai berubah lagi.
Saya: "Kenapa dengan Big Bang?"
Akbar: "Gue pernah kecelakaan karna denger lagu mereka."
Saya: "Kok bisa?"
Akbar: "Jadi gue naik motor ni sambil denger lagu mereka. Gue lupa judulnya apa, pokoknya yang ada versi Jepangnya juga. Terus gue belok, gue nabrak dan jatuh deh." Mungkin judul lagu yang dimaksud Akbar adalah Haru Haru  kali ya.
Mbak Ruy: "Gue cuma nonton drama-dramanya aja, gak tau k-pop."
Saya: "Hehe.. Soundtrack drama juga kan biasanya bagus-bagus mbak lagunya."

Ya sebagai salah satu k-popers gagal, pembicaraan seperti ini sangat menarik untuk saya. Saya seorang Elf (fandom Super Junior) dan VIP (fandom Big Bang). Dari karyanya, saya lebih mengunggulkan Big Bang daripada Super Junior tetapi Super Junior adalah first love saya mengenai Korea. Coba kalian dengerin deh lagu Big Bang yang Haru Haru ini, dari dulu saja musiknya sudah keren. Coba klik di sini untuk melihat video klipnya ya. Yasudahlah, tidak usah panjang lebar saya bahas tentang k-pop. Setelah obrolan itu, Akbar dan mbak Ruy kembali ke kamar mereka. Sebelum mereka pergi, saya tawarkan kembali mbak Ruy dan mbak Prita untuk tidur di kamar saya saja jika mereka mau. Eh, si mbak Ruy malah menyuruh saya untuk bergabung tidur dengan mereka. Saya bilang juga ke mbak Ruy, kalau misalnya mas Ucup jadi mau foto milky way, tolong bangunkan saya. Saya ingin ikut mereka juga untuk membantu mas Ucup, bantu ngelihatin milky way maksudnya 😆

Jam 11 lewat dikit, saya mulai tidur. Pada saat saya tidur, ternyata hujan mulai turun cukup deras. Pikir saya, kasihan sekali si mas Ucup tidak jadi foto milky way karena hujan. Saya sering terbangun karena ulah nyamuk. Sial, ternyata kata mahout pada saat di kantin siang tadi benar. Dia bilang ke saya kalau jangan keseringan membuka pintu, banyak nyamuknya. Padahal saya hanya sebentar membuka pintunya, apa kabar kamar rombongan mas Ucup yang hampir seharian dibuka ya? Saya menutupi kaki dan tangan saya hanya menggunakan kain pantai yang saya bawa, saya tidak teringat untuk memakai mukenah 😔

Bersambung...

No comments:

Post a Comment