Mau Cari Apa?

Thursday, 19 July 2018

Chronicle of Blood Merchant



Hari ini untuk kedua kalinya saya mendonorkan darah saya. Saya mau cerita tentang pengalaman saya mendonorkan darah dan mengapa saya memutuskan untuk mendonorkan darah saya. Eh, tetapi sebelumnya saya mau tanya dulu. Kalian pernah menonton film Korea yang judulnya "Chronicle of Blood Merchant", tidak? Sebelum saya menceritakan pengalaman saya, saya mau menceritakan tentang film tersebut. Karena menurut saya film tersebut tergolong film bagus meskipun awalnya sedikit membosankan dan tentu saja film ini berkaitan dengan donor darah.


Film tersebut menceritakan tentang perjuangan seorang ayah yang rela menjual darahnya demi biaya pengobatan anaknya. Di film ini memperlihatkan keajaiban dari donor darah dengan cara yang dramatis. Jadi ceritanya, film tersebut menceritakan seorang pria yang menikahi seorang gadis cantik pujaan hati para kaum pria, ya semacam kembang desa begitulah. Film tersebut menceritakan kehidupan di jaman dahulu di Korea Selatan. Di jaman ini, orang bisa mendapatkan uang dari mendonorkan darahnya. Si pria mendapatkan uang untuk menikahi si gadis dari hasil donor darahnya. Mereka hidup bahagia dan mempunyai tiga anak tetapi konflik terjadi setelah mereka berkeluarga selama 11 tahun.

Anak pertama mereka tidak mempunyai wajah yang mirip dengan wajah ayahnya, tetapi melainkan mirip dengan wajah sang mantan kekasih ibunya. Hal ini menjadi perbincangan di kampung mereka, jadi si ayah mengajak si anak untuk tes darah untuk membuktikan kepada orang-orang tentang kebenarannya. Ternyata golongan darah anak pertamanya tersebut berbeda dengan golongan darahnya dan istrinya tetapi sama dengan golongan darah sang mantan kekasih istrinya. Terungkap bahwa si anak pertama mereka adalah hasil hubungan istrinya dan mantan kekasihnya sebelum mereka menikah. Si anak diusir dari rumah dan disuruh tinggal di rumah ayah kandungnya.

Tetapi si ayah kandung mengalami pendarahan di otaknya dan diadakan ritual dengan menggunakan anaknya tersebut demi kesembuhan si ayah kandung. Sialnya, si anak pun mengalami sakit yang sama dengan ayah kandungnya, sepertinya sih penyakit keturunan. Si ibu yang tidak tega melihat anaknya, membawa sang anak ke rumah sakit. Biaya pengobatan sang anak sangat mahal bagi mereka, si ayah yang awalnya acuh terhadap anaknya menjadi sangat peduli. Dia tidak tega melihat anaknya sakit, meskipun bukan anak kandungnya. Tidak ada cara lain di dalam pikirannya selain menjual darah, jadi si ayah menjual darahnya demi mendapatkan uang untuk pengobatan anaknya. Uang hasil dari sekali menjual darah tidaklah cukup untuk pengobatan anaknya sedangkan ada selang waktu 3 bulan untuk mendonorkan darah selanjutnya.

Berbagai cara dilakukan sang ayah agar dapat menjual darahnya kembali dalam waktu singkat. Hal inilah yang membuat film ini sangat dramatis, sang ayah sudah seperti zombie karena darahnya yang secara terus menerus dijual. Dia tidak lagi memperdulikan kondisi tubuhnya demi pengobatan sang anak, sang istri pun tidak tega melihat sang suami. Tanpa persetujuan sang suami, sang istri ternyata menjual ginjalnya untuk pengobatan sang anak. Filmnya happy ending, sang anak sembuh dan mereka tinggal bersama kembali dalam satu rumah. Jujur, saya sempat menangis sedikit menonton film ini.

Sebenarnya dari jaman saya menjadi mahasiswa dulu, sudah banyak kegiatan donor darah yang diadakan di kampus saya tetapi saya belum berani untuk mendonorkan darah saya. Saya berpikiran untuk mendonorkan darah saya hanya untuk keluarga-keluarga saya yang membutuhkan saja ataupun teman-teman terdekat saya. Baru pada tahun 2018 ini, tepatnya tanggal 4 Maret lalu, saya memberanikan diri untuk mendonorkan darah saya untuk pertama kalinya. Pada saat itu, tanggal 3 Maret malam, teman saya membuat status di whatsapp jika dia membutuhkan golongan darah O untuk ayahnya yang sedang sakit paru-paru dan kebetulan golongan darah saya juga O. Hati saya merasa iba, andaikan saya berada di posisinya, pasti saya akan panik sekali dan hal tersebut tidak bisa dibayangkan oleh saya. Saya mengirimkan pesan ke dia tetapi tidak terkirim pada malam itu.

Keesokan harinya, tanggal 4 Maret, baru ada balasan dari teman saya itu, ketika saya sedang berada di jalan hendak kondangan di Mariana bersama teman-teman saya yang lainnya. Saya balas pesannya jika saya ingin mendonorkan darah saya tetapi setelah saya pulang kondangan sekitar jam 1 siang lewat. Saya disuruh untuk langsung datang saja ke Unit Tranfusi Darah Palang Merah Indonesia (UTD PMI) Palembang, yang berada di Km 5, dia akan menunggu saya di sana. Sialnya, setelah pulang kondangan saya dan teman saya kehujanan di jalan, dan hujannya pun sangat deras. Dengan sangat terpaksa, saya dan teman saya harus berteduh terlebih dahulu dan ini memakan waktu yang sangat lama.

Jam tangan saya sudah menunjukkan jam 1 lewat, sedangkan saya masih berteduh dan saya pun belum mengambil barang-barang saya di rumah teman saya yang berada di Jakabaring. Karena saya memutuskan untuk sekalian pulang ke rumah saya (Betung) setelah mendonorkan darah. Saya meminta maaf dan mengabarkan teman saya tersebut jika saya mungkin jam 2 lewatan baru bisa sampai di UTD PMI. Kalau kalian orang Palembang, kalian pasti tahu jarak antara Jakabaring dan Km 5 itu sangat jauh. Benar saja, saya sampai di sana sudah hampir jam 3 sore.

Teman saya masih menunggu saya di sana, sebelum mendonorkan darah, tekanan darah saya diperiksa terlebih dahulu, kemudian menimbang berat badan dan mengecek darah saya. Kalau kalian sedang menstruasi dan tidur malamnya di bawah 5 jam sebelum mendonorkan darah, kalian tidak diperbolehkan untuk mendonorkan darah. Sebenarnya ada beberapa alasan lain kenapa seseorang tidak diperbolehkan untuk mendonorkan darah, mungkin saja berat badannya kurang ataupun tekanan darahnya tidak memungkinkan untuk mendonorkan darah. Jadi, tidak perlu memaksakan diri untuk mendonorkan darah kalian. Masih banyak cara lain untuk menolong seseorang bukan hanya dari mendonorkan darah saja.

Dua bulan kemudian, tepatnya tanggal 18 Mei, saya mendapatkan SMS dari PMI bahwa sudah waktunya saya mendonorkan darah saya kembali. Kembali ke prinsip awal saya ketika mendonorkan darah, saya hanya mau mendonorkan darah saya untuk keluarga saya ataupun teman-teman terdekat saya saja karena saya akan sangat menyesal jika saya tidak dapat menolong keluarga saya sendiri ketika mereka membutuhkan transfusi darah. Jadilah selama beberapa bulan ke depan, saya tidak mendonorkan darah saya kembali.

Saya juga masih merasakan miris di hati saya. Ayah teman saya yang menerima donor dari saya tersebut telah meninggal dunia sekarang. Beliau sempat sehat dan pulang ke rumah dari saya donor tersebut tetapi takdir berkata lain, Tuhan memanggilnya di rumahnya bukan di rumah sakit.

Tiba-tiba kemarin siang, tanggal 18 Juli, rekan kerja saya menanyakan golongan darah O di grup whatsapp. Darah tersebut untuk temannya yang sedang sakit di Rumah Sakit Moehammad Hoesin Palembang dan tidak tanggung-tanggung, dia membutuhkan 10 kantong darah O. Banyak sekali, saya pikir pasti sakitnya parah. Kembali lagi hati ini tidak tega, hati saya tidak sanggup mengabaikan pesan tersebut. Saya menanggapi pesan tersebut dengan menanyakan lokasinya, saya diberikan kontak suami dari teman rekan kerja saya tersebut. Tidak lama kemudian, suami sang pasien menelpon saya.

Saya mengatakan jika saya tidak bisa langsung ke lokasi untuk mendonorkan darah saya karena jarak kantor saya ke Palembang memakan waktu 1 jam, belum lagi ditambah jika macet, apalagi saya harus pulang ke rumah saya (Betung) yang memakan waktu 2 jam perjalanan dari Palembang jika tidak macet. Sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 13.05 WIB. Juga, tidak ada lagi kendaraan untuk ke rumah saya jika sudah jam 6 lewat. Saya mengatakan, saya akan ke sana besok pagi jika darah saya masih diperlukan dan saya berpesan kepada suami pasien tersebut untuk mengabari saya. Beliau bilang, besok pagi adiknya yang akan menemani saya di UTD PMI untuk donor darah.

Jadi, tepatnya hari ini, tanggal 19 Juli, pagi-pagi sekali saya berangkat dari rumah saya menuju Palembang. Saya pikir mereka masih membutuhkan darah saya karena si suami pasien tidak menghubungi saya kembali. Kemarin beliau bilang masih membutuhkan 5 kantong darah lagi. Salahnya saya, saya baru menghubungi mereka lewat SMS ketika saya sampai di km 12 (titik awal Palembang dari arah rumah saya). Saya berangkat dari rumah jam 6 pagi karena sedikit macet jadi saya sampai di km 12 pada pukul 08.39 WIB. Segera saya menghubungi si bapak bahwa saya sudah dalam perjalanan menuju UTD PMI.

Beliau langsung menelpon saya, beliau mengatakan bahwa stok darahnya masih ada jadi darah saya tidak diperlukan lagi. Beliau juga meminta maaf tidak sempat mengabari saya. Awalnya saya tidak tahu harus berapa lama stok darah bisa disimpan setelah didonorkan, saya tetap bersikeras untuk mendonorkan darah saya karena sudah tanggung sekali. Si bapak bilang jangan, sayang nanti darahnya diambil orang karena hanya 1x24 jam darah bisa digunakan setelah didonorkan. Saya bilang ke bapaknya kalau saya tidak janji bisa mendonorkan darah saya kembali jika tidak hari ini. Karena lokasi rumah saya yang jauh dari Palembang dan kembali ke prinsip awal saya mendonorkan darah tadi, family first.

Saya sampai di simpang menuju UTD PMI Palembang yang berada di Km 5 jam 9 lewat sedikit, saya ragu untuk mendonorkan darah saya tetapi saya sudah terlanjur berada di sini. Saya mencoba menelpon ayah saya untuk meminta pendapatnya, 5 kali saya menelpon tetapi tidak diangkat. Lalu, saya pikir tanggung sekali sudah sampai di sini tetapi saya malah pulang kembali. Jadi, saya memutuskan memesan go-jek ke UTD PMI tersebut. Belum sempat saya klik pesan, ayah saya menelpon.


Saya menceritakan keraguan saya kepada ayah saya, saya meminta saran dari beliau. Beliau menanyakan kepada saya, apakah sudah lewat dari tiga bulan setelah saya pertama kali mendonorkan darah. Saya menjawab iya, lalu beliau bilang ke saya untuk mendonorkan darah saya secara sukarela saja jika memang sudah lewat tiga bulan. Saya melanjutkan memesan go-jek menuju UTD PMI.

Sesampai di sana, saya langsung mengisi formulir donor darah secara sukarela dan memeriksa tekanan darah saya serta mengecek darah daya. Setelah itu, saya langsung dipersilahkan masuk untuk ditransfusi darahnya. Berbeda dari donor darah pertama yang saya tidak merasakan apa-apa setelah donor, kali kedua ini saya merasakan agak sedikit pusing setelah mendonorkan darah. Mungkin karena porsi sarapan saya yang tidak terlalu banyak, saya hanya mengonsumsi satu bungkus kecil roti dan satu botol susu kemasan. Atau mungkin juga karena semalam saya sempat terbangun jam 2 pagi dan baru bisa tidur kembali jam 3, lalu bangun kembali jam setengah 4 pagi.

Setelah donor darah selesai, sekitar jam 10 pagi, saya masih menyempatkan diri untuk datang ke kantor. Saya tiba di kantor jam 12 siang dengan keadaan perut yang kelaparan, sebenarnya badan saya juga sudah mulai gemetaran dan masih sedikit pusing.
Sesampai di rumah, ayah saya menanyakan apakah tadi pagi saya jadi mendonorkan darah atau tidak. Saya menjawab jadi, beliau bilang untuk kedepannya saya disuruh mendonorkan darah dalam waktu 6 bulan sekali saja. Beliau khawatir badan saya akan menjadi gemuk (obesitas) seperti rekan kerjanya di kantor, beliau cerita jika ada rekan kerjanya yang sering donor darah dan berat badannya menjadi sangat berlebihan (obesitas) setelah rutin donor darah. Ada beberapa orang juga yang mengatakan bahwa saya menjadi gemukan setelah donor darah pertama, tetapi sebelum mendonorkan darah untuk pertama kalinya berat badan saya memang sudah bertambah.

Saya dianjurkan oleh PMI untuk mendonorkan darah kembali pada tanggal 19 Oktober 2018. Saya tidak akan terpaku pada tanggal tersebut, setelah kejadian hari ini saya bertekad untuk kembali ke prinsip awal saya, yaitu hanya mendonorkan darah saya untuk keluarga ataupun teman terdekat saya saja. Waktu tiga bulan itu bukanlah waktu yang singkat untuk orang sakit. Menurut saya, donor darah itu bukan sok-sokan untuk menjadi pahlawan ataupun kalian yang tidak mendonorkan darah belum tentu kalian tidak bisa menjadi pahlawan di kehidupan seseorang. Percayalah, banyak sekali cara dan jalan untuk berbuat baik, bukan hanya lewat mendonorkan darah saja.

No comments:

Post a Comment