Hari kedua perjalanan menuju Taman Nasional Way Kambas.
Pada pukul 04.50 WIB saya sudah bangun, mandi, lalu dilanjutkan shalat dan packing kembali. Pukul 06.00 WIB saya memesan go-jek menuju Pool Damri Rajabasa. Ongkos go-jek sekitar 16ribu (jika memakai go-pay). Wah, pasti ini jaraknya lumayan jauh, semoga saja jalanannya lancar dan bisnya belum berangkat. Dari hasil googling saya, bis Damri ini hanya berangkat pada pagi dan siang saja menuju Way Kambas.
Pada saat check out ternyata pemilik penginapan sedang duduk-duduk di bawah, sepasang suami istri. Kami sempat cerita-cerita sedikit, ternyata mereka juga orang Palembang, sama seperti saya, mereka dari daerah Kertapati (Simpang Sungki). Mereka bertanya kepada saya mau liburan ke mana, saya jawab ke Way Kambas. Mereka juga menanyakan apakah saya sudah pernah pergi ke Bali. Saya jawab sudah tetapi perginya dengan rombongan dan ke tempat-tempat yang memang sudah terkenal dan sering dikunjungi oleh wisatawan, seperti Tanah Lot, Pantai Kuta, Pantai Pandawa dan tempat-tempat lainnya. Mereka menyarankan saya untuk liburan ke Bali, khususnya ke daerah Singasari, mereka membuka tempat makanan khas Palembang di sana. Saya tanya balik, apakah mereka juga membuka penginapan di sana? Mereka menjawab tidak, hanya saja kakak mereka yang membuka penginapan di sana. Enak sekali, satu keluarga punya bisnis di bidang pariwisata seperti itu.
Driver go-jek sudah menelpon, saya langsung pamit ke mereka. Kira-kira baru 5 langkah keluar penginapan, saya dipanggil kembali oleh suaminya, saya masuk ke penginapan kembali. Katanya, "Tunggu dek, ibu lagi ngambilin roti untuk sarapan di jalan." Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak, lalu muncul si ibu dengan membawa kotak roti yang di dalamnya ada 3 bungkus roti. Saya ditawarkan untuk mengambil rotinya, kalau saya tidak tahu malu mungkin ketiga roti itu saya ambil semua tetapi saya hanya mengambil satu saja 😂 Saya pamit kembali dan berterima kasih kepada mereka. Roti ini saya habiskan di perjalanan menuju Pool Damri Rajabasa, jadi selama di go-jek mulut saya sibuk mengunyah roti.
Saya sampai di Pool Damri Rajabasa pukul 06.30 WIB, saya langsung tanya ke bapak tentara yang kebetulan sedang jaga di pos sana. Beliau bilang kalau tidak ada lagi bis Damri yang langsung masuk ke Taman Nasional Way Kambas, mungkin saya harus berkali-kali naik transportasi untuk menuju Way Kambas. Beliau menyuruh saya untuk menunggu dulu sampai bapak penjaga loketnya datang. Kata beliau, nanti saya bisa langsung tanya ke bapak penjaga loketnya rute ke Way Kambas tanpa harus naik turun kendaraan umum. Kemudian si bapak penjaga loket datang, beliau bilang kalau sudah 3 bulan ini bis Damri tidak lagi melayani rute langsung masuk ke Taman Nasional Way Kambas. Karena apa? Karena sepi, beliau bilang pada awal-awal Damri beroperasi ke Way Kambas pengunjungnya sangat ramai sampai di bis orang-orang rela berdiri. Tetapi lama kelamaan sepertinya masyarakat mulai bosan ke sana. Karena apa? Karena di sana cuma bisa melihat gajah saja, begitu-begitu saja setiap harinya. Itu sih kata bapak penjaga loketnya ya. Kalau menurut saya sih, namanya juga Pusat Konservasi Gajah (PKG), ya pasti yang dilihat gajah. Memang apa sih yang kalian harapkan dari melihat gajah selain melihat gajah itu sendiri? Kalau saya memang cukup gemas melihat hewan satu ini, saya juga tidak pernah melihat gajah untuk jarak sedekat ini dan bisa berinteraksi langsung dengan gajahnya seperti di Way Kambas ini.
Ada beberapa alasan mengapa saya memilih Taman Nasional Way Kambas ini untuk melihat gajah dibandingkan dengan tempat-tempat wisata atau Taman Nasional lainnya di Indonesia? Pertama, Taman Nasional Way Kambas adalah Taman Nasional tertua di Indonesia. Kedua, Rumah Sakit Gajah yang berada di Taman Nasional Way Kambas ini adalah Rumah Sakit Gajah pertama di Indonesia, bahkan Asia. Nama Rumah Sakitnya adalah Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. Rubini Atmawidjaja. Ketiga, informasi tentang Taman Nasional Way Kambas ini sangat mudah didapat dan aksesnya yang tidak terlalu jauh dari lokasi rumah saya (Palembang). Sebenarnya di Sumatera Selatan sendiri ada satu tempat yang bisa saya kunjungi jika ingin melihat gajah, yaitu di Lahat. Pada saat mendaki Bukit Besak (Lahat) pada tahun 2015, saya pernah melihat gajah berkeliaran di hutan dekat Bukit Besak ini. Saya sangat sulit untuk mendapatkan informasi tentang perizinan untuk melihat gajah di Lahat ini. Keempat, gajah-gajah di Taman Nasional Way Kambas ini sudah banyak yang jinak jadi saya bisa memegang mereka.
Kembali lagi ke perjalanan saya menuju Taman Nasional Way Kambas. Pada saat di Pool Damri Rajabasa, saya disuruh naik Damri jurusan Labuhan Maringgai yang berangkat pada pukul 07.00 WIB, untung sekali saya tidak ketinggalan bis. Saya juga disuruh untuk turun di Pasar Tridatu dan bisa melanjutkan perjalanan ke Way Kambas menggunakan ojek. Sebelum naik Damri, saya disarankan untuk meminta nomor kondektur bisnya nanti, biar bisa tahu besok paginya bis berangkat dari Way Jepara (melewati Way Kambas) ke Rajabasa jam berapa. Seperti saran mereka, saat ditagih uang ongkos (35ribu, kalau ke Labuhan Maringgai 50ribu), saya menanyakan nomor hape si mas kondektur. Saya tanya namanya, dia jawab simpan saja Damri. Aelah mas, punya nama kok disimpan sendiri begitu. Seingat saya rute perjalanan bis ini dimulai dari Rajabasa, melewati Stasiun Labuhan Ratu, bandara, Natar, Metro, Pekalongan, Sukadana, Tridatu, Way Jepara dan terakhir Labuhan Maringgai. Ada yang menarik dari Kota Metro ini, sepanjang perjalanan di Metro ada sungai yang mengalir tepat di samping jalan raya. Sesampai di Kota Metro, bis mulai penuh dan saya memutuskan untuk berdiri karena ada ibu-ibu yang berdiri. Ingat, sekecil apapun kebaikan kita pasti dibalas sama Tuhan. Benar saja, sampai di Sukadana saya bisa duduk kembali. Saya tidak bisa menerka di mana Tridatu ini berada karena sepanjang perjalanan tidak ada toko, puskesmas atau kantor yang memasang alamat Tridatu, lain seperti di Natar, Metro, Pekalongan dan Sukadana, hampir setiap toko pinggir jalan ada alamatnya. Setelah cukup lama melewati Sukadana, bis berhenti di sebuah pasar, saya tanya dengan penumpang-penumpang lain, ini Pasar Tridatu atau bukan. Mereka jawab iya, si ibu yang saya kasih tempat duduk tadi juga menjawab iya dan bilang hati-hati ke saya. Tak lama kemudian, si kondektur baru teriak "Yang mau ke Way Kambas, Tridatu, silahkan turun dari pintu depan." Buru-buru saya mengambil tas dan mengucapkan terima kasih dengan ibu-ibu tadi, sopir dan kondekturnya. Sebelum turun bis, mas kondekturnya bilang "Nanti kirim WA aja ya mbak, biar saya kirimkan nomor sopir yang pergi besok." Saya jawab, "Oke mas, terima kasih banyak ya."
Sampai di Pasar Tridatu kurang lebih pukul 10.00 WIB, saya fokus mencari warung yang menjual air mineral karena tadi di bis saya tidak bisa minum, tasnya di mana sayanya di mana. Tetapi kok dirasa-rasain perut saya juga lapar. Saya ketemu warung bakso di sana, di depan parkir motor Pasar Tridatu. Harga baksonya 15ribu/porsi jadi 14ribu/porsi karena si mbak-mbaknya tidak ada uang kembalian. Boleh komen tentang baksonya, tidak? Kalau dari kuahnya sih enak tanpa harus dikasih kecap dan lain-lain sudah ada rasa tetapi mienya rasa angep begitu, seperti sudah lama dipendam, terus daging dalam baksonya berasa bau. Tetapi jangan khawatir, meskipun begitu, semuanya saya makan sampai habis kok. Cuma saran saja buat kalian yang mau makan di Pasar Tridatu jangan makan bakso, makan yang lain saja. Atau kalau mau coba makan bakso juga tidak apa-apa, siapa tahu saat kalian berkunjung rasa baksonya sudah enak.
Dari saya turun bis, sebenarnya sudah banyak bapak-bapak ojek yang menawarkan jasa ojeknya untuk masuk ke Way Kambas. Tetapi kan saya harus makan dulu ya, katanya mau ditunggu tidak? Saya jawab saja, masih lama pak, saya mau makan dulu sama cari jajanan lain. Setelah makan, hanya satu bapak ojek yang mendekati saya. Kemana bapak-bapak ojek yang lain tadi ya? Bapak ojek ini namanya Pak Emen. Saya tanya berapa ongkos ke Way Kambas. Beliau menjawab 65ribu, gila dah, mahal sekali. Saya baca di internet cuma 50ribu tetapi itu lupa tahun berapa 😁 Sebelumnya juga saya sempat tanya ongkos ojek ke Pak Pal, Pak Pal bilang sih ongkos ojek ke Way Kambas 60ribu. Wah, ngemahalin 5ribu ni bapak 😅 Saya tawar 50ribu dia tetap tidak mau, saya mulai ragu, apalagi uang di dompet saya hanya cukup untuk bayar ojek saja, mungkin setelah itu kalau mau ngapa-ngapain di Way Kambas tidak ada lagi. Saya melihat pos polisi di pasar sana, rasanya ingin sekali SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) di kantor polisi sana sambil minta antar masuk ke Way Kambas.
Saya bilang ke Pak Emen, "Nanti ya pak, saya mau cari ATM dulu."
Pak Emen: "Ya ayo sini mbak, saya anterin ke ATM-nya."
Saya: "Ini gak bisa apa 50ribu aja, pak?"
Pak Emen: "Ya, gak bisalah mbak, masuk kesana aja hampir 15 km lho mbak, jauh."
Saya: "Nanti aja ya pak."
Pak Emen: "Yaudah mbak, 60ribu aja deh."
Saya: "60ribu ya pak? Saya nyebrang dulu ke Indomaret ya pak mau ngambil uang dulu."
Pak Emen: "Ayo naik mbak, biar saya anter ke Indomaretnya."
Saya: "Siap pak!"
Sesampai di Indomaret, saya bilang dengan pak Emen untuk menunggu sebentar sekalian saya belanja air mineral dan roti dulu. Setelah belanja dan ambil uang, saya langsung meluncur ke Way Kambas dengan Pak Emen. Saya tahu nama Pak Emen karena cerita-cerita sepanjang perjalanan. Nama Pak Emen ini terdengar sangat familiar di telinga saya. Benar saja, ketika saya menyimpan nomor hape Pak Emen ternyata saya sudah menyimpannya di hape saya. Saya mendapatkan nomor hape Pak Emen dari hasil googling saya kemarin. What a coincidence! Jalan ke Way Kambas memang jauh tetapi ongkos 60ribu itu terlalu mahal, menurut saya. Kalau kalian pintar menawar, tawarlah harga ojeknya sekitar 30-40ribu. Menurut saya, harga 60ribu itu dihitung pulang pergi oleh ojeknya karena mereka akan rugi ketika keluar Way Kambas tanpa membawa penumpang kembali. FYI, ongkos ojek dari rumah saya ke pasar saja hanya 10ribu yang jaraknya antara 9-10 km (di daerah Sumatera Selatan). Ini bukan maksud saya untuk merusak harga pasaran ojek di Way Kambas ya. Ya, jika kalian beruntung mungkin kalian bisa mendapatkan ongkos yang lebih murah dari saya ketika ke Way Kambas nanti.
Kami masuk ke Way Kambas melalui jalan yang ada pondok pesantrennya bukan lewat jalan utama ke Way Kambas. Kata Pak Emen, jalan utamanya lagi macet. Dalam hati saya, ini seriusan macet karena banyak mobil atau karena banyak gajah yang lewat? Kata orang-orang kan Way Kambas sepi sekali. Kami masuk ke Taman Nasional Way Kambas tanpa membayar uang tiket masuk karena pada saat kami melewati pos penjaganya sedang tidak ada orang. Ini termasuk rejeki anak sholehah, bukan? 😁
Selain cuacanya yang sejuk, saya sangat menikmati perjalanan selama di ojek, saya cerita-cerita dengan Pak Emen. Pak Emen cerita kalau dia pernah sekali pecah ban saat mengantarkan penumpang, posisi pecah bannya pun tidak tanggung-tanggung, di tengah-tengah jalan yang sepi dan dikelilingi hutan yang biasa dilewati oleh gajah-gajah liar dan hewan-hewan lainnya. Pak Emen bilang dia langsung menelpon temannya untuk segera dijemput di sana. Banyak lagi cerita-cerita lainnya, sampai saya lupa mengabari Pak Pal kalau saya sebentar lagi sudah sampai di dalam Way Kambas. Saya turun dari ojek, bayar sesuai kesepakatan tadi, dan ditunjuk sama Pak Emen mana kantornya dari kejauhan soalnya kendaraan pengunjung tidak boleh masuk mendekati kantor. Saya sempat buat snap dulu di Instagram sambil menunggu balasan dari Pak Pal 😁 Setelah buat snap, ada pesan dari Pak Pal "Ya mbak saya tunggu di lokasi, kalau sudah dilokasi hubungi saya." Belum saya hubungi, tiba-tiba dari arah belakang kantor ada yang teriak "Mbak Mella. Mbak Mella kan? Yang dari Palembang?" Saya menoleh ke arah suara, ternyata Pak Pal yang memanggil. Saya jawab juga dari kejauhan, "Iya pak. Pak Pal kan? Saya kesana ya pak."
Hal ini membuat beberapa mahout dan pengunjung melihat ke arah kami. Saya juga terkejut dengan cara Pak Pal memanggil saya begitu 😅 Pak Pal berada di belakang kantor, saya berjalan melewati kantor dan dua orang mahout yang sedang berdiri di samping pagar kantor. Saya senyum dan agak menundukkan badan ketika melewati mereka, mereka tersenyum balik. Setelah bertemu dengan Pak Pal, saya buru-buru minta diantar ke penginapan untuk meletakkan barang-barang saya. Saya sebenarnya cukup kaget ketika sampai di Way Kambas, ternyata di sini ramai, yang jualan juga banyak dan pengunjungnya juga ramai. Saya kelihatan bodoh dengan membawa 2 botol air mineral ukuran 1 liter, padahal di sini banyak warung dan ternyata di dalam penginapan juga disediakan air mineral ukuran sedang 3 botol 😐
Sewaktu menuju penginapan, Pak Pal sempat menawarkan saya untuk tidur di rumahnya saja, kalau saya mau nanti sore bisa langsung pulang bersamanya ke rumahnya setelah saya puas keliling Way Kambas. Saya hampir tergoda dengan tawaran Pak Pal tersebut, saya bisa hemat uang 300ribu plus uang untuk makan, pikir saya. Tetapi saya akan kehilangan momen bermalam di Way Kambas, yang katanya kalau di malam hari masih banyak binatang-binatang yang muncul di depan penginapan, seperti babi hutan, tapir, dan lain-lain. Plus, kehilangan momen sunset dan sunrise di Way Kambas. Saya menolak ajakan Pak Pal tersebut dan mengucapkan terima kasih banyak sudah menawarkan hal tersebut, saya bilang "Terima kasih banyak pak tapi lain kali saja kalau saya kesini lagi hehe.. Saya pengen menginap di Way Kambas-nya langsung pak."
Setelah menaruh barang di dalam kamar, saya diajak keliling penginapan dengan Pak Pal. Di sini ada 6 kamar dengan 4 kamar mandi yang berada di luar kamar, ada dapur (lengkap, dari kompor, peralatan masak sampai teh, kopi, gula dan lain-lain), ada teras depan dan belakang juga. Setelah itu, saya langsung diajak keliling dengan Pak Pal menggunakan motornya. Kami ke arah Savana, di sini saya bertemu dengan Erin yang sedang asyik makan. Erin adalah gajah berumur 7 tahun yang belalainya terpotong karena terkena jerat warga. Erin adalah gajah pertama yang saya pegang di Way Kambas ini. Bahagia sekali rasanya, Erin mau saya pegang. Pak Pal menyuruh saya untuk berpose dengan Erin, Pak Pal ini sangat sigap untuk menjadi photographer kita 😄
Tidak jauh dari lokasi Erin berada, ada gajah satu lagi, badannya cukup besar. Sebenarnya saya lebih tertarik ke anak-anak gajah sih tetapi saya disuruh Pak Pal berpose lagi dengan gajahnya. Pada saat foto, kata Pak Pal gajahnya jangan didekati, dari jauh saja. Mungkin gajahnya masih agak liar kali ya. Saya tanya ke Pak Pal, anak-anak gajahnya di mana soalnya dari tadi saya cuma melihat Erin saja. Kata Pak Pal kalau saya ingin melihat anak gajah nanti sore saja ditemani sama beliau. Saya juga sempat berfoto di Savana yang terkenal di Way Kambas. Sebenarnya ini ide Pak Pal yang menyuruh saya berfoto di Savana, jangan terkejut saja melihat hasil fotonya.
Dari situ, saya dibawa Pak Pal ke Rumah Sakit Gajah. Alhamdulillah tidak ada gajah yang sakit hari itu. Waktu kami ke sana, hanya ada satu mahout yang sedang jaga. Tidak lupa juga, saya berfoto kembali di sana dan keliling sebentar 😅 Di situ ada kantong infus gajah, ukuran kantong infusnya sama seperti manusia, yang membedakan hanya jarum suntiknya saja. Kata Pak Pal, dalam satu hari gajah bisa menghabiskan lebih dari 70 kantong infus kalau sedang sakit. Syuper syekali. Pasti perawatnya capek ganti infusnya ya. Eh, ada tidak sih perawat gajah?
Sebenarnya kami mau keliling lagi tetapi hujan datang, tahu sendirilah ya di hutan terbuka begini mana ada tempat teduhan. Jadi, saya dan Pak Pal buru-buru balik lagi ke arah kantor. Sesampai di sana, masih hujan-hujan manja gitu. Saya diajak Pak Pal melihat fosil gajah dan keliling di sekitar lokasi atraksi gajah. Kata Pak Pal tidak sembarang orang boleh melihat fosil gajah ini. Alhamdulillah, saya termasuk orang beruntung. Pada saat melihat fosil gajah, saya melihat foto-foto proses penjinakkan gajah liar. Ternyata untuk menjinakkan seekor gajah liar harus melaksanakan ritual terlebih dahulu dengan memotong ayam dan proses-proses lainnya. Kenapa harus memakai ritual sih? Saya jadi teringat dengan pemikirannya Tan Malaka, kenapa bangsa ini sulit untuk maju? Karena masyarakatnya masih percaya dengan hal-hal mistis atau takhayul. Tetapi hal tersebut juga sudah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat kita sih.
Bersambung...
Pada pukul 04.50 WIB saya sudah bangun, mandi, lalu dilanjutkan shalat dan packing kembali. Pukul 06.00 WIB saya memesan go-jek menuju Pool Damri Rajabasa. Ongkos go-jek sekitar 16ribu (jika memakai go-pay). Wah, pasti ini jaraknya lumayan jauh, semoga saja jalanannya lancar dan bisnya belum berangkat. Dari hasil googling saya, bis Damri ini hanya berangkat pada pagi dan siang saja menuju Way Kambas.
Pada saat check out ternyata pemilik penginapan sedang duduk-duduk di bawah, sepasang suami istri. Kami sempat cerita-cerita sedikit, ternyata mereka juga orang Palembang, sama seperti saya, mereka dari daerah Kertapati (Simpang Sungki). Mereka bertanya kepada saya mau liburan ke mana, saya jawab ke Way Kambas. Mereka juga menanyakan apakah saya sudah pernah pergi ke Bali. Saya jawab sudah tetapi perginya dengan rombongan dan ke tempat-tempat yang memang sudah terkenal dan sering dikunjungi oleh wisatawan, seperti Tanah Lot, Pantai Kuta, Pantai Pandawa dan tempat-tempat lainnya. Mereka menyarankan saya untuk liburan ke Bali, khususnya ke daerah Singasari, mereka membuka tempat makanan khas Palembang di sana. Saya tanya balik, apakah mereka juga membuka penginapan di sana? Mereka menjawab tidak, hanya saja kakak mereka yang membuka penginapan di sana. Enak sekali, satu keluarga punya bisnis di bidang pariwisata seperti itu.
Driver go-jek sudah menelpon, saya langsung pamit ke mereka. Kira-kira baru 5 langkah keluar penginapan, saya dipanggil kembali oleh suaminya, saya masuk ke penginapan kembali. Katanya, "Tunggu dek, ibu lagi ngambilin roti untuk sarapan di jalan." Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak, lalu muncul si ibu dengan membawa kotak roti yang di dalamnya ada 3 bungkus roti. Saya ditawarkan untuk mengambil rotinya, kalau saya tidak tahu malu mungkin ketiga roti itu saya ambil semua tetapi saya hanya mengambil satu saja 😂 Saya pamit kembali dan berterima kasih kepada mereka. Roti ini saya habiskan di perjalanan menuju Pool Damri Rajabasa, jadi selama di go-jek mulut saya sibuk mengunyah roti.
Saya sampai di Pool Damri Rajabasa pukul 06.30 WIB, saya langsung tanya ke bapak tentara yang kebetulan sedang jaga di pos sana. Beliau bilang kalau tidak ada lagi bis Damri yang langsung masuk ke Taman Nasional Way Kambas, mungkin saya harus berkali-kali naik transportasi untuk menuju Way Kambas. Beliau menyuruh saya untuk menunggu dulu sampai bapak penjaga loketnya datang. Kata beliau, nanti saya bisa langsung tanya ke bapak penjaga loketnya rute ke Way Kambas tanpa harus naik turun kendaraan umum. Kemudian si bapak penjaga loket datang, beliau bilang kalau sudah 3 bulan ini bis Damri tidak lagi melayani rute langsung masuk ke Taman Nasional Way Kambas. Karena apa? Karena sepi, beliau bilang pada awal-awal Damri beroperasi ke Way Kambas pengunjungnya sangat ramai sampai di bis orang-orang rela berdiri. Tetapi lama kelamaan sepertinya masyarakat mulai bosan ke sana. Karena apa? Karena di sana cuma bisa melihat gajah saja, begitu-begitu saja setiap harinya. Itu sih kata bapak penjaga loketnya ya. Kalau menurut saya sih, namanya juga Pusat Konservasi Gajah (PKG), ya pasti yang dilihat gajah. Memang apa sih yang kalian harapkan dari melihat gajah selain melihat gajah itu sendiri? Kalau saya memang cukup gemas melihat hewan satu ini, saya juga tidak pernah melihat gajah untuk jarak sedekat ini dan bisa berinteraksi langsung dengan gajahnya seperti di Way Kambas ini.
Ada beberapa alasan mengapa saya memilih Taman Nasional Way Kambas ini untuk melihat gajah dibandingkan dengan tempat-tempat wisata atau Taman Nasional lainnya di Indonesia? Pertama, Taman Nasional Way Kambas adalah Taman Nasional tertua di Indonesia. Kedua, Rumah Sakit Gajah yang berada di Taman Nasional Way Kambas ini adalah Rumah Sakit Gajah pertama di Indonesia, bahkan Asia. Nama Rumah Sakitnya adalah Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. Rubini Atmawidjaja. Ketiga, informasi tentang Taman Nasional Way Kambas ini sangat mudah didapat dan aksesnya yang tidak terlalu jauh dari lokasi rumah saya (Palembang). Sebenarnya di Sumatera Selatan sendiri ada satu tempat yang bisa saya kunjungi jika ingin melihat gajah, yaitu di Lahat. Pada saat mendaki Bukit Besak (Lahat) pada tahun 2015, saya pernah melihat gajah berkeliaran di hutan dekat Bukit Besak ini. Saya sangat sulit untuk mendapatkan informasi tentang perizinan untuk melihat gajah di Lahat ini. Keempat, gajah-gajah di Taman Nasional Way Kambas ini sudah banyak yang jinak jadi saya bisa memegang mereka.
Kembali lagi ke perjalanan saya menuju Taman Nasional Way Kambas. Pada saat di Pool Damri Rajabasa, saya disuruh naik Damri jurusan Labuhan Maringgai yang berangkat pada pukul 07.00 WIB, untung sekali saya tidak ketinggalan bis. Saya juga disuruh untuk turun di Pasar Tridatu dan bisa melanjutkan perjalanan ke Way Kambas menggunakan ojek. Sebelum naik Damri, saya disarankan untuk meminta nomor kondektur bisnya nanti, biar bisa tahu besok paginya bis berangkat dari Way Jepara (melewati Way Kambas) ke Rajabasa jam berapa. Seperti saran mereka, saat ditagih uang ongkos (35ribu, kalau ke Labuhan Maringgai 50ribu), saya menanyakan nomor hape si mas kondektur. Saya tanya namanya, dia jawab simpan saja Damri. Aelah mas, punya nama kok disimpan sendiri begitu. Seingat saya rute perjalanan bis ini dimulai dari Rajabasa, melewati Stasiun Labuhan Ratu, bandara, Natar, Metro, Pekalongan, Sukadana, Tridatu, Way Jepara dan terakhir Labuhan Maringgai. Ada yang menarik dari Kota Metro ini, sepanjang perjalanan di Metro ada sungai yang mengalir tepat di samping jalan raya. Sesampai di Kota Metro, bis mulai penuh dan saya memutuskan untuk berdiri karena ada ibu-ibu yang berdiri. Ingat, sekecil apapun kebaikan kita pasti dibalas sama Tuhan. Benar saja, sampai di Sukadana saya bisa duduk kembali. Saya tidak bisa menerka di mana Tridatu ini berada karena sepanjang perjalanan tidak ada toko, puskesmas atau kantor yang memasang alamat Tridatu, lain seperti di Natar, Metro, Pekalongan dan Sukadana, hampir setiap toko pinggir jalan ada alamatnya. Setelah cukup lama melewati Sukadana, bis berhenti di sebuah pasar, saya tanya dengan penumpang-penumpang lain, ini Pasar Tridatu atau bukan. Mereka jawab iya, si ibu yang saya kasih tempat duduk tadi juga menjawab iya dan bilang hati-hati ke saya. Tak lama kemudian, si kondektur baru teriak "Yang mau ke Way Kambas, Tridatu, silahkan turun dari pintu depan." Buru-buru saya mengambil tas dan mengucapkan terima kasih dengan ibu-ibu tadi, sopir dan kondekturnya. Sebelum turun bis, mas kondekturnya bilang "Nanti kirim WA aja ya mbak, biar saya kirimkan nomor sopir yang pergi besok." Saya jawab, "Oke mas, terima kasih banyak ya."
Sampai di Pasar Tridatu kurang lebih pukul 10.00 WIB, saya fokus mencari warung yang menjual air mineral karena tadi di bis saya tidak bisa minum, tasnya di mana sayanya di mana. Tetapi kok dirasa-rasain perut saya juga lapar. Saya ketemu warung bakso di sana, di depan parkir motor Pasar Tridatu. Harga baksonya 15ribu/porsi jadi 14ribu/porsi karena si mbak-mbaknya tidak ada uang kembalian. Boleh komen tentang baksonya, tidak? Kalau dari kuahnya sih enak tanpa harus dikasih kecap dan lain-lain sudah ada rasa tetapi mienya rasa angep begitu, seperti sudah lama dipendam, terus daging dalam baksonya berasa bau. Tetapi jangan khawatir, meskipun begitu, semuanya saya makan sampai habis kok. Cuma saran saja buat kalian yang mau makan di Pasar Tridatu jangan makan bakso, makan yang lain saja. Atau kalau mau coba makan bakso juga tidak apa-apa, siapa tahu saat kalian berkunjung rasa baksonya sudah enak.
Dari saya turun bis, sebenarnya sudah banyak bapak-bapak ojek yang menawarkan jasa ojeknya untuk masuk ke Way Kambas. Tetapi kan saya harus makan dulu ya, katanya mau ditunggu tidak? Saya jawab saja, masih lama pak, saya mau makan dulu sama cari jajanan lain. Setelah makan, hanya satu bapak ojek yang mendekati saya. Kemana bapak-bapak ojek yang lain tadi ya? Bapak ojek ini namanya Pak Emen. Saya tanya berapa ongkos ke Way Kambas. Beliau menjawab 65ribu, gila dah, mahal sekali. Saya baca di internet cuma 50ribu tetapi itu lupa tahun berapa 😁 Sebelumnya juga saya sempat tanya ongkos ojek ke Pak Pal, Pak Pal bilang sih ongkos ojek ke Way Kambas 60ribu. Wah, ngemahalin 5ribu ni bapak 😅 Saya tawar 50ribu dia tetap tidak mau, saya mulai ragu, apalagi uang di dompet saya hanya cukup untuk bayar ojek saja, mungkin setelah itu kalau mau ngapa-ngapain di Way Kambas tidak ada lagi. Saya melihat pos polisi di pasar sana, rasanya ingin sekali SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) di kantor polisi sana sambil minta antar masuk ke Way Kambas.
Saya bilang ke Pak Emen, "Nanti ya pak, saya mau cari ATM dulu."
Pak Emen: "Ya ayo sini mbak, saya anterin ke ATM-nya."
Saya: "Ini gak bisa apa 50ribu aja, pak?"
Pak Emen: "Ya, gak bisalah mbak, masuk kesana aja hampir 15 km lho mbak, jauh."
Saya: "Nanti aja ya pak."
Pak Emen: "Yaudah mbak, 60ribu aja deh."
Saya: "60ribu ya pak? Saya nyebrang dulu ke Indomaret ya pak mau ngambil uang dulu."
Pak Emen: "Ayo naik mbak, biar saya anter ke Indomaretnya."
Saya: "Siap pak!"
Sesampai di Indomaret, saya bilang dengan pak Emen untuk menunggu sebentar sekalian saya belanja air mineral dan roti dulu. Setelah belanja dan ambil uang, saya langsung meluncur ke Way Kambas dengan Pak Emen. Saya tahu nama Pak Emen karena cerita-cerita sepanjang perjalanan. Nama Pak Emen ini terdengar sangat familiar di telinga saya. Benar saja, ketika saya menyimpan nomor hape Pak Emen ternyata saya sudah menyimpannya di hape saya. Saya mendapatkan nomor hape Pak Emen dari hasil googling saya kemarin. What a coincidence! Jalan ke Way Kambas memang jauh tetapi ongkos 60ribu itu terlalu mahal, menurut saya. Kalau kalian pintar menawar, tawarlah harga ojeknya sekitar 30-40ribu. Menurut saya, harga 60ribu itu dihitung pulang pergi oleh ojeknya karena mereka akan rugi ketika keluar Way Kambas tanpa membawa penumpang kembali. FYI, ongkos ojek dari rumah saya ke pasar saja hanya 10ribu yang jaraknya antara 9-10 km (di daerah Sumatera Selatan). Ini bukan maksud saya untuk merusak harga pasaran ojek di Way Kambas ya. Ya, jika kalian beruntung mungkin kalian bisa mendapatkan ongkos yang lebih murah dari saya ketika ke Way Kambas nanti.
Kami masuk ke Way Kambas melalui jalan yang ada pondok pesantrennya bukan lewat jalan utama ke Way Kambas. Kata Pak Emen, jalan utamanya lagi macet. Dalam hati saya, ini seriusan macet karena banyak mobil atau karena banyak gajah yang lewat? Kata orang-orang kan Way Kambas sepi sekali. Kami masuk ke Taman Nasional Way Kambas tanpa membayar uang tiket masuk karena pada saat kami melewati pos penjaganya sedang tidak ada orang. Ini termasuk rejeki anak sholehah, bukan? 😁
Sewaktu menuju penginapan, Pak Pal sempat menawarkan saya untuk tidur di rumahnya saja, kalau saya mau nanti sore bisa langsung pulang bersamanya ke rumahnya setelah saya puas keliling Way Kambas. Saya hampir tergoda dengan tawaran Pak Pal tersebut, saya bisa hemat uang 300ribu plus uang untuk makan, pikir saya. Tetapi saya akan kehilangan momen bermalam di Way Kambas, yang katanya kalau di malam hari masih banyak binatang-binatang yang muncul di depan penginapan, seperti babi hutan, tapir, dan lain-lain. Plus, kehilangan momen sunset dan sunrise di Way Kambas. Saya menolak ajakan Pak Pal tersebut dan mengucapkan terima kasih banyak sudah menawarkan hal tersebut, saya bilang "Terima kasih banyak pak tapi lain kali saja kalau saya kesini lagi hehe.. Saya pengen menginap di Way Kambas-nya langsung pak."
Setelah menaruh barang di dalam kamar, saya diajak keliling penginapan dengan Pak Pal. Di sini ada 6 kamar dengan 4 kamar mandi yang berada di luar kamar, ada dapur (lengkap, dari kompor, peralatan masak sampai teh, kopi, gula dan lain-lain), ada teras depan dan belakang juga. Setelah itu, saya langsung diajak keliling dengan Pak Pal menggunakan motornya. Kami ke arah Savana, di sini saya bertemu dengan Erin yang sedang asyik makan. Erin adalah gajah berumur 7 tahun yang belalainya terpotong karena terkena jerat warga. Erin adalah gajah pertama yang saya pegang di Way Kambas ini. Bahagia sekali rasanya, Erin mau saya pegang. Pak Pal menyuruh saya untuk berpose dengan Erin, Pak Pal ini sangat sigap untuk menjadi photographer kita 😄
![]() |
| Foto dengan Erin 😄 |
![]() |
| Pose jauh dengan gajahnya |
![]() |
| Percayalah, ini di Savana Way Kambas bukan di belakang rumah saya |
![]() |
| Di bagian depan Rumah Sakit Gajah |
![]() |
| Maket (miniatur bangunan) Rumah Sakit Gajah Way Kambas |
![]() |
| Infus gajah |
![]() |
| Fosil Gajah Sumatera, tolong jangan tanya usia fosilnya berapa tahun |








No comments:
Post a Comment