Mau Cari Apa?

Wednesday, 11 July 2018

Taman Nasional Way Kambas, 22 Juni 2018 #2


Dari melihat fosil gajah, saya diajak Pak Pal keliling wilayah yang hanya boleh didatangi oleh pengunjung saja. Kemudian kami berhenti di sebuah kantin, ternyata Pak Pal kelaparan 😂 Saya ditawarkan makan oleh Pak Pal tetapi saya menolak karena saya memang sudah makan bakso di pasar tadi, saya hanya memesan es jeruk saja. Di sini juga banyak mahout-mahout lain yang sedang nongkrong, makan atau hanya sekedar minum kopi saja. Pak Pal makan sampai menambah 2 kali, sepertinya beliau kelaparan sekali. Yang pertama dia makan nasi lauk ayam, lalu yang kedua makan nasi lauk ikan lele. Pak Pal ini juga sepertinya sangat kuat merokok, dari saya sampai di Way Kambas pukul 10.30-11.30 WIB saja beliau sudah menghabiskan 3 batang rokok. Jaga kesehatan sih pak, biar nanti kita bisa bertemu kembali.
Sewaktu di Rumah Sakit Gajah tadi, Pak Pal bilang ke saya kalau nanti akan ada atraksi gajah, katanya jarang-jarang atraksi ini dilaksanakan. Nanti kalau saya mau nonton atraksi gajah bisa langsung bilang saja ke Pak Pal. Karena hari itu adalah hari Jumat, saya yakin Pak Pal juga akan melaksanakan Shalat Jumat. Jadi, saya izin ke Pak Pal untuk keliling-keliling sendiri dulu saja sambil menunggu atraksi gajahnya dimulai. Ketika saya hendak membayar es jeruk yang saya minum tadi, saya sempat ragu mau membayarkan makanan Pak Pal juga atau tidak. Kalau saya bayar makanan Pak Pal pasti agak mahal soalnya kan Pak Pal makannya banyak 😅 Untungnya pikiran saya ini langsung dibuyarkan oleh suara Pak Pal.
Pak Pal: "Gak usah mbak Mella, gak usah dibayar es jeruknya, biar saya saja nanti yang bayar."
Saya: "Wah, serius ini pak?" Awalnya saya terkejut, saya kira Pak Pal ini mau bilang kalau tidak usah membayarkan makanannya, ternyata malah sebaliknya.
Pak Pal: "Iya mbak, biar saya saja yang bayar."
Saya: "Terima kasih banyak lho pak hehe.. Saya permisi dulu ya pak kalau begitu, mau keliling-keliling dulu." Kelihatan sekali sih kalau saya bahagia dibayarin minum. Bahagia memang terkadang sesederhana itu 😂
Pak Pal: "Iya mbak, nanti hubungi saya saja ya kalau mau nonton atraksinya. Mungkin abis dzuhur baru dimulai."
Saya: "Siap pak."
Grafiti yang menghiasi dinding wahana atraksi gajah
Saya berjalan menuju wahana atraksi gajah, di dinding tempat atraksi ini dihiasi oleh banyak grafiti yang keren-keren. Di samping tempat atraksi ternyata ada pagar pendek yang di dalamnya ada sekitar 5 ekor gajah yang akan tampil pada saat atraksi nanti. Wah, pemandangan langka ini, pikir saya. Saya mendekat ke sana, di sana juga sudah ada dua orang yang berdiri sambil melihat gajah. Satu orang pribumi, satunya lagi bule. Tetapi bule ini sudah fasih berbicara bahasa Indonesia, Alhamdulillah. Cukup lama juga saya berdiri di sana sambil melihat anak-anak gajah ini makan, tetapi gajah-gajah yang di sini tidak boleh didekati dan dipegang oleh pengunjung tanpa seizin mahout.
Tidak lama saya berdiri, datang bapak pedagang tebu dan pisang menggunakan motor. Bapak itu menjual tebu dan pisang untuk pengunjung berikan kepada gajah pada saat atraksi nanti, saya tidak bertanya juga harganya berapa. Ketika saya hendak pergi dari sana, si bule dan temannya ini juga ikut meninggalkan lokasi itu. Sehingga terlihat seolah-olah kami berjalan beriringan. Tiba-tiba si bapak pedagang mengajak saya bercerita. Beliau menanyakan saya dari mana dan bercerita kalau dia pernah ke Palembang mengantar gajah. Saya mulai tertarik dengan ceritanya tetapi tiba-tiba beliau tidak bersemangat lagi bercerita. Aah.. Saya tahu ini, pasti beliau mengira saya juga teman si bule tadi. Karena tadi saya melihat si bapak mengajak si bule mengobrol sambil menawarkan dagangannya tetapi tidak terlalu digubris oleh si bule tadi. Dasar si bapak mah. Yasudah, saya langsung permisi ke bapak tersebut. Saya beralih ke arah dinding yang dihiasi grafiti tersebut, selfie terus minta fotoin dengan pengunjung yang sedang ada di sana 😆Di sebelah kanan tempat atraksi tadi juga ada gajah lagi tetapi gajahnya sudah besar. Sungguh Way Kambas ini surga gajah, di mana-mana ada gajah, bahagia sekali melihatnya. Saya duduk-duduk di sana sambil melihat gajah-gajah ini makan. Pokoknya bahagia sekali.
Terdengar dari arah masjid jika shalat Jumat akan segera dilaksanakan. Saya buru-buru balik ke penginapan untuk shalat juga tetapi bukan shalat Jumat ya. Pada saat menuju penginapan, saya memang sengaja melewati warung-warung yang menjual kaos dan souvenir. Sekarang setiap bepergian, saya mulai terobsesi ingin membeli kaos yang bergambarkan tempat yang saya kunjungi. Saya mendapatkan kaos yang pas, harganya 65ribu tetapi saya tawar menjadi 60ribu, seharga ongkos ojek coy 😆 Saya membeli dua kaos, satu untuk saya dan satunya lagi untuk mbak Ades (kakak perempuan kedua saya) atau Papi saya (jika mbak Ades tidak mau). Sesampai di penginapan, saya langsung shalat dan beres-beres sedikit. Jam 1 kurang 10 menit saya keluar kembali dari penginapan menuju tempat atraksi gajah. FYI, di Way Kambas ini susah signal, ada beberapa spot yang memang lancar signal. Saya mengirim pesan WA ke Pak Pal tetapi tidak terkirim, lalu saya mengirim SMS dan ternyata SMS-nya juga tidak langsung terkirim. Dalam pesan itu, saya bilang dengan Pak Pal kalau saya ingin melihat atraksi gajah, apakah saya langsung saja masuk ke sana atau bagaimana. SMS ini lama sekali terkirimnya dan orang-orang mulai memasuki wahana atraksi gajah. Saya pikir, yasudahlah, saya langsung masuk saja. Pada saat mengantri untuk membeli tiket atraksi, saya melihat ada satu mahout yang memasukkan beberapa pengunjung ke wahana atraksi tanpa membayar tiket lagi. Wah, nepotisme juga ya di sini 😂
Tarif Jasa Wisata Alam KOWAGAS
Tiket atraksi gajah hanya 20ribu/orang saja kok, tidak terlalu mahal dan durasinya kurang lebih 1 jam. Di sini saya bertemu Queen, Pangeran, Sugenk, Gadar, Tomy dan Julia. Itu nama-nama gajah yang mengikuti atraksi. Semua nama mahout yang mengurusi mereka pun disebut di sini, sayangnya saya hanya ingat nama Pak Sarjono dan Pak Dani (mahout Queen) saja. Pada atraksi ini gajah-gajah tersebut menaikkan bendera, menggendong mahout-nya dengan menggunakan belalai, bermain hulahop dan harmonika, berjoget, berhitung dan menendang bola. Pada saat berhitung, satu pengunjung dipilih untuk turun ke lapangan atraksi dengan memberikan soal berhitung ke salah satu gajah. Kebetulan gajah yang harus menjawab pertanyaan tersebut adalah Queen. Di sini, lagi-lagi mahout yang saya temui di pintu masuk tadi melakukan aksi nepotismenya 😂 Dia menunjuk cewek yang masuk bersamanya tadi. Dalam hati saya, "Andaikan ada Pak Pal, mungkin saya yang ditunjuk ke sana." 😅 Sedihnya, setelah masuk wahana atraksi gajah pesan Pak Pal baru masuk ke hape saya. Pak Pal bilang, saya disuruh menunggu dia biar diantarkan masuk ke dalam. Saya balas pesan Pak Pal tersebut, "Maaf pak, saya sudah masuk, signalnya susah banget di sini." Setelah itu tidak ada balasan lagi dari Pak Pal. Lalu si cewek tadi memberikan pertanyaan 30 dibagi 6 kepada Queen. Tingkah Queen ini sangat lucu sekali, 5 kali menjawab dia baru benar 😅 Di sini saya melihat Queen tidak fokus menjawab mungkin karena mengantuk atau kepanasan. Ini pakai ilmu terka saja ya 😂
Bermain hulahop
Ayo tebak, siapa nama mahout dan gajahnya?
Setelah menonton atraksi gajah yang selesai pukul 14.10 WIB, saya keluar dari wahana atraksi menuju kantin. Ternyata saya kelaparan, saya menuju kantin tempat saya dan Pak Pal tadi kunjungi. Di kantin ini menjual nasi pecel lele/ayam, bakso, dan mie. Saya memesan bakso (lagi?) karena saya tidak terlalu senang makan nasi kalau tidak terpaksa. Pada saat makan, mata saya tetap berkeliling mencari Pak Pal karena saya ingin melihat gajah mandi. 

Sambil mencari Pak Pal, mata saya tertuju pada mahout yang kata saya nepotisme tadi 😂Dia berjalan hampir melewati kantin tetapi dia langsung berbalik arah dan menuju meja saya. Dalam hati saya, apa saya terlalu berlebihan ya melihatnya? Karena memang jika saya melihat seseorang yang tidak terlalu saya senangi atau setidaknya menarik di mata saya, pandangan saya akan berubah sangat tajam. Mampus, pasti saya dilabrak ni, batin saya. Saya pura-pura tetap menikmati bakso yang saya makan, memang rasa bakso ini jauh lebih enak daripada bakso yang berada di Pasar Tridatu tadi.
Mas mahout: "Ini power bank ya?" Sambil melihat power bank yang saya pakai di atas meja.
Saya: "Ooh.. Iya mas, ini power bank."
Mas mahout: "Boleh pinjem sebentar?" Sambil menarik kursi untuk duduk di depan saya.
Saya: "Ooh.. Boleh-boleh mas, silahkan mas, pake aja." Sambil mencabut power bank dari hape saya.
Mas mahout: "Gak apa-apa ini dek saya pake?" Sambil mencolokkan power bank ke hapenya.
Saya: "Gak papa mas, hape saya juga sudah terisi dari tadi kok. Pake aja mas, seluuu."

Ternyata dia cuma mau pinjam power bank 😁 Hati sudah deg-degan takut dilabrak sama pemuda setempat 😅 Mahout ini dari tampangnya masih muda, mungkin umurnya antara 25-27 tahunan. Dari power bank, kami cerita ke hal-hal lainnya. Saya tahu Kartijah (gajah pertama yang ada di Way Kambas) dari mas ini. Saya tanya apa-apa saja tugas mahout dan bagaimana cara untuk menjadi mahout di sana. Dia bilang tugas mahout ya seperti yang saya lihat ini, mengurus gajah, tetapi ada juga yang kerjanya di kantor. Kalau mahout lagi piket maka mahout itu yang bertugas untuk menjaga gajah-gajah yang akan dilihat ataupun ditunggangi oleh pengunjung dan harus bermalam di pos penjaga untuk mengawasi gajah-gajah pada malam hari. Dia menanyakan saya pulang ke mana, saya jawab kalau malam ini saya akan menginap di mahout house (penginapan di sana). Dia tanya lagi saya dapat kamar nomor berapa, saya jawab dapat kamar paling ujung yang dekat dengan kandang gajah. Kata si masnya, saya beruntung dapat kamar yang itu, signalnya bagus di sana. Alhamdulillah pikir saya. Banyak lagi cerita-cerita lainnya sih. Saking asyiknya cerita, saya hampir lupa kalau mau melihat gajah mandi. Don't judge the book by its cover. Pepatah ini tepat sekali untuk mas mahout ini. Ternyata orangnya baik dan seru juga diajak cerita.

Saya tanya dengan mas mahout ini, biasanya jam berapa gajah dimandikan. Katanya biasanya jam 3 sore gajah-gajah mulai dimandikan di bendungan yang ada di depan penginapan. Saya tanya lagi, apakah mas ini melihat Pak Pal. Masnya menjawab tidak melihat, dia malah balik menanyakan hubungan saya dengan Pak Pal, katanya apakah saya masih ada hubungan keluarga dengan Pak Pal. Mulai deh si masnya mau ke arah nepotisme lagi 😂 Saya jawab saja kalau saya tahu Pak Pal dari modal googling. Saya mulai menghubungi Pak Pal kembali menanyakan keberadaannya dan jam berapa gajahnya mandi. Memang butuh beberapa menit untuk SMS ini terkirim. Saya menggerutu ke mas mahout ini tentang susahnya signal. Dia bilang ke saya biasanya kalau jam segini Pak Pal sedang memasukkan gajah ke kandang, saya disuruhnya untuk menyusul ke kandang gajah saja. Saya mengiyakan, lalu saya berdiri untuk membayar makanan saya serta minuman mas mahout tadi. Padahal mau hemat tetapi sok-sokan mau bayarin minum orang lain, kan songong, tetapi tidak ada salahnya juga berbuat baik dengan orang yang baik dengan kita. Toh, ini juga cuma bayarin es teh doang 😂 Saya permisi ke masnya, saya bilang juga kalau minumnya sudah saya bayar. Respons mahout-nya, "Serius ni?" Saya jawab saja, "Iya mas, seluuu. Permisi ya mas, terima kasih juga."

Setelah agak jauh dari kantin, saya lupa menanyakan nama mas mahout tadi. Saya juga baru teringat kalau mas mahout tadi ternyata salah satu mas-mas yang saya lewati tadi pagi, ketika hendak bertemu dengan Pak Pal untuk pertama kalinya. Kan tidak mungkin saya balik lagi ke kantin hanya untuk menanyakan namanya saja. Niat sekali saya. Sesampai di dekat kandang gajah saya melihat dua orang bapak-bapak yang sedang duduk di depan pondokan, saya menanyakan Pak Pal ke mereka. Mereka bilang tidak melihat, katanya mungkin Pak Pal sedang di depan mengurusi orang-orang berjualan. Karena memang waktu Pak Pal makan di kantin tadi, beliau sempat cerita ke saya kalau beliau juga yang mengurusi tenda-tenda pedagang biar rapih. Yasudahlah, saya pamit dengan bapak-bapak itu dan menuju ke bendungan di bawah untuk melihat gajah dimandikan karena memang gajah-gajah ini mulai dimandikan satu per satu dan setelah itu masuk kandang.



Hal pertama yang saya bayangkan ketika mendengar kata kandang gajah adalah pondokan rumah yg tidak berdinding, yang terbuat dari kayu dan beratapkan daun kelapa. Dalam pikiran saya, ya mungkin tidak berbeda jauh dari kandang sapi, kerbau atau kambing tetapi mungkin agak besar. Ternyata saya salah, kandang gajah ini lapangan yang sangat luas, tidak beratap dan tidak berdinding. Hanya ada bak-bak kecil untuk mereka minum dan pasak kecil untuk mengikat mereka. Waktu berjalan turun ke arah bendungan, saya berpapasan dengan 3 orang anak muda (2 cowok dan 1 cewek). Sepertinya sih mereka seumuran dengan saya, saya fokus ke salah satu dari mereka yang memakai sepatu trekking dan berambut agak gondrong. Wah, pasti dia pendaki juga, kata saya dalam hati.

Ketika saya sudah berada di bendungan, ada balasan SMS dari Pak Pal, "Saya di kandang gajah mau mandiin gajah mbaknya kesini aja." Saya balas pesan Pak Pal, mumpung signalnya lancar, "Iya pak, aku di tempat gajahnya mandi sekarang." Saya melanjutkan lagi melihat gajah mandi, di tempat saya berdiri ini ada 1 cewek dan 1 cowok yang saya temui di dekat wahana atraksi gajah tadi. Kalau siang tadi saya melihat mereka membawa dagangan, sekarang saya melihat mereka tidak membawa dagangannya. Mereka berdua ini terlihat excited
 melihat gajah-gajah ini dimandikan, sama seperti saya. Yang bikin heran, mereka kan jualan di sini kok seperti pertama kali melihat gajah, ngalahin-ngalahin saya saja. Saya tanya ke mereka dengan basa-basi dulu,
Saya: "Hai dek, dagangannya kemana? Perasaan tadi jualan kan?"
Adik cewek: "Hai mbak, udah sepi mbak, males hehe.."
Saya: "Bisa males gitu ya dek? Hehe.. Padahal itu masih ada yang ngelihat gajah mandi dek." Sambil nunjuk ke pengunjung-pengunjung yang duduk di pinggir bendungan.
Adik cewek: "Udah ah mbak, biarin hehe.. Mau lihat gajah mandi juga."
Saya: "Lah, kan udah sering ngelihat gajah mandi. Gak bosen apa? Mending jualan dek hehe.."
Adik cewek: "Ya mbak, saya baru sekali ini ngelihat gajah mandi."
Saya: "Serius? Demi apa? Kan kalian jualan di sini dek. Si adek satunya juga baru sekali ini ngelihat gajah mandi?"

Mereka menjawab kalau mereka baru sekali itu ke Way Kambas, sama seperti saya. Ternyata mereka hanya membantu orang tuanya saja berjualan karena hari libur. Si cewek ternyata sudah kerja menjadi guru di salah satu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di dekat Pasar Tridatu. Satu poin penting, tidak semua masyarakat Tridatu pernah masuk ke Taman Nasional Way Kambas, sama seperti mbak-mbak yang jualan bakso di Pasar Tridatu tadi (saya sempat menanyakan hal ini juga). Si adik cowok terlalu pendiam, dia fokus melihat gajah dimandikan. Kebetulan juga sih ada mereka, saya meminta si adik cewek ini untuk memotret saya dengan latar gajah yang sedang mandi. Kesempatan tidak datang dua kali, guys. Setelah foto, tiba-tiba ada bapak yang menghampiri saya, tadi sih waktu saya foto beliau lagi sibuk memungut sampah plastik di dekat bendungan. Beliau tanya ke saya, "Dek, tadi nyari Pak Pal kan?" Saya jawab iya, lalu beliau bilang kalau Pak Pal ada di atas, di kandang gajah, sambil menunjuk ke samping penginapan. Saya jawab lagi terima kasih.
Bendungan tempat gajah mandi
Salah satu mahout memandikan gajah
Saya pamit dengan adik-adik ini untuk menemui Pak Pal. Kebiasaan saya adalah selalu lupa untuk menanyakan nama seseorang, ya begitulah manusia, banyak lupanya. Dalam perjalanan menuju kandang gajah, saya fokus ke pondokan di samping penginapan karena memang dari awal sebelum saya tahu kebenaran tentang bentuk kandang gajah, saya berpikir kalau pondokan itu adalah kandang gajah. Bodoh sekali! Saya juga sempat mikir sih, tidak mungkin kandang gajah sekecil itu. Belum sampai pondokan, tiba-tiba ada suara Pak Pal memanggil saya, saya hampir melewati posisi Pak Pal yang sedang berdiri di jembatan yang menuju kandang gajah.
Pak Pal: "Mbak Mella tadi nyari saya?"
Saya: "Hah?" Sambil mencari sumber suara, setelah mata saya bertemu dengan Pak Pal, saya pun menjawab, "Iya pak tapi gak ketemu sama bapak, jadi saya turun ke bawah liat gajah mandi." Sambil memutar langkah menuju ke arah Pak Pal berdiri.
Pak Pal: "Saya di kandang gajah dari tadi mbak, ngiketin gajah yang sudah mandi." Sambil menunjuk kandang gajah yang lebih luas dari lapangan bola.
Saya: "Oh iya pak, gak keliatan hehe.." Wajar saja tidak kelihatan, saya saja mencarinya di pondokan mahout bukan di kandang gajah. Dasar geblek.

Bersambung...

No comments:

Post a Comment