Mau Cari Apa?

Thursday, 28 June 2018

Gunung Dempo, 28 Maret 2014

Pendakian kali ini merupakan pendakian kedua saya, dan merupakan pendakian teramai nan tak terlupakan. Sebenarnya sih semuanya tak terlupakan tetapi ada kisah di dalam pendakian ini yang membuat saya meneteskan air mata kembali, bukan karena kelelahan seperti pendakian pertama saya kemarin tetapi ada hal lain yang terjadi di sini.

Kali ini pendakian beranggotakan 11 orang (6 cowok dan 5 cewek). Saya sebutkan nama-namanya ya, bang Dio (lagi?), bang Arnold, bang Daus, bang Age, Ary, Bleh, Yuli, Uus, Mona, emak Ika, dan saya. Bang Dio, bang Arnold, Yuli dan Uus adalah teman sejurusan saya, Mona adalah temannya Uus, Ary, Bleh, bang Daus adalah teman kosan bang Dio dan bang Arnold, emak Ika temannya bang Dio dan bang Arnold, lalu bang Age adalah temannya bang Arnold. Seperti biasa, kami (kecuali bang Age) berangkat dari Kampus Universitas Sriwijaya Indralaya hari Kamis sore menggunakan bis Melati Indah. Sedangkan bang Age menunggu di Lahat karena memang rumah beliau di Lahat.

Di luar dugaan, sesampainya kami di basecamp Ayah Anton kondisi basecamp sudah sangat penuh dengan pendaki-pendaki lain. Jadi kami memutuskan untuk menumpang tidur di masjid yang berada tepat di depan pabrik teh dan ternyata di teras masjid pun sudah ramai dengan para pendaki lain. Kami harus berbagi space dengan pendaki-pendaki lainnya, bayangkan saja, di sini saya tidur terlentang pun sangat sulit dan Bleh sampai tidur di bawah bedug masjid. Kaos yang dikenakan Bleh pun sobek terkena bedug karena pada pagi harinya dia buru-buru bangun, soalnya ada orang yang mau mukul bedug untuk adzan shubuh 😂
Perhatikan baik-baik bagian bahu pria yang memakai kaos hitam di sebelah kanannya, itu sobekan bajunya
Pada pagi harinya juga, saya baru bertemu dengan bang Age, karena waktu di bis saya duduk di depan sedangkan bang Age di belakang, waktu tidur pun tidak terlalu jelas lagi mana rombongan mana bukan 😁 Ya, seperti biasa, kami menunggu truk untuk ke Kampung IV. Sambil menunggu truk, kami sempat foto bersama Ayah Anton dalam formasi lengkap. Semuanya berjalan seperti biasa, kami sampai di Kampung IV, sarapan terlebih dahulu dan setelah itu langsung naik. Seperti biasa juga, tantangan terbesar Yuli adalah trek dari titik awal pendakian menuju pintu rimba. Pendakian ini pun merupakan pendakian kedua saya, Yuli dan Uus sedangkan yang perdana adalah Mona, kalau Bleh hanya perdana ke Gunung Dempo saja, Bleh pernah mendaki Gunung Kaba (Bengkulu) sebelumnya. Saya bergantian membawa tas bersama Yuli, Uus bergantian dengan Mona, lalu Ary bergantian dengan Bleh. Perjalanan kali ini sangat seru karena anggotanya yang ramai dan selama perjalanan pun banyak pendaki-pendaki lain. Tentu saja banyak hal-hal lucu dari tiap anggota ini yang membuat kaki kami tetap semangat melangkah.
Foto di bawah plang titik awal pendakian
Estimasi kami setidaknya waktu maghrib sudah berada di top Dempo karena perjalanan malam memang tidak akan pernah efektif, selain minim pencahayaan dan tentu saja cuaca yang akan sangat dingin serta kondisi badan yang sudah lelah. Tetapi kejadian yang menguras tenaga fisik dan mental menimpa kami menjelang maghrib. Lokasi kami masih berada di Cadas (di atas kuncen sedikit), padahal sudah tidak jauh lagi dari top Dempo. Ternyata fisik Uus dan Yuli sangat terkuras di pendakian ini, mungkin memang kelelahan, kekenyangan atau terlalu asyik tertawa selama pendakian tadi. Karena memang selama pendakian ada-ada saja cerita yang membuat kami tertawa dan logistik pun kami membungkus lauk masakan emak Tina, jadi ya makannya pada lahap semua. Sebelum kejadian, Uus memang mengeluh kepada saya dan Yuli kalau dia sudah kelelahan. Posisi berjalan kami ini kalau tidak salah dari depan ke belakang ada Bleh, Ary, Mona, bang Dio, bang Daus, emak Ika, bang Age, Uus, saya, Yuli dan bang Arnold. Memang agak ada jarak antara Uus dan bang Age jadi siapa lagi tempat keluh kesah Uus kalau bukan saya dan Yuli? Kami juga merupakan teman akrab di kampus. Kira-kira beginilah percakapan kami sebelum kejadian:
Uus: "Say, aku sudah capek, istirahat dulu sih."
Saya dan Yuli: "Iya say, sama, capek juga. Ayolah istirahat dulu."
Saya: "Bang, kami istirahat dulu ya." sambil agak teriak biar yang di depan mendengar.
Bang Dio: "Tanggung dek, bentar lagi top ini, 5 menit lagi nyampe. Nanti bisa langsung istirahat di top aja." Percayalah bang Dio ini sering PHP di gunung, yang katanya 5 menit bisa jadi lebih dari itu.
Saya: "Say, kata abang tanggung nah. Jalan sedikit lagi ya, pelan-pelan aja. Aku sama Yuli juga capek banget kok, jadi pelan-pelan aja jalannya."
Suara adzan maghrib pun terdengar dari kampung IV, saya tidak pernah tahu kalau suara adzan dari kampung IV akan sejelas ini terdengar di cadas. Uus mempercepat langkahnya, sampai saya dan Yuli tidak terkejar lagi dan belumlah suara adzan selesai tiba-tiba Uus ambruk.

Kami semua kaget dan semua abang-abang berlarian mendekati Uus, lalu Mona pun hypo ringan jadilah fokus kami terpecah. Bang Dio dan Bleh mengurusi Mona, bang Age, bang Daus, emak Ika, Ary dan bang Arnold mengurus Uus. Tinggallah saya dan Yuli yang berada agak bawah dari mereka tetapi masih dalam jangkauan mata kami. Saya dan Yuli kebingungan serta panik melihat Uus, menolongnya pun bingung mau diapakan. Kami cuma membantu bongkar tas kalau ada sesuatu yang diperlukan. Uus tetap mengamuk seperti tidak sadar diri lagi, di sini kelihatan sekali semuanya sedikit kewalahan menangani Uus. Saya dan Yuli duduk di bebatuan, tempat duduk saya agak lebih tinggi dibandingkan tempat duduk Yuli tetapi kami masih bersebelahan. Mata saya tetap fokus mengawasi mereka dan tetap siaga jika dimintai pertolongan, sampai saya lupa mengawasi Yuli yang berada di samping saya sendiri.


Lalu saya melihat Yuli, bukannya melihat Uus mata Yuli malah memandang kosong ke arah depan. Saya panggil dia, "Yul?", tidak ada sahutan, saya panggil lagi sambil mencolek lengannya, dia tetap tidak menggubris. Pikiran saya kacau, saya berdiri dan memegang kedua bahunya sambil membentaknya "YULI!". Akhirnya dia melihat saya dan herannya dia tiba-tiba menangis sambil memanggil nama saya, ada hal lain yang dia katakan tetapi saya tidak terlalu mendengar karena suara tangisannya itu. Saya panik, karena yang lainnya masih sibuk mengurus Uus sedangkan di bawah ini hanya ada saya dan Yuli. Saya langsung teriak sejadi-jadinya "ABANG, YULI!"


Semuanya melihat ke arah kami, seketika bang Arnold langsung turun dan disusul oleh Ary. Di sini pikiran saya tambah kacau, saya tidak tahu lagi harus bagaimana, Mona seperti itu, Uus masih mengamuk dan seolah ada orang lain di dalam tubuhnya, ditambah lagi sekarang Yuli. Yuli tetap menangis dan sekali-kali berbicara tetapi tidak tahu apa yang dia bicarakan. Berbagai ayat Al-Qur'an dibacakan di telinga Yuli dan Uus, Ary pun bolak balik dari Uus ke Yuli untuk membacakan berbagai ayat tersebut, karena memang di antara kami sepertinya Ary yang paling pintar mengaji. Kami hanya membantu membacakan ayat kursi dan berbagai ayat pendek. Tetapi tetap tidak ada perubahan di antara mereka berdua, Yuli menangis sedangkan Uus mengamuk. Kami pun sudah berulang kali meniupkan peluit untuk meminta pertolongan dengan rombongan pendaki lain, mereka menyahuti kode kami tetapi memang butuh waktu untuk mereka datang dari atas (top Dempo) ke bawah sini (cadas).


Pada saat itu saya memang sudah memakai jaket dari shelter II karena cuaca yang sangat dingin. Sedangkan Yuli tidak memakai jaket, dia hanya memakai sweater yang memang cukup tebal. Melihat Yuli yang kedinginan, saya diminta oleh bang Arnold untuk melepaskan jaket dan saya diminta untuk memegangi Yuli sambil membacakan ayat kursi dan surat An-Nas di telinganya. Yuli merupakan lulusan pesantren tetapi dia terlihat sangat susah melafazkan surat An-Nas di sini, berkali-kali saya bisikkan ke telinga dia tetapi tetap saja begitu. Sekali-kali saya ajak dia bercerita, saya ingatkan dia tentang Allah, keluarganya, teman-temannya serta cerita tentang keseruan kami ketika di kampus.


Saya tidak tahu berapa lama kejadian ini berlangsung, sampai pada akhirnya pendaki-pendaki lain datang dari atas untuk membantu kami. Mona, Uus dan Yuli satu per satu digotong menuju top Dempo, untuk beristirahat di dalam tenda karena lokasi cadas ini sangat tidak memungkinkan untuk membaringkan seseorang. Satu per satu semuanya naik, lalu tinggal saya yang masih berdiri di sana. Saya hanya berdiri melihat mereka naik satu per satu, saya seperti melamun tetapi saya sadar, hanya saja badan saya terasa kaku dan sulit untuk digerakkan. Saya sadar kalau pada saat itu saya sangat kedinginan, saya tidak pakai jaket, saya hanya memakai kaos pendek dan celana jeans. Mungkin badan saya kaku karena terlalu lama duduk menemani Yuli tadi.


Lalu saya ditegur oleh pendaki lain yang juga sedang membawakan tas saya, "Ayo mbak naik, jangan kelamaan nanti beku." Ini saja saya sudah merasa beku mas, batin saya. "Iya mas, sebentar, saya kedinginan." Mas itu masih setia menunggui saya sampai saya mampu untuk berjalan kembali, pelan-pelan kaki saya langkahkan. Sampai pada akhirnya kami tiba di top Dempo. Di sini ramai sekali. Saya melihat ada satu tenda berdiri di sini dan di luarnya saya melihat bang Dio, Ary dan Yuli serta pendaki-pendaki lain. Yuli berada di atas matras, tersandar oleh bahu pendaki lain, melihat hal ini saya langsung mendekati Yuli. "Mas, biar saya saja yang mengurusnya. Terima kasih ya." Yuli masih sepenuhnya belum tersadar tetapi dia sudah mulai mengenali saya, bang Dio dan Ary. Uus dan Mona berada di dalam tenda bersama dengan yang lainnya, tetapi Uus masih belum sadar juga. Yuli akhirnya sudah bisa duduk sendiri tanpa harus saya bantu, kami duduk saling berhadapan. Saya ajak dia bicara terus, jangan sampai dia kosong lagi. Tiba-tiba Yuli mengatakan sesuatu yang membuat saya benci,

Yuli: "Mbel, ada orang di belakangmu." sambil menoleh ke belakang saya. Saya pun otomatis ikut menoleh ke belakang. Kampret! Tidak ada siapa-siapa di belakang saya, hanya ada hutan kayu panjang umur.
Yuli: "Mbel, dia ngajak aku ke puncak sekarang." saya langsung merespons omongan ngawur Yuli ini.
Saya: "Bilangin ke dia besok aja kalau mau ke puncak, bilangin kamu gak mau diajak sama dia malem ini ke puncak. Tolak mbah, bilang kalau kamu capek, mau istirahat." saya langsung mendekati Yuli dan memeluk kepalanya, saya arahkan kepala Yuli untuk menunduk, jangan sampai dia menoleh ke arah belakang saya lagi. Saya suruh Yuli untuk membaca ayat kursi dan surat An-Nas, dia menuruti dan sudah lancar tidak seperti waktu di bawah tadi.

Tetapi saya penasaran, saya tanya dengan Yuli pada saat itu juga, siapa yang ada di belakang saya. Yuli menjawab orangnya seperti bang Dio, pakai pakaian seperti pendaki juga tetapi pakaiannya kotor, badannya besar dan hitam. Kutu kupret! Bulu kuduk saya tambah merinding, karena memang di belakang saya ini tidak ada siapa-siapa. Untung saja bang Dio datang menghampiri kami, saya bilang ke bang Dio apa yang dikatakan oleh Yuli tadi. Bang Dio pun menyarankan hal yang sama dengan saya, bilang ke orangnya (orang atau makhluk ya?) kalau Yuli tidak mau ikut dia ke puncak malam ini. Yuli tetap berkata jika makhluk tersebut tetap mengajaknya ke puncak malam ini juga, di sini saya melihat Yuli sudah hampir bergerak dan ingin menuruti perkataan makhluk tersebut. Saya melihat Yuli hampir berusaha untuk berdiri tetapi saya tahan. Kami suruh kembali Yuli untuk membaca ayat-ayat pendek dan ayat kursi. Saya dan bang Dio bertanya kembali dengan Yuli, apakah makhluk itu masih di belakang saya? Yuli menjawab sudah tidak ada lagi. Alhamdulillah. Bang Dio kemudian menyuruh kami masuk ke tenda untuk istirahat, Uus pun sudah membaik seperti Yuli.


Ceritanya, malam itu ada satu tenda yang berdiri untuk kami para cewek. Tenda yang kapasitasnya untuk 3-4 orang diisi dengan 6 orang (saya, Yuli, Uus, Mona, emak Ika dan bang Age). Kok bang Age nyelip sih di tenda ini? Kan dia laki-laki? Karena bang Age ini secara keseluruhan adalah senior kami, dari pengalaman, angkatan, umur, dll. Ternyata juga pendaki-pendaki yang membantu kami ini tidak ada yang membawa tenda, mereka berencana tik tok ke puncak Dempo. Rombongan mereka ini juga ternyata ada cewek-ceweknya, jadilah abang-abang kami nan baik hati ini mengikhlaskan tendanya untuk para cewek dan abang-abang kami ini tidur tidak pakai tenda. Karena kesenioritasan bang Age-lah makanya dia bisa setenda dengan kami 😂


Lalu ada kejadian lagi di dalam tenda, dan ini menimpa saya. Saya tidak pernah menyangka kejadiannya akan sefatal ini, menurut saya. Jadi, karena tadi saya berada di luar sangat lama dan tidak memakai jaket maka otomatis badan saya ini kedinginan luar biasa tetapi saya tetap sadar. Di saat kondisi sudah aman, saya memutuskan untuk tidur, saya sudah dalam posisi terenak di dalam SB saya. Posisi kami di tenda ini sudah tidak bisa dibayangkan lagi, kaki kami tidak bisa diluruskan. Kebetulan di dalam tenda ini saya tidur bersampingan dengan bang Age.


Kalau kalian sudah dekat dengan saya, pasti kalian tahu bagaimana kalau saya sudah tidur dan kelelahan. Saya tidak akan menggubris apapun, rasa lapar pun akan saya tahan (coba baca postingan perdana saya mendaki di sini). Saya heran juga, kenapa si bang Age ini tiba-tiba menegur saya ketika saya sedang tidur dan semuanya dalam keadaan diam.

Bang Age: "Mel.. Mel.." sambil menyenggol saya. Sebenarnya saya mendengar tetapi karena saya sangat mengantuk dan kelelahan, jadi saya hiraukan saja bang Age. Di luar dugaan saya, si bang Age ini ternyata sangat ekspresif sekali. Dia langsung duduk, lalu menggoyang-goyangkan badan saya dan memanggil-manggil nama saya. Salahnya, saya tetap tak bergeming, saya mengantuk sekali pada saat itu. Seketika badan saya diangkat dengan bang Age ke posisi duduk, lalu pipi saya ditampar dari kanan ke kiri. Semua di tenda melihat ke arah kami, yang di luar tenda pun bertanya-tanya ada apa. Astagfirullah, seketika saya langsung ngomong ke bang Age,
Saya: "Bang, aku ni sadar. Aku ngantuk, cuma pengen tidur!" dengan nada kesal, malas, dan memelas.
Bang Age: "Owalah, kamu juga sih Mel dipanggil-panggil gak ada respons. Kirain hypo juga kayak yang lain, yaudah, tidurlah ya Mel. Maaf ya Mel." sambil senyum-senyum.
Bang Dio: "Kenapa bang?" dari luar tenda.
Bang Age: "Gak ada Io, kirain Mella hypo taunya cuma mau tidur doang."
Bang Dio: "hahaha... Memang gitu dia bang kalo ngantuk, kayak kebo, gak bisa diganggu."

Terserah kalianlah ya, saya langsung melanjutkan tidur kembali. Ini pertama kalinya saya ditampar sama orang, orang tua saya pun tidak pernah begini ke saya. Saya mau marah tetapi gimana juga, kan bang Age juga tidak tahu. Bang Age 
khawatir kalau-kalau saya juga terkena hypo dan jika tidak ketahuan maka mungkin akan berakibat fatal. Malam itu, bukannya rasa pegal dan capek hilang karena sudah tidur tetapi badan malah tambah terasa pegal-pegal akibat posisi tidur yang tidak normal. Apalagi saya yang tidur paling pinggir ini merasa ada kepala orang di samping badan dan kaki saya yang posisinya berada di luar tenda. Pastilah ini kepala abang-abang yang tidurnya tidak bertenda dan hanya beralaskan matras saja. Sebenarnya kasihan, tetapi mau bagaimana lagi, di dalam tenda sudah tidak cukup untuk menampung orang lagi. Saya salut sekali dengan mereka.

Paginya, semua berjalan seperti normal, yang bikin kaget adalah kondisi top Dempo yang sangat berantakan sekali. Barang-barang berserakan di mana-mana, sampai sepatu yang dipakai Yuli pun tidak tahu berada di mana. Setelah beres-beres ala kadarnya dan sarapan, kami memutuskan untuk pergi ke puncak kawah, seperti biasalah, rutinitas, kalau bisa harus sampai puncak. Alhamdulillah sekali kami mendapatkan kawah berwarna tosca. Dalam perjalanan menuju puncak ini, terlihat sekali emak Ika sangat kelelahan tetapi dia tidak bilang apa-apa. Pada pendakian inilah kami memanggilnya dengan sebutan "emak", karena beliau selalu siap siaga mengurusi kami layaknya seorang ibu.


Bang Arnold dan bang Age menyusul ke puncak karena ketika kami naik ke puncak mereka masih ingin tidur dulu. Kami foto-foto dan bercanda tentang kejadian semalam, kejadian di dalam tenda pun sempat dibahas. Mungkin bang Age menampar saya dan khawatir karena badan saya menggigil. Saya akui memang badan saya menggigil tetapi saya rasa semuanya juga menggigil karena kalau tidak salah di bagian kaki saya ada kakinya Mona yang juga terasa menggigil.

Bang Age, saya dan Bleh
Dari atas kiri: bang Dio, Mona, saya, Yuli, bang Daus, Uus, Ary, Bleh
Dari bawah kiri: Emak Ika dan bang Arnold (bang Age jadi tukang foto)
Gayanya rek, kagak nahan
Foto di pelataran
Setelah turun dari puncak, kami makan dan langsung beres-beres untuk turun. Dalam perjalanan turun saya kekurangan tenaga, saya tidak banyak makan karena lauknya pedas semua, saya tidak tahan. Alhasil, setelah pintu rimba saya paling belakang sampai ke balai, saya lupa siapa yang menemani saya saat itu. Di dalam perjalanan turun ini juga bang Age kehilangan uang 100ribu ketika dia mengganti celana di sekitaran pintu rimba. Sepertinya sih karma karena menampar saya 😂 Sungguh beruntung sekali pendaki yang menemukannya nanti atau uang itu tidak pernah ditemukan oleh pendaki lain karena posisinya agak menjorok ke dalam hutan.

Setelah sampai di balai, kami makan kembali dan bersih-bersih badan sambil ganti baju. Malam itu kami belum turun ke basecamp Ayah Anton, kami masih menginap semalam di balai. Malam itu terasa hangat sekali, saya, Yuli, Uus, Ary, Bleh dan Mona bercerita-cerita dan bercanda karena kami memang seumuran. Tetapi Mona hanya bergabung sebentar, karena dia melanjutkan istirahatnya kembali. Besoknya kami baru turun ke pabrik teh dengan menggunakan truk. Kami memesan bis malam, jadilah banyak waktu yang tersisa di basecamp Ayah Anton ini. Seingat saya, sebelum ashar kami sudah sampai di basecamp Ayah Anton. Sorenya kami makan model kriuk keliling yang terkenal di sana dan malamnya makan nasi di warung samping pabrik teh. Karena kami memang tidak membawa logistik kecuali nasi dan minuman.

Foto bersama Ayah Anton
Makan di warung samping pabrik teh
Bis pun datang, tidak ada lagi kenikmatan selain tidur di bis setelah turun mendaki. Perjalanan yang hampir 8 jam pun tidak akan terasa lama. Tibalah kami di Indralaya sekitar jam 4 subuh lewat dan langsung menuju kosan bang Arnold yang berada di ujung lorong. Subuh-subuh kami berjalan menyusuri lorong dan ketika sampai kosan kami langsung tidur kembali. Paginya saya diantar oleh bang Dio dan Yuli diantar Calok menuju kosan kami, istirahat pun berlanjut sesampai di kosan masing-masing. Malamnya saya main ke kosan Yuli, di sini Yuli bercerita dengan adik-adik kosan lainnya kalau saya menangis ketika memegangi Yuli di Gunung Dempo kemarin. Sialan, Yuli bahagia sekali menceritakan saya menangis. Yuli bilang, dia tidak pernah menyangka kalau saya akan menangis seperti itu. Pikir saja sendiri, siapa yang tidak menangis melihat kondisi teman-temannya seperti itu saat berada di gunung?

Kalian pasti sudah tahu larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan di gunung kan? Khususnya di Gunung Dempo ini, sebelum mendaki saya selalu diingatkan oleh bang Dio untuk tidak melakukan hal-hal tambahan di luar tulisan yang berada di pintu rimba. Pertama, jangan sekali-sekali teriak memanggil rombongan dengan menyebut namanya. Jika terpisah jarak beberapa meter dan ingin memastikan keberadaan teman kita, teriak saja dengan "huuuuuuu...". Kedua, sebisa mungkin hindari untuk membuka tenda di Shelter II jika memang tidak terpaksa. Karena cerita mistis penduduk sekitar menyebutkan bahwa Shelter II adalah lokasi Kampung III yang hilang dan penghuninya bukan manusia. Ketiga, saya yakin berlaku juga untuk gunung-gunung lain ataupun tempat-tempat lain, jangan pernah berkata kasar, kotor, makian, keluhan, dan ataupun berpikiran negatif.

Alhamdulillah, saya sudah 5 kali mendaki Gunung Dempo dan hanya mengalami satu kejadian mistis saja yang dialami oleh diri saya sendiri yaitu ketika pendakian ketiga saya. Saya akui, memang pada saat itu saya sangat kelelahan dan bertemu teman yang juga suka mengeluh. Jadilah, selama perjalanan kami mengeluh terus. Saya akan cerita pendakian ketiga saya ini di postingan saya nanti. Terima kasih.

1 comment: