Ini hari kedua saya berada di Taman Nasional Way Kambas dan pagi ini saya harus kembali lagi ke Rajabasa dengan menggunakan Damri. Saya bangun jam 5 pagi dan langsung mandi, shalat, packing kembali dan bersiap untuk melihat sunrise. Waktu saya keluar kamar jam 5 shubuh untuk mandi, saya melihat Akbar sudah nangkring di depan kamar saya. Pasti ini bocah sedang mencari signal. Saya tidak menyapanya karena memang nyawa saya belum sepenuhnya terkumpul.
Saya sudah dalam keadaan siap untuk melihat sunrise. Sayangnya dari tadi malam hujan belum juga reda. Alhasil, saya hanya berada di dalam kamar, duduk di atas kasur sambil makan roti dan melihat ke arah luar. Horden dan pintu kamar saya buka lebar-lebar agar saya bisa melihat Nunik dan Pleno. Saya sengaja tidak keluar kamar karena di luar ada tetangga sebelah yang sedang memotret gajah-gajah dari depan kamar saya ini.
Jam hampir menunjukkan pukul 06.30 WIB, saya ragu untuk menghubungi Pak Pal karena di luar masih hujan rintik-rintik, saya takut merepotkan beliau. Tiba-tiba ada telpon masuk dan ternyata dari Pak Pal. Wah, ini malah Pak Pal duluan yang menelpon bukan saya. Pak Pal menanyakan apakah saya sudah siap atau belum, saya jawab saja sudah siap, tinggal memakai sepatu saja. Saya juga bilang dengan Pak Pal kalau di sini gerimis-gerimis cantik, kata Pak Pal tidak apa-apa, sebentar lagi beliau meluncur ke sini untuk menjemput saya keluar.
Setelah Pak Pal selesai menelpon, ada pesan WA masuk, ternyata dari mas Ucup. Mas Ucup menanyakan apakah saya sudah bangun atau belum, soalnya Pak Pal juga menanyakan saya ke mas Ucup. Ya gila ajalah kalau saya belum bangun jam segini. Saya jawab sudah bangun dan sudah siap, tinggal memakai sepatu saja. Mas Ucup menyuruh saya ke kamar mereka untuk pamitan sebelum pulang. Saya mengiyakan, saya bilang nanti saya pasti ke sana tetapi sekarang saya sedang sarapan dan saya hanya punya satu roti saja. Kan, tidak enak saya ke sana sambil makan roti dan tidak menawarkan ke mereka. Jadi, setelah saya menghabiskan roti, saya langsung memakai sepatu dan meluncur ke kamar mereka.
Ternyata mbak Ruy, mas Ucup, mbak Prita dan Zidni lagi duduk-duduk di luar kamar sambil sarapan roti juga. Saya ditawarkan untuk makan lagi oleh mereka, saya menolak, saya jawab kalau saya juga sudah sarapan. Tidak lama saya bergabung dengan mereka, Pak Pal datang dengan menggunakan motor matic, berbeda dengan motor yang beliau pakai kemarin. Aah... Saatnya untuk pulang dari Way Kambas, sedih... Saya berpamitan dengan mas Ucup, mbak Ruy, mbak Prita dan Zidni, tidak dengan Akbar karena dia sedang tidur. Mungkin dia kelelahan mencari signal tadi shubuh.
Saya mengambil barang-barang saya di kamar dan setelah itu langsung menemui Pak Pal yang masih berada di atas motor. Saya kembalikan kunci kamar saya ke Pak Pal dan menaiki motornya. Saya berlalu dari kamar rombongan mas Ucup dan melambaikan tangan ke mereka, terima kasih telah memberikan cerita di perjalanan saya. Semoga kita bisa bertemu kembali. Aamiin...
Dalam perjalanan keluar dari Taman Nasional Way Kambas ini saya sedikit cemas karena Pak Pal mengendarai motornya dengan sangat cepat. Saya sedikit takut juga karena jalanan ini licin diguyur hujan. Selagi di atas motor, Pak Pal menunjukkan kepada saya jejak-jejak gajah liar yang melintas jalan pada saat tadi malam. Banyak semak-semak yang rantingnya patah dan tertinggal kotoran gajah di atas aspal jalanan. Saya tetap fokus berpegangan di besi belakang motor dan tidak banyak bercerita di atas motor, selain fokus berpegangan besi, penglihatan saya juga terganggu. Kacamata saya dipenuhi oleh rintik air hujan, ini nih problematika orang yang berkacamata 😓 Saya ingin sekali membersihkan kacamata saya dari air tetapi tangan saya tidak bisa beralih lagi dari pegangan besi belakang motor.
Kami keluar melewati jalan yang saya lewati bersama Pak Emen kemarin, bukan melewati jalan utama. Saya diantarkan Pak Pal ke Pool Damri yang berada tidak jauh dari jalan masuk ke Way Kambas. Saya kaget, padahal saya sudah berjanji dengan bapak Damri tadi malam untuk menunggu di Indomaret Pasar Tridatu. Pak Pal menitipkan saya ke bapak penjaga loket, Pak Pal bilang tolong antarkan saya ke Pool Damri Rajabasa pada bapak penjaga loket 😁 Gaya Pal Pal ini seperti seorang ayah yang melepas anaknya pergi merantau 😅 Setelah menghabiskan sebatang rokok, Pak Pal pamit untuk kembali ke Way Kambas karena memang kemarin katanya mbak Prita juga ingin pulang ke Jakarta pagi ini. Saya bersalaman dengan Pak Pal dan mengucapkan terima kasih banyak atas bantuannya selama saya berada di Way Kambas. Jika kalian berkunjung ke Way Kambas ini dan menghubungi Pak Pal, bolehlah Pak Palnya diberikan fee, seikhlasnya saja.
Saya duduk di loket dan langsung mengirimkan SMS ke bapak sopir Damri tadi malam, saya bilang kalau saya tidak jadi menunggu di Indomaret Pasar Tridatu tetapi saya menunggu di loket Damrinya langsung. Kemudian si bapak penjaga loket bilang kalau bisnya akan datang sekitar jam 9 dan hanya ada satu bis yang beroperasi hari ini. Karena kemarin bis yang satunya mengalami kecelakaan dan menimbulkan korban jiwa satu orang pengendara motor. Kronologis kejadiannya tidak saya tanyakan secara detail ke bapak penjaga loket.
Kehebatan Damri ini adalah waktu keberangkatannya yang selalu on time, dari Pool Damri Rajabasa kemarin pun saya berangkat tepat jam 7 pagi. Begitupun sekarang, bis Damrinya datang tepat jam 9 pagi. Di loket ini cuma ada dua orang yang naik, sudah termasuk saya. Betapa kagetnya saya ketika masuk ke dalam bis, sudah banyak penumpang yang berdiri dan barang bawaan mereka pun memenuhi bis. Sampai-sampai saya berdiri sambil membawa tas saya yang berat ini karena memang sudah tidak ada space lagi di tempat saya berdiri ini. Sepanjang perjalanan pun, bis ini masih menampung penumpang, sampai akhirnya saya berdiri di tengah bis, yang awalnya tadi saya berada di depan. Tas saya disuruh diletakkan di bawah kursi penumpang oleh kondekturnya karena memakan tempat untuk orang-orang berdiri. Saya menuruti saja karena saya juga tidak akan sanggup membawa tas ini untuk perjalanan 3 jam ke depannya.
Saya berdiri di depan seorang pemuda. Dari wajahnya sih masih muda tetapi tingginya jauh dari saya, mungkin tingginya sekitar 170-an cm. Dari obrolan dia dengan temannya di bis, sepertinya mereka ini masih mahasiswa, dan sepertinya temannya ini adalah kakak tingkatnya di kampus. Jadi, selama di perjalanan ini terhitung saya sudah 2 kali menginjak sepatu pemuda tadi. Bukan disengaja, tetapi saya kadang kehilangan keseimbangan. Selain lelah berdiri, bis Damri ini juga melaju dengan kecepatan yang lumayan. Ketika memasuki Kota Metro, saya memberanikan diri untuk menegur pemuda tadi. Saya menanyakan di mana lokasi terakhir bis Damri ini berhenti.
Dari pertanyaan saya tersebut, kami jadi bercerita ke hal-hal lainnya. Nama pemuda tersebut adalah Bagas Tirangga, mahasiswa semester dua Jurusan Farmasi Universitas Malahayati Lampung dan maaf-maaf saja saya tidak menanyakan nama temannya Bagas tadi. Bagas ini tinggal di Way Jepara, 15 menit perjalanan dari loket Damri tadi. Tidak terlalu jauh dari Way Kambas, dia juga sudah sering pergi ke Way Kambas dengan keluarganya. Saya juga menanyakan tentang Taman Dipangga, Vihara Thay Hin Bio, dan Little Europe ke Bagas. Sayangnya, Bagas tidak ada yang tahu tempat-tempat tersebut. Saya agak ragu untuk pergi ke Taman Dipangga, kalau saya searching kemarin sih katanya di sini ada tugu Krakatau dan mercusuar yang terbawa tsunami yang disebabkan oleh letusan Gunung Krakatau dulu. Saya takutnya Taman Dipangga ini hanya taman biasa, sama seperti taman-taman kota lainnya.
Bagas cerita kalau dia akan melaksanakan UAS hari Senin nanti, setelah UAS, kampus akan libur kembali. Sebenarnya tanggung juga sih, masih suasana lebaran malah masuk untuk UAS. Btw, good luck untuk UAS-nya Bagas. Alhamdulillah berkat Bagas, perjalanan 3 jam sambil berdiri tidak terlalu terasa. Di sini saya juga tidak lupa menanyakan akun Instagram-nya, siapa tahu nanti saya bisa explore Lampung dengannya. Dari cerita Bagas, sepertinya dia juga ingin travelling tetapi memang belum berani untuk pergi sendiri dan juga belum menemukan travel mate yang pas.
Bagas dan temannya turun di Simpang Pramuka, di bawah fly over sebelum masuk Rajabasa. Saya baru bisa duduk setelah Bagas dan temannya turun, saya menempati tempat duduk temannya Bagas tadi. Beberapa penumpang banyak yang turun di terminal Rajabasa, yang turun di Pool Damri Rajabasa hanya yang ingin pergi ke Jawa, saya serta satu ibu dan anaknya. Saya tidak mau turun di terminal karena pasti ramai dan banyak orang-orang yang akan menawarkan jasa transportasi. Saya lebih memilih turun di Pool Damri-nya langsung karena sepi. Saya sampai di Pool Damri tepat pukul 12.00 WIB dan perut saya sudah kelaparan. Saya keluar dari Pool Damri untuk mencari makan, di seberang sebelah kiri ada warung nasi prasmanan sedangkan di sebelah kanan ada yang berjualan batagor. Saya memilih untuk makan batagor saja, as usual rice is the second choice to eat.
Setelah makan batagor yang harganya 10ribu dan air mineral 5ribu, saya memesan go-jek. Sialnya, ternyata hujan turun meskipun hanya gerimis tetapi dengan perjalanan saya yang cukup jauh mungkin bisa membasahkan celana saya. Kenapa cuma celana? Karena saya memakai jaket yang anti air jadi baju saya bisa terlindungi. Si akang go-jek menyuruh saya memakai plastik di kepala saya baru kemudian memakai helm. Hadeh, ini maksudnya apa coba ya? 😐 Katanya sih biar kepala saya tidak basah tetapi saya menolak, saya bilang saja kalau jaket saya anti air dan ada capuchon-nya. Jadi, saya memakai capuchon dari jaket saya tersebut baru memakai helm. Ketika sudah memakai helm, saya baru tahu alasan kenapa si akang go-jek ini ngotot menyuruh saya memakai plastik terlebih dahulu baru memakai helm. Karena helmnya bau sekali dan basah, sumpah, saya tidak bohong.
Baru beberapa meter melaju, si akang go-jek menanyakan alamat yang saya tuju. Saya bilang arah Rawa Laut, pokoknya sesuai dengan map. Kelihatannya sih si akang go-jek belum terlalu hapal dengan rutenya, beliau mengambil rute jalan protokol yang kebetulan juga macet tetapi macetnya masih parah Palembang. Selama perjalanan si akang go-jek banyak cerita pengalamannya yang pernah backpacker-an juga. Dia tinggal di Lampung, di daerah Pesawaran. Saya juga sempat menanyakan tempat wisata terdekat dengan penginapan saya. Beliau menyebutkan Puncak Mas yang berada di Sukadana, katanya sih tinggal turun sedikit saja dekat Teluk Betung.
Sesampai di penginapan, saya shalat dan beres-beres sedikit barang-barang yang akan saya bawa untuk keluar nanti. Sebenarnya saya malas untuk keluar hari itu karena sudah kelelahan berdiri di bis. Ditambah lagi godaan kasur yang rasanya sangat sayang untuk ditinggalkan. Tetapi kembali lagi ke itenerary saya selama di Lampung, masih ada tiga tempat lagi yang belum saya kunjungi. Lagian, mikirnya kapan lagi saya bisa ke Lampung? Saya selalu berpendapat kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya, meskipun ada kesempatan lagi yang datang, mungkin ceritanya tak akan pernah sama.
Saya kembali memesan go-jek menuju Vihara Thay Hin Bio yang berada di Jalan Ikan Kakap, Teluk Betung. Ketika sampai, saya sempat terkejut karena lokasi vihara ini berada di tengah-tengah pasar. Kalau di Palembang sih, lokasi Jalan Ikan Kakap ini tidak jauh berbeda dengan Jalan Rustam Effendi (sekitaran Megah Ria) ataupun Jalan Kolonel Atmo versi sempitnya. Tepat di depan vihara ada toko oleh-oleh Aneka Sari Rasa, tokonya lumayan besar dan ramai. Tidak jauh dari vihara dan masih dalam satu deretan dengan viharanya ada toko oleh-oleh Yen-yen. Tokonya jauh lebih kecil daripada toko Aneka Sari Rasa. Saya tipe orang yang menghindari keramaian, jadi saya memilih menuju toko Yen-yen dibandingkan dengan Aneka Sari Rasa.
Sebelumnya saya sempat mencari tahu tentang kedua toko oleh-oleh ini di internet, respons netizen terhadap toko oleh-oleh Yen-yen ini kurang positif. Mereka mengatakan jika pegawai di toko Yen-yen ini sangat jutek tetapi semua anggapan netizen tersebut tidak saya temukan di sini. Malah, pegawainya ramah sekali, meskipun tokonya terbilang kecil tetapi cukup lengkap dan tiap makanan ada tester-nya jadi bisa sekalian icip-icip di sini. Saya dilayani dengan sangat ramah oleh pegawainya, saya ditawarkan berbagai varian rasa keripik pisang dan makanan-makanan lainnya. Harganya pun relatif murah dan pengunjungnya pun cukup ramai. Meskipun tokonya kecil tetapi pegawainya terbilang cukup banyak jadi kalian tidak akan kesulitan untuk mencari pegawainya jika ingin menanyakan sesuatu tentang produk makanan mereka.
Setelah mendapatkan oleh-oleh yang saya inginkan, saya langsung menuju Vihara Thay Hin Bio. Saya sempat ragu untuk berfoto-foto di vihara ini dikarenakan ada beberapa orang yang sedang beribadah di dalamnya. Saya cukup lama duduk-duduk di depan vihara sambil memastikan apakah sebaiknya saya masuk atau tidak. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk dan berfoto-foto sedikit di halamannya saja. Saya berada di vihara ini tidak terlalu lama, saya hanya mengintip sedikit ke dalam vihara dan melihat tempat pembakaran dupa di sana. Saya selalu kagum dengan arsitek bangunan Cina, termasuk vihara ini. Maka dari itu, Vihara Thay Hin Bio ini masuk dalam itenerary saya.
Setelah keluar dari vihara, saya langsung memesan go-jek menuju Little Europe. Taman Dipangga saya skip karena firasat saya mengatakan bahwa taman ini seperti taman-taman kota lainnya. Benar saja, saat menuju Little Europe saya melewati Taman Dipangga. Taman tersebut terlihat sangat gersang, saya hanya melihat satu pohon besar saja di sana dan hanya ada dua tiga anak muda yang sedang duduk-duduk di bawah terik matahari. Untung saja saya tidak jadi ke sana.
Memasuki daerah Teluk Betung, cuaca mulai bersahabat. Teluk Betung lebih dingin dibandingkan dengan Tanjung Karang. Si akang go-jek yang bernama Eko Saputra ini mengira kalau saya ingin pulang ke rumah yang berada di Perumahan Citra Garden ini. Saya hanya tertawa dan bilang kalau saya cuma mau numpang foto saja di sana. Little Europe ini hanya deretan ruko-ruko yang mempunyai arsitek seperti bangunan-bangunan di Eropa dan sangat colorful. Di sini cuma ada beberapa toko makanan saja yang sedang buka. Saya sengaja tidak mencoba makanan yang dijual di toko-toko tersebut karena saya juga sempat searching di internet tentang toko-toko makanan ini. Banyak netizen yang mengatakan jika makanannya kurang enak dan tidak sesuai dengan harganya yang mahal. Demi menghemat uang pun saya tidak tertarik untuk mencoba makanannya. Saya berada di Little Europe ini sekitar 1 jam, malah saya sempat live di instagram saya saking tidak ada kerjaannya. Saya cuma berdiri di sana sambil melihat tingkah-tingkah pengunjung di sini. Ada yang niat sekali untuk berfoto di sini dengan membawa kamera DSLR dan tripod, berpakaian yang lumayan bisa membuat orang-orang melihat ke arah mereka. Memang harus seniat itu, saya pun bisa sampai di sini karena ada niat dan tekad yang kuat, samalah seperti mereka.
Adzan Ashar sudah mulai terdengar di sini, saya menyelesaikan suara adzan tersebut baru memesan go-jek kembali untuk pulang ke penginapan. Masih ada banyak sisa waktu sebelum waktu maghrib tiba untuk saya keliling kembali di sekitaran Teluk Betung ini tetapi saya memutuskan untuk kembali dulu ke penginapan untuk shalat Ashar. Saya memesan go-jek dan ternyata saya mendapatkan akang go-jek yang bernama Eko Saputra tadi, yang mengantar saya dari Vihara Thay Hin Bio menuju Little Europe ini. Ketika dia menelpon saya, kami sama-sama tertawa. Di dalam telpon pun dia bertanya kepada saya, apakah saya sudah puas foto-foto di Little Europe ini? 😁
Sepanjang perjalanan, saya tanya-tanya sedikit dengan mas Eko ini tentang tempat-tempat wisata di Teluk Betung. Saya menanyakan rumah kera tetapi dia tidak tahu, dia malah menyebutkan rumah hantu. Rumah hantu bagaimana maksudnya ini? Katanya rumah hantu itu adalah sebuah bangunan bertingkat yang tidak jadi dibangun dan terbengkalai. Kenapa dinamai rumah hantu? Karena di bangunan tersebut pernah diadakan uji nyali oleh salah satu stasiun televisi, sejak kejadian itu bangunan tersebut dinamakan rumah hantu. Kebetulan kami melewati rumah hantu tersebut, hanya bangunan biasa yang tidak jadi dan dipagari oleh seng. Di sekelilingnya pun sudah ramai oleh rumah-rumah penduduk dan hotel. Rumah hantu tersebut pun terletak di pinggir jalan, tidak terlihat menyeramkan sama sekali.
Mas Eko pun menyarankan saya untuk melihat Puncak Mas saja, yang terletak di Sukadana, seperti yang dikatakan oleh akang go-jek yang mengantar saya ke penginapan tadi. Di dalam pikiran saya, kok mereka menyarankan tempat yang jauh sih? Perjalanan saya ke Taman Nasional Way Kambas kemarin melewati Sukadana dan itu memakan waktu dua jam dari Rajabasa. Saya bilang saja, kan Sukadana jauh mas, saya bisa kemalaman dong. Si masnya terdiam sejenak lalu merespons perkataan saya tadi.
Mas Eko: "Mbak kira Sukadana yang di Lampung Timur itu ya?"
Saya: "Iya mas, Sukadana yang itu kan? Kemarin saya ke Way Kambas kan lewat situ mas."
Mas Eko: "Haha.. Bukan mbak, bukan Sukadana yang itu tapi Sukadana Ham, gak jauh dari Teluk Betung."
Saya: "Hehe.. Sukadana ada dua ya mas? Nah, di Puncak Mas itu ada apaan mas?"
Mas Eko: "Ada rumah pohon mbak, pokoknya banyak yang ke sana untuk foto-foto mbak. Apalagi kalau malam mbak, katanya bagus banget."
Saya: "Itu buka 24 jam apa mas? Aksesnya ke sana gimana mas?"
Mas Eko: "Kalau buka 24 jam atau gak saya juga kurang tau mbak tapi setau saya sih sampe malam bukanya. Bisa pake go-jek mbak ke sana, deket kok tapi di sana sepi mbak."
Saya: "Lah, kok sepi mas? Katanya tadi banyak yang ke sana?"
Mas Eko: "Bukan Puncak Masnya yang sepi mbak tapi jalanan ke sananya yang sepi, kasian mbaknya nanti."
Saya: "Memang jalanan ke sana gak aman ya mas?"
Mas Eko: "Gak sih mbak, aman kok tapi kasian mbaknya aja sendirian."
Ketika melewati Tugu Gajah, si mas Eko juga mengatakan jika banyak orang-orang yang berfoto di sana. Mas Eko pun sempat menawarkan untuk memotret saya di Tugu Gajah tersebut. Waktu kami lewat, Tugu Gajah tersebut memang sedang sepi karena kata mas Eko, Tugu Gajah hanya ramai pada malam hari saja. Banyak anak-anak muda yang kumpul-kumpul di sana, seperti anak-anak motor begitu. Menurut saya, Tugu Gajah ini sama saja seperti Bundaran Air Mancur di Palembang, yang berbeda di sini ada patung gajahnya sedangkan di Palembang tidak ada.
Saya sampai di penginapan jam setengah lima. Rencananya setelah shalat Ashar saya mau ke Puncak Mas tetapi perut saya kelaparan parah. Saya keluar penginapanan (Omah Anakku) untuk mencari warung makan yang berada di sekitar penginapan. Dua perempatan saya lewati tetapi tetap saja tidak ada warung makan yang terlihat, warung biasa saja pun tidak terlihat. Ini perumahan macam apa yang tidak ada warung di sekitarnya? Daripada tenaga saya habis untuk mencari warung yang tidak tahu keberadaannya, saya memutuskan untuk memesan go-food saja.
Setelah lima kali orderan saya gagal dikarenakan warungnya yang belum buka. Dari memesan sate, mie ayam, mie tumis, pecel lele dan bakso, tidak ada satu pun yang buka. Opsi terakhir hanya nasi padang, saya sengaja dari awal tidak memesan nasi padang. Sebenarnya saya malas makan nasi apalagi nasi padang yang notabene porsinya banyak tetapi mau bagaimana lagi, saya kelaparan akut. Benar saja, warung nasi padang ini buka, saya memesan nasi ayam bakar dan dua es teh manis. Alhamdulillah, masih bisa makan.
Jam menunjukkan setengah enam sore dan saya baru selesai makan. Saya mengurungkan niat saya untuk pergi ke Puncak Mas karena sebentar lagi maghrib. Saya memutuskan untuk stay saja di penginapan, hitung-hitung istirahat daripada mengambil resiko keluar malam-malam ke tempat yang tidak saya tahu dan sendirian. Saya menghabiskan malam dengan bermain hape dan menonton televisi. Tidur saya malam itu sangat nyenyak sekali, mungkin karena kelelahan berdiri di bis tadi pagi.
Saya sudah dalam keadaan siap untuk melihat sunrise. Sayangnya dari tadi malam hujan belum juga reda. Alhasil, saya hanya berada di dalam kamar, duduk di atas kasur sambil makan roti dan melihat ke arah luar. Horden dan pintu kamar saya buka lebar-lebar agar saya bisa melihat Nunik dan Pleno. Saya sengaja tidak keluar kamar karena di luar ada tetangga sebelah yang sedang memotret gajah-gajah dari depan kamar saya ini.
Jam hampir menunjukkan pukul 06.30 WIB, saya ragu untuk menghubungi Pak Pal karena di luar masih hujan rintik-rintik, saya takut merepotkan beliau. Tiba-tiba ada telpon masuk dan ternyata dari Pak Pal. Wah, ini malah Pak Pal duluan yang menelpon bukan saya. Pak Pal menanyakan apakah saya sudah siap atau belum, saya jawab saja sudah siap, tinggal memakai sepatu saja. Saya juga bilang dengan Pak Pal kalau di sini gerimis-gerimis cantik, kata Pak Pal tidak apa-apa, sebentar lagi beliau meluncur ke sini untuk menjemput saya keluar.
Setelah Pak Pal selesai menelpon, ada pesan WA masuk, ternyata dari mas Ucup. Mas Ucup menanyakan apakah saya sudah bangun atau belum, soalnya Pak Pal juga menanyakan saya ke mas Ucup. Ya gila ajalah kalau saya belum bangun jam segini. Saya jawab sudah bangun dan sudah siap, tinggal memakai sepatu saja. Mas Ucup menyuruh saya ke kamar mereka untuk pamitan sebelum pulang. Saya mengiyakan, saya bilang nanti saya pasti ke sana tetapi sekarang saya sedang sarapan dan saya hanya punya satu roti saja. Kan, tidak enak saya ke sana sambil makan roti dan tidak menawarkan ke mereka. Jadi, setelah saya menghabiskan roti, saya langsung memakai sepatu dan meluncur ke kamar mereka.
Ternyata mbak Ruy, mas Ucup, mbak Prita dan Zidni lagi duduk-duduk di luar kamar sambil sarapan roti juga. Saya ditawarkan untuk makan lagi oleh mereka, saya menolak, saya jawab kalau saya juga sudah sarapan. Tidak lama saya bergabung dengan mereka, Pak Pal datang dengan menggunakan motor matic, berbeda dengan motor yang beliau pakai kemarin. Aah... Saatnya untuk pulang dari Way Kambas, sedih... Saya berpamitan dengan mas Ucup, mbak Ruy, mbak Prita dan Zidni, tidak dengan Akbar karena dia sedang tidur. Mungkin dia kelelahan mencari signal tadi shubuh.
Saya mengambil barang-barang saya di kamar dan setelah itu langsung menemui Pak Pal yang masih berada di atas motor. Saya kembalikan kunci kamar saya ke Pak Pal dan menaiki motornya. Saya berlalu dari kamar rombongan mas Ucup dan melambaikan tangan ke mereka, terima kasih telah memberikan cerita di perjalanan saya. Semoga kita bisa bertemu kembali. Aamiin...
Dalam perjalanan keluar dari Taman Nasional Way Kambas ini saya sedikit cemas karena Pak Pal mengendarai motornya dengan sangat cepat. Saya sedikit takut juga karena jalanan ini licin diguyur hujan. Selagi di atas motor, Pak Pal menunjukkan kepada saya jejak-jejak gajah liar yang melintas jalan pada saat tadi malam. Banyak semak-semak yang rantingnya patah dan tertinggal kotoran gajah di atas aspal jalanan. Saya tetap fokus berpegangan di besi belakang motor dan tidak banyak bercerita di atas motor, selain fokus berpegangan besi, penglihatan saya juga terganggu. Kacamata saya dipenuhi oleh rintik air hujan, ini nih problematika orang yang berkacamata 😓 Saya ingin sekali membersihkan kacamata saya dari air tetapi tangan saya tidak bisa beralih lagi dari pegangan besi belakang motor.
Kami keluar melewati jalan yang saya lewati bersama Pak Emen kemarin, bukan melewati jalan utama. Saya diantarkan Pak Pal ke Pool Damri yang berada tidak jauh dari jalan masuk ke Way Kambas. Saya kaget, padahal saya sudah berjanji dengan bapak Damri tadi malam untuk menunggu di Indomaret Pasar Tridatu. Pak Pal menitipkan saya ke bapak penjaga loket, Pak Pal bilang tolong antarkan saya ke Pool Damri Rajabasa pada bapak penjaga loket 😁 Gaya Pal Pal ini seperti seorang ayah yang melepas anaknya pergi merantau 😅 Setelah menghabiskan sebatang rokok, Pak Pal pamit untuk kembali ke Way Kambas karena memang kemarin katanya mbak Prita juga ingin pulang ke Jakarta pagi ini. Saya bersalaman dengan Pak Pal dan mengucapkan terima kasih banyak atas bantuannya selama saya berada di Way Kambas. Jika kalian berkunjung ke Way Kambas ini dan menghubungi Pak Pal, bolehlah Pak Palnya diberikan fee, seikhlasnya saja.
Saya duduk di loket dan langsung mengirimkan SMS ke bapak sopir Damri tadi malam, saya bilang kalau saya tidak jadi menunggu di Indomaret Pasar Tridatu tetapi saya menunggu di loket Damrinya langsung. Kemudian si bapak penjaga loket bilang kalau bisnya akan datang sekitar jam 9 dan hanya ada satu bis yang beroperasi hari ini. Karena kemarin bis yang satunya mengalami kecelakaan dan menimbulkan korban jiwa satu orang pengendara motor. Kronologis kejadiannya tidak saya tanyakan secara detail ke bapak penjaga loket.
Kehebatan Damri ini adalah waktu keberangkatannya yang selalu on time, dari Pool Damri Rajabasa kemarin pun saya berangkat tepat jam 7 pagi. Begitupun sekarang, bis Damrinya datang tepat jam 9 pagi. Di loket ini cuma ada dua orang yang naik, sudah termasuk saya. Betapa kagetnya saya ketika masuk ke dalam bis, sudah banyak penumpang yang berdiri dan barang bawaan mereka pun memenuhi bis. Sampai-sampai saya berdiri sambil membawa tas saya yang berat ini karena memang sudah tidak ada space lagi di tempat saya berdiri ini. Sepanjang perjalanan pun, bis ini masih menampung penumpang, sampai akhirnya saya berdiri di tengah bis, yang awalnya tadi saya berada di depan. Tas saya disuruh diletakkan di bawah kursi penumpang oleh kondekturnya karena memakan tempat untuk orang-orang berdiri. Saya menuruti saja karena saya juga tidak akan sanggup membawa tas ini untuk perjalanan 3 jam ke depannya.
Saya berdiri di depan seorang pemuda. Dari wajahnya sih masih muda tetapi tingginya jauh dari saya, mungkin tingginya sekitar 170-an cm. Dari obrolan dia dengan temannya di bis, sepertinya mereka ini masih mahasiswa, dan sepertinya temannya ini adalah kakak tingkatnya di kampus. Jadi, selama di perjalanan ini terhitung saya sudah 2 kali menginjak sepatu pemuda tadi. Bukan disengaja, tetapi saya kadang kehilangan keseimbangan. Selain lelah berdiri, bis Damri ini juga melaju dengan kecepatan yang lumayan. Ketika memasuki Kota Metro, saya memberanikan diri untuk menegur pemuda tadi. Saya menanyakan di mana lokasi terakhir bis Damri ini berhenti.
Dari pertanyaan saya tersebut, kami jadi bercerita ke hal-hal lainnya. Nama pemuda tersebut adalah Bagas Tirangga, mahasiswa semester dua Jurusan Farmasi Universitas Malahayati Lampung dan maaf-maaf saja saya tidak menanyakan nama temannya Bagas tadi. Bagas ini tinggal di Way Jepara, 15 menit perjalanan dari loket Damri tadi. Tidak terlalu jauh dari Way Kambas, dia juga sudah sering pergi ke Way Kambas dengan keluarganya. Saya juga menanyakan tentang Taman Dipangga, Vihara Thay Hin Bio, dan Little Europe ke Bagas. Sayangnya, Bagas tidak ada yang tahu tempat-tempat tersebut. Saya agak ragu untuk pergi ke Taman Dipangga, kalau saya searching kemarin sih katanya di sini ada tugu Krakatau dan mercusuar yang terbawa tsunami yang disebabkan oleh letusan Gunung Krakatau dulu. Saya takutnya Taman Dipangga ini hanya taman biasa, sama seperti taman-taman kota lainnya.
Bagas cerita kalau dia akan melaksanakan UAS hari Senin nanti, setelah UAS, kampus akan libur kembali. Sebenarnya tanggung juga sih, masih suasana lebaran malah masuk untuk UAS. Btw, good luck untuk UAS-nya Bagas. Alhamdulillah berkat Bagas, perjalanan 3 jam sambil berdiri tidak terlalu terasa. Di sini saya juga tidak lupa menanyakan akun Instagram-nya, siapa tahu nanti saya bisa explore Lampung dengannya. Dari cerita Bagas, sepertinya dia juga ingin travelling tetapi memang belum berani untuk pergi sendiri dan juga belum menemukan travel mate yang pas.
Bagas dan temannya turun di Simpang Pramuka, di bawah fly over sebelum masuk Rajabasa. Saya baru bisa duduk setelah Bagas dan temannya turun, saya menempati tempat duduk temannya Bagas tadi. Beberapa penumpang banyak yang turun di terminal Rajabasa, yang turun di Pool Damri Rajabasa hanya yang ingin pergi ke Jawa, saya serta satu ibu dan anaknya. Saya tidak mau turun di terminal karena pasti ramai dan banyak orang-orang yang akan menawarkan jasa transportasi. Saya lebih memilih turun di Pool Damri-nya langsung karena sepi. Saya sampai di Pool Damri tepat pukul 12.00 WIB dan perut saya sudah kelaparan. Saya keluar dari Pool Damri untuk mencari makan, di seberang sebelah kiri ada warung nasi prasmanan sedangkan di sebelah kanan ada yang berjualan batagor. Saya memilih untuk makan batagor saja, as usual rice is the second choice to eat.
Setelah makan batagor yang harganya 10ribu dan air mineral 5ribu, saya memesan go-jek. Sialnya, ternyata hujan turun meskipun hanya gerimis tetapi dengan perjalanan saya yang cukup jauh mungkin bisa membasahkan celana saya. Kenapa cuma celana? Karena saya memakai jaket yang anti air jadi baju saya bisa terlindungi. Si akang go-jek menyuruh saya memakai plastik di kepala saya baru kemudian memakai helm. Hadeh, ini maksudnya apa coba ya? 😐 Katanya sih biar kepala saya tidak basah tetapi saya menolak, saya bilang saja kalau jaket saya anti air dan ada capuchon-nya. Jadi, saya memakai capuchon dari jaket saya tersebut baru memakai helm. Ketika sudah memakai helm, saya baru tahu alasan kenapa si akang go-jek ini ngotot menyuruh saya memakai plastik terlebih dahulu baru memakai helm. Karena helmnya bau sekali dan basah, sumpah, saya tidak bohong.
Baru beberapa meter melaju, si akang go-jek menanyakan alamat yang saya tuju. Saya bilang arah Rawa Laut, pokoknya sesuai dengan map. Kelihatannya sih si akang go-jek belum terlalu hapal dengan rutenya, beliau mengambil rute jalan protokol yang kebetulan juga macet tetapi macetnya masih parah Palembang. Selama perjalanan si akang go-jek banyak cerita pengalamannya yang pernah backpacker-an juga. Dia tinggal di Lampung, di daerah Pesawaran. Saya juga sempat menanyakan tempat wisata terdekat dengan penginapan saya. Beliau menyebutkan Puncak Mas yang berada di Sukadana, katanya sih tinggal turun sedikit saja dekat Teluk Betung.
Sesampai di penginapan, saya shalat dan beres-beres sedikit barang-barang yang akan saya bawa untuk keluar nanti. Sebenarnya saya malas untuk keluar hari itu karena sudah kelelahan berdiri di bis. Ditambah lagi godaan kasur yang rasanya sangat sayang untuk ditinggalkan. Tetapi kembali lagi ke itenerary saya selama di Lampung, masih ada tiga tempat lagi yang belum saya kunjungi. Lagian, mikirnya kapan lagi saya bisa ke Lampung? Saya selalu berpendapat kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya, meskipun ada kesempatan lagi yang datang, mungkin ceritanya tak akan pernah sama.
Saya kembali memesan go-jek menuju Vihara Thay Hin Bio yang berada di Jalan Ikan Kakap, Teluk Betung. Ketika sampai, saya sempat terkejut karena lokasi vihara ini berada di tengah-tengah pasar. Kalau di Palembang sih, lokasi Jalan Ikan Kakap ini tidak jauh berbeda dengan Jalan Rustam Effendi (sekitaran Megah Ria) ataupun Jalan Kolonel Atmo versi sempitnya. Tepat di depan vihara ada toko oleh-oleh Aneka Sari Rasa, tokonya lumayan besar dan ramai. Tidak jauh dari vihara dan masih dalam satu deretan dengan viharanya ada toko oleh-oleh Yen-yen. Tokonya jauh lebih kecil daripada toko Aneka Sari Rasa. Saya tipe orang yang menghindari keramaian, jadi saya memilih menuju toko Yen-yen dibandingkan dengan Aneka Sari Rasa.
Sebelumnya saya sempat mencari tahu tentang kedua toko oleh-oleh ini di internet, respons netizen terhadap toko oleh-oleh Yen-yen ini kurang positif. Mereka mengatakan jika pegawai di toko Yen-yen ini sangat jutek tetapi semua anggapan netizen tersebut tidak saya temukan di sini. Malah, pegawainya ramah sekali, meskipun tokonya terbilang kecil tetapi cukup lengkap dan tiap makanan ada tester-nya jadi bisa sekalian icip-icip di sini. Saya dilayani dengan sangat ramah oleh pegawainya, saya ditawarkan berbagai varian rasa keripik pisang dan makanan-makanan lainnya. Harganya pun relatif murah dan pengunjungnya pun cukup ramai. Meskipun tokonya kecil tetapi pegawainya terbilang cukup banyak jadi kalian tidak akan kesulitan untuk mencari pegawainya jika ingin menanyakan sesuatu tentang produk makanan mereka.
Setelah mendapatkan oleh-oleh yang saya inginkan, saya langsung menuju Vihara Thay Hin Bio. Saya sempat ragu untuk berfoto-foto di vihara ini dikarenakan ada beberapa orang yang sedang beribadah di dalamnya. Saya cukup lama duduk-duduk di depan vihara sambil memastikan apakah sebaiknya saya masuk atau tidak. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk dan berfoto-foto sedikit di halamannya saja. Saya berada di vihara ini tidak terlalu lama, saya hanya mengintip sedikit ke dalam vihara dan melihat tempat pembakaran dupa di sana. Saya selalu kagum dengan arsitek bangunan Cina, termasuk vihara ini. Maka dari itu, Vihara Thay Hin Bio ini masuk dalam itenerary saya.
![]() |
| Tampak vihara dari halaman |
![]() |
| Tampak dari parkiran mobil yang berada di depan vihara |
![]() |
| Fotonya pakai timer dari kamera depan hape saya |
![]() |
| Sebenarnya saya ingin menanyakan ke penjaga viharanya cerita dari setiap relief yang ada tetapi apa daya |
Memasuki daerah Teluk Betung, cuaca mulai bersahabat. Teluk Betung lebih dingin dibandingkan dengan Tanjung Karang. Si akang go-jek yang bernama Eko Saputra ini mengira kalau saya ingin pulang ke rumah yang berada di Perumahan Citra Garden ini. Saya hanya tertawa dan bilang kalau saya cuma mau numpang foto saja di sana. Little Europe ini hanya deretan ruko-ruko yang mempunyai arsitek seperti bangunan-bangunan di Eropa dan sangat colorful. Di sini cuma ada beberapa toko makanan saja yang sedang buka. Saya sengaja tidak mencoba makanan yang dijual di toko-toko tersebut karena saya juga sempat searching di internet tentang toko-toko makanan ini. Banyak netizen yang mengatakan jika makanannya kurang enak dan tidak sesuai dengan harganya yang mahal. Demi menghemat uang pun saya tidak tertarik untuk mencoba makanannya. Saya berada di Little Europe ini sekitar 1 jam, malah saya sempat live di instagram saya saking tidak ada kerjaannya. Saya cuma berdiri di sana sambil melihat tingkah-tingkah pengunjung di sini. Ada yang niat sekali untuk berfoto di sini dengan membawa kamera DSLR dan tripod, berpakaian yang lumayan bisa membuat orang-orang melihat ke arah mereka. Memang harus seniat itu, saya pun bisa sampai di sini karena ada niat dan tekad yang kuat, samalah seperti mereka.
![]() |
| Fotonya pakai timer lagi |
![]() |
| Kalau yang ini minta fotoin sama orang yang lewat |
Sepanjang perjalanan, saya tanya-tanya sedikit dengan mas Eko ini tentang tempat-tempat wisata di Teluk Betung. Saya menanyakan rumah kera tetapi dia tidak tahu, dia malah menyebutkan rumah hantu. Rumah hantu bagaimana maksudnya ini? Katanya rumah hantu itu adalah sebuah bangunan bertingkat yang tidak jadi dibangun dan terbengkalai. Kenapa dinamai rumah hantu? Karena di bangunan tersebut pernah diadakan uji nyali oleh salah satu stasiun televisi, sejak kejadian itu bangunan tersebut dinamakan rumah hantu. Kebetulan kami melewati rumah hantu tersebut, hanya bangunan biasa yang tidak jadi dan dipagari oleh seng. Di sekelilingnya pun sudah ramai oleh rumah-rumah penduduk dan hotel. Rumah hantu tersebut pun terletak di pinggir jalan, tidak terlihat menyeramkan sama sekali.
Mas Eko pun menyarankan saya untuk melihat Puncak Mas saja, yang terletak di Sukadana, seperti yang dikatakan oleh akang go-jek yang mengantar saya ke penginapan tadi. Di dalam pikiran saya, kok mereka menyarankan tempat yang jauh sih? Perjalanan saya ke Taman Nasional Way Kambas kemarin melewati Sukadana dan itu memakan waktu dua jam dari Rajabasa. Saya bilang saja, kan Sukadana jauh mas, saya bisa kemalaman dong. Si masnya terdiam sejenak lalu merespons perkataan saya tadi.
Mas Eko: "Mbak kira Sukadana yang di Lampung Timur itu ya?"
Saya: "Iya mas, Sukadana yang itu kan? Kemarin saya ke Way Kambas kan lewat situ mas."
Mas Eko: "Haha.. Bukan mbak, bukan Sukadana yang itu tapi Sukadana Ham, gak jauh dari Teluk Betung."
Saya: "Hehe.. Sukadana ada dua ya mas? Nah, di Puncak Mas itu ada apaan mas?"
Mas Eko: "Ada rumah pohon mbak, pokoknya banyak yang ke sana untuk foto-foto mbak. Apalagi kalau malam mbak, katanya bagus banget."
Saya: "Itu buka 24 jam apa mas? Aksesnya ke sana gimana mas?"
Mas Eko: "Kalau buka 24 jam atau gak saya juga kurang tau mbak tapi setau saya sih sampe malam bukanya. Bisa pake go-jek mbak ke sana, deket kok tapi di sana sepi mbak."
Saya: "Lah, kok sepi mas? Katanya tadi banyak yang ke sana?"
Mas Eko: "Bukan Puncak Masnya yang sepi mbak tapi jalanan ke sananya yang sepi, kasian mbaknya nanti."
Saya: "Memang jalanan ke sana gak aman ya mas?"
Mas Eko: "Gak sih mbak, aman kok tapi kasian mbaknya aja sendirian."
Ketika melewati Tugu Gajah, si mas Eko juga mengatakan jika banyak orang-orang yang berfoto di sana. Mas Eko pun sempat menawarkan untuk memotret saya di Tugu Gajah tersebut. Waktu kami lewat, Tugu Gajah tersebut memang sedang sepi karena kata mas Eko, Tugu Gajah hanya ramai pada malam hari saja. Banyak anak-anak muda yang kumpul-kumpul di sana, seperti anak-anak motor begitu. Menurut saya, Tugu Gajah ini sama saja seperti Bundaran Air Mancur di Palembang, yang berbeda di sini ada patung gajahnya sedangkan di Palembang tidak ada.
Saya sampai di penginapan jam setengah lima. Rencananya setelah shalat Ashar saya mau ke Puncak Mas tetapi perut saya kelaparan parah. Saya keluar penginapanan (Omah Anakku) untuk mencari warung makan yang berada di sekitar penginapan. Dua perempatan saya lewati tetapi tetap saja tidak ada warung makan yang terlihat, warung biasa saja pun tidak terlihat. Ini perumahan macam apa yang tidak ada warung di sekitarnya? Daripada tenaga saya habis untuk mencari warung yang tidak tahu keberadaannya, saya memutuskan untuk memesan go-food saja.
![]() |
| Sembari menunggu go-food |
Jam menunjukkan setengah enam sore dan saya baru selesai makan. Saya mengurungkan niat saya untuk pergi ke Puncak Mas karena sebentar lagi maghrib. Saya memutuskan untuk stay saja di penginapan, hitung-hitung istirahat daripada mengambil resiko keluar malam-malam ke tempat yang tidak saya tahu dan sendirian. Saya menghabiskan malam dengan bermain hape dan menonton televisi. Tidur saya malam itu sangat nyenyak sekali, mungkin karena kelelahan berdiri di bis tadi pagi.









Dokumentasinya kurang greget mbak...
ReplyDeleteYa, gimana mas, gak ahli sih di bidang fotografi. Cuma formalitas aja sih 😕
Delete