Mau Cari Apa?

Wednesday, 7 November 2018

Pantjoran Tea House

Kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Kota Jakarta kembali. Saya ke Jakarta bukan hanya sekedar jalan-jalan, saya mengikuti tes CPNS, sama seperti saya ke Jakarta sebelumnya, selalu saja mengikuti tes CPNS. Tidak usah repot-repot menanyakan hasil tesnya bagaimana, saya tahu kok jika kalian semua perhatian dengan saya. Tetapi ya, namanya juga usaha, kadang berhasil kadang juga belum berhasil.

Awalnya sebelum tiba di Jakarta, saya berencana ingin pergi ke Jalan Surabaya atau Ragunan (lagi) setelah tes selesai. Tetapi ketika berada di pesawat (Citilink), saya sempat membaca majalah di pesawat tersebut dan kebetulan majalah tersebut membahas beberapa tempat wisata di Kota Jakarta. Dari beberapa artikel yang ditulis di majalah tersebut, saya tertarik dengan artikel yang menyebutkan tentang Pantjoran Tea House.

Saya mengubah rute saya untuk ke Pantjoran Tea House saja. Iya, saya memang senang dengan suasana yang kental dengan Budaya Tionghoa, termasuk Pantjoran Tea House ini. Setelah gagal tes, saya sempat bad mood untuk melanjutkan perjalanan. Bagaimana tidak? Saya sudah mengikuti tes CPNS sebanyak 3 kali ini. Dua tes CPNS sebelumnya nilai saya selalu melewati passing grade dan hanya gagal pada saat perankingan menuju SKB. Kali ini saya mengalami penurunan, nilai TKP saya tidak memenuhi passing grade, malah jauh dari passing grade. Saya mencoba untuk ikhlas dan berlapang dada, mungkin tahun ini belum rejeki saya untuk menjadi ASN.

Untuk menghilangi bad mood, saya kembali ke rencana awal, yaitu pergi ke Pantjoran Tea House. Dari Kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN) Pusat yang berada di daerah Cililitan, Jakarta Timur, saya memesan go-jek menuju Stasiun Duren Kalibata untuk naik KRL menuju Stasiun Jakarta Kota. Sesampai di Stasiun Jakarta Kota, saya keluar melalui Pintu Timur yang dekat sungai (itu yang tertera di aplikasi go-jek dan sesuai kata satpam) dan saya segera memesan go-jek menuju Pantjoran Tea House.

Pantjoran Tea House ini beralamat di Jalan Pancoran Raya No. 4-6, Glodok, Jakarta Barat. Dulunya, Pantjoran Tea House adalah Apotek yang bernama Apotheek Chung Hwa (pada tahun 1928). Kemudian pada tahun 2015, apotek tersebut beralih fungsi menjadi kedai teh bernama Pantjoran Tea House. Pantjoran Tea House ini juga selalu menyediakan 8 teko teh gratis di depan kedainya untuk dinikmati oleh orang-orang yang lewat. Konsep yang sangat menarik, menurut saya. Penyajian teh gratisnya pun menggunakan teko yang bisa dibilang cukup kuno. Maafkan saya yang pelupa ini, saya lupa untuk mengabadikan 8 teko teh gratis ini. Sejarah lengkap tentang Pantjoran Tea House serta menu makanannya bisa kalian baca langsung di website mereka di sini ya.
Foto 8 teko teh gratis (cr: instagram @pantjoran_tea)
Ketika saya masuk, hanya ada 3 turis asing  dewasa dan 1 turis asing anak-anak yang sedang makan di sana. Iya, ternyata tempatnya sepi, sangat cocok untuk menikmati teh dan menenangkan diri. Pantjoran Tea House ini berlantai dua tetapi ketika saya ingin duduk di lantai dua, waitress-nya bilang ke saya jika lantai dua belum dibuka untuk reservasi. Katanya, ada jam-jam tertentu lantai dua tersebut akan dibuka untuk reservasi. Di lantai satu ini hanya ada 5 meja di dalamnya tetapi di luarnya pun masih ada meja, jika kalian ingin makan di luar.
Salah satu view dari tempat saya duduk
Pantjoran Tea House ini istimewa dengan bangunannya yang kuno dan sajian tehnya tetapi saya malah tidak memesan teh di sini. Karena apa? Karena saya sendirian, sepertinya porsi tehnya juga lumayan banyak. Jadi, saya hanya memesan Ayam Sayur Asin Angcho (50ribu), nasi putih (8ribu) dan air mineral (10ribu). Tenang, semua menunya halal kok, itu sih kata waitress-nya ketika saya bertanya kepadanya. Tetapi di sini ada menu kodok, jadi saran saya jangan memesan menu kodok, menu selebihnya oke kok, ada ayam, daging sapi, cumi, udang, ikan dan lain sebagainya.
Ayam Sayur Asin Angcho dan nasi putih
Ayam Sayur Asin Angcho ini menurut saya sih enak. Sedikit berkuah kental tetapi tidak membuat enek. Menu ini tidak hanya ada ayam saja tetapi ada sayurnya juga. Seperti sawi yang biasa ada di bakso tetapi rasanya seperti jahe, atau mungkin itu adalah batang jahe? Saya juga kurang tahu sih tetapi overall enak kok. Selama saya menikmati makanan saya, pengunjung silih berganti berdatangan ke sana. Ada sekitar 6 orang lagi yang makan di sana, dua di antaranya adalah turis asing lagi. Setelah makan, saya memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar lokasi Pantjoran Tea House tersebut. Seperti yang saya baca di majalah Citilink kemarin bahwa di sekitaran sini banyak menjual aneka jajanan.

Sederetan Pantjoran Tea House kebanyakan adalah apotek obat-obatan Cina dan warung-warung makanan khas Tionghoa. Di seberang sebelah kanan Pantjoran Tea House adalah Pasarjaya. Jika dari Pantjoran Tea House kalian belok ke kiri dan lurus saja, kalian akan ke Pasar Asemka (pusat souvenir murah, katanya) dan arah ke Kota Tua. Saya berencana akan ke Kota Tua lagi nanti setelah jalan-jalan di sekitaran Pantjoran Tea House ini.

Benar saja, di sini banyak sekali aneka jajanan dan kental dengan suasana Tionghoa. Lampion terpasang di atas jalan, orang-orang berjualan makanan khas Tionghoa, toko-toko menjual souvenir dan baju-baju bernuansa Tionghoa, pokoknya khas seperti Pecinan pada umumnya. Aah.. Bahagia sekali di sini, sejenak saya bisa melupakan gagalnya tes.
Salah satu gang yang berada di Jalan Pancoran
Saya juga sempat jajan beberapa aneka jajanan, yaitu permen susu, manisan mangga, kacang mete, permen buah plum, oat aneka rasa, dan permen marshmallow. Saya sempat dua kali balik ke sini karena saya merasa jajannya kedikitan. Pada saat jajan pertama saya hanya membeli permen susu (20ribu), oat aneka rasa satu bungkus (30ribu) dan permen buah plum (15ribu). Saya lupa timbangan jajanan yang saya beli berapa, sepertinya sih masing-masing 1 ons. Lalu, pada saat jajan kedua saya beli permen susu lagi (20ribu), kacang mete (35ribu), permen marshmallow (15ribu) dan manisan mangga (25ribu) tetapi saya beli di toko lainnya lagi dan harganya sama dengan toko pertama yang saya kunjungi.
Toko jajanan pertama yang saya kunjungi, tokonya lumayan besar dibandingkan dengan toko-toko jajanan lainnya dan pengunjungnya pun ramai. Lokasinya tepat berada di simpang menuju salah satu gang yang ada di sana.
Jajanan yang saya beli
Setelah jajan, saya kembali lagi ke Pantjoran Tea House untuk memesan go-jek. Kenapa harus kembali ke Pantjoran Tea House lagi sih? Karena saya tidak mau ribet menjelaskan rutenya ke driver go-jek. Saya memesan langsung ke Stasiun Jakarta Kota. Saya tidak jadi ke Kota Tua. Entah kenapa, mood saya belum sepenuhnya membaik, ditambah lagi cuaca yang sangat panas.

Eh, ketika sudah berada di KRL, di tengah-tengah perjalanan malah turun hujan. Tambah syahdu rasanya hati ini. Untungnya, setiba di Stasiun Duren Kalibata hujan tidak turun. Alhamdulillah. Saya langsung memesan go-jek menuju penginapan saya, yaitu di Reddoorz (Omah Londo) yang berada di Jalan Jengki Kelurahan Kebon Pala, Jakarta Timur.
Stasiun Duren Kalibata

4 comments:

  1. Replies
    1. Kagak, memang dibikin melayang biar kek karung bapak "gelantum ujinya" 😅😅

      Delete
  2. Tabahkanlah hatimu nakkk. Tak jadi tangan kiri tangan seribu pun jadi. Ngmng" ente di endorse berapa cinnn sama yg punya pantjoran 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan bae jadi tangan panjang wkwk.. Dak perlu diendorse-lah kalo nak ngereview tempat yg memang recommended wkwk..

      Delete