Kehidupan after graduation from college saya lebih sibuk dari kehidupan kuliah saya dulu. Dulu, saya hanya mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang). Ya begitu saja terus sampai akhirnya saya tamat. Menyesal? Pastinya! Banyak sekali kesempatan dan kegiatan yang saya lewatkan selama saya kuliah. Saya pun tidak mengikuti satu organisasi apapun di kampus. Karena apa? Tidak ada izin. Saya tidak bisa menyalahkan keluarga saya juga sih. Sebenarnya dari saya juga salah. Kenapa saya tidak nekad saja meskipun tidak mendapatkan izin? Salah satu alasan kenapa saya tidak bisa nekad yaitu alasan budgeting. Investor utama dan satu-satunya dalam hidup saya adalah keluarga saya sendiri.
Salah satu mimpi saya sewaktu kuliah adalah menjadi relawan (volunteer). Relawan apa? Relawan sosial pastinya, basic kuliah saya di sana sih. Saya pikir, setelah saya tamat kuliah saya bisa langsung bebas mendaftar menjadi relawan di manapun yang saya sukai. Kenyataannya? Setelah saya tamat, saya menyadari bahwa tidak selamanya orang tua saya harus membiayai kebutuhan saya. Saya harus mencari uang sendiri sedangkan menjadi relawan bukanlah profesi yang menghasilkan uang.
Saya memutuskan untuk mencari kerja terlebih dahulu sampai setidaknya saya mampu membiayai sebagian kebutuhan kehidupan saya dan mempunyai tabungan. Kadang, ketika tabungan sudah ada, saya malah sering tergoda menghabisinya untuk pergi jalan-jalan. Ya begitulah manusia, terlalu sering khilafnya.
Saya menghabiskan beberapa bulan pertama saya setelah tamat kuliah untuk mencari kerja. Selanjutnya tahun pertama dan kedua saya tamat kuliah, saya habiskan untuk kerja sampai dengan sekarang. Pada tahun 2018 ini, saya bisa lebih longgar mengikuti kegiatan-kegiatan yang saya sukai di luar jam kerja saya. Saya kerja pun di tempat yang tidak terlalu mengikat seperti perusahaan-perusahaan swasta ataupun BUMN.
Sekarang saya mempunyai banyak kesempatan untuk mewujudkan satu per satu mimpi saya. Selain menjadi relawan, saya pun bermimpi untuk mengelilingi Indonesia. Mimpi untuk mengelilingi Indonesia sepertinya ketinggian, tetapi tidak apa-apa. Saya memang senang bermimpi yang tinggi-tinggi, jadi jika ekspektasi saya jatuh maka jatuhnya pun tidak akan terlalu jauh dari target utama saya.
Saya pun sudah memikirkan hal tersebut, di umur saya yang sekarang sudah 24 tahun akan sangat susah untuk berkeliling. Selain mengingat kondisi orang tua yang semakin hari semakin tua dan tidak segagah nan sekuat dulu, saya pun memikirkan masa depan saya. Berapa tahun yang akan saya habiskan jika ingin mengelilingi Indonesia (Sabang-Merauke) dengan tipe low budget seperti saya ini? Setidaknya saya harus ke ujung-ujung sisi Indonesia, yaitu Sabang dan Merauke.
Kesempatan saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya tersebut datang dari Inavis. Inavis membuka pendaftaran untuk para relawan yang nantinya akan ditempatkan di Raja Ampat atau Entikong dalam beberapa hari. Kalau di kuliah seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) seperti itu. Tidak bisa ke Merauke, ke Raja Ampat pun jadi, begitu pikir saya. Saya mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu calon relawan Inavis dengan lokasi pengabdian di Kabupaten Raja Ampat. Nama program Inavis tersebut adalah Ekspedisi Berbakti #1. Program ini hanya menerima relawan sebanyak 10 orang saja, tentunya melalui seleksi yang dilakukan oleh Tim Inavis.
Pada tanggal 19 Mei, pengumuman 25 besar calon relawan diumumkan di akun Instagram Inavis. Nama saya tidak ada. Belum rejeki, pikir saya. Lagian, ini adalah kali pertama saya mendaftarkan diri sebagai relawan. Saya berharap sekali bisa lolos meskipun tidak lolos juga tidak apa-apa, yang penting usaha dan doa tidak pernah putus, terutama doa. Pada tanggal 28 Mei, 10 nama relawan yang lolos diumumkan kembali di Instagram Inavis. Mereka fully funded by Inavis, kecuali kebutuhan pribadi dan ongkos mereka menuju meeting point.
Lima hari berlalu begitu saja setelah pengumuman tersebut. Hidup saya pun tetap berjalan seperti biasa. Pada tanggal 2 Juni, ketika saya sedang dalam perjalanan ke Palembang untuk mengikuti buka bersama teman-teman kerja saya. Selagi di dalam travel, ada email masuk di hape saya, dari Inavis. Saya pikir email apa yang masuk ini? Apakah hanya ucapan terima kasih telah berpartisipasi dalam pendaftaran relawan mereka atau ucapan maaf karena saya tidak lolos seleksi? Tetapi judul emailnya "Letter of Acceptance untuk INAVIS: EKSPEDISI BERBAKTI #1"
Saya membuka email tersebut, berikut adalah petikan beberapa kalimat dari email tersebut:
"Indonesia patut berbangga dengan pemuda-pemudi hebat yang hidup dan berkarya di rahimnya. Indonesia Aspiring Volunteering Society menyatakan bahwa Anda telah terpilih menjadi peserta Jalur Khusus program INAVIS EKSPEDISI BERBAKTI #1. Undangan khusus ini kami berikan atas kemampuan anda yang mengagumkan setelah melewati tahap seleksi. Anda dipilih setelah proses panjang berdasarkan kemampuan dan prestasi Anda, serta ketertarikan Anda dalam hal sosial."
Saya terpilih menjadi relawan Inavis? Iya, saya terpilih tetapi melalui jalur khusus atau self funded. Ada biaya yang harus saya bayarkan ke Inavis untuk menuju Raja Ampat, yang pastinya jauh lebih murah daripada saya harus pergi sendiri ke sana. Saya selalu berpikiran kesempatan tidak akan datang dua kali, meskipun ada, tidak akan pernah sama. Saya memutuskan untuk bergabung bersama Inavis mengabdi di Raja Ampat.
Ada dua hal yang menjadi pertimbangan saya, yaitu budget dan izin orang tua. Saya sengaja tidak langsung mengabarkan orang tua saya ketika mendapatkan email, saya menunggu waktu yang tepat untuk meminta izin. Saya hanya bercerita kepada kakak perempuan pertama saya (Okky) dan adik kelas saya (Ade) yang memang dia juga mendaftar di program ini tetapi tidak lolos. Ternyata juga, teman kosan mbak Okky dulu (mbak Yena) mendapatkan email yang sama seperti saya. Dia juga lolos melalui jalur khusus tetapi kesempatan ini tidak diambilnya dikarenakan tidak mendapatkan izin dari keluarganya.
Email masuk pada hari Sabtu, pada hari Minggu, keesokan harinya saya memberanikan diri untuk meminta izin kepada orang tua saya. Di luar dugaan, orang tua saya memberikan izin, terutama ayah saya yang sepertinya sangat mendukung sekali. Saya heran, ini izin ke Papua lho, yang jaraknya sangat sangat jauh dari rumah saya tetapi beliau mengizinkan. Sedangkan saya meminta izin untuk mendaki Gunung Dempo yang berada hanya 8 jam perjalanan mobil dari rumah saya saja tidak diizinkan. Bukannya tidak bersyukur tetapi hanya heran saja. Salah satu teman saya mengatakan bahwa yang dilakukan oleh ayah saya itu wajar saja, karena di gunung sejuta kemungkinan bisa terjadi.
Jadilah dalam beberapa bulan ini saya mengumpulkan uang untuk pergi ke Raja Ampat tanpa mengganggu tabungan saya untuk pergi ke Taman Nasional Way Kambas pada tanggal 20 Juni lalu. Tujuan saya ke sana tidak bisa diganggu gugat lagi. Alhamdulillah, uangnya sudah terkumpul untuk pergi ke Raja Ampat, plus uang jajan dan uang untuk jalan-jalan di Banyuwangi sepulang dari Raja Ampat pun sudah terkumpul.
Iya, sepulang dari Raja Ampat saya berencana untuk pergi ke Kawah Ijen dan Taman Nasional Alas Purwo yang berada di Banyuwangi. Awalnya sih saya menambahkan satu destinasi lagi yaitu Taman Nasional Baluran tetapi harinya tidak cukup. Saya menargetkan pulang ke Palembang pada hari Sabtu. Saya mau istirahat full pada hari Minggunya di rumah. Mungkin setiba saya di Palembang nanti, saya akan pergi ke Taman Wisata Alam Punti Kayu atau Pulau Kemarau saja.
Pada tanggal 28 Agustus, saya mendapatkan kabar dari salah satu delegasi Inavis bahwa pendakian ke Kawah Ijen rencananya akan ditutup selama bulan September. Wah, saya pikir rencana saya akan gagal ke sana. Opsi lainnya mungkin saya akan ke Taman Nasional Baluran saja, pikir saya. Saya langsung mengonfirmasi ke Amazing Banyuwangi Tours, agen tour yang saya percayakan untuk membawa saya ke Puncak Kawah Ijen nanti. Beliau pun mengiyakan berita tersebut, mereka pun baru dikabarkan pada tanggal 27 Agustus malam. Tetapi pihak mereka bilang jika ada perubahan nanti saya akan dikabarkan lagi. Pada tanggal 30 Agustus, saya mendapatkan kabar bahwa wacana penutupan pendakian Kawah Ijen resmi dibatalkan. Alhamdulillah, saya akan jadi pergi ke sana.
Balik lagi ke Inavis, setelah konfirmasi keikutsertaan ke pihak Inavis, saya diundang bergabung ke grup Whatsapp Program Ekspedisi Berbakti #1 Raja Ampat. Isinya tentu saja para peserta dan beberapa fasilitator dari Inavis. Di dalam grup ini ternyata ada juga peserta dari Palembang, yang lebih mengagetkannya lagi ternyata kami tinggal di satu daerah, yaitu Kabupaten Banyuasin. Namanya Ramadhoni, mahasiswa Fakultas Hukum Unsri. Dia tinggal di Pangkalan Balai, tempat saya bekerja. Dia juga kenal dengan beberapa rekan kerja saya. Alhamdulillah ada teman satu kampung, pikir saya. Tetapi pada tanggal 15 Juli lalu, Ramadhoni mengabari saya jika dia tidak jadi mengikuti program ini. Wah, sendiri lagi, pikir saya.
Pada awal bulan Agustus kami diberikan rundown kegiatan yang akan dibahas di dalam grup. Kami pun diberitahukan untuk mengonsumsi obat doxycycline, obat antibiotik untuk mencegah malaria. Mengingat Papua adalah daerah endemik malaria. Saya sendiri mengonsumsi obat tersebut dari tanggal 31 Agustus lalu. Sesuai instruksi, doxycycline harus dikonsumsi seminggu sebelum, seminggu selama dan seminggu setelah berada di Papua.
Hampir setiap malam kami berdiskusi tentang program-program yang akan kami jalankan nantinya di Raja Ampat, tepatnya di Desa Warsambin. Saya memilih Divisi Lingkungan di antara pilihan Divisi Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Kreatif. Tidak usah dijelaskan kenapa saya memilih Divisi Lingkungan ya, mungkin kalian cukup tahu dengan concern saya selama ini.
Sebenarnya saya sempat ragu juga untuk tetap melanjutkan perjalanan ini atau tidak. Dikarenakan H-7 saya masih ke rumah sakit untuk menemani ibu saya kontrol. Iya, ibu saya sedang sakit. Malah, H-9 ibu saya sempat dirawat di rumah sakit semalam. Setelah kontrol terakhir, ibu saya disuruh datang kembali ke rumah sakit pada tanggal 10 September nanti. Kontrol selanjutnya seminggu setelah saya berangkat, semoga semuanya baik-baik saja dan kembali normal. Kondisinya memang sudah agak membaik tetapi jangan sampai lepas kontrol.
Pengabdian saya di Desa Warsambin, Raja Ampat, akan dilaksanakan dari tanggal 4 sampai dengan 19 September 2018. Itulah alasannya kenapa kalian akan susah menghubungi saya pada rentang tanggal tersebut. Kami menuju Raja Ampat menggunakan kapal dan di Desa Warsambin pun katanya akan sangat susah signal. Listrik pun baru hidup jam 6 sore sampe jam 11 malam dan menggunakan generator bukan dari PLN. Kondisinya hampir sama dengan keadaan Kampung IV, Pagar Alam. Tidak banyak orang yang mengetahui saya akan pergi ke sana. Saya tidak terlalu mengumbarnya dikarenakan takut gagal pergi.
Saya memutuskan untuk mencari kerja terlebih dahulu sampai setidaknya saya mampu membiayai sebagian kebutuhan kehidupan saya dan mempunyai tabungan. Kadang, ketika tabungan sudah ada, saya malah sering tergoda menghabisinya untuk pergi jalan-jalan. Ya begitulah manusia, terlalu sering khilafnya.
Saya menghabiskan beberapa bulan pertama saya setelah tamat kuliah untuk mencari kerja. Selanjutnya tahun pertama dan kedua saya tamat kuliah, saya habiskan untuk kerja sampai dengan sekarang. Pada tahun 2018 ini, saya bisa lebih longgar mengikuti kegiatan-kegiatan yang saya sukai di luar jam kerja saya. Saya kerja pun di tempat yang tidak terlalu mengikat seperti perusahaan-perusahaan swasta ataupun BUMN.
Sekarang saya mempunyai banyak kesempatan untuk mewujudkan satu per satu mimpi saya. Selain menjadi relawan, saya pun bermimpi untuk mengelilingi Indonesia. Mimpi untuk mengelilingi Indonesia sepertinya ketinggian, tetapi tidak apa-apa. Saya memang senang bermimpi yang tinggi-tinggi, jadi jika ekspektasi saya jatuh maka jatuhnya pun tidak akan terlalu jauh dari target utama saya.
Saya pun sudah memikirkan hal tersebut, di umur saya yang sekarang sudah 24 tahun akan sangat susah untuk berkeliling. Selain mengingat kondisi orang tua yang semakin hari semakin tua dan tidak segagah nan sekuat dulu, saya pun memikirkan masa depan saya. Berapa tahun yang akan saya habiskan jika ingin mengelilingi Indonesia (Sabang-Merauke) dengan tipe low budget seperti saya ini? Setidaknya saya harus ke ujung-ujung sisi Indonesia, yaitu Sabang dan Merauke.
Kesempatan saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya tersebut datang dari Inavis. Inavis membuka pendaftaran untuk para relawan yang nantinya akan ditempatkan di Raja Ampat atau Entikong dalam beberapa hari. Kalau di kuliah seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) seperti itu. Tidak bisa ke Merauke, ke Raja Ampat pun jadi, begitu pikir saya. Saya mendaftarkan diri untuk menjadi salah satu calon relawan Inavis dengan lokasi pengabdian di Kabupaten Raja Ampat. Nama program Inavis tersebut adalah Ekspedisi Berbakti #1. Program ini hanya menerima relawan sebanyak 10 orang saja, tentunya melalui seleksi yang dilakukan oleh Tim Inavis.
Pada tanggal 19 Mei, pengumuman 25 besar calon relawan diumumkan di akun Instagram Inavis. Nama saya tidak ada. Belum rejeki, pikir saya. Lagian, ini adalah kali pertama saya mendaftarkan diri sebagai relawan. Saya berharap sekali bisa lolos meskipun tidak lolos juga tidak apa-apa, yang penting usaha dan doa tidak pernah putus, terutama doa. Pada tanggal 28 Mei, 10 nama relawan yang lolos diumumkan kembali di Instagram Inavis. Mereka fully funded by Inavis, kecuali kebutuhan pribadi dan ongkos mereka menuju meeting point.
Lima hari berlalu begitu saja setelah pengumuman tersebut. Hidup saya pun tetap berjalan seperti biasa. Pada tanggal 2 Juni, ketika saya sedang dalam perjalanan ke Palembang untuk mengikuti buka bersama teman-teman kerja saya. Selagi di dalam travel, ada email masuk di hape saya, dari Inavis. Saya pikir email apa yang masuk ini? Apakah hanya ucapan terima kasih telah berpartisipasi dalam pendaftaran relawan mereka atau ucapan maaf karena saya tidak lolos seleksi? Tetapi judul emailnya "Letter of Acceptance untuk INAVIS: EKSPEDISI BERBAKTI #1"
Saya membuka email tersebut, berikut adalah petikan beberapa kalimat dari email tersebut:
"Indonesia patut berbangga dengan pemuda-pemudi hebat yang hidup dan berkarya di rahimnya. Indonesia Aspiring Volunteering Society menyatakan bahwa Anda telah terpilih menjadi peserta Jalur Khusus program INAVIS EKSPEDISI BERBAKTI #1. Undangan khusus ini kami berikan atas kemampuan anda yang mengagumkan setelah melewati tahap seleksi. Anda dipilih setelah proses panjang berdasarkan kemampuan dan prestasi Anda, serta ketertarikan Anda dalam hal sosial."
Saya terpilih menjadi relawan Inavis? Iya, saya terpilih tetapi melalui jalur khusus atau self funded. Ada biaya yang harus saya bayarkan ke Inavis untuk menuju Raja Ampat, yang pastinya jauh lebih murah daripada saya harus pergi sendiri ke sana. Saya selalu berpikiran kesempatan tidak akan datang dua kali, meskipun ada, tidak akan pernah sama. Saya memutuskan untuk bergabung bersama Inavis mengabdi di Raja Ampat.
Ada dua hal yang menjadi pertimbangan saya, yaitu budget dan izin orang tua. Saya sengaja tidak langsung mengabarkan orang tua saya ketika mendapatkan email, saya menunggu waktu yang tepat untuk meminta izin. Saya hanya bercerita kepada kakak perempuan pertama saya (Okky) dan adik kelas saya (Ade) yang memang dia juga mendaftar di program ini tetapi tidak lolos. Ternyata juga, teman kosan mbak Okky dulu (mbak Yena) mendapatkan email yang sama seperti saya. Dia juga lolos melalui jalur khusus tetapi kesempatan ini tidak diambilnya dikarenakan tidak mendapatkan izin dari keluarganya.
Email masuk pada hari Sabtu, pada hari Minggu, keesokan harinya saya memberanikan diri untuk meminta izin kepada orang tua saya. Di luar dugaan, orang tua saya memberikan izin, terutama ayah saya yang sepertinya sangat mendukung sekali. Saya heran, ini izin ke Papua lho, yang jaraknya sangat sangat jauh dari rumah saya tetapi beliau mengizinkan. Sedangkan saya meminta izin untuk mendaki Gunung Dempo yang berada hanya 8 jam perjalanan mobil dari rumah saya saja tidak diizinkan. Bukannya tidak bersyukur tetapi hanya heran saja. Salah satu teman saya mengatakan bahwa yang dilakukan oleh ayah saya itu wajar saja, karena di gunung sejuta kemungkinan bisa terjadi.
Jadilah dalam beberapa bulan ini saya mengumpulkan uang untuk pergi ke Raja Ampat tanpa mengganggu tabungan saya untuk pergi ke Taman Nasional Way Kambas pada tanggal 20 Juni lalu. Tujuan saya ke sana tidak bisa diganggu gugat lagi. Alhamdulillah, uangnya sudah terkumpul untuk pergi ke Raja Ampat, plus uang jajan dan uang untuk jalan-jalan di Banyuwangi sepulang dari Raja Ampat pun sudah terkumpul.
Iya, sepulang dari Raja Ampat saya berencana untuk pergi ke Kawah Ijen dan Taman Nasional Alas Purwo yang berada di Banyuwangi. Awalnya sih saya menambahkan satu destinasi lagi yaitu Taman Nasional Baluran tetapi harinya tidak cukup. Saya menargetkan pulang ke Palembang pada hari Sabtu. Saya mau istirahat full pada hari Minggunya di rumah. Mungkin setiba saya di Palembang nanti, saya akan pergi ke Taman Wisata Alam Punti Kayu atau Pulau Kemarau saja.
Pada tanggal 28 Agustus, saya mendapatkan kabar dari salah satu delegasi Inavis bahwa pendakian ke Kawah Ijen rencananya akan ditutup selama bulan September. Wah, saya pikir rencana saya akan gagal ke sana. Opsi lainnya mungkin saya akan ke Taman Nasional Baluran saja, pikir saya. Saya langsung mengonfirmasi ke Amazing Banyuwangi Tours, agen tour yang saya percayakan untuk membawa saya ke Puncak Kawah Ijen nanti. Beliau pun mengiyakan berita tersebut, mereka pun baru dikabarkan pada tanggal 27 Agustus malam. Tetapi pihak mereka bilang jika ada perubahan nanti saya akan dikabarkan lagi. Pada tanggal 30 Agustus, saya mendapatkan kabar bahwa wacana penutupan pendakian Kawah Ijen resmi dibatalkan. Alhamdulillah, saya akan jadi pergi ke sana.
Balik lagi ke Inavis, setelah konfirmasi keikutsertaan ke pihak Inavis, saya diundang bergabung ke grup Whatsapp Program Ekspedisi Berbakti #1 Raja Ampat. Isinya tentu saja para peserta dan beberapa fasilitator dari Inavis. Di dalam grup ini ternyata ada juga peserta dari Palembang, yang lebih mengagetkannya lagi ternyata kami tinggal di satu daerah, yaitu Kabupaten Banyuasin. Namanya Ramadhoni, mahasiswa Fakultas Hukum Unsri. Dia tinggal di Pangkalan Balai, tempat saya bekerja. Dia juga kenal dengan beberapa rekan kerja saya. Alhamdulillah ada teman satu kampung, pikir saya. Tetapi pada tanggal 15 Juli lalu, Ramadhoni mengabari saya jika dia tidak jadi mengikuti program ini. Wah, sendiri lagi, pikir saya.
Pada awal bulan Agustus kami diberikan rundown kegiatan yang akan dibahas di dalam grup. Kami pun diberitahukan untuk mengonsumsi obat doxycycline, obat antibiotik untuk mencegah malaria. Mengingat Papua adalah daerah endemik malaria. Saya sendiri mengonsumsi obat tersebut dari tanggal 31 Agustus lalu. Sesuai instruksi, doxycycline harus dikonsumsi seminggu sebelum, seminggu selama dan seminggu setelah berada di Papua.
Hampir setiap malam kami berdiskusi tentang program-program yang akan kami jalankan nantinya di Raja Ampat, tepatnya di Desa Warsambin. Saya memilih Divisi Lingkungan di antara pilihan Divisi Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Kreatif. Tidak usah dijelaskan kenapa saya memilih Divisi Lingkungan ya, mungkin kalian cukup tahu dengan concern saya selama ini.
Sebenarnya saya sempat ragu juga untuk tetap melanjutkan perjalanan ini atau tidak. Dikarenakan H-7 saya masih ke rumah sakit untuk menemani ibu saya kontrol. Iya, ibu saya sedang sakit. Malah, H-9 ibu saya sempat dirawat di rumah sakit semalam. Setelah kontrol terakhir, ibu saya disuruh datang kembali ke rumah sakit pada tanggal 10 September nanti. Kontrol selanjutnya seminggu setelah saya berangkat, semoga semuanya baik-baik saja dan kembali normal. Kondisinya memang sudah agak membaik tetapi jangan sampai lepas kontrol.
Pengabdian saya di Desa Warsambin, Raja Ampat, akan dilaksanakan dari tanggal 4 sampai dengan 19 September 2018. Itulah alasannya kenapa kalian akan susah menghubungi saya pada rentang tanggal tersebut. Kami menuju Raja Ampat menggunakan kapal dan di Desa Warsambin pun katanya akan sangat susah signal. Listrik pun baru hidup jam 6 sore sampe jam 11 malam dan menggunakan generator bukan dari PLN. Kondisinya hampir sama dengan keadaan Kampung IV, Pagar Alam. Tidak banyak orang yang mengetahui saya akan pergi ke sana. Saya tidak terlalu mengumbarnya dikarenakan takut gagal pergi.

Yuhuuu.. Selamat mengabdi kawan, semoga bisa mengaplikasikan ilmu sosiologi kita disana yak
ReplyDeleteHehe.. Yups, terima kasih. Sayangnya, kemarin ngerasa kurang maksimal nerapin ilmu sosiologi di sana.
Delete