Sudah berapa kali setelah wisuda saya melamar kerja kesana-sini, tak terhitung, sampai akhirnya saya kerja sebagai pegawai honorer pada bulan September 2016 di suatu tempat di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Pencarian kerja tidak berhenti sampai di sana saja, saya tetap mencoba melamar kerja, saya masih mencari yang terbaik. Pada tahun 2017, pemerintah membuka lowongan CPNS dengan dua gelombang. Setelah gagal dalam seleksi CPNS Gelombang I, saya mencoba peruntungan kembali dengan mengikuti CPNS Gelombang II. Pada seleksi CPNS Gelombang I, saya memilih Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Wilayah Palembang sebagai penjaga tahanan. Pada Gelombang II ini saya memilih Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Wilayah Pekanbaru. Saya akan menceritakan pengalaman saya pada gelombang II ini karena ini merupakan kali pertama saya mengikuti tes kerja di luar Pulau Sumatera.
CPNS Gelombang II Tahun 2017 dibuka serentak pada 26 Kementerian/Lembaga di Indonesia. Setelah memilih-milih kementerian/lembaga mana yang sesuai dengan kualifikasi saya, akhirnya saya memilih Badan Nasional Penempatan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Wilayah Pekanbaru dengan pertimbangan dugaan saya yang mengira pesaingnya akan sedikit. Konyol sekali, jelas banyak dong, se-Indonesia juga pasti mikirnya seperti saya tadi. Setelah pengumuman kelulusan administrasi dikeluarkan, grup angkatan kuliah saya mulai ramai dengan mencari tahu siapa-siapa saja yang berhak mengikuti Tes Kompetensi Dasar (TKD) Computer Assisted Test (CAT) karena ingin mencari teman barengan untuk berangkat ke lokasi tes. CPNS Gelombang II ini dibuka untuk kementerian/lembaga jadi tesnya terpusat di Jakarta (kebanyakan).
Hesti, teman kuliah saya muncul di grup dengan menanyakan siapa saja yang lulus administrasi BNP2TKI. Saya membalas obrolan Hesti tersebut dan Indri juga mengirim pesan ke saya menanyakan hal yang sama seperti Hesti. Saya mengiyakan kalau saya lulus administrasi BNP2TKI ini dan ternyata kedua teman saya ini pun lulus. Kami membuat grup yang bernama JEKARDAH di whatsapp dengan empat anggota, saya, Hesti, Indri dan kak Yudi (kakak tingkat kami dulu meskipun beda jurusan). Di sanalah kami membicarakan rencana untuk berangkat ke Jakarta dan itu kira-kira sekitar 2 minggu sebelum tes. Kami mendapatkan tanggal tes yang sama yaitu tanggal 26 Oktober 2017 meskipun beda jam dan ruangan. Kami merencanakan berangkat ke Jakarta pada tanggal 25 Oktober 2017 dengan menggunakan pesawat yang kurang lebih berangkat pada pukul 11.00 WIB. Awalnya Hesti mengajak berangkat pada tanggal 24 Oktober 2017 dengan alasan satu hari untuk istirahat dan mengecek lokasi tes. Tetapi saya dan Indri memikirkan jangan terlalu lama tinggal di Jakarta, mengingat biaya hidup yang harus kami keluarkan nanti. Maka dari itu kami mengusulkan berangkat tanggal 25 Oktober 2017 dengan pesawat jam 11.00 pagi, perjalanan Palembang-Jakarta hanya 1 jam jadi sesampai di Jakarta kami bisa langsung mengecek lokasi tes karena check in penginapan pun jam 2 siang. Semua tiket pesawat kami dan penginapan sudah dipesan dari jauh-jauh hari melalui aplikasi Traveloka, kami hanya memesan tiket pesawat pergi saja. Karena kami pikir jika pengumumannya keluar dalam waktu 3-5 hari, lebih baik kami stay lebih lama di Jakarta.
Pada hari H, kami berjanji langsung ketemuan di bandara jam 10 pagi. Ternyata saya duluan yang datang, beberapa menit kemudian datanglah kak Yudi yang diantar temannya. Saya awalnya lupa-lupa ingat dengan wajah kakak tingkat saya satu ini tetapi setelah bertemu, ternyata kakak ini yang pernah meng-OSPEK kami waktu menjadi mahasiswa baru (maba) dulu. Kemudian datanglah Hesti bersama ayahnya, lalu tak lama kemudian datanglah Indri. Beda dengan kami yang hanya membawa ransel (sebenarnya sih saya bawa carrier ukuran 60 liter), Hesti membawa satu koper kecil dan tas jinjing. Wah, niat sekali pikir saya 😁 Setelah pamit dengan ayah Hesti kami masuk ke bandara. Sebelum masuk, ayahnya Hesti meminta nomor hape saya untuk jaga-jaga kalau si Hesti ini sulit untuk dihubungi karena memang dari jaman kuliah dulu saya sudah pernah ketemu dengan ayahnya Hesti. Jadi, di antara kami yang berangkat ini, saya yang lebih dipercaya oleh ayahnya Hesti 😃
Sewaktu di bandara Palembang kami juga sempat bertemu dengan kakak-kakak tingkat kami yaitu kak Farid dan kak Tomy. Ternyata mereka juga mengikuti tes BNP2TKI di hari yang sama dengan kami. Kami mendapatkan lokasi tes di Kantor BKN Jakarta Timur jadi kami memesan pesawat yang turun di bandara Halim Perdana Kusuma yang memang lebih dekat dengan lokasi tes dan penginapan kami dibandingkan dengan bandara Soekarno Hatta. Sesampai di bandara Halim, sambil menunggu koper Hesti keluar dari bagasi kami merencanakan untuk menitip barang di penginapan terlebih dahulu baru mengecek lokasi tes, mengingat barang bawaan kami yang terlalu menonjol (alias banyak), apalagi Hesti bawa koper. Hesti dan kak Yudi berdiri sambil menunggu koper Hesti dari bagasi, saya dan Indri duduk di kursi sambil main hape. Pada waktu itu saya sedang membaca Line Today, saya membaca artikel kabar dari pemain-pemain film Boboho dulu. Saya sempat menunjukkan wajah tampan temannya Boboho ke Indri dan asyik bermain hape kembali. Tiba-tiba Indri mengajak saya bicara, yang jelas memakai bahasa Palembang tetapi akan saya terjemahkan ke bahasa Indonesia. Kira-kira percakapan kami seperti ini:
Indri: "Mel, ada artis."
Saya beralih dari hape saya ke arah pandangan Indri sambil mencari-cari artis siapa yang dimaksud oleh Indri ini.
Saya: "Mana Ndro?" Saya biasa memanggil Indri dengan panggilan Indro mungkin biar kelihatan orang Palembangnya.
Indri: "Itu nah." sambil menunjuk sang artis. Saya pun melihat ke arah tangan Indri.
Indri: "Siapa sih namanya? Dia tu pemain bola Mel."
Saya: "hmmm... Aku tau siapa dia Ndro, kayaknya aku pernah liat, tapi lupa juga namanya. Yakin dia pemain bola?"
Indri: "Yakin Mel, pemain bola dia tu."
Saya: "Irfan Bachdim bukan sih Ndro? Eh, bener gak sih Irfan Bachdim?"
Indri: "Nah iya, mungkinlah Irfan Bachdim."
Saya masih belum yakin kalau itu Irfan Bachdim karena saya ingat wajah Irfan Bachdim bukan seperti wajah artis ini. Lalu saya teringat kembali artikel yang saya baca tadi.
Saya: "Bukan Ndro, itu bukan Irfan Bachdim. Itu artis Cina bukan sih Ndro? Temannya Boboho itu Ndro, yang tadi aku liatin. Mirip gak sih?"
Indri: "Nah, mungkinlah Mel. Mukanya Chinnese gitu, mungkinlah artis Cina."
Lalu datanglah Hesti dan Kak Yudi yang telah selesai mengambil koper Hesti. Saya dan Indri belum beranjak dari tempat kami duduk dan mengajak mereka melihat artis tersebut.
Saya: "Hes, ada artis. Itu nah (sambil menunjuk ke arah artis). Tapi kami lupa namanya siapa, kata Indri pemain bola tapi kok menurut aku dia artis Cina."
Hesti: "Yang mana?" sambil celingak celinguk dan ternyata si artis tadi masuk ke toilet. Jadi kami memutuskan untuk keluar bandara sambil mempermasalahkan siapa artis tadi. Di luar bandara, obrolan kami teralihkan dengan mencari taksi yang sudah kami pesan. Kami masih menunggu taksi tersebut datang menghampiri kami dan tiba-tiba si artis tadi berdiri di sebelah kiri kami dengan jarak kurang lebih 3 meter. Saya melihat hal ini, kembali menanyakan kepada teman-teman saya siapa nama artis tersebut.
Saya: "Itu nah artis tadi. Siapalah namanya? Artis Cina bukan sih?"
Kak Yudi: "Yang itu? (sambil menunjuk sang artis)"
Saya: "Iya kak, kata Indri pemain bola tapi kayaknya bukan."
Kak Yudi: "Jelaslah bukan, pembalap itu dek. Pembalap F1."
Pembalap F1? Tak lain dan tak bukan ternyata dia Rio Haryanto. Astagfirullah, dari pemain bola sampai artis Cina ternyata dia pembalap F1 😂 Sebenarnya kami tahu semua dengan Rio Haryanto tetapi mungkin karena masih dalam pengaruh jet lag jadi otak kami agak sedikit lambat sadarnya. Ini seriusan, Rio Haryanto memang ganteng banget sama kayak di tipi-tipi dan majalah. Apalagi Rio Haryanto ini sepertinya orang yang ramah sekali, dari dalam bandara sampai luar bandara dia selalu tersenyum. Padahal sepertinya ada masalah sedikit dengan penjemputan dia di bandara.
Kami menginap di Wisma PLK II, di Jalan PLK II Kelurahan Makasar, Jakarta Timur. Ternyata kami sudah bisa langsung check in tanpa harus menunggu jam 2 siang, kami mengecek kamar kami. Agak sedikit berbeda dari foto yang diupload di aplikasi tapi ya lumayan. Ada kipas angin, kasur lipat, lemari, kamar mandi di dalam, dan kamar ini dekat dengan kamar-kamar lain yang sedang direnovasi. Kami tanya, kira-kira ada kamar lain tidak yang setipe dengan kami pesan ini. Sang penjaga bilang tidak ada lagi, ada satu yang kosong tetapi pakai AC, ada televisi, free wifi dan kasurnya gede bukan kasur lipat. Kami tanya selisih harganya, ternyata tidak terlalu mahal kalau tidak salah 200ribu/malam dan kami orang tiga. Lumayan murahlah, tetapi kami harus menunggu orang check out dulu jam 2 siang nanti, yasudahlah, tidak apa-apa. Toh, kami juga mau keluar dulu untuk mengecek lokasi tes. Segala barang bawaan kami diletakkan terlebih dahulu di kamar pertama yang kami lihat tadi dan kami keluar dari penginapan tersebut untuk mencari makan siang terlebih dahulu sebelum menuju lokasi tes.
Setelah sampai di lokasi tes dengan menggunakan go-car, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari penginapan kami dan juga tidak terlalu macet. Kami menemui teman kak Yudi yang memang bekerja di Kantor BKN Jakarta Timur tersebut dan kosan kakak itulah yang menjadi tempat tinggal kak Yudi selama di Jakarta nanti. Kami menanyakan di mana lokasi tesnya dan bercerita-cerita sambil menghabiskan waktu, selagi kami bercerita, ternyata si Indri salah membawa foto dan terpaksa harus mencetak foto terlebih dahulu. Setelah bertanya dengan teman kak Yudi tempat cetak foto terdekat, kami (saya dan Indri) langsung meluncur ke Pusat Grosir Cililitan dengan berjalan kaki. Di mall kecil gini aja kami sempat bingung untuk keluar, kami sampai ke basement untuk mencari pintu keluar 😂 Bukannya apa sih, tetapi di mall ini pintu keluarnya terhalang sama orang-orang yang buka stand jadi tidak kelihatan oleh mata kami (ngeles). Setelah cetak foto, kami naik angkot menuju BKN karena capek juga kalau mau jalan kaki lagi. Kami asal-asal saja naik angkot padahal tidak tahu angkot ini jurusannya kemana karena waktu kami berjalan tadi melihat angkot ini melewati kantor BKN. Setelah berhenti di Kantor BKN, kami buru-buru menemui Hesti, kak Yudi dan temannya kak Yudi untuk segera balik ke penginapan karena saya dan Indri sudah lumayan capek jalan tadi dan muter-muter di mall. Kami pamit dengan kak Yudi dan temannya menuju penginapan menggunakan go-car lagi. FYI, di kantor BKN Jakarta Timur ini susah signal, kami hampir ribut dengan driver go-car karena hape kami yang tiba-tiba hilang signal.
Tanggal 26 Oktober 2017, Hesti dan Indri tes pada pukul 10.00 WIB, kak Yudi pukul 14.00 dan saya pukul 16.00 WIB. Hesti dan Indri pergi sekitar pukul 09.00 WIB dengan menggunakan jasa go-ride, Indri yang memang tidak menginstal aplikasi go-jek menggunakan hape saya untuk memesan. Saat mereka pergi, saya masih berleha-leha di penginapan sambil belajar sedikit dan menonton tv. Sampai tiba pukul 12.00 WIB, Hesti dan Indri akhirnya pulang ke penginapan. Mereka berdua tidak ada yang lulus passing grade TKD CAT CPNS ini. Hesti ingin membuang bad mood-nya dengan jalan-jalan, mumpung di Jakarta juga pikirnya. Indri yang antara mau tidak mau akhirnya ikut menemani Hesti untuk jalan-jalan, apalagi mereka akan ditemani oleh teman-teman kuliah kami dulu yang memang kerja di Jakarta. Mereka berencana pergi ke Kota Tua, ingin sekali rasanya ikut mereka pergi, apalagi ke Kota Tua. Tetapi saya harus tes, ingat tujuan pertama saya ke Jakarta adalah untuk tes bukan jalan-jalan. Jalan-jalan itu bonusnya jika saya sudah selesai tes. Berangkatlah mereka berdua ke Kota Tua dengan menggunakan jasa go-car terlebih dahulu sebelum melanjutkannya dengan naik KRL di Stasiun Duren Kalibata.
Setelah shalat ashar, saya sudah siap menuju lokasi tes dengan menggunakan jasa go-ride. Sampai di lokasi tes sekitar pukul 15.30 WIB, ternyata kami belum diperbolehkan masuk ke ruangan. Kami disuruh menunggu terlebih dahulu di bawah tenda. Di bawah tenda ini saya melihat sekitar ada 2 orang dari Papua yang juga mengikuti tes di Jakarta ini, saya pikir besar sekali modal mereka untuk menjadi PNS, belum tentu juga mereka lulus passing grade tetapi setidaknya mereka sudah usaha, mana tahu rejeki. Salut juga buat mereka. Sampai pada akhirnya kami diberikan aba-aba untuk memasuki ruangan tes dengan terlebih dahulu menitipkan tas di tempat yang telah disediakan oleh pihak BKN. Banyak sekali tas-tas peserta ini, kami diberi stiker nomor untuk mengambil tas kami nanti. Saya lupa ruangan tesnya lantai berapa tetapi sebelum memasuki ruangan tes kami dipersilahkan menunggu terlebih dahulu di suatu ruangan, sambil memberi kesempatan bagi peserta-peserta yang belum sempat shalat. Ternyata di sesi saya cuma ada dua ruangan yang dipakai untuk tes.
Akhirnya tes dimulai pukul 16.00 WIB tepat. Seperti dugaan saya, Tes Intelegensia Umum (TIU) yang membuat saya sedikit kewalahan dan agak panik ditambah lagi saya kebelet buang air kecil pada saat itu. Saya kebanyakan minum pada saat di bawah tenda tadi karena memang panas dan sedikit nervous. Mengerjakan soal pun sudah tidak terlalu fokus lagi, tetapi untung saja saya bisa menahan rasa kebelet tadi sampai ujung-ujung saya hampir selesai menyelesaikan soal-soal. Saya baca kembali soal-soal yang belum saya isi dan mengisinya dengan bismillah saja. Lalu saya mengangkat tangan kanan saya sambil melihat ke arah pengawas, saya meminta izin untuk ke toilet karena tidak lucu kalau saya sampai buang air kecil di ruangan itu. Pasti saya akan diingat oleh peserta lain seumur hidup mereka. Saya diingatkan oleh pengawas kalau waktunya tinggal sedikit lagi jadi jangan terlalu lama, saya mengiyakan lalu berlari menuju toilet. Lega sekali. Saya balik lagi ke ruangan dan kami diingatkan kembali untuk mengecek semua soal yang kami kerjakan. Kami diperbolehkan untuk menyelesaikan ujian tersebut dan dianjurkan untuk mencatat skor kami di belakang kertas ujian. Saya sudah selesai mengerjakan semua soal dan saya mengklik selesai. Nilai saya langsung keluar di layar komputer. Alhamdulillah, saya lulus passing grade dengan total nilai 317, dengan perincian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 80, Tes Intelegensia Umum (TIU) 85 dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) 152. Nilai saya kecil, minimal saya harus mencapai skor 350 ke atas jika ingin masuk dalam posisi aman tetapi yasudahlah, tidak bisa diulang lagi.
Saya keluar ruangan tes dengan peserta-peserta lain sambil saling menanyakan hasil nilai kami, ada yang lulus di atas skor saya, ada juga yang lulus di bawah skor saya. Berdoa sajalah, kalau rejeki tidak akan kemana. Antrian mengambil tas sangat ramai dan mulai tidak teratur, saya menunggu agak sepi sampai akhirnya saya melihat para peserta mengambil tasnya sendiri tanpa diambilkan oleh petugas. Saya pun melakukan hal yang sama dan buru-buru mengecek hape. Ternyata waktu sudah hampir maghrib, saya buru-buru memesan go-ride untuk pulang ke penginapan. Sesampai di pengingapan, ternyata Indri dan Hesti belum pulang ke penginapan, saya mengecek hape dan menanyakan posisi mereka di grup. Mereka balik menanyakan apakah saya lulus passing grade atau tidak. Saya jawab lulus, cepetan balik, bawain makanan, laper. Ternyata mereka pulang sekitar jam 7-an malam kalau tidak salah dan tidak membawa makanan apa-apa sedangkan saya kelaparan. Jadi, saya dan Indri memutuskan untuk keluar penginapan mencari makan. Hesti tidak ikut karena katanya dia masih kenyang. Saya dan Indri berburu sate sampe ke pinggir jalan raya dan tidak menemukan orang yang jualan sate madura, adanya sate padang. Jadilah kami makan bakso malang di depan sebuah apotek, tetapi kenapa ya ini semua makanan pakai nama daerah-daerah di Indonesia? Selama perjalanan mencari makan saya dan Indri merencanakan kapan ingin pulang ke Palembang. Saya inginnya sih pulang hari Sabtu karena saya ingin pergi ke Kampung Cina.
Di penginapan, kami mendiskusikan kembali kapan akan pulang. Saya ajukan ide saya tersebut untuk pulang hari Sabtu, Jumatnya kita jalan dari pagi sampai sore. Mereka setuju tetapi waktu mengecek tiket pesawat ternyata mahal, week end coy, apalagi harus menambah penginapan semalam. Indri dan saya mulai ragu, tidak dengan Hesti. Karena Hesti punya destinasi lain, dia sudah merencanakan pergi ke Bogor tempat tantenya dan setelah itu ke Bandung sedangkan kak Yudi akan pulang bersama temannya. Jadi hanya saya dan Indri yang pulang ke Palembang. Indri bilang ke saya, bagaimana kalau pulangnya hari Jumat sore saja jadi pagi sampai siangnya kita jalan dan cari tempat yang dekat-dekat saja. Saya setuju, dan Indri juga ingin menemui sepupunya di stasiun Juanda. Saya mengajukan untuk ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ke Indri karena memang cuma lokasi itu yang dekat, Indri pun setuju meskipun Indri pernah ke TMII tetapi itu waktu dia masih kecil. Setelah shubuh, kami tidak tidur kembali. Kami masih bercerita-cerita tentang rencana kami masing-masing, saya dan Indri ke TMII, TMII buka jam 8 pagi jadi dari pagi kami harus sudah ada di sana sedangkan Hesti ingin belanja terlebih dahulu ke Tanah Abang baru meluncur ke Bogor. Paginya sebelum berpisah kami menyempatkan untuk sarapan bersama terlebih dahulu.
Jam 8 pagi, saya dan Indri menuju TMII menggunakan jasa go-car. Saya membawa carrier 60 liter dan Indri membawa ransel serta tote bag. Menonjol sekali bawaan kami 😁 Sesampai di TMII, kami sempat bingung mau kemana dulu dan duduk-duduk di pos penjaga. Tiba-tiba lewatlah mobil (atau lebih tepatnya kereta) pengunjung, ada mbak-mbak yang teriak cukup 10ribu saja sudah bisa keliling TMII dengan 2 kali berhenti. Boleh juga dicoba, pikir kami, naiklah kami di mobil (?) tersebut. Kami melewati rumah-rumah adat di Indonesia, dimulai dari bagian Sumatera, sangat ramai, lagian kami dari Sumatera jadi kami tidak terlalu tertarik meskipun rumah adat Sumatera Barat sangat menggoda untuk dikunjungi. Kelilinglah kami dan rumah-rumah adat ini hampir habis, buru-buru kami berhenti di museum transportasi. Turunlah kami di sana. Sebelum memasuki museum transportasi, kami berinisiatif untuk menitipkan tas kami di pos satpam pintu masuk karena memang merasa tidak bebas untuk bergerak dengan membawa tas yang cukup berat itu.
Setelah dari museum transportasi, dengan tas yang tetap dititipkan di sana, kami menyeberang ke rumah adat Sulawesi Selatan dan Papua. Seperti biasa, foto-foto lagi 😄
Sebenarnya di TMII saya ingin ke Viharanya tetapi kesempatan turun kami dari kereta telah dipakai semua dan kami juga sudah kelelahan. Kami turun dari mobil tadi ke titik awal kami naik, kami beristirahat dulu di bawah pohon dekat lapangan utama. Jam sudah menunjukkan hampir jam 12 siang, kami buru-buru keluar TMII dan memesan go-car menuju Stasiun Duren Kalibata untuk naik KRL ke Stasiun Juanda untuk bertemu dengan sepupunya Indri. Di perjalanan kami mengecek tarif go-car dari Stasiun Juanda menuju Bandara Soekarno Hatta, tarifnya cuma 60ribu-an, kami memutuskan untuk naik go-car saja nanti. Setelah sampai di Stasiun Juanda, kami langsung mencari tempat makan sambil menunggu sepupunya Indri ini datang. Tidak lama kemudian, datanglah sepupu Indri dan kami ngobrol-ngobrol sampai jam 2 siang. Betapa terkejutnya kami saat mengecek tarif go-car yang tadinya cuma 60ribu-an menjadi 100ribu-an lebih. Wah, tidak bisa seperti ini pikir saya dan Indri, uang kami juga sudah menipis. Lalu kami mengecek tarif go-car dari stasiun terakhir (Stasiun Kota) menuju bandara ternyata cuma 60ribu-an. Kami memutuskan untuk menaiki KRL kembali menuju Stasiun Kota dan kemudian menuju bandara.
Pesawat kami berangkat jam 5 kurang sedikit jadi sesampai di bandara kami masih sempat beristirahat. Saya meminta Indri untuk menemani saya belanja titipan dulu di bandara, kakak saya Ades menitip Beard Papa's, secara di Palembang tidak ada jualannya. Saya kaget sekali ternyata harga satu rotinya 25ribu, mampuslah, uang tinggal berapa, mana masih mau beli Talas Bogor juga. Jadilah saya cuma beli 4 roti Beard Papa's dan 2 kotak Talas Bogor, sedangkan Indri tidak beli apa-apa. Kembalilah kami duduk di ruang tunggu sambil Indri meng-charge hapenya. Tidak lama kemudian Indri menghampiri saya, dia bertanya apakah saya mau makan lagi, ternyata dia sudah kelaparan lagi dan ingin makan yang pedas-pedas. Saya berkata tidak, karena uang saya sudah krisis, saya hanya menitip air mineral saja ke Indri. Berkelanalah Indri mencari makanan dan dia menghampiri saya kembali dengan membawa air mineral untuk saya dan sebungkus cireng sambil berkata "pedes ini Mel, pasti enak. Mau?" Saya menolak lagi karena saya tahu Indri lagi kelaparan 😀 Menjauhlah Indri dari saya untuk mengecek hapenya yang sedang di-charge.
Tak lama kemudian, Indri datang kembali dan duduk di sebelah saya sambil membawa sebungkus cireng tadi dan hapenya.
Indri: "Mel, tau gak?"
Saya: "Apa Ndro?"
Indri: "Cireng ini gak bisa dimakan, nyesel aku belinya."
Saya: "Lho kok gak bisa dimakan? Memangnya kenapa?"
Indri: "Ini harus digoreng dulu Mel." (sambil menunjukkan bungkus cireng tadi)
Saya ngakak, ketawa sejadi-jadinya ngelihat bungkus cireng Indri, cirengnya masih warna putih berselimutkan sagu 😅😅 Sebenarnya kasian juga sih ngelihat Indri, mukanya itu kayak orang kelaparan bener.
Indri: "Coba tadi aku beli samyang aja, itu juga pedes, gak harus digoreng dulu cuma kasih air panas aja, air panasnya juga sudah dari sana."
Saya: "Yaudah sih Ndro, beli samyang lagi sono atau minta tolong gorengin cirengnya di sana, kalo gak, minta tolong direbus juga jadilah Ndro, yang penting bisa dimakan 😂"
Indri: "Gila lu Mel atau aku makan aja ni cireng kayak gini ya" (ngambil cireng dengan satu cubitan kecil lalu dimakannya)
Saya tidak berhenti ketawa sedari tadi melihat tingkah Indri ini. Super sekali makhluk satu ini, ya Tuhan!
Indri: "Gak ada rasa Mel."
Saya: "Ya jelaslah, kebanyakan sagu itu mah."
Tak terasa akhirnya pesawat kami akan berangkat juga. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam lebih karena pesawat kami sempat keliling di atas Bandara Sultan Mahmud Badaruddin sebelum landing. Sesampai di bandara Palembang, saya dijemput oleh bang Dio dan Indri terpaksa harus naik taksi bandara yang mahal sekali. Saya tawarkan untuk bonceng tiga dengan saya tetapi dia menolak. Setelah mengantarkan Indri naik taksi, sebelum menuju kosan kakak saya (Ades), kami mencari warung pecel lele dulu untuk makan karena saya kelaparan.
Setelah dua minggu berlalu, pengumuman pun keluar nama saya lulus passing grade tetapi tidak masuk dalam nominasi perangkingan dua kali lipat sesuai aturan TKD CAT CPNS ini, sama seperti tes CPNS Kemenkumham sebelumnya yang saya ikuti. Belum rejeki, mungkin tahun ini saya akan lulus dan menjadi PNS. Aamiin aamiin ya rabbal alamin. Tetapi saya kembali lagi ke Jakarta setelah pengumuman tahap kedua ini dengan misi ke Kota Tua dan ketemu Orang Utan.
Hesti, teman kuliah saya muncul di grup dengan menanyakan siapa saja yang lulus administrasi BNP2TKI. Saya membalas obrolan Hesti tersebut dan Indri juga mengirim pesan ke saya menanyakan hal yang sama seperti Hesti. Saya mengiyakan kalau saya lulus administrasi BNP2TKI ini dan ternyata kedua teman saya ini pun lulus. Kami membuat grup yang bernama JEKARDAH di whatsapp dengan empat anggota, saya, Hesti, Indri dan kak Yudi (kakak tingkat kami dulu meskipun beda jurusan). Di sanalah kami membicarakan rencana untuk berangkat ke Jakarta dan itu kira-kira sekitar 2 minggu sebelum tes. Kami mendapatkan tanggal tes yang sama yaitu tanggal 26 Oktober 2017 meskipun beda jam dan ruangan. Kami merencanakan berangkat ke Jakarta pada tanggal 25 Oktober 2017 dengan menggunakan pesawat yang kurang lebih berangkat pada pukul 11.00 WIB. Awalnya Hesti mengajak berangkat pada tanggal 24 Oktober 2017 dengan alasan satu hari untuk istirahat dan mengecek lokasi tes. Tetapi saya dan Indri memikirkan jangan terlalu lama tinggal di Jakarta, mengingat biaya hidup yang harus kami keluarkan nanti. Maka dari itu kami mengusulkan berangkat tanggal 25 Oktober 2017 dengan pesawat jam 11.00 pagi, perjalanan Palembang-Jakarta hanya 1 jam jadi sesampai di Jakarta kami bisa langsung mengecek lokasi tes karena check in penginapan pun jam 2 siang. Semua tiket pesawat kami dan penginapan sudah dipesan dari jauh-jauh hari melalui aplikasi Traveloka, kami hanya memesan tiket pesawat pergi saja. Karena kami pikir jika pengumumannya keluar dalam waktu 3-5 hari, lebih baik kami stay lebih lama di Jakarta.
Pada hari H, kami berjanji langsung ketemuan di bandara jam 10 pagi. Ternyata saya duluan yang datang, beberapa menit kemudian datanglah kak Yudi yang diantar temannya. Saya awalnya lupa-lupa ingat dengan wajah kakak tingkat saya satu ini tetapi setelah bertemu, ternyata kakak ini yang pernah meng-OSPEK kami waktu menjadi mahasiswa baru (maba) dulu. Kemudian datanglah Hesti bersama ayahnya, lalu tak lama kemudian datanglah Indri. Beda dengan kami yang hanya membawa ransel (sebenarnya sih saya bawa carrier ukuran 60 liter), Hesti membawa satu koper kecil dan tas jinjing. Wah, niat sekali pikir saya 😁 Setelah pamit dengan ayah Hesti kami masuk ke bandara. Sebelum masuk, ayahnya Hesti meminta nomor hape saya untuk jaga-jaga kalau si Hesti ini sulit untuk dihubungi karena memang dari jaman kuliah dulu saya sudah pernah ketemu dengan ayahnya Hesti. Jadi, di antara kami yang berangkat ini, saya yang lebih dipercaya oleh ayahnya Hesti 😃
![]() |
| Saya, Hesti dan Indri, minus kak Yudi |
Indri: "Mel, ada artis."
Saya beralih dari hape saya ke arah pandangan Indri sambil mencari-cari artis siapa yang dimaksud oleh Indri ini.
Saya: "Mana Ndro?" Saya biasa memanggil Indri dengan panggilan Indro mungkin biar kelihatan orang Palembangnya.
Indri: "Itu nah." sambil menunjuk sang artis. Saya pun melihat ke arah tangan Indri.
Indri: "Siapa sih namanya? Dia tu pemain bola Mel."
Saya: "hmmm... Aku tau siapa dia Ndro, kayaknya aku pernah liat, tapi lupa juga namanya. Yakin dia pemain bola?"
Indri: "Yakin Mel, pemain bola dia tu."
Saya: "Irfan Bachdim bukan sih Ndro? Eh, bener gak sih Irfan Bachdim?"
Indri: "Nah iya, mungkinlah Irfan Bachdim."
Saya masih belum yakin kalau itu Irfan Bachdim karena saya ingat wajah Irfan Bachdim bukan seperti wajah artis ini. Lalu saya teringat kembali artikel yang saya baca tadi.
Saya: "Bukan Ndro, itu bukan Irfan Bachdim. Itu artis Cina bukan sih Ndro? Temannya Boboho itu Ndro, yang tadi aku liatin. Mirip gak sih?"
Indri: "Nah, mungkinlah Mel. Mukanya Chinnese gitu, mungkinlah artis Cina."
Lalu datanglah Hesti dan Kak Yudi yang telah selesai mengambil koper Hesti. Saya dan Indri belum beranjak dari tempat kami duduk dan mengajak mereka melihat artis tersebut.
Saya: "Hes, ada artis. Itu nah (sambil menunjuk ke arah artis). Tapi kami lupa namanya siapa, kata Indri pemain bola tapi kok menurut aku dia artis Cina."
Hesti: "Yang mana?" sambil celingak celinguk dan ternyata si artis tadi masuk ke toilet. Jadi kami memutuskan untuk keluar bandara sambil mempermasalahkan siapa artis tadi. Di luar bandara, obrolan kami teralihkan dengan mencari taksi yang sudah kami pesan. Kami masih menunggu taksi tersebut datang menghampiri kami dan tiba-tiba si artis tadi berdiri di sebelah kiri kami dengan jarak kurang lebih 3 meter. Saya melihat hal ini, kembali menanyakan kepada teman-teman saya siapa nama artis tersebut.
Saya: "Itu nah artis tadi. Siapalah namanya? Artis Cina bukan sih?"
Kak Yudi: "Yang itu? (sambil menunjuk sang artis)"
Saya: "Iya kak, kata Indri pemain bola tapi kayaknya bukan."
Kak Yudi: "Jelaslah bukan, pembalap itu dek. Pembalap F1."
Pembalap F1? Tak lain dan tak bukan ternyata dia Rio Haryanto. Astagfirullah, dari pemain bola sampai artis Cina ternyata dia pembalap F1 😂 Sebenarnya kami tahu semua dengan Rio Haryanto tetapi mungkin karena masih dalam pengaruh jet lag jadi otak kami agak sedikit lambat sadarnya. Ini seriusan, Rio Haryanto memang ganteng banget sama kayak di tipi-tipi dan majalah. Apalagi Rio Haryanto ini sepertinya orang yang ramah sekali, dari dalam bandara sampai luar bandara dia selalu tersenyum. Padahal sepertinya ada masalah sedikit dengan penjemputan dia di bandara.
Kami menginap di Wisma PLK II, di Jalan PLK II Kelurahan Makasar, Jakarta Timur. Ternyata kami sudah bisa langsung check in tanpa harus menunggu jam 2 siang, kami mengecek kamar kami. Agak sedikit berbeda dari foto yang diupload di aplikasi tapi ya lumayan. Ada kipas angin, kasur lipat, lemari, kamar mandi di dalam, dan kamar ini dekat dengan kamar-kamar lain yang sedang direnovasi. Kami tanya, kira-kira ada kamar lain tidak yang setipe dengan kami pesan ini. Sang penjaga bilang tidak ada lagi, ada satu yang kosong tetapi pakai AC, ada televisi, free wifi dan kasurnya gede bukan kasur lipat. Kami tanya selisih harganya, ternyata tidak terlalu mahal kalau tidak salah 200ribu/malam dan kami orang tiga. Lumayan murahlah, tetapi kami harus menunggu orang check out dulu jam 2 siang nanti, yasudahlah, tidak apa-apa. Toh, kami juga mau keluar dulu untuk mengecek lokasi tes. Segala barang bawaan kami diletakkan terlebih dahulu di kamar pertama yang kami lihat tadi dan kami keluar dari penginapan tersebut untuk mencari makan siang terlebih dahulu sebelum menuju lokasi tes.
Setelah sampai di lokasi tes dengan menggunakan go-car, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari penginapan kami dan juga tidak terlalu macet. Kami menemui teman kak Yudi yang memang bekerja di Kantor BKN Jakarta Timur tersebut dan kosan kakak itulah yang menjadi tempat tinggal kak Yudi selama di Jakarta nanti. Kami menanyakan di mana lokasi tesnya dan bercerita-cerita sambil menghabiskan waktu, selagi kami bercerita, ternyata si Indri salah membawa foto dan terpaksa harus mencetak foto terlebih dahulu. Setelah bertanya dengan teman kak Yudi tempat cetak foto terdekat, kami (saya dan Indri) langsung meluncur ke Pusat Grosir Cililitan dengan berjalan kaki. Di mall kecil gini aja kami sempat bingung untuk keluar, kami sampai ke basement untuk mencari pintu keluar 😂 Bukannya apa sih, tetapi di mall ini pintu keluarnya terhalang sama orang-orang yang buka stand jadi tidak kelihatan oleh mata kami (ngeles). Setelah cetak foto, kami naik angkot menuju BKN karena capek juga kalau mau jalan kaki lagi. Kami asal-asal saja naik angkot padahal tidak tahu angkot ini jurusannya kemana karena waktu kami berjalan tadi melihat angkot ini melewati kantor BKN. Setelah berhenti di Kantor BKN, kami buru-buru menemui Hesti, kak Yudi dan temannya kak Yudi untuk segera balik ke penginapan karena saya dan Indri sudah lumayan capek jalan tadi dan muter-muter di mall. Kami pamit dengan kak Yudi dan temannya menuju penginapan menggunakan go-car lagi. FYI, di kantor BKN Jakarta Timur ini susah signal, kami hampir ribut dengan driver go-car karena hape kami yang tiba-tiba hilang signal.
Tanggal 26 Oktober 2017, Hesti dan Indri tes pada pukul 10.00 WIB, kak Yudi pukul 14.00 dan saya pukul 16.00 WIB. Hesti dan Indri pergi sekitar pukul 09.00 WIB dengan menggunakan jasa go-ride, Indri yang memang tidak menginstal aplikasi go-jek menggunakan hape saya untuk memesan. Saat mereka pergi, saya masih berleha-leha di penginapan sambil belajar sedikit dan menonton tv. Sampai tiba pukul 12.00 WIB, Hesti dan Indri akhirnya pulang ke penginapan. Mereka berdua tidak ada yang lulus passing grade TKD CAT CPNS ini. Hesti ingin membuang bad mood-nya dengan jalan-jalan, mumpung di Jakarta juga pikirnya. Indri yang antara mau tidak mau akhirnya ikut menemani Hesti untuk jalan-jalan, apalagi mereka akan ditemani oleh teman-teman kuliah kami dulu yang memang kerja di Jakarta. Mereka berencana pergi ke Kota Tua, ingin sekali rasanya ikut mereka pergi, apalagi ke Kota Tua. Tetapi saya harus tes, ingat tujuan pertama saya ke Jakarta adalah untuk tes bukan jalan-jalan. Jalan-jalan itu bonusnya jika saya sudah selesai tes. Berangkatlah mereka berdua ke Kota Tua dengan menggunakan jasa go-car terlebih dahulu sebelum melanjutkannya dengan naik KRL di Stasiun Duren Kalibata.
Setelah shalat ashar, saya sudah siap menuju lokasi tes dengan menggunakan jasa go-ride. Sampai di lokasi tes sekitar pukul 15.30 WIB, ternyata kami belum diperbolehkan masuk ke ruangan. Kami disuruh menunggu terlebih dahulu di bawah tenda. Di bawah tenda ini saya melihat sekitar ada 2 orang dari Papua yang juga mengikuti tes di Jakarta ini, saya pikir besar sekali modal mereka untuk menjadi PNS, belum tentu juga mereka lulus passing grade tetapi setidaknya mereka sudah usaha, mana tahu rejeki. Salut juga buat mereka. Sampai pada akhirnya kami diberikan aba-aba untuk memasuki ruangan tes dengan terlebih dahulu menitipkan tas di tempat yang telah disediakan oleh pihak BKN. Banyak sekali tas-tas peserta ini, kami diberi stiker nomor untuk mengambil tas kami nanti. Saya lupa ruangan tesnya lantai berapa tetapi sebelum memasuki ruangan tes kami dipersilahkan menunggu terlebih dahulu di suatu ruangan, sambil memberi kesempatan bagi peserta-peserta yang belum sempat shalat. Ternyata di sesi saya cuma ada dua ruangan yang dipakai untuk tes.
Akhirnya tes dimulai pukul 16.00 WIB tepat. Seperti dugaan saya, Tes Intelegensia Umum (TIU) yang membuat saya sedikit kewalahan dan agak panik ditambah lagi saya kebelet buang air kecil pada saat itu. Saya kebanyakan minum pada saat di bawah tenda tadi karena memang panas dan sedikit nervous. Mengerjakan soal pun sudah tidak terlalu fokus lagi, tetapi untung saja saya bisa menahan rasa kebelet tadi sampai ujung-ujung saya hampir selesai menyelesaikan soal-soal. Saya baca kembali soal-soal yang belum saya isi dan mengisinya dengan bismillah saja. Lalu saya mengangkat tangan kanan saya sambil melihat ke arah pengawas, saya meminta izin untuk ke toilet karena tidak lucu kalau saya sampai buang air kecil di ruangan itu. Pasti saya akan diingat oleh peserta lain seumur hidup mereka. Saya diingatkan oleh pengawas kalau waktunya tinggal sedikit lagi jadi jangan terlalu lama, saya mengiyakan lalu berlari menuju toilet. Lega sekali. Saya balik lagi ke ruangan dan kami diingatkan kembali untuk mengecek semua soal yang kami kerjakan. Kami diperbolehkan untuk menyelesaikan ujian tersebut dan dianjurkan untuk mencatat skor kami di belakang kertas ujian. Saya sudah selesai mengerjakan semua soal dan saya mengklik selesai. Nilai saya langsung keluar di layar komputer. Alhamdulillah, saya lulus passing grade dengan total nilai 317, dengan perincian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 80, Tes Intelegensia Umum (TIU) 85 dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) 152. Nilai saya kecil, minimal saya harus mencapai skor 350 ke atas jika ingin masuk dalam posisi aman tetapi yasudahlah, tidak bisa diulang lagi.
Saya keluar ruangan tes dengan peserta-peserta lain sambil saling menanyakan hasil nilai kami, ada yang lulus di atas skor saya, ada juga yang lulus di bawah skor saya. Berdoa sajalah, kalau rejeki tidak akan kemana. Antrian mengambil tas sangat ramai dan mulai tidak teratur, saya menunggu agak sepi sampai akhirnya saya melihat para peserta mengambil tasnya sendiri tanpa diambilkan oleh petugas. Saya pun melakukan hal yang sama dan buru-buru mengecek hape. Ternyata waktu sudah hampir maghrib, saya buru-buru memesan go-ride untuk pulang ke penginapan. Sesampai di pengingapan, ternyata Indri dan Hesti belum pulang ke penginapan, saya mengecek hape dan menanyakan posisi mereka di grup. Mereka balik menanyakan apakah saya lulus passing grade atau tidak. Saya jawab lulus, cepetan balik, bawain makanan, laper. Ternyata mereka pulang sekitar jam 7-an malam kalau tidak salah dan tidak membawa makanan apa-apa sedangkan saya kelaparan. Jadi, saya dan Indri memutuskan untuk keluar penginapan mencari makan. Hesti tidak ikut karena katanya dia masih kenyang. Saya dan Indri berburu sate sampe ke pinggir jalan raya dan tidak menemukan orang yang jualan sate madura, adanya sate padang. Jadilah kami makan bakso malang di depan sebuah apotek, tetapi kenapa ya ini semua makanan pakai nama daerah-daerah di Indonesia? Selama perjalanan mencari makan saya dan Indri merencanakan kapan ingin pulang ke Palembang. Saya inginnya sih pulang hari Sabtu karena saya ingin pergi ke Kampung Cina.
Di penginapan, kami mendiskusikan kembali kapan akan pulang. Saya ajukan ide saya tersebut untuk pulang hari Sabtu, Jumatnya kita jalan dari pagi sampai sore. Mereka setuju tetapi waktu mengecek tiket pesawat ternyata mahal, week end coy, apalagi harus menambah penginapan semalam. Indri dan saya mulai ragu, tidak dengan Hesti. Karena Hesti punya destinasi lain, dia sudah merencanakan pergi ke Bogor tempat tantenya dan setelah itu ke Bandung sedangkan kak Yudi akan pulang bersama temannya. Jadi hanya saya dan Indri yang pulang ke Palembang. Indri bilang ke saya, bagaimana kalau pulangnya hari Jumat sore saja jadi pagi sampai siangnya kita jalan dan cari tempat yang dekat-dekat saja. Saya setuju, dan Indri juga ingin menemui sepupunya di stasiun Juanda. Saya mengajukan untuk ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ke Indri karena memang cuma lokasi itu yang dekat, Indri pun setuju meskipun Indri pernah ke TMII tetapi itu waktu dia masih kecil. Setelah shubuh, kami tidak tidur kembali. Kami masih bercerita-cerita tentang rencana kami masing-masing, saya dan Indri ke TMII, TMII buka jam 8 pagi jadi dari pagi kami harus sudah ada di sana sedangkan Hesti ingin belanja terlebih dahulu ke Tanah Abang baru meluncur ke Bogor. Paginya sebelum berpisah kami menyempatkan untuk sarapan bersama terlebih dahulu.
Jam 8 pagi, saya dan Indri menuju TMII menggunakan jasa go-car. Saya membawa carrier 60 liter dan Indri membawa ransel serta tote bag. Menonjol sekali bawaan kami 😁 Sesampai di TMII, kami sempat bingung mau kemana dulu dan duduk-duduk di pos penjaga. Tiba-tiba lewatlah mobil (atau lebih tepatnya kereta) pengunjung, ada mbak-mbak yang teriak cukup 10ribu saja sudah bisa keliling TMII dengan 2 kali berhenti. Boleh juga dicoba, pikir kami, naiklah kami di mobil (?) tersebut. Kami melewati rumah-rumah adat di Indonesia, dimulai dari bagian Sumatera, sangat ramai, lagian kami dari Sumatera jadi kami tidak terlalu tertarik meskipun rumah adat Sumatera Barat sangat menggoda untuk dikunjungi. Kelilinglah kami dan rumah-rumah adat ini hampir habis, buru-buru kami berhenti di museum transportasi. Turunlah kami di sana. Sebelum memasuki museum transportasi, kami berinisiatif untuk menitipkan tas kami di pos satpam pintu masuk karena memang merasa tidak bebas untuk bergerak dengan membawa tas yang cukup berat itu.
![]() |
| Pose di bus bertingkat kayak Knight bus di Harry Potter |
![]() |
| Bagian kereta api |
![]() |
| Di bagian samping kereta api |
![]() |
| Saya lupa ini di bagian mana hehe |
![]() |
| Bagian pesawat, kata Indri dulu pesawat ini boleh dimasuki oleh pengunjung dan ada simulasinya |
Sebenarnya di TMII saya ingin ke Viharanya tetapi kesempatan turun kami dari kereta telah dipakai semua dan kami juga sudah kelelahan. Kami turun dari mobil tadi ke titik awal kami naik, kami beristirahat dulu di bawah pohon dekat lapangan utama. Jam sudah menunjukkan hampir jam 12 siang, kami buru-buru keluar TMII dan memesan go-car menuju Stasiun Duren Kalibata untuk naik KRL ke Stasiun Juanda untuk bertemu dengan sepupunya Indri. Di perjalanan kami mengecek tarif go-car dari Stasiun Juanda menuju Bandara Soekarno Hatta, tarifnya cuma 60ribu-an, kami memutuskan untuk naik go-car saja nanti. Setelah sampai di Stasiun Juanda, kami langsung mencari tempat makan sambil menunggu sepupunya Indri ini datang. Tidak lama kemudian, datanglah sepupu Indri dan kami ngobrol-ngobrol sampai jam 2 siang. Betapa terkejutnya kami saat mengecek tarif go-car yang tadinya cuma 60ribu-an menjadi 100ribu-an lebih. Wah, tidak bisa seperti ini pikir saya dan Indri, uang kami juga sudah menipis. Lalu kami mengecek tarif go-car dari stasiun terakhir (Stasiun Kota) menuju bandara ternyata cuma 60ribu-an. Kami memutuskan untuk menaiki KRL kembali menuju Stasiun Kota dan kemudian menuju bandara.
Pesawat kami berangkat jam 5 kurang sedikit jadi sesampai di bandara kami masih sempat beristirahat. Saya meminta Indri untuk menemani saya belanja titipan dulu di bandara, kakak saya Ades menitip Beard Papa's, secara di Palembang tidak ada jualannya. Saya kaget sekali ternyata harga satu rotinya 25ribu, mampuslah, uang tinggal berapa, mana masih mau beli Talas Bogor juga. Jadilah saya cuma beli 4 roti Beard Papa's dan 2 kotak Talas Bogor, sedangkan Indri tidak beli apa-apa. Kembalilah kami duduk di ruang tunggu sambil Indri meng-charge hapenya. Tidak lama kemudian Indri menghampiri saya, dia bertanya apakah saya mau makan lagi, ternyata dia sudah kelaparan lagi dan ingin makan yang pedas-pedas. Saya berkata tidak, karena uang saya sudah krisis, saya hanya menitip air mineral saja ke Indri. Berkelanalah Indri mencari makanan dan dia menghampiri saya kembali dengan membawa air mineral untuk saya dan sebungkus cireng sambil berkata "pedes ini Mel, pasti enak. Mau?" Saya menolak lagi karena saya tahu Indri lagi kelaparan 😀 Menjauhlah Indri dari saya untuk mengecek hapenya yang sedang di-charge.
Tak lama kemudian, Indri datang kembali dan duduk di sebelah saya sambil membawa sebungkus cireng tadi dan hapenya.
Indri: "Mel, tau gak?"
Saya: "Apa Ndro?"
Indri: "Cireng ini gak bisa dimakan, nyesel aku belinya."
Saya: "Lho kok gak bisa dimakan? Memangnya kenapa?"
Indri: "Ini harus digoreng dulu Mel." (sambil menunjukkan bungkus cireng tadi)
Saya ngakak, ketawa sejadi-jadinya ngelihat bungkus cireng Indri, cirengnya masih warna putih berselimutkan sagu 😅😅 Sebenarnya kasian juga sih ngelihat Indri, mukanya itu kayak orang kelaparan bener.
Indri: "Coba tadi aku beli samyang aja, itu juga pedes, gak harus digoreng dulu cuma kasih air panas aja, air panasnya juga sudah dari sana."
Saya: "Yaudah sih Ndro, beli samyang lagi sono atau minta tolong gorengin cirengnya di sana, kalo gak, minta tolong direbus juga jadilah Ndro, yang penting bisa dimakan 😂"
Indri: "Gila lu Mel atau aku makan aja ni cireng kayak gini ya" (ngambil cireng dengan satu cubitan kecil lalu dimakannya)
Saya tidak berhenti ketawa sedari tadi melihat tingkah Indri ini. Super sekali makhluk satu ini, ya Tuhan!
Indri: "Gak ada rasa Mel."
Saya: "Ya jelaslah, kebanyakan sagu itu mah."
Tak terasa akhirnya pesawat kami akan berangkat juga. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam lebih karena pesawat kami sempat keliling di atas Bandara Sultan Mahmud Badaruddin sebelum landing. Sesampai di bandara Palembang, saya dijemput oleh bang Dio dan Indri terpaksa harus naik taksi bandara yang mahal sekali. Saya tawarkan untuk bonceng tiga dengan saya tetapi dia menolak. Setelah mengantarkan Indri naik taksi, sebelum menuju kosan kakak saya (Ades), kami mencari warung pecel lele dulu untuk makan karena saya kelaparan.
Setelah dua minggu berlalu, pengumuman pun keluar nama saya lulus passing grade tetapi tidak masuk dalam nominasi perangkingan dua kali lipat sesuai aturan TKD CAT CPNS ini, sama seperti tes CPNS Kemenkumham sebelumnya yang saya ikuti. Belum rejeki, mungkin tahun ini saya akan lulus dan menjadi PNS. Aamiin aamiin ya rabbal alamin. Tetapi saya kembali lagi ke Jakarta setelah pengumuman tahap kedua ini dengan misi ke Kota Tua dan ketemu Orang Utan.











Bagus tulisannya,menarik, unik, nyaman membacanya pun nggak gampang mbosenin.. 👍👍👍
ReplyDeleteHehe.. Alhamdulillah kalo bisa dicerna tulisannya.
DeleteQeren ih Ayuk Mileaaaaaaaak����
ReplyDeleteIih.. Alay beut kamu wkwk..
DeleteKetua umum kayak setan,, ada dimana²...@esahandayani
DeleteAsli tengakakkkkk ndri ndriiii
ReplyDeleteGawemu opo dak dibaco dulu tu cireng sebelum dibeli ������
Andaikan dirimu liat ekspresinyo Er, tambah tengakak kau wkwk.. Aku be dak abes pikir sampe skrg gara2 gawe dio tu haha..
ReplyDelete