Pada hari Kamis sore tanggal 29 Nopember 2013, berangkatlah kami berlima dari Universitas Sriwijaya Kampus Indralaya. Kali ini yang berangkat bang Dio, Erlina, Uus, Lisa dan saya. Iya, cuma bang Dio sendiri yang cowok dan semuanya adalah teman kuliah saya. Meskipun cuma camping tetapi penampilan kami sudah seperti pendaki saja, kecuali bang Dio.
| Uus, Lisa, saya dan Erlina |
Paginya, seperti biasa kami menunggu truk di depan pabrik teh untuk mengantarkan kami ke Kampung IV. Di sini banyak sekali pendaki-pendaki lain, ternyata sebagian dari mereka sedang ada diksar (pendidikan dasar, biasanya untuk organisasi pencinta alam), pada saat itu adalah diksar Mapala SKY (Sekolah Tinggi Prabumulih YPP). Truk pun datang tetapi langsung penuh dengan pendaki-pendaki lain, kami mengalah, karena kami juga tidak mengejar untuk mendaki. Kami pun masih menunggu truk lainnya, karena truk yang ditunggu-tunggu tidak datang juga maka kami memutuskan untuk menyicil perjalanan kami dengan berjalan kaki menuju villa, yang letaknya agak ke atas. Kami memutuskan untuk menunggu truk di depan villa saja, berharap akan ada truk yang lewat.
| Perjalanan kaki segera dimulai, Lisa masih bisa tersenyum lepas |
| Istirahat sambil menunggu truk di atas lokasi villa |
| Perjalanan kaki menuju Kampung IV masih berlanjut |
| Melewati kebun teh demi mempersingkat perjalanan |
Di balai Kampung IV tidak ada lagi pendaki-pendaki, mereka sudah pada naik semua. Rencana saya yang ingin barengan mendaki pun gagal karena saya pun sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan, kecapekan. Keinginan kami untuk mendirikan tenda pun gagal karena tenda kami basah dan hujan yang tidak kunjung reda juga pada hari itu. Alhasil, kami bermalam di balai Kampung IV bersama peserta Desk Disaster WALHI yang memang sedang melakukan pemetaan lokasi rawan bencana di sekitar kaki Gunung Dempo, Kampung IV ini. Anak-anak WALHI ini sangat welcome dengan kami, bang Dio yang memang cowok sendiri di rombongan kami jadi sering bergabung dengan rombongan WALHI dan kami pun para cewek-cewek juga terkadang ikut nimbrung cerita dengan mereka. Ada kejadian di malam itu, tengah malam lewat ada dua pendaki yang baru sampai di balai. Kalau tidak salah beberapa anak WALHI ini dan bang Dio memang belum tidur ketika pendaki tersebut sampai di balai. Saya sebenarnya sudah tidur tetapi terbangun mendengar percakapan mereka, saya tidak beranjak dari sleeping bag. Saya mendengar percakapan mereka dari dalam SB saya, di sini saya mendengar kalau kedua pendaki ini bersama teman-temannya yang mungkin tersesat karena tidak tahu jalan (mereka menembus kebun teh) dan ketinggalan oleh mereka. Secara pada malam hari tidak ada sama sekali pencahayaan sama sekali baik dari bulan (karena cuaca mendung dari pagi hari) maupun dari Kampung IV (tidak ada listrik) dan juga mungkin mereka kecapekan berjalan kaki dari pabrik teh menuju Kampung IV ini dengan beban carrier yang berat. Jadinya, anak-anak WALHI ini berinisiatif untuk membantu mencari teman mereka di tengah-tengah malam ini, sungguh baik sekali. Ternyata teman-teman dari kedua pendaki ini ditemukan sudah tidak jauh dari perkampungan Kampung IV ini. Alhamdulillah, setelah semuanya berada di balai, mereka tidak banyak bicara dan memulai untuk tidur.
Keesokan harinya pada tanggal 1 Desember 2013, ketika saya bangun tidur rombongan pendaki tadi malam sudah tidak ada, mereka sudah pergi mendaki. Sedangkan kami yang gagal camping bingung mau ngapain dan mau kemana, pada akhirnya kami ditawarkan oleh anak-anak WALHI untuk ikut mereka ke air terjun yang berada di dekat pos sebelum titik awal pendakian. Kami (para cewek) meminta izin sama bang Dio untuk ikut sebagian anak WALHI ini ke air terjun, bang Dio mengiyakan, katanya dia akan menyusul kesana dengan anak WALHI lainnya. Tidak banyak yang saya ingat nama anak-anak WALHI ini cuma Septa, Yudi, bang Hafid dari Jambi, bang Mukri (ketum pusat WALHI), kak Angga, dan Tawon (adik tingkat kami). Yang ikut ke air terjun bersama kami ini ada kak Angga, yang juga anggota mapala Waris Unsri (mapala FKIP). Kak Angga menjadi tukang foto kami di air terjun ini dan sekaligus menjadi sweeper 😁 Posisi berjalan kami dari depan ada beberapa anak WALHI, disusul Uus, Erlina, Lisa, saya dan paling belakang kak Angga.
| Perjalanan menuju air terjun, Erlina dan Lisa kelihatan sekali sangat berhati-hati |
| Penampakan bebatuan menuju air terjun |
| Penampakan air terjun |
![]() |
| Foto bersama Desk Disaster WALHI |
| Kayaknya emak, Uus dan Lisa lagi main drama anak yang tertukar |
Tujuan utama kami adalah tangga seribu (tangga 2001), yang berada di dekat komplek perkantoran Pagar Alam (Gunung Gare). Karena keterbatasan transportasi umum di sana, maka kami berjalan kaki. Tidak bisa berkata apa-apa lagi pokoknya, sebenarnya capek, tetapi kalau tidak begitu maka kami tidak pergi kemana-mana lagian pemandangannya juga bagus dan kami melewati rumah penduduk. Sebenarnya hari itu cuaca sangat panas tetapi tidak terasa karena sepanjang perjalanan kami sibuk ngobrol dan bercanda. Sumpah, dalam perjalanan ini saya menyesal membawa jaket, berat dan tidak ada fungsinya sama sekali di cuaca panas begini. Kami pun harus melewati kebun teh untuk memotong perjalanan menjadi lebih singkat.
| Melewati perkebunan teh |
| Di ujung tangga seribu |
| Jangan tanya orang itu siapa |
| Menunggu hujan reda di tangga villa |
| Peserta sosialisasinya hanya kami berlima |
| Foto lengkap di depan tugu bunga Pagar Alam |
| Foto di depan Masjid Raya Pagar Alam, kantong merah yang dibawa Erlina itu sisa snack sosialisasi |
| Foto dululah, mumpung penumpangnya sudah turun semua |

No comments:
Post a Comment