Mau Cari Apa?

Friday, 15 June 2018

Gunung Gare, 29 Nopember 2013

Setelah pendakian perdana ke Gunung Dempo pada tanggal 27 Juni 2013 lalu. Saya mulai mengikuti perkembangan teman-teman saya setiap mereka hendak pergi untuk mendaki gunung atau hanya sekedar jalan-jalan ke suatu tempat. Sebelum memulai perjalanan ini, saya sudah menolak ajakan teman saya untuk mendaki Gunung Dempo lagi (karena ada kuliah) dan jalan-jalan ke pantai di Lampung (karena tidak mendapatkan izin orang tua). Saya berani untuk meminta izin orang tua jika saya tidak mendaki gunung kalau izin untuk mendaki gunung saya belum berani. Pada perjalanan kali ini, kami memang tidak ada niatan untuk mendaki Gunung Dempo, kami hanya berencana untuk camping di kaki Gunung Dempo saja. Saya berpikir, tanggung sekali sudah sampai di kaki Gunung Dempo malah tidak mendaki. Makanya di dalam pikiran saya nekad untuk ikut rombongan lain mendaki jika sudah sampai di kaki Gunung Dempo (Kampung IV) nanti.


Pada hari Kamis sore tanggal 29 Nopember 2013, berangkatlah kami berlima dari Universitas Sriwijaya Kampus Indralaya. Kali ini yang berangkat bang Dio, Erlina, Uus, Lisa dan saya. Iya, cuma bang Dio sendiri yang cowok dan semuanya adalah teman kuliah saya. Meskipun cuma camping tetapi penampilan kami sudah seperti pendaki saja, kecuali bang Dio. 
Uus, Lisa, saya dan Erlina
Seperti biasa, kami menaiki bis Melati Indah sore menuju perkampungan Pabrik Teh PTPN Pagar Alam dengan menumpang menginap di basecamp Ayah Anton. Kami menginap semalam di tempat Ayah Anton sebelum paginya kami lanjut ke Kampung IV.

Paginya, seperti biasa kami menunggu truk di depan pabrik teh untuk mengantarkan kami ke Kampung IV. Di sini banyak sekali pendaki-pendaki lain, ternyata sebagian dari mereka sedang ada diksar (pendidikan dasar, biasanya untuk organisasi pencinta alam), pada saat itu adalah diksar Mapala SKY (Sekolah Tinggi Prabumulih YPP). Truk pun datang tetapi langsung penuh dengan pendaki-pendaki lain, kami mengalah, karena kami juga tidak mengejar untuk mendaki. Kami pun masih menunggu truk lainnya, karena truk yang ditunggu-tunggu tidak datang juga maka kami memutuskan untuk menyicil perjalanan kami dengan berjalan kaki menuju villa, yang letaknya agak ke atas. Kami memutuskan untuk menunggu truk di depan villa saja, berharap akan ada truk yang lewat.

Perjalanan kaki segera dimulai, Lisa masih bisa tersenyum lepas
Saya lupa, sudah berapa lama kami menunggu truk tetapi tidak ada satupun yang lewat, ada sih yang lewat tetapi tidak mengajak kami katanya tidak sampai ke Kampung IV, mungkin juga tanggung hanya mengajak kami berlima. Karena ongkos truk di sini dihitung per kepala. Sedangkan rombongan diksar sudah berjalan jauh  dari kami. Alhasil, bang Dio menyarankan kami untuk berjalan kaki saja sambil menunggu truk lainnya karena waktu kami habis untuk stay di satu tempat saja. Kami pun menyetujuinya dan memulai perjalanan dengan berjalan kaki melewati villa yang lokasinya cukup menanjak. Sesampai di atas villa, kami pun istirahat sebentar dan sambil menunggu truk.
Istirahat sambil menunggu truk di atas lokasi villa
Bang Dio kembali menyarankan kami untuk melanjutkan jalan kaki. Setelah berjalan kaki beberapa jam, sampailah kami di jalan tanah menuju Kampung IV. Asalkan kalian tahu, jalan kaki ini tidak mudah, sangat menguras tenaga kami. Karena jalan yang kami tempuh cukup menanjak, berkelok dan harus menembus kebun teh demi mempersingkat jalan, bonusnya cuma pemandangan kebun teh yang menyejukkan. Sebelum sampai di Kampung IV kami kehujanan dan terpaksa harus bongkar carrier untuk memasang flysheet di kebun teh dan mengeluarkan logistik. Kalian bayangkan saja kami membuka flysheet di pohon teh yang tingginya hanya setengah meter lebih dan kami harus jongkok karena ternyata kami membuka flysheet di aliran air. Flysheet yang tidak terlalu besar ini tidak dapat melindungi badan kami berlima dari hujan dengan sempurna, jadilah sebagian badan kami basah. Setelah kami selesai makan dan hujan mulai cukup reda, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali. Belum sampai di Kampung IV, kami diguyur hujan kembali. Karena lokasi kampung IV sudah cukup dekat kami memutuskan untuk tidak membuka flysheet kembali dan tetap melanjutkan perjalanan sambil berhujan-hujan ria.
Perjalanan kaki menuju Kampung IV masih berlanjut
Melewati kebun teh demi mempersingkat perjalanan
Pada akhirnya sekitar pukul 12-an kami sampai di balai (basecamp pendaki) Kampung IV dengan pakaian yang basah kuyup. Sebenarnya kami memakai jas hujan tetapi jas hujan pun tidak bisa melindungi badan kami karena terganjal oleh tas kami yang besar. Baru kali ini saya melihat badan saya dan teman-teman saya mengeluarkan asap (kayak asap yang keluar dari minuman dingin gitu), itu saking dinginnya pakaian kami. Kami buru-buru berganti pakaian kering dan memesan makanan di warung emak Tina. Tidak pernah terbayangkan oleh saya untuk berjalan kaki dari pabrik teh menuju Kampung IV, mengalahkan peserta-peserta yang sedang diksar saja. Lisa yang memang sangat mendambakan hal-hal seperti ini dari awal berangkat terlihat sangat excited, meskipun capek dia selalu tersenyum dan tertawa. Lisa selalu mengajak kami ngobrol untuk menghilangkan rasa capek kami.

Di balai Kampung IV tidak ada lagi pendaki-pendaki, mereka sudah pada naik semua. Rencana saya yang ingin barengan mendaki pun gagal karena saya pun sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan, kecapekan. Keinginan kami untuk mendirikan tenda pun gagal karena tenda kami basah dan hujan yang tidak kunjung reda juga pada hari itu. Alhasil, kami bermalam di balai Kampung IV bersama peserta Desk Disaster WALHI yang memang sedang melakukan pemetaan lokasi rawan bencana di sekitar kaki Gunung Dempo, Kampung IV ini. Anak-anak WALHI ini sangat welcome dengan kami, bang Dio yang memang cowok sendiri di rombongan kami jadi sering bergabung dengan rombongan WALHI dan kami pun para cewek-cewek juga terkadang ikut nimbrung cerita dengan mereka.  Ada kejadian di malam itu, tengah malam lewat ada dua pendaki yang baru sampai di balai. Kalau tidak salah beberapa anak WALHI ini dan bang Dio memang belum tidur ketika pendaki tersebut sampai di balai. Saya sebenarnya sudah tidur tetapi terbangun mendengar percakapan mereka, saya tidak beranjak dari sleeping bag. Saya mendengar percakapan mereka dari dalam SB saya, di sini saya mendengar kalau kedua pendaki ini bersama teman-temannya yang mungkin tersesat karena tidak tahu jalan (mereka menembus kebun teh) dan ketinggalan oleh mereka. Secara pada malam hari tidak ada sama sekali pencahayaan sama sekali baik dari bulan (karena cuaca mendung dari pagi hari) maupun dari Kampung IV (tidak ada listrik) dan juga mungkin mereka kecapekan berjalan kaki dari pabrik teh menuju Kampung IV ini dengan beban carrier yang berat. Jadinya, anak-anak WALHI ini berinisiatif untuk membantu mencari teman mereka di tengah-tengah malam ini, sungguh baik sekali. Ternyata teman-teman dari kedua pendaki ini ditemukan sudah tidak jauh dari perkampungan Kampung IV ini. Alhamdulillah, setelah semuanya berada di balai, mereka tidak banyak bicara dan memulai untuk tidur.


Keesokan harinya pada tanggal 1 Desember 2013, ketika saya bangun tidur rombongan pendaki tadi malam sudah tidak ada, mereka sudah pergi mendaki. Sedangkan kami yang gagal camping bingung mau ngapain dan mau kemana, pada akhirnya kami ditawarkan oleh anak-anak WALHI untuk ikut mereka ke air terjun yang berada di dekat pos sebelum titik awal pendakian. Kami (para cewek) meminta izin sama bang Dio untuk ikut sebagian anak WALHI ini ke air terjun, bang Dio mengiyakan, katanya dia akan menyusul kesana dengan anak WALHI lainnya. Tidak banyak yang saya ingat nama anak-anak WALHI ini cuma Septa, Yudi, bang Hafid dari Jambi, bang Mukri (ketum pusat WALHI), kak Angga, dan Tawon (adik tingkat kami). Yang ikut ke air terjun bersama kami ini ada kak Angga, yang juga anggota mapala Waris Unsri (mapala FKIP). Kak Angga menjadi tukang foto kami di air terjun ini dan sekaligus menjadi sweeper 😁 Posisi berjalan kami dari depan ada beberapa anak WALHI, disusul Uus, Erlina, Lisa, saya dan paling belakang kak Angga.

Perjalanan menuju air terjun, Erlina dan Lisa kelihatan sekali sangat berhati-hati
Dalam perjalanan menuju air terjun ini, saya sering sekali terjatuh karena terpeleset, selain saya memakai sendal jepit dan bebatuan di sana juga memang licin. Kak Angga yang di belakang saya kadang tertawa melihat saya terjatuh dan selalu mengingatkan untuk hati-hati, tetapi sudah terlambat, kadang saya sudah jatuh baru diingatkan. Karena kejadian jatuh bangun ini jadi celana saya basah. Padahal saya tidak banyak membawa stok celana, saya cuma bawa celana dua, yang satu masih basah yang diguyur hujan selama perjalanan dan satunya lagi yang saya pakai sekarang. Berharap ada sinar matahari hari ini untuk mengeringkan celana saya yang kemarin. Karena hal ini, mood saya sudah agak jelek, saya tidak terlalu suka berbasah-basahan, ditambah lagi pikiran mau pakai celana apa saya nanti. Untungnya, anak-anak WALHI ini baik semua, mereka menawarkan untuk meminjamkan celana kepada saya, saya lebih memilih meminjam celana dengan Tawon (nama lapangan). Karena si Tawon ini adik tingkat saya di Sosiologi FISIP, Unsri, jadi saya akan mudah untuk mengembalikan celananya nanti.
Penampakan bebatuan menuju air terjun
Penampakan air terjun
Hari itu, setelah dari air terjun kami tidak pergi kemana-mana lagi karena hujan turun kembali meskipun tidak deras. Pakaian kami pun belum kering dijemur dan harus di-packing. Kami memutuskan untuk turun ke bawah (pabrik teh) ke tempat Ayah Anton karena keterbatasan tempat untuk di-explore di sekitar Kampung IV dan ternyata anak-anak WALHI pun pulang pada hari itu (malam). Jadilah kami menyewa satu truk untuk turun, mereka melanjutkan kembali perjalanan dengan bis sedangkan kami berada di basecamp Ayah Anton sambil bongkar packing-an.
Foto bersama Desk Disaster WALHI
Keesokan harinya tanggal 2 Desember 2013 cuaca hari itu sangat cerah jadi kami memutuskan untuk menjemur pakaian karena memang kami membawa pakaian basah kemarin di tas kami, yang membuat beban tas semakin berat. Setelah menjemur pakaian, kami memutuskan untuk jalan-jalan. Sambil beres-beres setelah makan, saya dan Erlina kebagian mencuci piring, sedangkan Lisa, Uus dan bang Dio main ke rumah ayah Anton dan foto-foto sama emak (istri ayah Anton yang sekarang sudah almarhumah).
Kayaknya emak, Uus dan Lisa lagi main drama anak yang tertukar 
Setelah saya dan Erlina selesai beres-beres, kami packing kembali, memilah apa-apa saja yang akan kami bawa untuk jalan-jalan nanti. Saya dianjurkan oleh bang Dio untuk membawa jaket, jaga-jaga nanti kalau hujan turun.

Tujuan utama kami adalah tangga seribu (tangga 2001), yang berada di dekat komplek perkantoran Pagar Alam (Gunung Gare). Karena keterbatasan transportasi umum di sana, maka kami berjalan kaki. Tidak bisa berkata apa-apa lagi pokoknya, sebenarnya capek, tetapi kalau tidak begitu maka kami tidak pergi kemana-mana lagian pemandangannya juga bagus dan kami melewati rumah penduduk. Sebenarnya hari itu cuaca sangat panas tetapi tidak terasa karena sepanjang perjalanan kami sibuk ngobrol dan bercanda. Sumpah, dalam perjalanan ini saya menyesal membawa jaket, berat dan tidak ada fungsinya sama sekali di cuaca panas begini. Kami pun harus melewati kebun teh untuk memotong perjalanan menjadi lebih singkat.

Melewati perkebunan teh
Sesampainya di tangga seribu (tangga 2001), kami foto-foto, jajan salak dan gelang. Pokoknya kami menikmati suasana sekali di sini, duduk-duduk dan menumpang rebahan di sana menggunakan matras yang kami bawa.
Di ujung tangga seribu
Jangan tanya orang itu siapa
Setelah belanja gelang di toko yang berada di villa dekat tangga seribu tersebut, hujan deras pun mengguyur, tidak peduli lagi apa kabar jemuran kami tadi. Sambil menunggu hujan reda untuk melanjutkan perjalanan, kami duduk di tangga villa sambil bercerita. 
Menunggu hujan reda di tangga villa
Tiba-tiba ada bapak-bapak yang menghampiri kami dari gedung serbaguna yang tidak jauh dari kami duduk ini. Mereka mengajak kami untuk mengikuti sosialisasi tentang pajak karena tidak ada peserta yang datang ke acara tersebut. Jelas saja, hujan memang turun sangat deras sekali hari itu dan mereka datang dari Lahat, cukup jauh. Mereka bilang daripada sia-sia dan snack yang mereka pesan menjadi mubazir, lebih baik kami ikut sosialisasi mereka saja. Kami mengiyakan ajakan bapak tersebut, hitung-hitung sambil menunggu hujan reda dan mengganjal perut sedikit. Lumayan dapat snack 😁
Peserta sosialisasinya hanya kami berlima
Setelah selesai sosialisasi, selesai juga hujan. Kami melanjutkan perjalanan menuju tugu bunga, masjid raya Gunung Gare dan mencari warung untuk makan siang. Semua lokasi tersebut tidak berada jauh dari kawasan tangga seribu tadi, jadi dengan berjalan kaki pun kami masih sanggup.
Foto lengkap di depan tugu bunga Pagar Alam
Foto di depan Masjid Raya Pagar Alam, kantong merah yang dibawa Erlina itu sisa snack sosialisasi
Setelah makan siang, kami bertanya kepada warga yang ada di sana kira-kira bagaimana biar sampai ke pabrik teh tanpa harus jalan kaki lagi. Mereka mengatakan biasanya ada angkot yang lewat tetapi jarang karena ini week end. Lalu mereka menawarkan jasa ojek, tentu saja tarifnya tidak sesuai dengan budget kami. Jadi kami pun menolak tawaran tersebut. Kami berjalan kembali ke arah villa, dekat jalan utama menuju pabrik teh dan berharap ada angkot yang lewat. Benar saja, rejeki anak sholeh dan sholeha, ada angkot yang lewat dan ada beberapa penumpang juga di dalamnya jadi kami membayar dengan harga pasaran angkot Pagar Alam.
Foto dululah, mumpung penumpangnya sudah turun semua
Alhamdulillah sesampai di basecamp Ayah Anton tidak hujan, ternyata tadi hanya hujan lokal saja. Jemuran kami pun sudah hampir kering semua. Kami packing kembali karena malam ini kami akan pulang ke Indralaya, bis pun sudah dipesan oleh bang Dio. Menghabiskan waktu, kami bermain kartu, mendengarkan musik dan bercerita. Tidak banyak tempat yang kami kunjungi pada trip ini tetapi perjalanan ini sangat berkesan, selain rasa tidak percaya bahwa kami mampu berjalan kaki sampai ke Kampung IV dan rasa hangat dari canda tawa anak-anak WALHI, Mapala SKY dan penduduk sekitar.

No comments:

Post a Comment